
...~•~...
"Mari Om Tante, saya sudah pesan tempat ini khusus untuk kita malam ini," kata Roy menunjuk kursi di restoran itu yang sudah dia pesan.
"Wahh, kamu sibuk. Masih sempat ngurus hal seperti ini?"
"Saya bingung dan takut Om," celetuk Roy.
"Takut kenapa?" saut Bunda Alya.
"Ya_ Om kan pengusaha restoran, dan cafe yang sukses. Saya takut Om dan Tante nggak suka," kelakarnya.
Semua tertawa, namun tidak untuk Alvaro. dia hanya diam menyimak dan mendengar mereka bicara, Al punya pikiran sendiri di kepalanya.
"Kamu bisa aja, namanya restoran pasti sama saja, beda menu dan konsepnya aja," jawab Ayah Angga.
"Al, kalau kamu masih suka menu makanan kayak dulu kan?" Bu Lilis bertanya pada Alvaro.
Tak ada jawaban dari si empu nama, semua mata melihat kearahnya, hingga sikutan dari Bunda Alya menyadarkan Al dari lamunannya.
"Eh_ Iya? kenapa maaf nggak dengar?" gagap Al memandang semua orang di hadapannya.
"Kamu kenapa? kok bengong?"
"Nggak apa-apa Tante, lagi kurang fit aja." bohongnya.
Amanda yang duduk di hadapan Al, tau jika cowok itu sedang berbohong. Dia yakin kalau Alvaro sedang kepikiran tentang Dinar.
"Ya udah yuk, kita mulai makan. sayang kalau makanan dingin, mari Pak Angga." ajak Pak Damar memecah keheningan.
Sambil menikmati makanannya, Amanda curi pandang kepada Alvaro, sebab. cowok itu makan sambil terus melihat ke layar ponsel.
Ingin rasanya dia mengambil ponsel itu dan membantingnya, karena dia saat ini hanya ingin Alvaro fokus pada dirinya dan keluarganya yang mengajak makan malam, dan menghormati permintaan maaf abangnya.
Alvaro menyelesaikan makanaya lebih dulu, dia berpamitan untuk pergi ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Alvaro menelpon Dinar, namun tidak di angkat oleh perempuan itu.
Padahal dia ingin bertanya sesuatu. "Mungkin sudah tidur?" gumamnya sendiri.
Merapikan penampilan di depan cermin, Al keluar dari kamar mandi. Di depan pintu kamar mandi tersebut ia di kejutkan oleh seseorang yang berdiri sambil melipat tangannya di dada.
"Manda, lo ngapain di sini?" Amanda melangkah mendekati Alvaro.
"Kamu bisa nggak sih? hargai keluarga aku! dari tadi aku perhatikan. kamu sibuk sama hape kamu!"
Al mengerutkan kening. "Dari awal gue memang sudah nggak minat ikut! kalau lo ngerasa nggak suka. gue pulang!" Amanda mencekal tangan Al.
Gadis itu memeluk Alvaro erat, takut salah paham Al berusaha melepas pelukan Amanda dari tubuhnya. Meskipun sulit, ia terus berusaha.
"AMANDA!! bentak Al marah.
"Kenapa! dulu kita juga sering pelukan! dulu kamu sering peluk aku di saat sedih!"
"Itu dulu!" tekan Al kuat.
"Kita sekarang sudah dewasa, kita bukan anak kecil lagi Amanda!!"
"Apa bedanya? kita masih bisa ngelakuinnya!" gadis itu memicingkan mata. "Apa karena kamu sekarang punya tunangan? IYA!"
Alvaro mengusap wajahnya kasar. Menghadapi sikap gadis itu membuat kesabarannya benar benar di uji. "IYA kan!" masih saja Amanda berteriak.
Untung saja kamar mandi tempatnya berada sekarang, sedang sepi. Jika tidak, bisa malu dia. Batin Al.
"Apa bagusnya Dinar untuk kamu? lebih baik kamu tinggalin dia Al!"
Alvaro mendelik, rahangnya mengeras, kesabaran dan emosinya sudah di ambang batas. Tiba tiba Al mencengkram pundak Amanda menyudutkan gadis itu ke tembok.
Amanda gugup dan takut, Alvaro berubah menyeramkan sekarang. "JAWAB!!" bentaknya di depan wajahnya.
