Alvaro

Alvaro
Bab 46. Berangkat Berkemah



...~Happy Reading~...


...***...


"Sudah siap semuanya?" keluarga Alvaro kini sedang berada di depan teras rumah Airlangga.


Hari ini, Alvaro dan Dinar pergi untuk berkemah sesuai jadwal, dan saat ini Al sedang memasukkan tas miliknya bersama milik Dinar kedalam mobil.


"Kamu yakin mau naik bus aja?" tanya Bunda Alya yang entah sudah keberapa kali bertanya beliau hanya ingin mereka aman jika membawa mobil sendiri.


"Iya sayang, kita naik mobil aja yuk." bujuk Al.


Dinar menekuk bibirnya. "Tapi aku pingin naik bus," katanya bernada sedih.


"Oke, kita naik bus." putus Al tak tega melihat wajah istrinya yang terlihat kecewa.


Senyum gadis itu mengembang kembali, sebenarnya Dinar seperti itu bukan tanpa alasan. Dia hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian para siswa dan siswi di sekolahnya, sebab tanpa Al dan yang lain tau.


Dinar sebenarnya sering mendapatkan omongan dari para Siswi yang mengatakan dirinya aji mumpung, mendapatkan Alvaro hanya karena kekayaan cowok itu, katanya setelah putus dari Aron, kini mendekati dan merayu anak baru.


Bahkan ada yang menyalahkan Alvaro karena mudah terpancing dan tergoda olehnya.


Dia sudah biasa mendapatkan kata-kata dari orang yang tidak suka kepadanya, hanya saja biasanya ia cuek, dan tak pernah terpengaruh ataupun peduli.


Entah kenapa dia sekarang tak terima, apalagi sampai mereka membawa-bawa Alvaro tentang dirinya.


Al tidak salah, mereka saja yang terlalu ikut campur urusan orang lain.


Lihatlah, hanya ingin pergi kesekolah saja Al harus membawa mobil sportnya yang harganya mungkin bisa mendapatkan dua buah rumah mewah, beserta isinya.


Tapi ya sudahlah, namanya juga Alvaro dari keluarga mampu, dia tak bisa mencegah ataupun memerintahkan cowok itu. Apalagi status Al adalah suami, yang di mana dia harus nurut.


Dinar tak bisa membohongi jika saat ini dia sedang bahagia, terlihat dari senyum gadis itu yang selalu mengembang. Alvaro saja sampai ikut tersenyum.


Sudah lama ia tak mengikuti kegiatan yang menjadi hobinya itu.


Tiba di sekolah Dinar langsung turun, berlari menuju sahabatnya, Selly sudah tiba lebih dulu. "Bahagia bener." ledek Selly mencolek dagu Dinar.


"Apaan sih! biasa aja," katanya sewot namun wajahnya terlihat berseri.


Selly terbahak. "Halah sok imut lo." cibirnya menyenggol pundak Dinar dengan lengannya.


"Senangkan lo? bisa kemah bareng suami." bisik Selly.


Dinar mendelik, menaruh jarinya di mulut, menyuruh sahabatnya itu hati-hati kalau bicara, dia takut ada yang dengar.


"Tapi apa yang gue bilang, bener kan?" Dinar tanpa sadar mengangguk, matanya tak lepas dari memandangi Alvaro yang tengah sibuk pada barang-barangnya.


Sebelum berangkat, mereka semua berkumpul untuk membicarakan pengaturan para siswa dan siswi, ada sekitar empat bus, dan yang naik bus tersebut adalah murid dengan jurusan masing-masing.


Terkecuali pada Alvaro dan Dinar, Al yang lebih dulu tau tentang peraturan tersebut, langsung segera meminta izin agar Dinar bisa satu bus dengannya.


Tentu saja, Kepala sekolah menolak karena Dinar bukan satu jurusan dengan Alvaro. Tak menyerah dia pun meminta izin agar dirinya saja kalau begitu, yang satu bus bersama Dinar.


Hal itu membuat kepala sekolah pusing, dan pada akhirnya beliau pun menyerah, memperbolehkan Dinar satu bus dengan Alvaro.


Dinar sebenarnya ingin menolak, dia ingin satu bus bersama Selly, namun ingin menolak dia tak enak, karena dia terlalu menuntut ini. itu. kepada suaminya.


