
...`Happy Reading '...
...***...
"Assalamu'alaikum Wr Wb. Selamat malam, Saya ucapkan terima kasih para tamu undangan yang sudah hadir malam ini, di acara pembukaan resort terbaru saya di kota ini," Ayah Angga naik ke atas panggung memberi ucapan dan pembukaan acara.
"Saya selalu bersyukur, atas apa yang tuhan beri kepada saya. Keberhasilan saya tidak akan ada apa-apanya, Jika tidak ada campur tangan dari keluarga tercinta saya," Ayah memandang teduh istri dan anak anaknya yang berada di bawah panggung.
"Dan Saya membangun dan membuka resort ini, adalah bentuk kasih sayang saya, kepada." Jeda sekian detik. "Anak saya Alvaro." Al yang sedari tadi menunduk pun sontak mendongak menatap sang Ayah.
"Saya berikan resort ini kepadanya, dan sudah atas nama dirinya. Mari nak sini," Ayah Angga menyuruh putranya ikut naik ke atas panggung.
Alvaro yang masih dengan wajah bingungnya ia maju menghampiri Ayahnya. semua bertepuk tangan, dan ada yang saling bisik bisik.
"Ayah ini maksudnya apa?" bisik Al saat tiba di samping Ayah Angga.
"Hadiah untuk kamu dan juga Dinar, Ayah yakin kamu bisa menjadi orang sukses." katanya yang dapat di dengar oleh mereka.
Ayah Angga fokus kembali pada para tamu. "Ada satu lagi yang tak boleh saya lupakan, sini nak." suruh Ayah kepada Dinar.
Cewek itu sedikit membulatkan matanya, ia menunjuk dirinya sendiri mengarah pandangannya ke Alvaro. Cowok itu mengangguk sekali lalu menyuruh Dinar segera naik.
Dengan gugup, tubuh sedikit bergetar, Dinar mulai naik menyusul Al.
Alvaro menyambut Dinar di satu anak tangga paling atas, mengulurkan tangannya yang di sambut oleh Dinar, Al tersenyum simpul ketika merasa tangan Dinar begitu dingin dan berkeringat.
"Perkenalkan, dia Dinar Maharani. Perempuan pilihan anak saya, dan acara ini selain pembukaan resort terbaru saya, ini juga hari pertunangan mereka, Jika tidak ada halangan. Begitu Alvaro lulus, saya akan menikahkannya pada pilihannya." usai pengumuman tersebut mereka saling bisik bisik.
Dan Dinar mencuri dengan, mereka masih membahas asal dirinya dan juga keluarganya, peka dengan raut wajah Dinar.
Alvaro merengkuh tubuh Dinar, memeluk dari samping tubuh sang istri. "Jangan di dengar," bisiknya.
Dinar mengangguk patuh, namun bagaimana caranya agar tidak di dengar, mereka saling bisik, namun bisa di dengar oleh orangnya langsung.
Usai urusan di atas panggung, Alvaro membawa Dinar untuk duduk, mengambilkan minuman dingin lalu ia berikan pada istrinya.
Alvaro duduk di samping Dinar, meneguk minumannya sambil melihat para tamu yang baru saja berdatangan. Rata rata, mereka yang datang Alvaro tau dan cukup kenal.
"Sayang," panggil Dinar.
"Ehm?" Al menoleh ke samping menatap Dinar.
"Beneran, kita lulus mau ngadain resepsi?" Al mengangguk membenarkan.
"Iya, aku ingin. membuat sejarah di kehidupan kita,"sungguh Al menatap dalam mata Dinar.
Mereka saling pandang dan tersenyum, tanpa peduli orang orang yang sedang melihatnya. Hingga suara seseorang di samping Alvaro, memutuskan kontak mata mereka.
"Al," tampan berjas hitam tersebut, terdiam sesaat. Pandangannya seolah tidak percaya dengan orang yang ada di depannya.
"Apa kabar Al?" tanya seorang gadis putih berwajah oval, jika tersenyum ada lubang di pipi kirinya.
"Ba_ Baik."
"Maaf telat, Aku baru datang." sesal gadis itu.
