
...~Happy Reading~...
Hari hari yang di lalui Alvaro dan Dinar berjalan begitu cepat, semenjak kejadian itu, Dinar tidak lagi membantah perkataan Al, ia selalu menuruti apapun suaminya katakan.
Orang misterius itu pun tidak pernah datang lagi, bahkan polisi juga seolah melupakan pencarian orang itu.
"Kamu pilih menurut kamu mana yang bagus?" Alvaro menyuruh Dinar untuk memilih gaun di salah satu toko baju.
Keluarga Airlangga akan mengadakan acara pembukaan tempat wisata baru di salah satu kota, sekaligus mengenalkan Dinar sebagai calon mantu mereka.
Sengaja mereka tidak memperkenalkan Dinar sebagai mantu, selain permintaan Dinar sendiri, beliau berpikir jika keduanya masih berstatus pelajar, Ayah Angga takut. Orang mengira anak mereka telah berbuat tidak benar hingga harus nikah muda.
"Aku bingung, bagus semua." desah Dinar, ia sangat bingung ketika di suguhkan oleh deretan gaun yang begitu cantik cantik.
Alvaro ikut memperhatikan, di lihatnya semua gaun tersebut, namun ia berdecak kesal saat menyadari jika rata rata gaun itu, sangat terbuka bahkan ada yang terlihat punggungnya.
Jangan harap, Dia akan memberi izin Dinar menggunakan gaun seperti itu. Namun ada satu gaun yang menurutnya cantik, berwarna peach dengan akses renda renda di depannya, lebih terlihat dress sampai di bawah lutut bukan gaun seperti yang lain.
"Gimana kalau ini, menurut aku simpel. Dan yang terpenting nggak terbuka." Dinar mengamati dress itu, ia mengangguk setuju, lagipula dia lebih suka dress dari pada gaun yang panjang dan lebar.
"Memangnya kalau terbuka kenapa?" goda Dinar.
"Enak di mereka, nggak enak di aku. Aku nggak ikhlas punya aku di lihat-lihat orang lain." Dinar terkekeh.
"Posesif banget sih." katanya lalu memeluk lengan Al.
"Oke, aku pilih ini." putusnya.
Alvaro segera memberi dress itu pada karyawan butik tersebut lalu di bayar, selesai urusan dress mereka harus segera pergi, karena harus segera sampai ke kota tujuan.
Jarak kota yang mereka datangi kemungkinan sekitar satu jam perjalanan, dan Al lebih memilih mengendarai mobil sportnya sendiri, ia hanya ingin menikmati perjalanan berdua saja.
Alvaro yang tak mendengar ocehan dari sang istri pun menoleh melihat apakah Dinar sedang tidur.
Namun nyatanya perempuan itu sedang melamun, panggilannya saja tak di jawab. "Sayang, hey." Al mengusap punggung tangan Dinar yang dia genggam.
"Hah?" beonya yang baru tersadar dari lamunan
"Mikirin apa? sampai panggilan aku nggak di dengar?" Dinar menghela napas berat, ia menunduk.
"Aku lagi mikirin soal acara nanti malam, aku gugup. Dan takut Al, aku yakin tamu-tamu yang hadir, orang-orang penting, Aku takut bikin malu. Kamu dan Ayah." ujarnya begitu pelan.
Alvaro terpaksa menghentikan mobilnya terlebih dahulu, menarik rem tangan. Al merubah posisi duduknya menjadi miring kesamping.
"Kenapa bisa punya pikiran sampai seperti itu?" Dinar memandangi wajah tampan Alvaro dengan teduh.
Tidak bisa di bohongi, jika Al memang melihat ada pancaran ke khawatiran di mata indah istrinya. "Apa aku nggak usah ikut aja ya." Alvaro mengerutkan kening tidak suka.
"Kalau kamu nggak datang, aku juga nggak datang."
"Jangan dong sayang_ Kan kamu juga orang penting di acara nanti malam."
"Nggak mood kalau nggak ada kamu. Lagian apa yang perlu di khawatirkan? kalau pun nanti mereka ngomongin kamu yang nggak-nggak, itu urusan aku. Biar aku yang menyelesaikan."
