Alvaro

Alvaro
Bab 135. Mulai bekerja



...***...


"Nanti kalau masih ada yang kurang kamu bisa kasih tau saya, tolong di lihat lagi aja ya."


"Baik Mas,"


"Al," panggil seseorang di belakang Alvaro berdiri.


Al pun menoleh ke belakang. "Eh Aron," katanya yang ternyata orang itu adalah Aron.


Kembali ke anak buahnya, Alvaro memberikan map berwarna merah. "Kamu lihat dulu semua, nanti kabarin saya." titah Alvaro yang mendapatkan anggukan dari anak buahnya dan segera pamit pergi.


"Lo sibuk ya?"


"Ah nggak kok, tadi habis lihat stock bahan aja." kata Al yang sudah berdiri di hadapan Aron.


Aron mengangguk-angguk. "Oh iya gimana? Lo kesini jadi kan?"


Cowok berjaket abu-abu itu mengangguk dengan semangat. "Jadi Al, makannya gue kesini lebih cepat."


Alvaro terkekeh pelan, ia senang melihat semangatnya Aron dalam niat ingin bekerja.


"Kalau gitu lo boleh kerja sekarang,"


"Beneran? lo nggak mau ngetes gue dulu atau apa gitu?"


"Hahaha_ apaan sih. Kayak mau kerja apaan, udah santai aja."


Aron pada Alvaro, ia termenung sejenak. "Kenapa lo baik sama gue Al? padahal kalau di pikir, gue orang yang jahat."


Menghela napas Alvaro memasukan kedua tangannya ke dalam saku. "Gue udah maafin lo Ron, walaupun rasa kesal dan marah memang sulit untuk di hilangkan. Tapi gue bukan orang pendendam," diam sejenak Al membalas tatapan Aron.


"Justru gue senang, kalau orang yang dulunya salah dan jahat. Bisa berubah menjadi manusia lebih baik." ucap Al.


"Apa menurut lo orang kayak gue ini bisa berubah lebih baik lagi?"


"Kenapa nggak," saut Al cepat. "Setiap manusia nggak akan selalu jahat selamanya, ada masanya dia berubah. Sama seperti lo, gue yakin lo bisa seperti yang lo mau."


"Amin.. makasih ya Al, lo selalu support gue."


Merangkul pundak Aron, Al menjawab. "Kita kan teman, teman akan selalu mendukung apapun yang di lakukan temannya, asal dengan tujuan yang baik." Aron mengangguk setuju, mereka akhirnya mengobrol hal ringan.


"Al_" dua lelaki itu menoleh.


"Lho sayang, kok kamu bisa di sini? sama siapa?" Alvaro mendekati wanita hamil yang tak lain adalah Dinar.


Dinar memeluk lengan Alvaro dengan manja. "Sama tukang sopir online." jawaban Dinar sukses membuat Aron terkekeh sementara Alvaro tersenyum.


Tukang sopir online yang berarti, taksi online. Memang bumil ada-ada aja kalau ngomong.


"Di rumah nggak ada orang, Bunda ikut Ayah ke tempat teman di luar kota. Nanti malam baru pulang, akunya sendiri di rumah." cerita Dinar.


Aron tak melepas pandangan dari Dinar, bibirnya pun tersenyum tipis, ia tak menyangka Dinar bisa berubah manja saat hamil seperti itu.


Merasa di perhatikan Dinar pun menoleh, mata mereka bertemu pandang beberapa detik, sampai Aron lah yang lebih dulu memutuskan tatapan mereka.


"Al, gue harus kemana ini?"


"Oh iya, sorry-sorry. Lo kesana aja, temuin orang yang namanya Tyo, ntar lo bakal di kasih tau ngapain aja." instruksi Alvaro menuju bagian belakang cafe itu.


"Oke thanks, gue kesana dulu." pamit Aron dan segera pergi ke tempat yang sudah di tunjukkan oleh Alvaro.


"Ternyata kamu beneran terima dia di sini?"


"Beneran dong sayang, nggak apa-apa kan?"


Dinar mengangguk sekali. "Iya nggak apa-apa, ini kan cafe kamu jadi terserah kamu mau gimana, lagi pula untuk membantu hubungan mereka, aku setuju aja."


