Alvaro

Alvaro
Chapter 34



Alvaro menggendong tubuh Hana menuju rumahnya saat ia membuka pintunya.


Arika yang baru saja ingin mengunci pintu ia terkejut dengan kemunculan Alvaro yang tiba-tiba itu.


"Astaga!! Kau mengagetkan ku"ucap Arika sambil mengelus dadanya.


Alvaro hanya menatap ibunya lalu meminta maaf yang hanya di balas anggukan kepala Arika.


"Hana kan?"tanya Arika.


"Iya."balas Alvaro.


"Dia--"


"Tertidur"ucap Alvaro lebih dulu.


Arika mengangguk paham"yasudah kalian istirahat lah,ini sudah larut malam"ucapnya.


Alvaro mengangguk lalu menaiki anak tangga satu persatu menuju kamarnya.


"Alvaro"panggil Ervin membuat Alvaro langsung menoleh.


"Setelah mengantarkan Hana ke kamarmu,pergilah ke ruangan ku. Ada yang harus aku bicarakan padamu"ucap Ervin serius.


Alvaro mengangguk"baiklah."ucapnya.


Alvaro meletakkan tubuh Hana perlahan di kasur sambil menutupi seluruh tubuh Hana dengan selimut.


Alvaro mengecup kening Hana"night honey"bisiknya.


Lalu ia melangkah keluar dari kamar dan menutup pintu kamar dengan pelan.


"Ada apa ayah?"tanya Alvaro,saat ia memasuki ruangan Ervin.


"Kau membawa Hana kemari apa kau--"


"Aku tidak akan mundur lagi ayah,aku mencintai Hana"ucap Alvaro dingin.


"Walaupun nanti harus melawan Devina sepupuku sendiri,aku hanya ingin dengan Hana"sambung Alvaro.


Senyum Ervin mengembang"good boy,aku akan membantumu sekalipun membunuh iblis itu"ucapnya.


"Setelah ini mungkin Hana akan di incar lagi oleh Devina,jagalah Hana dengan baik"ucap Ervin.


Alvaro mengangguk"pasti"ucapnya dengan serius.


"Tidurlah,sudah malam"ucap Ervin."besok kita bicarakan masalah ini lagi"sambungnya.


Alvaro mengangguk lalu berjalan menuju pintu"Alvaro"panggil Ervin membuatnya langsung menoleh.


"Kenapa?"ucap Alvaro bingung.


"Jangan lupa pakai pengaman"ucap Ervin jahil membuat kening Alvaro mengkerut.


"Ya aku sangat senang jika aku punya cucu lebih cepat"sambung Ervin membuat Alvaro tau kemana arah topik yang di bicarakan ayahnya.


"Lucu sekali"ucap Alvaro datar membuat tawa Ervin lepas.


"Astaga!! aku serius nak"ucap Ervin sambil memegangi perutnya yang keram karena tertawa.


"Kalau ayah sudah berbicara aku akan pergi"ucap Alvaro,ia langsung keluar dan menutup pintu.


Alvaro kembali memasuki kamarnya,ia melihat Hana meringkuk seperti bayi di kasurnya.


"Hana"panggil Alvaro sambil menggoyangkan tubuh Hana.


Hana tersentak ia langsung membuka matanya ia menatap Alvaro dengan tatapan sendu.


Hana menarik tangan Alvaro hingga tubuh Alvaro berada di atas tubuhnya,ia melingkarkan tangannya di leher Alvaro.


"Shit!! Hana sadarlah kalau tidak aku tidak akan bisa menahannya lagi"ucap Alvaro sambil menggeram.


"Sebenarnya berapa persen takaran alkohol yang diminum Hana?"tanya Alvaro dalam hati.


Hana menarik tengkuk Alvaro,ia mencium bibir Alvaro dengan intens membuat Alvaro lagi-lagi menggeram.


Alvaro menatap Hana yang berada dibawah nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Kau yang meminta ini Hana."Alvaro kembali menciumnya.


∆∆∆


"Arika,apa Ervin dan Alvaro ada di rumah?"tanya Fabio.


"Ada paman,masuklah"ucap Arika.


"Ada apa paman datang malam-malam begini?"tanya Arika.


"Ada urusan sangat penting dan aku harus membicarakan nya dengan suami dan anak mu"ucap Fabio.


"Kalau begitu biar aku yang panggil Al--"


"Tidak usah,biarkan aku saja. Kau panggil Ervin"ucap Fabio lalu di balas anggukan kepala Arika.


Saat Fabio naik tangga satu persatu dan ia tepat berada di depan pintu kamar Alvaro.


Lalu ia akan membukanya namun terhenti saat ia mendengar suara yang tak asing,ia menyeringai.


"Astaga!! Tidak aku sangka cucuku cepat tanggap juga"gumam Fabio sambil bersiul.


Ia lebih memilih berjalan kembali menuju ruang tamu,ia melihat Ervin sudah duduk disana sedangkan Arika sudah lebih dulu kembali ke dalam kamarnya.


"Dimana Alvaro?"tanya Ervin.


Fabio tersenyum penuh arti kearah Ervin"dia sedang bersenang-senang"ucap nya.


Ervin mengerutkan keningnya"maksud paman?"tanya nya.


"Ah,tidak aku sangka dia lebih unggul darimu"ucap Fabio.


"Dalam hal?"tanya Ervin yang masih tidak mengerti maksud dari Fabio.


"Dalam hal mengikat wanita"ucap Fabio sambil tertawa.


Ervin terdiam lalu menatap Fabio"ah aku mengerti sekarang"ucap Ervin.


"See,dia lebih unggul dari ayahnya"ucap Fabio jahil.


Ervin mendengus"yasudah,apa yang membuatmu datang kerumah ku malam-malam begini?"tanya nya serius.


"Ada yang ingin aku bicarakan ini mengenai Devina"ucap Fabio serius.


Tubuh Ervin menegang"Devina?"tanya nya.


Fabio mengangguk"yups,tapi anak mu sedang tidak bisa di ganggu aku menyampaikan padamu dulu"ucapnya.


"Ok next."


Pagi harinya...


Hana mulai membuka matanya perlahan,lalu memijat keningnya sepertinya pilihan ia meminum alkohol itu salah.


Kenapa ia bermimpi bertemu Alvaro disana,Hana menggelengkan kepalanya tidak mungkin Alvaro ada disana kan pasti ia sedang berhalusinasi.


Tunggu sebentar,ini bukan kamarnya. Sejak kapan kamar apartemen miliknya sebesar dan seluas ini.


Ini seperti kamar----tunggu dulu kenapa ia hanya memakai selimut dan tidak memakai atasan apapun. Jangan bilang ia melakukan sesuatu yang iya-iya.


"Morning"bisik Alvaro dengan suara seraknya sambil mengeratkan pelukannya.


Tubuh Hana menegang ia langsung membalikkan badannya matanya melotot tidak percaya melihat Alvaro dengan kondisi polos seperti dirinya.


Jangan bilang kemarin malam itu bukan mimpi jadi dia dan Alvaro kemarin---wajah Hana langsung merah merona.


Alvaro menyeringai melihat perubahan pada wajah Hana lalu ia mengurung tubuh Hana berada di bawahnya.


Hana menahan tubuh Alvaro"tu-tunggu dulu,kemarin malam itu--kita. Sebentar apa kita--"


Alvaro mengecup bibir Hana"dengan begini,aku sudah mengikatmu Hana"bisiknya.


"Setelah ini kau tidak akan bisa menjauh dariku."


∆∆∆


TBC