Alvaro menggenggam tangan Dinar, meyakin perempunya agar semua pasti baik baik aja. "Jangan hiraukan mereka, cukup berdiri di samping aku." lanjut Al lembut.
Dinar menarik napas besar, perlahan ia mengangguk. membuat Alvaro lega.
...***...
"Terima kasih Mas,"
"EH! No. no. jangan panggil saya Mas, panggil saya Sis. Oke cantik_" protes perias itu yang bergaya gemulai.
Dinar meringis malu dan hanya mengangguk, sudah siap dengan segala apapun. Dinar segera keluar dari kamar menemui Alvaro yang menunggunya di depan kamar hotelnya.
Cowok yang kali ini menggunakan jas hitam itu terlihat begitu tampan, ia belum menyadari kedatangan sang istri, Hingga Dinar menyentuh lengannya.
Baru Al menoleh, ia terdiam memandang Dinar. Sungguh dia terpana dengan kecantikan Dinar, meskipun make up tidak terlalu tebal, kecantikan alami dari wajah sang istri membuat wanita itu begitu cantik.
"A_ada yang salah ya?" gugup Dinar, di pandang seperti itu membuat jantungnya berdetak tidak normal.
"Eghm!" Alvaro berdeham ia pun menjadi salah tingkah.
"Ah_ nggak kok. Kamu semakin cantik malam ini, Jadi malas pergi aku." Dinar mengerutkan kening.
"Lho kenapa?" Ia sudah berpikir yang tidak tidak, apakah Al malu membawa perempuan seperti dirinya kedalam pesta.
Alvaro menarik pinggang Dinar hingga tubuh mereka merapat. "Kamu terlalu cantik malam ini, aku nggak rela kalau banyak cowok-cowok lihatin kecantikan kamu " bisiknya tepat di depan wajahnya
Dinar tersenyum manis. ia pun diam diam bernapas lega. Ternyata dia selalu berpikir buruk pada suaminya.
Dinar mengusap pipi Al. "Kecantikan aku cuma untuk kamu, apa yang ada di diriku pun. Sudah menjadi milikmu," Alvaro mengulum senyum senang ia mengecup kening Dinar lama.
Menuju ke ketempat acara, kegugupan semakin di rasakan oleh Dinar, keringat dingin mulai keluar di telapak tangannya.
Perempuan itu sampai meremas tangan suaminya, gelisah, takut menjadi satu rasanya, Al menoleh. ia melihat Dinar sering membuang napas kasarnya.
"Santai, semua akan baik-baik aja." bisiknya.
Alvaro mengandeng tangan Dinar menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggunya. "Alvaro," sapa salah satu rekan bisnis Ayah Angga.
"Selamat malam Om," Al meraih tangan orang itu sebagai tanda sopan satun.
"Kamu semakin besar, semakin tampan ya,"
"Oh iya kenalkan dia tunangan anak saya, Namanya Dinar." Dinar tersenyum sopan sedikit memberi hormat.
"Oh jadi benar Pak Angga membuka resort ini sekaligus memperkenalkan tunangan putra Pak Angga?"
"Benar Pak, Kemungkinan nanti setelah Alvaro lulus sekolah mereka akan segera menikah."
"Sayang sekali, padahal saya ingin sekali menjodohkan putri saya dengan putra Pak Angga, supaya kita besanan." kelakarnya di susul tawa oleh yang lain.
"Ngomong-ngomong, orang tuamu di mana. kerja di mana? Di perusahaan mana, siapa tau saya kenal?" semua terdiam termasuk Dinar dia tak tau harus menjawab apa.
Alvaro semakin menggenggam tangan Dinar. "Eghm!" Al berdeham memecahkan keheningan. "Mau pekerjaan apapun orang tua tunangan saya,"
"Tidak menjadi masalah bagi saya Om, Karena saya memilih dia bukan karena harta, tapi soal hati." tulus Al memandang teduh Dinar, semua diam seketika tak ingin melanjutkan obrolan mereka.
Dinar hanya diam menunduk, pelupuk matanya sudah basah siap untuk menangis karena hatinya menghangat, atas ucapan tulus yang keluar dari mulut Alvaro.
...***...
...TBC...