Tak berani membuka mata, ia hanya bisa menutup rapat rapet matanya. merasakan hembusan napas cowok itu.
"Asal lo tau. Gue dan Dinar bukan cuma sekedar tunangan." jeda sejenak. "Tapi kita sudah menikah!" perlahan ia membuka mata, dan ketika mencerna ucapan Alvaro, Amanda membulatkan matanya.
"Bo_hong! kamu pasti bohong kan!!" bibir gadis itu bergetar, berharap Alvaro sedang mengerjainya.
Alvaro melepas tangannya dari pundak Amanda, lalu tangannya mengeluarkan kalung di balik kemeja putih. "Kita memang sudah menikah! dan lo jangan usik kehidupan gue. Atau pun sentuh Dinar!"
"Sampai lo celakai Dinar." diam sejenak, dan kian menatap tajam Amanda. "Nggak peduli lo sahabat kecil gue! habis lo berurusan sama gue!" ancamnya.
Meninggalkan Amanda yang masih diam seperti patung, menatap punggung Alvaro sendu, hingga tangisnya pun pecah. Al yang masih bisa mendengar, mengabaikan dan terus melangkah pergi tanpa menoleh kebelakang lagi.
...***...
Alvaro kini berada di depan restoran tersebut, ia tak ingin bergabung lagi dengan orang tuanya dan keluarga Amanda, Ia butuh ketenangan, sampai tiba tiba ponselnya bergetar.
Al tersenyum melihat siapa yang telah menelpon. Tanpa ragu ia mengangkat telepon tersebut.
"Halo?"
"Halo,, sayang tadi kamu telepon ya? maaf ya, aku tadi di lantai bawah."
Alvaro tidak langsung menjawab, ia sedang menenangkan hatinya dengan mendengarkan suara lembut Dinar.
"Al_ Sayang_ kamu masih di situ kan? Halo."
"Ehm_ aku ganggu?"
"Nggak? kamu sudah selesai makan malam nya?"
"Sudah, aku keluar duluan. Nggak asyik. Kalau nggak ada kamu," hening, Dinar diam.
"Kamu sudah cerita ke Amanda?"
Alvaro menganggukkan kepalanya tanpa sadar, padahal dia mengangguk pun istrinya tak bisa melihat anggukan itu. "Nanti aku cerita di rumah,"
Saat mendengar suara gaduh di belakangnya, Al menutup telepon dan menoleh kebelakang, keributan itu berasal dari, Bang Roy yang membopong Amanda. dan suara Bu Lilis berteriak memanggil nama putrinya.
"Bunda, ada apa?" tanya Al pada Bundanya.
"Amanda pingsan di dalam kamar mandi! Yuk kita ikut anter kerumah sakit nak." panik Bunda Alya, menarik tangan putranya.
Alvaro mau tak mau ikut mengantar Amanda kerumah sakit, ia jadi ikut panik. Dia khawatir jika terjadi sesuatu pada gadis itu. Mengendarai mobilnya begitu kencang Al mengantar ke rumah sakit terdekat.
Bang Roy segera membawa Amanda ke ruang UGD, semua begitu terlihat panik apa lagi Bu Lilis. Beliau sudah menangis tersedu di pelukan Bunda Alya.
Al hanya mampu diam, menunggu dokter yang sedang memeriksanya, Ia menundukkan kepalanya. Apakah ini karena dirinya.
Sampai membuat gadis itu pingsan, jika benar. Al pasti akan merasa bersalah, biar bagaimana pun Amanda adalah sahabatnya, meskipun gadis itu menyebalkan. Ada rasa sayang sebagai Kakak, yang dia rasakan untuk Amanda.
Menghabiskan waktu bersama sejak kecil, sangat tau bagaimana Amanda. Gadis itu memang suka pingsan jika terlalu banyak pikiran.
Merogoh ponselnya di saku, ia mengirim pesan pada Dinar jika dia akan pulang terlambat, Al juga memberitahu kalau Amanda kini berada di ruang UGD.
Usai memberi kabar pada Dinar, matanya tak sengaja bertemu pandang dengan Bang Roy, pria tersebut menatap tajam kearahnya, tak ingin mencari keributan. lebih baik Al beranjak dari duduknya dan memilih sedikit menjauh.
...***...
...TBC...