Dan di sinilah mereka, Bus besar dengan penumpang sekitar lima puluh atau enam puluh orang tersebut, Alvaro dan Dina berada, keduanya sedang duduk di kursi paling belakang.


...***...


Di tengah perjalanan Dinar ingat sesuatu, ia membuka tasnya dan mengeluarkan satu kotak makan berwarna ungu, di dalamnya ada satu roti sandwich.


"Al," panggil Dinar.


"Ehm?" jawab Al tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel karena cowok itu sedang bermain game online.


"Akk." suruh Dinar.


Alvaro mengerutkan kening lalu menoleh, ia terkejut saat di depannya sudah di suguhkan oleh satu buah roti. "Aku tau tadi kamu sarapannya sedikit, aku sempatin buatin ini buat kamu," ujarnya dengan senyum.


Alvaro menerima dengan senang hati, Istrinya ini selalu tau apa yang sedang suaminya inginkan, Al memang sempat sarapan dengan porsi dikit dan juga terburu-buru, sebab dia bangun sedikit kesiangan lalu harus mengurus segala sesuatunya.


"Terima kasih," ujar Al mengacak rambut Dinar.


"Sama-sama, maaf kalau kurang enak, soalnya aku buatnya buru-buru,"


Cowok itu mengunyah makanannya lalu menelan roti tersebut sebelum menjawab ucapan Dinar. "Apapun yang istri aku buat selalu enak, karena aku yakin, sandwich ini


di buat pakai perasaan, dan kasih sayang." Dinar tersenyum hatinya selalu menghangat setiap apa yang Alvaro katakan.


Kegiatan keduanya tak luput dari perhatian dari seorang gadis yang duduk di kursi depan sebelah kanan, gadis itu terlihat tidak suka dan menatap Dinar sinis, seharusnya dia yang duduk bersama Alvaro, dia padahal sudah memiliki rencana untuk duduk bersama Alvaro saat mereka satu bus, dia pikir Dinar tidak akan ikut bersama cowok itu.


Ternyata dugaannya salah, rencananya selalu gagal, uang juga sangat kesal pada kepala sekolah yang mengizinkan Dinar satu bus dengan anak IPA, yang jelas-jelas Dinar anak IPS.


"Lo lihatin apa sih?" tegur temannya yang duduk di sampingnya.


"Diam! nggak usah ngurusin gue!" hardiknya bernada pelan.


Temannya hanya mampu menghela napas, seorang Geby selalu susah di bantah, dia juga seorang gadis yang sangat arogan.


Tak ingin mengurusi urusan temannya, gadis di samping Geby lebih memilih mendengarkan musik lewat headset yang sudah terpasang di kedua telinganya.


"Ngantuk?" tanya Al pada Dinar yang terlihat mengantuk.


Dinar hanya mengangguk, merebahkan kepalanya di pundak Alvaro, cowok itu mengusap kepala Dinar dengan tangan kiri, menyuruh gadisnya untuk tidur saja.


Tangan kiri gadis itu menggenggam tangan kanan Alvaro, sementara tangan kanannya memeluk perut sang suami. berhubung mereka paling belakang, tak ada yang melihat, jika melihat pun mereka cuek, tidak seperti gadis berambut pirang, hatinya semakin panas dan kesal.


Tak ingin menganggu Dinar, ia pun menggeser sedikit tubuhnya mencari tempat nyaman, tanpa merubah posisi Dinar.


Saat menoleh tak sengaja mata Alvaro bertemu pandang dengan Geby. Cewek itu mencoba tersenyum kepadanya, namun ia cuek tak sama sekali membalas senyuman gadis itu.


Al mulai memejamkan matanya, menyusul sang istri ke dunia mimpinya.


Geby semakin dongkol, hatinya semakin sesak, kenapa hanya mendapatkan senyum dari cowok itu saja sulit.


Baru kali ini ia di pandang remeh ole seorang pria, padahal biasanya. Hanya sekali kedip para lelaki sudah berbondong-bondong mendatanginya.


Harga dirinya seakan di permalukan, bahkan ia sempat jadi bahan tawa oleh teman-temannya, karena seorang Geby tak bisa mengambil hati dari anak baru di sekolahnya.


...***...


...𝕿𝖔 π–‡π–Š π–ˆπ–”π–“π–™π–Žπ–“π–šπ–Š...


...Next!...