Dinar di samping Al mengerutkan kening, memandang Alvaro dan gadis itu bergantian.
Alvaro berdeham, ingat jika di sampingnya ada Dinar. "Sayang, kenalin dia Amanda." kata Al singkat tanpa menjelaskan siapa gadis itu, dan kenapa mereka seperti akrab sekali.
Dinar mengulurkan tangan, yang di sambut kurang suka dari gadis itu. "Dinar," ujar Dinar tersenyum manis.
"Amanda." singkatnya tanpa ekspresi.
...***...
Mengikuti arah pandang gadis yang jaraknya cukup jauh darinya, dan ternyata gadis itu memperhatikan Alvaro bersama teman temannya yang katanya datang langsung dari Surabaya.
Tadinya Alvaro ingin mengajaknya berkenalan dengan teman temannya itu, tapi dia beralasan jika lelah.
Padahal Dinar malas, bila harus bertemu orang baru yang tidak dia kenal.
"Hai_" Dinar terlonjak ketika seorang pria sekitar umur dua limaan berjas merah maroon, tanpa permisi dan izin duduk di sampingnya.
"Boleh gue gabung?" Dinar hanya mengangguk, kenapa harus izin. Situ sudah duduk duluan. Pikir Dinar dalam hati.
"Kamu tunangan Al?" Mengangguk sebagai jawaban.
Pria itu terkekeh, lalu meneguk minumannya. "Gila, perasaan. Baru kemarin gue main sama tuh bocah, eh nggak taunya sudah punya tunangan."
"Kasian adek gue, di anggurin," mendengar kata adek, Dinar pun penasaran.
"Adek?" beonya menatap bingung.
"Iya adek, tuh orangnya," kata pria itu menunjuk dengan dagunya.
Orang yang di maksud adalah Amanda. "Kenalin nama gue Roy," mengulurkan tangannya mengulum senyum hangat, sempat ragu namun akhirnya Dinar menjabat tangan besar pria tersebut.
Terlalu Asik Alvaro baru tersadar jika dia terlalu lama meninggalkan Dinar, ia mengerutkan kening ketika melihat Dinar bersama seorang pria.
"Eh, gue pamit dulu, nikmati aja hidangannya."
"Oke Al, matur nuwun." saut temannya berbahasa jawa timur.
"Sayang," panggil Al ketika sampai di hadapan keduanya.
Dinar sontak berdiri lalu berdiri di samping Al. "Bang?" sapanya pada pria itu.
"Selamat Al, atas resort lo. Dan pertunangan kalian," kata Roy memandang Dinar.
Entahlah Dinar tidak bisa memastikan ucapan itu tulus atau tidak, apalagi pria itu menatap Dinar yang sulit di jelaskan.
"Thanks Bang, kapan-kapan main kerumah Bang. sudah lama di sini nggak pernah main kerumah," basa basi Al pada pria itu.
"Sorry Al, akhir-akhir ini kantor sibuk. Ntar deh gue bakal main," kekehnya.
"Oke gue pamit dulu, ada urusan, sekali lagi selamat."
"Bang Roy bilang apa?" tanyanya setelah pria itu pergi.
"Nggak bilang apa-apa, dia cuma kasih tau. Kalau orang tadi adalah kakak gadis itu." tunjuk Dinar dengan dagunya.
"Makan yuk, aku lapar," ajak Al membawa Dinar ke salah satu meja yang di isi dengan beberapa makanan besar.
Alvaro dan Dinar terlihat begitu bahagia, mereka tidak peduli banyak orang yang memperhatikannya.
Bagaimana tidak bahagia, mereka saling menyuapi makanan dan mengobrol yang membuat hati mereka bahagia. Bahkan Al sempat menggoda istrinya dengan meminta sesuatu yang sudah Dinar beri kemarin.
Sontak itu membuat pipi Dinar memerah, tapi ia tetap mengiyakan ajakan suaminya itu. Tanpa mereka sadari ada seseorang memperhatikannya dengan raut wajah marah, sedih, dan juga menatap kearah Dinar datar dan tajam.
Siapa lagi jika bukan, gadis yang baru datang dan bernama Amanda.
...***...
...TBC...