
...~•~...
"Alvaro_" teriak Amanda saat melihat Al berada di koridor sekolah.
Cowok itu berhenti tanpa menoleh. "Gimana keadaan kamu?" tanya gadis itu ketika sudah di hadapan Alvaro.
"Lumayan," jawabnya seadanya.
"Maafin Bang Roy ya, aku tau. Aku salah sudah cerita kejadian itu sama Bang Roy. nggak nyangka juga kalau Abang semarah itu,"
"Nggak apa-apa, Abang lo cuma salah paham." Al memandang Amanda intens. "Termasuk lo!" tunjuknya pada gadis itu.
"Al_" Amanda mencekal tangan Alvaro saat cowok itu ingin pergi.
Alvaro perlahan melepas tangan gadis itu, menatap tajam hingga Amanda tak berani menatap balik.
"Aku mohon, beri aku kesempatan Al_" mohonnya, suara gadis itu sudah parau.
Tanpa mendengarkan ucapan Amanda, Alvaro melenggang pergi, gadis menatap sendu punggung Al yang kian menjauh.
"Kenapa sekarang kita jadi seperti ini_" gumamnya.
Brak!!
Dinar terlonjak ketika suara pintu terbanting keras. Saat ini ia berada di kamar mandi sekolah seorang diri.
Memutar tubuh Dinar terkejut melihat kedatangan Amanda, gadis itu menatapnya begitu tajam. "Amanda_" gumamnya.
Plak!
Amanda menampar pipi Dinar sangat keras, kulit yang sangat putih bisa dengan jelas melihat tanda merah di pipinya.
"Aku benci sama kamu! DINAR!!" bentak Amanda menjambak kuat rambut Dinar.
"Gara-gara kamu, Alvaro menghindar dari aku!!" murkanya.
"Aww__ sakit. lepasin!" Dinar berusaha melepas tangan Amanda yang berada di kepalanya.
"Lo nggak bisa kayak gini Manda_ Cinta nggak bisa di paksa!!" hardik Dinar.
"Kamu ngomong gampang! aku yang ngerasain!!" Amanda melepas tangannya.
"Sampai kapan pun aku, akan terus berusaha untuk mendapatkan Al! Ingat itu.!" ancam Amanda.
Duk!
"Akh__!" sebelum gadis pergi, ia sempat menendang tulang kering Dinar sangat kuat.
Dinar terduduk di lantai, ia menangis terisak merasakan sakit di kaki dan hatinya.
Kenapa memiliki Alvaro harus sampai seperti ini, salahkah takdirnya bersama lelaki yang dia cintai.
Susah payah Dinar bangun untuk berdiri, berpegangan pada pinggiran wastafel, perempuan itu akhirnya bisa berdiri, merapikan penampilan nya Dinar memoles wajahnya dengan bedak, agar tidak terlihat habis menangis di depan Alvaro.
Dinar buru buru menyusul Alvaro bersama yang lain di kantin, ia sudah berusaha setegak mungkin saat berjalan, namun sayangnya.
Tendangan yang Amanda beri, sangat kuat hingga membuatnya tak bisa berjalan dengan santai.
Kakinya masih terasa nyeri sampai ke tulang, jika seperti ini. Dia yakin Al akan tau.
"Kok lama?" kata Al ketika Dinar sudah duduk di sampingnya.
"Iya, sakit perut." bohongnya.
"Di makan, aku sudah pesankan." Dinar mengangguk mulai menyantap baksonya, ketika ia menoleh ke kiri.
Matanya tak sengaja temu pandang dengan Amanda yang duduk bersama anak murid lain, gadis itu mendelik tidak suka.
Sangat terlihat aura permusuhan di wajah Amanda, memalingkan wajah lagi ke mangkuk, Dinar tak mau ambil pusing dengan kelakuan gadis itu.
...***...
"Sayang, kaki kamu kenapa?" Dinar menurunkan bahunya, ketahuan juga biarpun diq berusaha menutupinya.
"Kepleset di kamar mandi," Alvaro panik.
Cowok itu berlutut, melihat luka biru di kaki istrinya. "Yakin ini kepleset?" Alvaro curiga lebam di kakinya tak seperti orang jatuh seperti biasa.
Alvaro berdiri lagi, menatap lamat lamat istrinya dan dia tahu. Dinar tengah berbohong. "Siapa orangnya?" Dinar mendelik.
"Hah?" pura pura bingung.
