Alvaro

Alvaro
Bab 97. Masuk rumah sakit



...~•~...


Mendapatkan kabar jika istrinya masuk rumah sakit, Alvaro bergegas menuju ke tempat rumah sakit yang sudah Bundanya beritahu.


Namun ada rasa kesal, yang di rasakannya, sebab. Ia mendapatkan kabar tentang Dinar, saat ia jam pelajaran usai.


Ketika cowok itu, berada di parkiran ingin pulang, barulah Bundanya menelpon, jika Dinar masuk rumah sakit karena di serempet seseorang.


Tidak perlu bertanya di ruangan mana, Alvaro berlari tanpa menggunakan lift menuju lantai dua.


Al lewat tangga darurat, karena lift sedang penuh dan akan memakan waktu lama.


Sudah dekat dengan ruangan istrinya, jantung Al berdetak cukup kuat, ia takut terjadi sesuatu dan juga kandungan Dinar.


Dia harus menyiapkan segala sesuatunya, Al harus bisa menyiapkan hatinya, apapun yang terjadi.


Alvaro berhenti sejenak, guna mengatur napasnya yang tersengal sengal, Bunda Alya melihat kedatangan putranya, segera menghampiri Alvaro.


"Al_ kamu kenapa Nak?" tanya Bunda khawatir.


"Gimana keadaan Dinar, Bun?" tanya balik Alvaro, tanpa mau menjawab pertanyaan Bundanya.


"Alhamdulillah, Dinar nggak apa-apa, untung kandungannya kuat, masuk gih. Dari tadi dia cariin kamu," Alvaro melirik sejenak kearah Bundanya.


Ia masih kesal sebenarnya, pada Bunda Alya tentang masalah tadi.


"Kamu marah sama Bunda?" sepertinya sang Bunda, mengetahui jika putranya sedang marah dengannya.


"Kenapa Bunda nggak kasih kabar dari tadi? kenapa harus nunggu aku selesai jam pelajaran?" Bunda Alya menghela napas panjangnya.


"Itu, karena Bunda ingat. Kamu beberapa hari ini, jam pelajarannya ke ganggu, kamu sering pulang tiba-tiba."


"Wajar aku kayak gitu, orang yang aku sayang sedang tidak baik-baik aja. Salah kalau aku khawatir?" tuntut Al menatap Bundanya.


"Maaf kalau Al, kurang ajar sama Bunda. Tapi aku mau Bunda ngerti, untuk saat ini. Dinar prioritas aku," jeda beberapa detik Al melanjutkan ucapannya."Kalau Bunda takut, malu karena aku nggak lulus. Bunda nggak usah khawatir, aku akan beri nilai terbaik dan bisa membanggakan Bunda." sarkas Al lalu pergi meninggalkan Bundanya.


Bunda Alya menatap sendu punggung putranya yang kian menjauh, dan hilang di balik pintu ruangan menantunya.


"Bukan seperti itu, maksud Bunda Nak." gumam Bunda Alya.


Masuk kedalam kamar Dinar, hati Al terasa sakit saat melihat Dinar tengah di infus, dan juga terpasang alat pernapasan di hidungnya.


Alvaro mendekati bangsal Dinar, wanita itu belum sadar akan kedatangannya, hingga saat Al meraih tangannya, Dinar baru membuka matanya.


"Al," panggil Dinar pelan.


"Iya sayang, ini aku. Apa yang sakit?" Dinar menggenggam tangan Alvaro dengan kedua tangannya.


"Anak kita, baik-baik aja kan?" tanya Dinar bersamaan air matanya yang jatuh.


"Tentu, anak kita kuat. dia baik-baik aja, kamu juga harus kuat ya." Dinar perlahan mengangguk, wanita itu baru bisa bernapas lega saat Alvaro mengatakan jika anaknya baik baik saja.


Dinar termenung, pikirannya ingat akan kejadian beberapa waktu lalu, memorinya terputar pada saat ia bertemu pandang dengan seseorang yang menabraknya.


"Sebenarnya, apa yang terjadi. Kenapa bisa sampai kayak gini?" tuntut Al meminta jawaban Dinar.


Meskipun begitu, Alvaro masih berusaha sabar. Meskipun emosinya siap meledak kapan saja, saat tau orang itu benar benar ingin mencelakai istrinya.


"Tadi, aku ikut Mba Leli beli sayur, waktu aku mau pulang duluan. Tiba-tiba ada motor lewat yang kayaknya sengaja nunggu aku lewat," cerita Dinar.


"Al_ aku takut, Aku takut dia datang lagi. Aku nggak mau anak kita kenapa-napa," ujar Dinar ketakutan.


Alvaro menundukkan kepalanya. "Jangan takut, aku janji segera cari orang itu. Kamu tenang ya, jangan banyak pikiran." jawab Al lembut sambil memberi kecupan di puncak kepala istrinya.


...***...


