Alvaro

Alvaro
Bab 94. Ketakutan!



...~•~...


Tok! tok!


suara ketukan dari luar, menyadarkan Dinar dari lamunannya, semenjak teror itu datang lagi.


Dinar sering melamun, dia takut jika si peneror itu tidak akan berhenti. Sampai tujuan dari orang itu terwujud.


Tapi dia pun tidak tau apa yang di inginkan oleh orang itu, itulah yang membuatnya pusing.


Tak ingin terlalu berpikir, namun ia penasaran.


"Masuk," perintah Dinar saat pintu kamarnya terus di ketuk.


"Eh Mba Leli, ada apa Mba?"


"Gimana keadaan kamu hari ini?" tanya Mba Leli yang sepertinya sedang basa basi.


"Alhamdulillah, jauh lebih baik. Tapi masih suka mual,"


"Wajar, Ibu hamil di usia muda pasti akan seperti itu." Dinar mengangguk paham.


Dinar mengerutkan keningnya saat mengamati Mba Leli yang sedang gelisah. "Ada Mba? kok kayaknya ada sesuatu yang mau di bicarakan?"


Mba Leli meringis tidak enak. "Gini lho Din, Mba mau izin keluar sebentar, saudara Mba ada dapat musibah. Mba mau nengok dia sebentar, tapi Mba ragu mau ninggalin kamu,"


"Lho memangnya yang lain nggak ada Mba?"


"Bu Alya, lagi keluar. Alvaro masih di sekolah sama yang lain, Kalau Pak Angga ya pasti di kantor."


"Nggak. Bukan gitu maksud aku, memangnya satpam sama penjaga di sekitaran rumah nggak ada? terus ART yang lain?"


"Kalau satpam ada, hari ini jadwalnya Pak Mahmud, yang lain nanti siang, kalau penjaga. Mba kurang tau, soal ART kan ada yang izin pulang kampung,"


"Ya udah, nggak apa-apa Mba pergi aja. Nanti biar aku sampaikan ke Bunda,"


"Beneran?" kata Mba Leli yang sebenarnya tidak tega meninggalkan anak majikannya sendiri di rumah. "Mba takut di marahin Bu Alya karena pergi nggak jagain kamu, takutnya kamu sendiri di rumah ada orang jahat." lanjutnya, yang malah membuat Dinar menjadi takut.


"Me_memangnya Mba lama ya?"


"Kurang tau," Dinar seperti sedang berpikir menatap Mba Leli bingung.


Matanya bergulir melihat kearah jam dinding, yang menunjukkan pukul sembilan pagi. dan Alvaro masih lama pulangnya, menelepon pun tidak mungkin.


Saat ini pasti suaminya itu sudah berada di dalam kelas, dan tidak bisa bermain dengan ponselnya.


Pun dengan Selly yang juga sedang belajar, sambil menarik napas panjang.


Sangat terpaksa Dinar memberikan izin pada Mba Leli pergi, walaupun dalam hatinya juga takut.


"Iya udah, Mba pergi aja. nggak apa-apa,"


"Serius!" Dinar mengangguk pelan sambil menarik sudut bibirnya.


"Terima kasih ya Din, Mba janji. setelah melihat keadaan saudara Mba. Mba bakal langsung pulang," ucapannya sangat senang.


"Iya Mba, santai aja. Urusan Bunda nggak usah khawatir, biar Dinar yang jelasin." Mba Leli mengangguk kuat, lalu memeluk Dinar karena sangking senang di perbolehkan keluar.


"Mba pergi dulu ya, Assalamu'alaikum." pamitnya, setelah mendapatkan izin wanita sekitar umur tiga puluh limaan itu berlari keluar dari kamar Dinar.


"Wa'alaikumsalam," jawab Dinar usai melihat Mba Leli menutup pintu.


Rasa takut yang tiba tiba hadir di benaknya dan pikiran pikiran jelek mulai muncul di kepala cantiknya Dinar beranjak dari kasur, sedikit berlari menuju pintu lalu mengunci pintu tersebut dan menahannya dengan kursi meja belajarnya.


Beralih ke jendela kamar yang terhubung dengan balkon, Dinar menengok sebentar kearah luar, ia melihat Mba Leli sudah pergi menggunakan ojek online.


Secepat kilat ia mengunci dan menutup gordennya hingga tidak ada sinar yang masuk kedalam kamar, sebelum kembali keatas kasur, ia menyalakan lampu dan bergegas masuk kedalam selimut.


