
...~•~...
Tak menemukan siapapun di depan rumah ataupun di halaman rumahnya, Alvaro bergegas masuk kembali, menghampiri Dinar yang terlihat masih bergetar di pelukan Bundanya.
"Gimana Al? apa ada orang?" Al menggeleng pelan,sejurus kemudian matanya beralih menatap Amanda.
Sadar akan tatapan Alvaro, ia buru buru menggeleng. Manda yakin, Al akan menuduhnya.
"Bukan aku Al, beneran. Tadi ada kurir yang bilang kalau paket itu untuk Dinar." jelasnya tanpa di minta.
Tanpa mengucapkan apapun, Alvaro berlari menuju ruangan pengawasan, di sana ada monitor CCTV.
"Eh, den Al? ada apa?" kaget salah satu satpam yang melihat anak majikannya masuk tiba tiba.
"Tolong perlihatkan, rekaman CCTV beberapa menit yang lalu." titah Al.
Meskipun bingung, satpam itu tak ingin di perintah dua kali, pria berumur sekitar empat puluh tahunan itu segera mengulang video CCTV yang terputar beberapa menit lalu.
Alvaro tak mengalihkan pandangannya dari layar datar empat belas inci tersebut, ia sangat fokus mencari video yang terjadi tadi.
"Stop Pak!" refleks satpam itu menekan.
Mata tajamnya memperhatikan seseorang bersama Amanda, terlihat gadis itu keluar dari mobil yang di kendarai oleh sopir.
Sementara di sebelah mobilnya ada motor yang lebih dulu berhenti, lalu Amanda seperti di panggil dan orang itu memberikan kotak misterius tadi.
"Tolong besarkan Pak?" pintanya agar bisa melihat wajah sang pelaku.
Alvaro sudah mengamati dan memperlihatkan wajah orang tersebut, namun ia sama sekali tidak tau.
Al mengeluarkan ponselnya, dia mengambil gambar wajah dan nomer plat kendaraan si pelaku, sangat berharap.
Polisi segera memeluknya setelah dia memberikan bukti ini. "Tolong simpan file video ini ya Pak, setelah itu berikan ke saya"
"Baik Den, siap laksanakan." hormat satpam itu bersemangat, Al tersenyum tipis menepuk sekali pundak satpam tersebut.
Al bersandar di pintu masuk, ia masih mencoba memperhatikan wajah orang itu, seperti tidak asing. Tapi dia tidak ingat pernah melihat di mana.
"Al," cowok itu tersentak, ia buru buru memasukkan ponselnya kedalam saku.
"Kamu harus percaya sama aku ya, aku beneran nggak tau apa-apa. Aku juga nggak kenal sama orang itu," kata Amanda menundukkan kepalanya.
Dia takut Alvaro akan salah paham, dia takut. Jarak dirinya bersama cowok itu kian menjauh.
Amanda sudah merelakan perasaannya dan menggagap Alvaro hanya sekedar sahabat, dia tidak mau jika sampai benar benar jauh dari Alvaro.
Tak apa hatinya sakit, ketika melihat Alvaro bersama Dinar, yang terpenting dia masih bisa berteman dan melihat senyum kebahagiaan sahabatnya.
"Kamu sudah cari tau dari rekaman CCTV?" tanya Manda penasaran.
Alvaro yang selalu memperlihatkan wajah datarnya ketika bersama Amanda itu, hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kamu nggak tau siapa orangnya?"
"Untuk sekarang belum, tapi gue yakin secepatnya. Gue akan tau siapa orang itu!" jawabannya datar.
Amanda tersenyum miris, Alvaro tak semanis dulu.
Selalu wajah datar dan tak pernah melihat kearahnya, ketika bersamanya. Itulah Alvaro sekarang jika bersama dirinya.
"Aku harap, pelakunya segera tertangkap ya. Aku khawatir kalau Dinar terus-terusan dapat teror,"
Alvaro melirik Manda. "Lo peduli sama Dinar?" gadis itu mengangguk kuat, wajahnya begitu ketara sekali jika khawatir.
Ia ******* bibirnya lalu membuang muka kearah lain. Jangan sampai gadis itu besar kepala.
