Alvaro

Alvaro
Chapter 32



"Kak Alvaro"panggil Devina saat ia melihat Alvaro memasuki supermarket tersebut.


Wajah Alvaro langsung menegang lalu dengan cepat ia merubah raut wajahnya menjadi datar.


"Teryata benar kakak,aku kira bukan kakak"ucap Devin senang.


"Kapan iblis ini datang?"tanya Alvaro dalam hati kesal.


"Oh,kau"ucap Alvaro datar,ia mengambil satu kaleng minuman bersoda di lemari pendingin.


Devina langsung memeluk lengan Alvaro yang langsung membuat tubuh Alvaro menjadi kaku di tempat lalu ia tetap berjalan menuju kasir pembayaran.


"Kak,aku merindukan mu"ucap Devina dengan nada manja.


"Tapi aku tidak"balas Alvaro dalam hati,ia lebih memilih diam dari pada meladeni Devina berbicara karena baginya begitu merepotkan.


"Bisa kau lepaskan pelukan mu? Aku risih"tanya Alvaro dingin membuat Devina tersentak lalu melepaskan pelukannya pada lengan Alvaro.


"Kakak,kenapa sifat mu sekarang berubah?"tanya Devina sedih.


"Dari dulu sifat ku seperti ini brengsek!!"umpatnya dalam hati.


"Kakak, bagaimana kalau kita jalan-jalan?"tanya Devina. Alvaro tetap diam tidak menjawab membuat Devina murung.


"Kak"rengek Devina. Alvaro hanya melihatnya sekilas.


"Kapan kau datang?"tanya Alvaro sambil menghempaskan tangan Devina yang berada di lengannya dengan pelan.


"Tadi,tapi kakak malah melamun"ucap Devina.


"Apa yang kakak pikirkan?"tanya Devina.


"Aku memikirkan Hana,tapi yang datang malah iblis sepertimu"ucap Alvaro dalam hati.


"Bukan sesuatu yang berat"ucap Alvaro,ia berjalan mendahului Devina.


"Kakak ingin kemana? Aku ikut ya?"ucap Devina dengan semangat.


"Aku ingin menjauhi mu,tapi kau selalu mengikutiku seperti ekor ******"batin Alvaro kesal.


Alvaro tetap berjalan tanpa memperdulikan Devina di belakangnya.


"Kakak,aku dengar kakak dekat dengan perempuan ya. Siapa namanya?"tanya Devina.


Alvaro terdiam lalu berbalik menatap Devina"bukankah kau sudah kenal,bahkan kau menyiksanya sialan!!"batin nya.


"apa itu penting untuk kau ketahui?"ucap Alvaro datar membuat Devin tersentak kecil.


"Aku hanya bertanya saja,siapa tau aku bisa berkenalan dengan nya"ucap Devina senang yang menurut Alvaro hanya kepalsuan belaka.


"Mimpi!!"umpat Alvaro dalam hati.


"Oh"jawabnya.


"Pulanglah,aku ingin pergi"ucap Alvaro lalu menaiki motor miliknya.


"Kakak ikut"rengek Devina.


"Tidak."


"Ikut."


"Tidak."


"Kak,ikut!!"ucap Devina kesal.


"Aku bilang tidak ya tidak,apa kau tidak mengerti bahasa ku?!"ucap Alvaro marah membuat Devina terdiam.


"Jangan pernah menganggu kesenangan ku,mengerti!!"sambung Alvaro.


Alvaro langsung memasangkan helm miliknya lalu menancapkan gas dengan kecepatan tinggi meninggalkan Devina di tempat tersebut sendiri.


Devina mengepalkan kedua tangannya"aku tidak akan melepaskan mu kak"ucapnya.


Devina terkekeh kecil"kau hanya milikku."


∆∆∆


Alvaro melempar jaketnya dan mengenai tepat di wajah Fadhel.


"What the--"ucapannya terhenti saat melihat raut wajah Alvaro yang suram ia lebih memilih diam dari pada membangun kan singa yang sedang tidur.


"Devina datang"ucap Alvaro.


Rio langsung menyemburkan minumannya dan mengenai Kris di depannya.


Kris langsung menatap datar lalu mengeluarkan sapu tangannya dan membersihkan wajahnya yang basah.


Rio hanya mengeluarkan cengiran khasnya lalu menaruh kembali minumannya"kau serius?"tanya nya.


Alvaro mengangguk lalu membuka minuman kaleng miliknya dan meminumnya hingga tandas.


"Lalu bagaimana?"tanya Kris.


"Tidak ada yang bisa ku lakukan,jika dia menyentuh Hana lagi. Aku tidak akan tinggal diam"ucap Alvaro.


"Sebenarnya bagaimana sifat Devina?"tanya Rio.


"Berubah-ubah"jawab Alvaro.


"Seperti?"tanya Rio lagi.


"Seperti anak kecil yang manja dia juga bisa berubah menjadi lebih mengerikan"ucap Alvaro.


"Ehm--entah kenapa aku jadi merinding"ucap Rio sambil bergidik ngeri.


"Jangan tertipu dengan tampang polosnya,itu hanya topeng yang ia gunakan"ucap Alvaro.


"Bukan kah dia hanya seorang gadis biasa,kenapa kau jadi takut padanya?"tanya Kris.


"Aku tidak takut,aku hanya menghormati orang tuanya"ucap Alvaro.


"Dan dia bukan sekedar gadis biasa"sambung Alvaro.


"Lalu kenapa tidak kau hancurkan saja?"tanya Fadhel.


"Kalau aku tidak memandang dia saudaraku,dari dulu dia sudah habis di tangan ku"ucap Alvaro datar.


Rio bergidik ngeri"ok-ok ganti topik,lalu bagaimana dengan Hana?"tanya nya.


Alvaro terdiam"dia aman"ucapnya.


Rio menepuk keningnya"bukan itu maksudku"ucapnya.


"Lalu?"tanya Alvaro.


Rio menghela nafas pelan"hubungan mu dengan Hana"ucapnya.


"Hana tetap kekasih ku sampai kapan pun"ucap Alvaro.


"Baguslah kalau begitu aku lega mendengar nya"ucap Rio.


"Hey sudah lama kita tidak bersenang-senang"ucap Fadhel dengan semangat.


"Memangnya kenapa?"tanya Kris.


Fadhel melempar botol kosong kearah Kris"maksudku,ayo kita bersenang-senang,bodoh!!"ucapnya.


Kris mengusap keningnya yang terkena sasaran lemparan Fadhel"bersenang-senang kemana?"tanya nya.


Fadhel menatap Rio dengan penuh arti"apa?"tanya Rio.


"Ayo kita pergi"ucap Fadhel dengan menggebu-gebu.


"Kemana?"tanya Rio.


"Ke club"ucap Fadhel sambil memukul meja di depannya.


"Hilangkan penat hari ini"sambung Fadhel. Rio mengangguk setuju lalu di susul anggukan dari Kris.


"Bagaimana denganmu?"tanya Kris kepada Alvaro.


Alvaro terdiam sejenak berpikir lalu mengangguk"boleh,hanya sebentar"ucapnya.


Fadhel berseru senang"nah ayo kita ke club'"ucapnya.


"Hilangkan penat dan semua masalah hari ini."


∆∆∆


TBC