
^^^~•~^^^
Dinar tidak bisa menolak permintaan Alvaro untuk dirinya, melakukan homeschooling. Suaminya itu benar-benar khawatir jika terjadi sesuatu lagi.
Apa lagi di saat Alvaro melihat lagi video CCTV, Dinar di suruh mengambil buku dengan tumpukan yang begitu banyak, tidak hanya sekali tapi beberapa kali. Dan setahu dirinya, jarak kelas Dinar dengan perpustakaan sangat jauh, sebab kelas Dinar berada di atas paling pojok, sementara perpustakaan berada dilantai satu dekat pintu keluar, bahkan guru itu sesekali bermain fisik di saat Dinar sudah lelah dan tak sanggup, guru itu tidak segan untuk menampar ataupun menjambak rambut Dinar.
Alvaro mengamati lagi gerak gerik guru itu, dan ia mendapat gambar, ketika para murid mengerjakan tugas. Guru itu sedang mengirim pesan. Namun sayang tulisannya tidak jelas karena terlalu jauh.
Di bagian lain, Al masih dengan guru yang sama. Dinar di suruh mengumpulkan kertas kertas di deretan meja meja.
Melihat Dinar berjalan cukup lamban guru itu tiba tiba beranjak dari duduknya dan menjambak Dinar dari belakang. Al sempat Selly ingin menolong, Namun di cegah oleh murid yang kemarin ia lihat juga bersama Guru itu.
Selly tak bisa berbuat apa-apa, setahu dirinya. Gadis itu mendapatkan ancaman.
Itu sebabnya, ia tak bisa menolong istrinya yang di perlukan seperti itu. Rahang Al mengetat dengan mata menajam, ia segera ingin tau dalang dari semua perbuatan guru dan murid itu.
Alvaro segera menutup laptopnya, ketika Dinar masuk kedalam kamar. "Lagi apa?" tanya Dinar menghampirinya lalu menyusulnya duduk di atas kasur.
"Nggak ada, main game aja." jawab Al mencoba setenang mungkin.
"Sayang, tolong ambilkan minum itu dong." alibi Al agar bisa mengganti layar laptopnya.
Dinar menurut tanpa curiga, perempuan itu mengambil gelas di atas nakas, dengan jarak cukup jauh.
Buru buru Alvaro membuka dan mengganti layarnya dengan game yang ada di laptopnya.
"Makasih," ucap Al tulus mengusap kepala Dinar sayang.
Meneguk air itu sampai tandas lalu menaruhnya kembali di nakas sebelah tempat tidurnya.
"Gimana enakkan? sekolah di rumah?" Dinar menghela napas, menelusupkan tangannya di pinggang Al lalu merebahkan kepalanya di dada bidang suaminya.
"Ngebosenin, tapi mencoba terbiasa."
"Maaf ya, kalau permintaan aku bikin kamu nggak nyaman, Aku ngelakuinnya demi kamu. Dan calon anak kita, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa." Alvaro sebenarnya bukan tipe orang yang suka mengekang.
Apalagi sampai membuatnya tertekan dan tidak nyaman, namun bagaimana lagi ini demi kebaikan bersama.
Perlahan Dinar mengangguk, memberi senyuman manis pada Alvaro, memberi isyarat jika dirinya tidak apa apa.
Dia tau ini demi kebaikan anaknya, lagipula ia tak ingin terjadi sesuatu pada calon anaknya. "Tapi kamu jangan salahin Selly terus ya? dari kemaren aku kepikiran Selly."
"Tadinya aku marah sama dia karena aku pikir, dia kenapa diam aja kamu di perlakukan seperti itu. Seharusnya, seperti apapun ancamannya kalau dia anggap kamu sahabat, harus ngasih tau aku." Dinar meringis, ia tau Alvaro marah pada Selly.
Tapi itu semua karena permintaannya, dirinya yang meminta pada Selly untuk tidak bilang kesiapan pun termasuk ke Alvaro.
"Tuh, kamu masih nyalahin Selly. Aku sudah bilang, ini bukan salah Selly, dari aku sendiri yang ngelarang dia." ucap Dinar pelan.
"Maaf," lanjut Dinar menatap Al sendu penuh sesal.