"Al malu ah_ banyak orang." menjauhkan diri saat banyak pasang mata yang melihat kearahnya.


...***...


Alvaro mengajak Dinar ke ruangannya, di sana Al baru sadar jika sang istri membawa sesuatu di dalam sebuah tempat makan.


"Sayang, kamu bawa apa?"


"Oh ini? jadi tadi aku iseng buat makanan kesukaan Ayah, rencananya besok aku mau masakin ini untuk Ayah, tapi aku mau kamu cobain dulu."


"Oh jadi aku jadi bahan percobaan nih?" ucap Alvaro yang berniat menggoda sang istri.


Dinar menggeleng kuat. "Nggak. Bukan gitu maksud aku," ucap Dinar cepat, ia menatap Alvaro takut, bahkan mata indah Dinar pun sudah berkaca-kaca.


"Maaf, kalau kamu marah. Tapi beneran bukan gitu maksud aku," berhenti sejenak Dinar mengatur napasnya. "Aku cuma pengin kamu orang pertama ngerasain masakan aku, jujur aku belum pernah buat makanan kayak gini. Tapi aku beneran nggak ada maksud gitu."


"Ssst_ kok nangis, aku kan nggak ngomong apa-apa, tadi aku bercanda sayang. Aku cuma mau ngerjain kamu, udah ya jangan nangis." mengusap air mata Dinar dengan ibu jari.


"Beneran? aku takut kamu marah, kalau gitu nggak usah di makan deh." ucap wanita itu bernada parau.


"Lho jangan dong, masa sudah capek-capek masak nggak di makan. mubasir,"


"Tapi kamunya marah. Aku nggak mau,"


"Hai_ lihat aku siapa yang marah. tadi aku cuma bercanda, oke."


"Beneran?"


"Beneran sayang," ucap Alvaro mantap dan dengan sabar.


Mengusap air matanya dengan kasar, Dinar mulai membuka Tupperware berwarna ungu tersebut, ternyata isinya adalah makana khas Sunda, yaitu Lotek, yang terdiri dari sayuran dan bumbu kacang.


"Ini Lotek, Ayah suka banget makanan ini. Tadi aku sudah ngerasain sih enak,"


Tanpa di minta dua kali, Alvaro menyantap makanan itu, ia sempat berhenti mengunyah lalu kembali menikmatinya.


Sedangkan Dinar sudah harap-harap cemas, tapi sialnya Alvaro tak kunjung memberi jawaban, lelaki itu justru asyik menghabiskan makanan tersebut.


"Gimana Al, kok diam aja sih." sewot Dinar yang sudah terlanjur kesal pada Alvaro.


"Hehe_ maaf sayang. ini enak lho, aku nggak bohong."


"Hah! serius?" pekik Dinar, Alvaro mengangguk seraya memberi jempolnya.


"Argh!" refleks ia berteriak dan mencium pipi Al.


Sontak Alvaro diam sejenak, sangking kagetnya. "Nggak sia-sia dong masak ini sampai bikin kaki aku keram."


"Hah! Kaki kamu keram? yang mana?" saut Alvaro yang panik, ia memperhatikan kaki Dinar.


semenjak hamil kaki wanita itu memang sedikit membengkak, dan Bunda Alya kadang rutin membuatkan ramuan dari rempah-rempah agar tidak semakin membengkak.


"Yang ini," tunjuk Dinar di kaki kirinya. "Tapi udah nggak kok. Kan sakitnya tadi" Alvaro bernapas lega mengusap kepala sang istri.


"Jangan terlalu capek ya, aku nggak mau kamu sama dedeknya kenapa-kenapa."


"Iya sayang, tapi besok kamu izinin aku buat ini lagi kan? nanti aku minta bantu Mba Leli supaya nggak terlalu capek, tadi memang aku kerjain sendiri, karena menurut aku cuma dikit dan masih coba-coba." ucap Dinar penuh harap.


"Boleh, asal ingat. Jangan terlalu capek kalau capek, istirahat dulu paling nggak duduk sebentar, jangan terlalu lama berdiri."


"Siap Bos!" ujarnya yang memberi hormat pada suaminya, tak lupa senyum yang menghiasi wajah cantiknya.


...***...