
...***...
"Sayang," panggil Dinar sedikit manja.
"Ehm?" jawab Al bergumam, sembari merapikan anak rambut Dinar ke belakang telinga.
Saat ini Alvaro dan Dinar berada di kamar, sedang berbaring di atas kasur. Rutinitas sebelum tidur semenjak Dinar hamil adalah, mengobrol sambil Alvaro mengusap perut atau punggung Dinar.
"Menurut kamu, Amanda sama Aron gimana?"
"Gimana apanya?"
"CK, anggapan kamu tentang mereka." sewot Dinar.
Alvaro terkekeh pelan, mencolek ujung hidung Dinar, yang sekarang mudah sekali marah ataupun nangis.
"Ya nggak gimana-gimana, kalau mereka bahagia ya nggak apa-apa,"
"Kamu nggak khawatir sama Amanda?"
Diam sejenak Al kini menopang kepalanya dengan tangan kiri, menatap Dinar dengan senyum. "Nanti aku khawatir salah, ada yang marah, terus cemburu." ujarnya sangat lembut.
"CK! nggak gitu maksudnya," decak Dinar kesal menelusupkan wajahnya di dada bidang Alvaro, memeluk erat suaminya.
"Aku nggak cemburu!" elaknya setengah merengek.
Alvaro sekuat tenaga untuk tidak tertawa, bagaimana tidak bisa di katakan cemburu kalau tadi saja, perempuan itu sudah marah-marah dan menangis.
"Aku cuma takut, Amanda di sakiti Aron. Biar gimanapun aku tau sifat Aron seperti apa,"
"Tenang aja, tadi aku sudah ngobrol banyak sama Aron. Dan dia kayaknya sudah banyak berubah, Aron juga bilang sendiri semenjak dekat sama Amanda, hidup dia berubah lebih baik dan tertata, sekarang apapun yang di lakukan Aron, selalu di perhatikan sama Manda. Jadi apa yang dulu jadi kebiasaan buruk, Aron sudah nggak ngelakuin lagi." ujar Al panjang lebar.
Dinar mendongak menatap Alvaro. "Tapi menurut kamu, aneh nggak sih. Mereka tiba-tiba dekat gitu, perasaan dulu mereka nggak keliatan dekat gitu?" berpikir dengan raut wajah menggemaskan menurut Alvaro membuat cowok itu tak tahan, akhirnya ia memberi kecupan singkat di bibir sangking gemas.
"Udahlah, kita nggak berhak ikut campur urusan orang lain, lagian kebahagiaan mereka bukan kita yang ngatur, berdoa aja semoga mereka benar-benar serius menjalani hubungannya, dan Aron nggak menyakiti Amanda."
"Amin," jawab Dinar mantap seraya tersenyum.
"Kalau gitu kita tidur, kasian dedeknya di dengerin Papa Mamanya ngobrol terus, padahal dia mau bobok."
"Oke, tapi cium dulu ya." dengan senang hati Alvaro mengabulkan permintaan sang istri, satu lagi kebiasaan Dinar ketika ingin tidur.
Yaitu Alvaro harus mencium perutnya dan membisikkan selamat tidur kepada buah hatinya.
Belum selesai sampai di situ, usai mencium perutnya. Dinar akan meminta kecupan di seluruh wajah mulai dari kening kedua mata, kedua pipi, hidung dan terakhir bibirnya.
Barulah perempuan itu mulai tidur dengan memeluk Alvaro berbantalkan lengan suaminya, maka dengan begitu ia akan cepat menjemput mimpi indah bersama lelaki yang kini ia dekap erat.
...***...
Di perjalanan pulang dari rumah Alvaro, Amanda dan Aron saling diam, Aron yang sedang fokus dengan kemudinya, lain dengan Amanda yang mengingat obrolannya bersama Dinar.
"Tadi kamu ngobrol apa aja sama Al?" menoleh sekejap Aron mengulas senyum tipis, lalu fokus ke depan kembali.
"Banyak, yang pasti Al sama yang lain nggak percaya kalau kita sekarang lagi menjalin hubungan." Manda memajukan bibir bawahnya, helaan napas keluar dari mulut gadis itu.
"Kenapa?" tanya Aron heran.
"Bingung aja sama mereka, kenapa kaget banget pas kita lagi sama-sama." Aron tersenyum lagi, tangannya mengusap puncak kepala gadis itu.