"Siapa orang yang sudah ngelakuin ini, Sayang_" tekannya.
Dinar semakin gelisah, dia memang susah jika harus menutupi sesuatu. Dia tak jago berbohong, uang menunduk memainkan ruas jarinya.
"Amanda?" tebak cowok itu.
Dinar semakin menunduk, ia tak berani menatap wajah sang suami.
Terdengar helaan berat, keluar dari mulut Alvaro. "Sepertinya aku memang harus ngomong sama dia." Dinar mendongak memberanikan diri memandang Al.
"Biarkan dia tahu, jika kita sudah menikah."
"Tap_tapi. kalau dia cerita ke orang lain bahkan satu sekolah ini gimana?"
"Kita harus ambil resikonya sayang, kita nggak bisa kayak gini terus. Yang ada Amanda, atau Geby nyakitin kamu terus!"
"Semua yang kita alami, memiliki resiko besar. Dan kita harus bisa menghadapi ataupun menerima." Alvaro memegang pundak Dinar.
"Jangan takut, aku selalu ada. Apapun keadaannya,"
"Aku bukan khawatir sama diri aku. Tapi justru khawatir sama kamu Al. Seandainya mereka tahu kita menikah, dan berpikir buruk sama kamu gimana?"
"Aku nggak masalah," potong Al cepat.
"Tapi masalah untuk aku!"
"Kamu orang baik, dari dulu kamu selalu ngelakuin sesuatu buat aku. Tapi aku justru buat masalah kayak gini."
"Aku yakin, dulu sebelum kamu kenal aku. Hidup kamu baik-baik aja. Setelah kamu masuk di kehidupanku. Masalah selalu datang,"
"Mulai dari orang misterius itu, yang sampai saat ini belum di temukan. Di tambah sekarang sahabat kamu salah paham hingga buat dia marah, keluarganya pun ikut marah sama Bunda dan Ayah!!" Dinar meluapkan perasaannya.
Perempuan itu sudah menangis, akhirnya apa yang selama ini menjadi beban pikirannya, bisa keluar juga dari mulutnya.
Alvaro ******* bibir bawahnya, mengacak rambutnya kesal. "Kamu nyesel nikah sama aku?" bola mata Dinar membulat sempurna.
Ia menggelengkan kepala kuat kuat, Alvaro salah mengerti. Bukan seperti itu yang dia maksud.
"Bukan gitu sayang__" kata Dinar bernada rendah.
"Aku cuma merasa bingung sama semua ini. Kenapa masalah selalu datang,"
Dinar menutup mulutnya, ia terisak. sampai dekapan hangat dia terima. "Maaf, aku terlalu emosi." usap Alvaro di punggung Dinar yang berguncang.
"Kita pikirkan cara terbaik, untuk kita."
Alvaro melonggarkan pelukannya, lalu menangkup wajah Dinar. "Kita cari solusinya, tapi kita harus tetap bersama. Apapun yang terjadi nanti, kamu harus tetap di sampingku."
Dinar tidak berani mengangguk, ataupun mengiyakan permintaan Alvaro, ia terlalu takut berjanji. Dia takut tak bisa menepati.
Yang dia lakukan saat ini hanya tersenyum di depan Alvaro dan mengikuti apa yang akan di lakukan suaminya itu.
"Aku gendong ya?" tawar Al yang tak tega melihat Dinar jalan terpincang seperti itu.
"Nggak usah, parkiran sudah dekat kok." tunjuknya pada parkiran dengan dagu.
Jaraknya memang sudah dekat, Motor Alvaro pun sudah terlihat.
Seperti biasa, Alvaro memakaikan helm ke kepala Dinar, membantu perempuan itu naik ke atas motor.
Semua yang Alvaro lakukan tak luput dari pandangan seorang gadis yang berdiri tidak jauh dari motor Al, ia menatap Dinar tidak suka.
Tangannya tergenggam kuat, matanya memerah. "Sampai kapan lo betah, lihat mereka bermesraan kayak gitu?" kompor seseorang lagi yang berdiri di samping gadis itu.
"Lo harus ngelakuin sesuatu, sebelum mereka semakin lengket!" imbuhnya.
Napas gadis itu, naik turun menahan emosinya. Seseorang di sampingnya tak henti bicara, apalagi ucapan orang itu semakin membuatnya panas.
Haruskah ia melakukan sesuatu terhadap Dinar.
...***...