Gara gara teror itu, dia menjadi seperti orang gila yang ketakutan tidak jelas.


...***...


Sudah hampir tiga jam, Dinar bertahan di bawah selimut. meskipun panas, wanita itu takut hanya untuk sekedar menguarkan kepalanya, kejadian yang ada di film pembunuhan selalu menjadi gambar utama di benaknya.


Kesalahannya juga yang terlalu sering menonton film horor, ia menjadi ketakutan sendiri.


Hingga ia terlonjak saat suara ponselnya terdengar, dengan terpaksa Dinar melongoknya kepalanya keluar, mengambil ponselnya lalu bersembunyi lagi di balik selimut.


Senyuman manis terbit di bibirnya kala nama Alvaro muncul di benda berradiasi tersebut.


"Halo," jawab Dinar.


"Halo, sayang. Kok suara kamu berat, kenapa?" Alvaro langsung panik dan khawatir saat suara Dinar yang janggal.


"Aku lagi di kamar, di dalam selimut." aku Dinar.


"Hah! ngapain? kamu masih nggak enak badan?"


"Aku baik-baik aja, tapi aku takut. sendirian di rumah," ujarnya bernada seperti anak kecil yang mengadu pada Ibunya.


"Memangnya Mba Leli kemana?"


"Saudaranya ada yang kena musibah, dia izin pergi sebentar. Bunda keluar nggak tau kemana, karena takut. Aku kunci pintu kamar sama jendela, terus sembunyi di dalam selimut."


Di seberang sana, Alvaro memilin keningnya, menahan diri untuk tidak tertawa, ada rasa geli di sela rasa khawatirnya.


Istrinya lucu sekali, ini pasti akibat sering menonton film. Sampai harus bersembunyi di balik selimut.


"Apa perlu aku pulang? aku jadi khawatir kalau kamu sendiri di rumah sayang,"


Dinar menggeleng, padahal mana mungkin Alvaro bisa melihatnya. "Nggak usah! nggak usah. kamu temani aku lewat telepon aja, nanti kalau bel masuk baru kita tutup." pinta Dinar setengah merengek.


Alvaro menurut, panggilan tiba tiba di rubah oleh cowok itu menjadi video call. Dinar menerima panggilannya.


Dan hal pertama yang Alvaro lihat adalah, gelap. ia tidak bisa melihat apa apa. Hingga beberapa menit wajah penuh keringat terpampang di layar itu.


"Ya Allah, sayang kamu sampai keringatan gitu, keluar gih. kita kan sudah video call'an." bujuk Al yang tak tega melihat istrinya kepanasan.


Dinar menggeleng pelan. "Takut," ujarnya mencebikkan bibir.


"Nggak ada apa-apa sayang, buka deh. Lagian nggak akan ada yang bisa datang kerumah selain keluarga kita, aku sudah menyuruh penjagaan yang lebih ketat sama Ayah. Tapi penjaga memang nggak bisa keliatan, karena mereka menyamar,"


"Buka ya," bujuk Alvaro lebih lembut lagi.


Berpikir sejenak, Antara percaya atau tetap bertahan karena bayangan yang tidak tidak terus menganggunya.


Namun pengap dan panas sudah semakin terasa, udara pun juga kian berkurang. Akhirnya Dinar kalah, ia memberanikan diri untuk membuka selimut itu.


"Nggak ada apa-apa kan?" Ia mengangguk.


Duduk di sandaran kasur sambil mengusap peluh yang membasahi wajahnya.


Di seberang sana Alvaro tersenyum tipis, tidak tega melihat raut wajah Dinar, ia ingin pulang dan merengkuh tubuh yang sedang ketakutan.


Dinar melirik jam lalu menatap ke layar ponselnya lagi. "Kamu pulang masih lama," katanya pelan.


"Iya, apa aku izin aja?" tentu Dinar menggeleng.


Mereka terdiam dengan saling pandang, Alvaro melihat pelupuk mata wanita berair, pasti sebentar lagi Dinar akan menangis, dan benar saja.


Dinar menutup wajahnya dengan sebelah tangan, pipinya sudah terlihat basah.


Alvaro menghela napas sejenak. Membiarkan Dinar menangis terisak.


Dor! dor.


"AKHH!!" Dinar berteriak kaget, sampai melempar ponselnya, telepon Alvaro putus, karena ponsel itu mati.


Suara pintu terdengar di gedor dari luar cukup keras, membuat ketakutan Dinar kian menjadi.


hingga suara dari luar terdengar.


"DINAR!!"


...***...


...TBC...