Biar bagaimanapun Alvaro masih kesal dan marah jika mengingat apa yang pernah Amanda lakukan.
Memang benar, memaafkan kesalahan orang lain sangat sulit, dan Al kali ini mengalaminya. Padahal dia sudah kenal dengan Amanda sangat lama, namun hanya karena sebuah kesalahan dari gadis itu, rasanya sulit. Bahkan sayangnya ia yang menggagap Amanda adek, perlahan luntur.
Di ganti oleh rasa kesal, marah, dan kecewa. Terlalu banyak kesalahan yang Manda lakukan, mulai dari tentang perasaannya yang tubuh melebihi rasa sayang sebagai sahabat.
hingga kesalahan terbesarnya ketika ingin mencelakakan istrinya, sampai membuat Dinar menangis akibat sang Bunda yang selalu membandingkan menantu dan sahabatnya.
Terkadang kita harus menurunkan ego kita, agar kata maaf bisa terucap dan di berikan dengan ikhlas. beri kesempatan orang yang salah, karena setiap manusia selalu memiliki kesalahan, dan setia manusia berhak untuk memperbaiki kehidupannya.
...***...
Dinar yang di tinggal sendiri didalam kamar, merenung akan apa yang selalu terjadi kepadanya, dia seolah sedang berpikir. Apa yang membuatnya mendapatkan teror.
Jika ingin menuduh Aron sangat mustahil, ia tau cowok itu sudah berubah dan tidak pernah lagi berkomunikasi dengannya.
Kalau Amanda, lebih tidak mungkin. Dinar bisa melihat jika Manda benar benar sudah bukan Amanda yang dulu.
Namun jika lebih di dalami, Dinar baru sadar kalau dia akan selalu mendapatkan teror jika dirinya tengah berbahagia.
Dulu ketika dia masih berpacaran dengan Aron, ia tidak pernah mengalami hal hal mengerikan ini.
Teror itu muncul ketika dia mulai dekat dengan Alvaro, sepertinya memang si peneror tidak suka kalau dirinya bahagia.
Mata sayu Dinar mendongak ketika suara pintu terbuka, muncul Alvaro yang membawa segelas susu hangat dan sepiring makanan.
Cowok itu duduk di tepi kasur memperhatikan Dinar. "Makan ya?" titahnya lembut menaruh anak rambut Dinar ke belakang telinga.
"Jangan gitu dong sayang," ucap Al lagi saat Dinar menggeleng tidak mau makan.
"Nanti kasian dedeknya kalau sampai nggak makan."
Alih alih menjawab, Dinar justru menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Selang beberapa menit, suara isak tangis yang terdengar memilukan di telinga Alvaro begitu menyakiti hatinya.
Dia merasa gagal menjadi seorang suami karena selalu membuat istrinya menangis dan ketakutan.
"Sebenarnya mereka siapa Al_ kenapa mereka selalu buat aku takut," ucap Dinar parau di sela tangisannya.
"Apa yang mereka inginkan," Dinar membuka kedua tangannya tiba tiba, memandang sembab mata Al. "Apa mereka ingin aku mati!"
"Dinar!" hardik Alvaro tidak suka.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu sayang, aku janji akan segera menemukan orang itu. Jangan pernah berpikir aneh-aneh." Alvaro tidak mau Dinar berpikir negatif, walaupun tidak bisa di pungkiri jika dia sempat berpikir seperti itu.
Apakah yang mereka inginkan adalah kematian dirinya atau Dinar, agar dia tak bisa hidup bersama Dinar.
Alvaro merasa si pelaku tidak suka jika Dinar bahagia, sebab dari tulisan dan ancaman selalu tertuju pada kehidupannya sekarang.
Itu berarti, si pelaku sudah mengetahui pernikahannya.
Alvaro memejamkan matanya, sambil menggelengkan kepalanya kuat kuat, kenapa semakin berpikir, semakin yakin bahwa orang itu adalah orang yang dia kenal.
Dia ingin menampik, namun untuk saat ini hanya orang itu yang selalu muncul di kepalanya.
Mengusap wajah dengan kasar, Alvaro mencoba berpikir jernih. Sebelum bukti terungkap dan menemukan orangnya, ia tidak ingin menuduh siapapun.
...***...