Alvaro hanya mampu menghela napas, meredam emosinya. "Aku mau mulai sekarang, nggak ada yang kayak gitu, kalau ada apa-apa harus kasih tau aku ya." Dinar mengulas senyum sembari mengusap pipi Al lembut.
...***...
Di ruang tamu bernuansa putih krem, ada seorang gadis tengah duduk dengan tegang, ia adalah Selly yang datang kerumah Alvaro, berniat meminta maaf kepada cowok itu dan keluarga.
Karena tidak memberitahu apa apa tentang Dinar, ia justru menuruti keinginan sahabat itu. Yang malah bisa mencelakai Dinar.
Bibirnya terasa kelu, susah untuk di gerakan dan seperti ada yang menahan di tenggorokan. Sebab, ia mendapat pesan ancaman.
Sepertinya di sekolah pun ada mata mata yang terus mengintainya, karena. Setiap dia bersama sahabat Alvaro, dirinya selalu mendapat pesan dan picture seram yang masuk ke ponselnya.
"Gue malu rasanya ketemu lo, Al. Gue ngerasa bersalah," ucap parau Selly, mengusap air matanya.
"Gue udah maafin, yang penting Dinar baik-baik aja. Tapi gue harap kedepannya lo jangan kayak gini lagi," pinta Alvaro bernada tegas dan dingin, Selly mengangguk kuat menyetujui permintaan suami sahabatnya itu.
"Ya. Gue janji sama lo, nggak akan menyembunyikan sesuatu lagi, biar pun Dinar yang minta" ujarnya seraya melirik Dinar yang terlihat mendengus.
"Isi pesan orang misterius itu belum lo hapus kan?" lagi Selly mengangguk.
"Boleh gue lihat?" Selly segera mengeluarkan ponselnya, membuka pesan yang selalu membuat nyalinya menciut.
Alvaro menerima ponsel Selly, lalu membaca dan mengamati semua isi teks dan gambar gambar, yang rata rata bergambar hewan berlumuran darah, bahkan hanya ada bangkai kepala tikus, yang hampir sudah menjadi tenggorokan.
Al mengeluarkan ponselnya, memotret ponsel Selly, lalu tidak lama ia menelepon seseorang.
"Kalian sudah terima foto yang gue kirim?" kata Al datar berbicara dengan seseorang di telepon tersebut.
Tidak lama Al mengangguk sekali. "Bagus, cepat urus dan kasih kabar gue secepatnya." perintah Alvaro.
Menyelesaikan teleponnya, Al mengembalikan ponsel Selly. "Lo nggak perlu takut, ada orang yang jagain lo," Selly membulatkan matanya.
"Me_memang. kenapa?" raut wajah Selly menjadi tegang, ketara sekali jika gadis itu sedang ketakutan.
Alvaro tersenyum tipis. "Nggak apa-apa, buat jaga-jaga aja. Tapi lo tenang nggak usah panik, gue juga nggak mau lo kenapa-kenapa karena masalah ini." ucap Al tulus.
Meskipun masih terlihat takut, Selly tetap mengangguk merubah mimik wajahnya setenang mungkin.
Dinar dan Alvaro kini berada di kamar, usai Selly pulang. Al meminta sopir keluarganya untuk mengantar gadis itu pulang.
"Sayang, sebenarnya ada apa sih? kenapa kamu kayak khawatir gitu sama Selly?" bukannya menjawab Alvaro justru tertawa.
Membuat alis Dinar mengerut. "Kok malah ketawa sih? aku serius lho!" sewot Dinar marah.
"Kamu cemburu ya?" Dinar sontak mendengus lalu memalingkan wajah.
"Nggak!" sentak Dinar.
"Masa?" goda Al, mencolek pipi kiri Dinar.
"Tauah! kamu nyebelin!" katanya, lalu membaringkan tubuhnya membelakangi Alvaro.
"Nggak boleh lho, tidur membelakangi suaminya," sarkas Al, bernada menggoda Dinar.
Alvaro yakin hitungan ketiga, perempuan itu berbalik lalu memeluk cowok itu.
Dan benar saja, belum sampai hitungan ketiga Dinar sudah berbalik. menempelkan wajahnya di dada bidang Alvaro.
Selain tidak bisa tidur tanpa pelukan suaminya, Dinar juga takut kualat terhadap suami, karena tidurnya yang membelakanginya.
...***...