Alvaro

Alvaro
Bab 118. Kembali Pulang



...***...


"Assalamu'alaikum," mendengar salam dari seseorang yang begitu di hapal.


Membuat beberapa anggota keluarga yang sedang bersantai di ruang keluarga berlari menuju ke sumber suara.


Mereka adalah Qilla, Rani, dan Jingga. Ketiganya membukakan pintu, "Kak Al, Kak Dinar." serentak berteriak menyambut kedatangan kedua kakak mereka.


"Ehh_ jawab dulu salamnya," protes Al mengingatkan sang adik.


"Oh iya sampai lupa, Wa'alaikumsalam." kata Rani lalu memberi jawaban salam dari kakak bersama dua saudaranya.


"Gitu dong, nah sekarang boleh peluk." tentu mereka langsung memeluk Alvaro dan Dinar.


Ketiga gadis remaja itu memang sangat merindukan Kakak mereka yang sudah beberapa hari tidak tinggal bersama mereka lagi.


"Kak Al, nggak pergi lagi kan? Qilla sedih tau, nggak ada teman." memanyunkan bibirnya sedih sekaligus kesal.


"Sedih atau takut, nggak ada yang bisa bantuin ngerjain PR?" ledek Alvaro kepada adiknya, yang sukses menerbitkan senyum lebar dari mereka yang membenarkan ucapannya.


"Masuk yuk," ajak Al.


"Bunda sama Ayah mana? kok keliatannya sepi?"


"Bunda sama Ayah pergi ke tempat teman, paling bentar pulang Kak." jawab Rani.


"Al, Dinar! kalian pulang?" pekik Mba Leli begitu senang.


"Iya kita pulang, Mba Leli gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, Mba senang kalau kalian tinggal di sini lagi. Jadinya kan, nggak lihat Bu Alya sedih terus,"


"Memangnya Bunda kenapa Mba?" tanya Al penasaran.


"Bunda mu itu, sering ngelamun terus masih suka buatin susu kesukaan kamu, walaupun ujung-ujungnya nggak ada yang minum." cerita Mba Leli.


"Pernah juga, Bu Alya ketiduran terus mengigau manggil nama kamu," Alvaro mengulas senyum, sebenarnya tanpa Mba Leli cerita pun dia tau.


Dari dulu Bunda-nya, selalu seperti itu jika ada masalah dengannya. "Makasih ya Mba, bisa ngasih tau soal ini, aku juga kemarin pergi bukan tanpa sebab. Mba Leli pasti tau masalah apa."


"Mba tau kok Al, Mba memang nggak bisa ikut campur masalah kalian, tapi tolong jangan pergi lagi, Kasian Bundamu," pesan Mba Leli tulus.


"Kemarin bukan maunya aku Mba, tapi Bunda sendiri yang buat aku akhirnya memilih pergi,"


Memang bukan keinginan Alvaro pergi dari rumah, Bundanya lah yang membuat dia harus mengambil keputusan, meninggalkan rumah. Agar Bundanya mengerti dan paham.


Dan nyatanya, Alvaro berhasil menyadarkan Bunda, bahwa Dinar sama sekali tidak hubungannya dengan peneroran Hendra.


Bagaimana mau bekerja sama, sedangkan Hendra begitu membenci Dinar.


"ALVARO!! kamu pulang Nak_" terdengar teriakan dari arah luar.


Al menghela napas, kepalanya menggeleng pelan menghadapi sang Bunda.


"Al__" pekiknya kesenangan.


"Salam dulu Bunda, bukannya Bunda sendiri yang nyuruh biasanya." Bunda Alya memperlihatkan gigi putihnya, lalu memberi salam dengan nada lembut.


"Assalamu'alaikum,"


Al dan Dinar menahan tawanya mendengar nada lucu yang keluar dari mulut Bundanya. "Wa'alaikumsalam Bunda," jawab Al tak kalah lembut.


Selesai memberi salam, Bunda Alya menubruk sang putra. Beliau begitu senang, akhirnya putra satu satunya, kembali kepadanya.


"Makasih ya Nak, kamu mau nurutin keinginan Bunda, pokoknya Bunda sayang kalian banyak-banyak,"


Dinar merespon dengan senyum tipis, ada ada saja memang suaminya itu, agar bisa dekat dan lebih rukun kembali, Ia sengaja bicara seperti itu


...***...