Malam harinya, Alvaro tengah merenung di kantin rumah sakit, ia sedang membelikan makanan pesanan Dinar, saat ini Dinar tengah bersama Selly dan juga ketiga sahabatnya.


Sedangkan kedua orang tuanya, ia suruh pulang. Karena ia juga tidak mau jika Bundanya ikut sakit berada di tempat orang sakit.


"Yee_ pantes nggak balik-balik, ternyata lagi bengong nih anak." ujar Niko yang menyusul Alvaro ke kantin.


Al yang tersentak, hanya mendengus kesal. Niko terlalu mengangetkan nya. "Ngapain lo di sini?" tanya Al tidak suka.


"Gue lagi mikir aja,"


"Soal pelaku yang nabrak Dinar?" saut Niko saat Alvaro belum selesai bicara.


Alvaro mengangguk membenarkan. "Jujur gue capek, udah sejauh ini. Tapi gue belum tau siapa pelaku utamanya, sampai kapan gue terus kayak gini. Gue khawatir Dinar, kenapa-kenapa."


"Kalau sampai Dinar dan anak gue celaka, mungkin gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri," ucap Alvaro mengungkapkan isi hatinya.


Niko yang awalnya berdiri, menarik kursi di samping Al, lalu ikut duduk bersama sahabatnya. "Lo jangan nyerah, sehebat apapun penjahat. suatu saat pasti ketemu juga, lo cuma butuh waktu."


"Sampai kapan, Nik! hah?" potong Al cepat memandang Niko intens.


"Sampai gue kehilangan mereka?" ujarnya lagi sedikit bernada tinggi.


"Tenang Al tenang! kalau lo kayak gini, penjahat itu akan senang. Gue sangat yakin, kalau mereka cuma ingin lihat lo hancur, hancur karena kehilangan orang yang lo sayang, memangnya lo mau kehilangan Dinar? Nggak kan!"


Alvaro mengacak rambutnya frustasi. Apa yang di katakan Niko benar, seharusnya dia tenang dan berpikir bagaimana cara agar bisa menangkap pelaku utamanya.


"Mendingan, kita balik dulu. Dinar nyariin lo terus," ajak Niko menarik lengan Alvaro agar cowok itu berdiri.


Kembali ke kamar, Alvaro segera menerbitkan senyumannya, ia tak ingin Dinar berpikir yang tidak tidak.


"Kamu kenapa lama?" rengek Dinar meraih tangan Al, untuk ia peluk.


"Maaf ya, tadi antri." bohongnya, Niko yang mendengar jawaban Alvaro.


Mencibir sahabatnya, Al melirik sinis, mengepalkan tangannya tanpa sepengetahuan Dinar, memberi tanda agar tidak memberitahu pada istrinya.


"Ini, roti pesanan kamu kan?" Dinar mengangguk kuat, roti dengan rasa srikaya.


"Suapin," rengek Dinar.


Alvaro terkekeh geli, mengacak rambut Dinar gemas. Mengambil satu bungkus, Al duduk di tepi kasur.


"Haiss_ dari pada kita jadi nyamuk, mending kita pulang yuk." ajak Niko yang terlanjur sebal, dan malas melihat kemesraan sahabatnya.


Yang membuat jiwa kejombloanya, meronta ronta. "Makannya, cari cewek." saut Heru.


"Ya! ntar gue cari. di pasar," ujarnya ngawur.


"Gue pamit ya Din," Selly ikut pulang.


"Yahh_ kok lo ikut pulang sih,"


"Udah malam juga, besok gue kesini lagi." Dinar memanyunkan bibirnya, ia masih ingin ada Selly di sampingnya.


Satu persatu, orang orang sudah pergi, kini tinggal Alvaro dan Dinar. suasana pun seketika sunyi.


"Sayang_" rengek Dinar lagi.


"Ehmm?"


"Kamu jangan kemana-mana ya, aku takut sendirian."


"Aku di sini, nggak akan kemana-mana, tenang ya. makan lagi rotinya," Dinar menolak, ia ingin tidur.


Agar tidak terlalu takut. Wanita itu meminta Al untuk tidur bersamanya, meskipun sempat menolak karena takut Dinar kesempitan, Akhirnya Al menuruti keinginan istrinya.


"Nggak sempit?" Dinar menggeleng di dalam pelukan suaminya.


Al menghela napas berat, tau seperti ini. Mending dia minta di ruangan VVIP. biar kasurnya besar dan tidak kesempitan.


Alvaro dengan sabar mengusap usap punggung Dinar, wanita itu semakin manja setelah kandungannya memasuki bulan ketiga tiga.


Apalagi ada insiden seperti ini, kadar kemanjaan nya kian menjadi, namun Alvaro tidak masalah, Asal Dinar baik baik saja.


Tanpa Alvaro sadari, ada seseorang yang mengintip dari pintu.


Orang itu menggunakan pakaian serba hitam, dan juga masker hitam, matanya tengah menyorot kearah Dinar yang sudah terlelap di pelukan suaminya.


...***...