"Wajar lah, mereka kayak gitu, karena khawatir sama Lo. Mereka takut kalau gue bisa bikin Lo celaka, atau pun sakit hati. Seperti apa yang gue lakukan ke Dinar,"
"Lo pasti tau kan? gimana dulu perlakuan Dinar?"
"Iya aku tau, tapi kan manusia bisa berubah. Nggak selamanya orang salah nggak berubah,"
"Lo udah percaya kalau gue nggak sejahat dulu?"
"Kalau kamu jahat, nggak mungkin aku mau. Kita sudah dekat hampir sebulan, dan cuma kamu yang tau aku. Begitu pun sebaliknya,"
Sedangkan Aron tertawa puas. "Ihh sakit tau! kamu mah tega banget sih." sewot Amanda mengusap pipinya.
Aron menepikan mobilnya, ia merubah posisi duduknya menjadi menghadap ke Amanda. "Mana-mana coba lihat?" ujar cowok itu menangkup sebelah pipi Amanda.
"Nggak usah!" menepis tangan Aron yang mencoba mengusap pipinya.
"Jangan marah dong cantik, ntar cantiknya hilang lho."
"Biarin!" sentak Amanda, menatap lurus ke depan.
Ia mengabaikan wajah tampan Aron yang cukup dekat dengannya. "Ssst, jangan marah ya." bisik Aron.
Amanda bergeming, melipat kedua tangannya di dada.
Cup!
Amanda tersentak, ia menoleh cepat. Pipi yang tadinya merah karena sakit, kini merah karena malu dan gugup.
Apalagi jaraknya begitu dekat dengan Aron, Amanda diam dengan detak jantung tak karuan.
Di tambah senyum yang Aron berikan, sungguh mampu membuat semuanya ngeblank. Amanda hanya terfokus pada senyum Aron.
"Maaf ya," ujar Aron lagi dan terdengar sangat lembut di telinga gadis itu.
Tangan kiri Aron naik, mengusap pipi Amanda dengan punggung tangannya. "Sudah di cium pasti hilang."
Berdeham, Amanda memalingkan wajah ia menempel pada pintu mobil.
Dia harus menyelamatkan jantungnya, jangan sampai ia mendapat serangan jantung mendadak, atau lebih parahnya memiliki riwayat penyakit jantung.
"Pu_pulang. Sudah malam," kata Amanda gugup.
"Oke," jawab Aron mantap.
Namun sebelum menjalankan mobil sportnya lagi, Aron meraih tisu lalu memberikannya pada Amanda.
Menyaut tisu itu Amanda mengucapkan terima kasih, dan segera mengusap keringatnya.
"Besok gue jemput lagi ya," kata Aron yang sudah menjalankan mobilnya lagi.
"Boleh, tapi aku mau ngeluh!"
"Ngeluh? kenapa?"
"Semenjak kita sering sama-sama, fans kamu sering ngeliatin aku, sinis. Kayak aku punya utang!" adu Amanda dengan raut wajah kesal.
Aron justru tertawa keras. "Hahaha_ Fans apaan? gue bukan artis yang punya Fans." bantah cowok itu.
"Kamu itu, cowok populer di sekolah. Siapa yang nggak kenal Aron Gabrielian, Fans kamu banyak."
"Itu cuma mereka aja yang ngaku-ngaku fans, gue mah nggak."
"Mereka belum tau tentang kita aja sudah kayak gitu, gimana kalau mereka tau kita_" tak melanjutkan ucapannya, Amanda terdiam.
"Pacaran, ya kan?" sambung Aron menaik turunkan alisnya.
Sontak pipi gadis itu memerah, entah kenapa setiap Aron mengatakan kata. Pacaran. Hatinya berdebar tak karuan.
Mungkin begini rasanya, kalau cintanya terbalaskan, tidak seperti ketika ia mencintai Alvaro, yang jelas jelas cowok itu tak mencintainya.
Hanya bersama Aron ia bisa bahagia, ia berharap akan seperti ini terus, Amanda ingin Aron bersama Aron laki-laki yang menyadarkannya dari kesalahannya dulu, merubahnya menjadi seseorang yang lebih baik.
Padahal jika di pikir Aron bukanlah orang yang baik, cowok itu juga pernah mempunyai kesalahan dan hal buruk.
Mungkin ini cara Tuhan mempersatukan mereka, agar bisa saling memperbaiki diri, menjadi manusia lebih baik lagi.
...***...