Saking senangnya, Bunda Alya memasak makan malam sendiri di bantu Mba Leli, Alya ingin memanjakan putra dan mantunya Malam ini, pokoknya dia mau memperbaiki hubungannya dengan Dinar yang kurang nyaman kemarin.


"Bunda, mau aku bantu?" suara lembut dari menantunya membuat Alya menoleh.


"Nggak usah sayang, nanti kamu capek. Bunda nggak mau cucu Bunda kenapa-napa," tolaknya sangat halus.


"Tapi aku bosen Bun, di dalam kamar terus Al juga lagi tidur," sambung Dinar lagi.


"Kamu duduk di sana aja, lihatin Bunda masak nggak usah ikut." kekeuh Alya yang tak mengizinkan Dinar ikut membantu.


"Menghela nafas pasrah, Dinar pun duduk memandangi Bunda Alya yang begitu gesit dan cekatan, dalam membuat makanan.


Dinar baru ingat, jika dulu ketika mereka masih tinggal di Surabaya Bunda Alya adalah juru masak di cafe milik Ayah Angga.


Setahu Dinar Bunda Alya membuat dessert dan makanan makanan ringan, sedangkan menu berat semua sudah di tanggung oleh koki hebat.


Ingin rasanya mengajak Alvaro pergi kesana setelah lulus, dan mungkin kesana nanti dia sudah bertiga dengan bayinya, tanpa sadar Dinar tersenyum sambil mengusap perutnya yang semakin terlihat membuncit.


"Mikirin apa hayo?" Dinar terlonjak ternyata sudah ada Alvaro di sampingnya, bahkan lelaki itu kini sudah rapi.


Padahal tadi saat ia tinggal, Alvaro masih terlelap di atas kasur. "Bukannya tadi kamu masih tidur?"


"Batu aja bangun langsung mandi," jawab Al singkat. "Oh iya. Tadi belum jawab kenapa senyum-senyum sendiri?"


Dinar jadi malu, ia tersenyum simpul memperhatikan Bunda Alya lagi. "Lagi mikir aja, aku tuh pengin deh. Nanti kalau kamu sudah lulus main ke cafe Ayah yang di Surabaya,"


"Oh_ kirain mikirin apa. Nanti begitu lulus, kita langsung liburan di sana."


"Beneran?"


"Bener dong, kapan aku pernah bohong soal kamu,"


Dinar tersenyum senang, ia mengusap rahang kokoh suaminya. "Makasih ya,"


"Duh_ Bunda tuh suka iri lihat kalian."


"Ngapain iri Bun, Ayah kan suka manjain Bunda juga,"


"Iya tapi Ayah suka sibuk sekarang, pulang kadang malam-malam. Kalau di pikir-pikir apa yang Ayah dulu bilang itu benar adanya," ujar Bunda menerawang kejadian ketika awal-awal menikah.


"Memangnya Ayah ngomong apa Bunda?" tanya Dinar penasaran.


"Ayah dari awal nggak suka kerja kantoran, apalagi meneruskan perusahaan Papanya, Ayah lebih suka menjalankan bisnis cafe dan restorannya, lebih ada waktu untuk keluarga dan mau pulang jam berapa pun bisa,"


"Sedangkan kalau kerja di kantor, nggak akan bisa pulang kalau belum jamnya pulang. Meskipun posisi Ayah adalah CEO tak membuat Ayah seenaknya aja langsung pergi,"


Alvaro menjentikkan jarinya. "Ini nih, salah satu yang buat aku milih mau nerusin usaha Ayah aja dari pada kerja di kantor Kakek. Kayaknya aku juga sama seperti Ayah yang kurang suka kerja di kantor."


"Tapi Kakek sudah nyiapin semuanya untuk kamu, selesai kuliah nanti kamu langsung masuk di perusahaan Kakek, dan kamu nggak bisa protes." Alvaro mendesah kecewa.


Sebenarnya Alvaro kurang setuju, ketika Kakeknya sudah memberitahu dirinya, jika selesai kuliah nanti.


Ia langsung bekerja di perusahaan keluarga Airlangga, dan sayangnya Al tidak bisa menolak.


Padahal Al sudah mempunyai rencana untuk meneruskan usaha Ayahnya, biarkan urusan kantor di serahkan kepada Ayah Angga.


Tapi mau bagaimana lagi, rencana tinggal rencana. Semua sudah ada yang mengatur, dan dia tak bisa untuk menolak.


...***...