
...***...
"Ayah," melihat Ayahnya sudah tiba, Jingga berlari menghampiri Hendra.
Gadis itu langsung menubruk tubuh sang Ayah, dengan senang hati Hendra membalas pelukan putrinya.
"Ayah, Jingga kangen sama Ayah," ujarnya di ceruk leher Hendra.
"Sama nak, Ayah juga kangen." melepas pelukannya Hendra menangkup wajah Jingga yang kian cantik menurutnya.
"Kamu gimana kabarnya? sudah sehat kan? nggak ngerasain sakit lagi?"
"Nggak Ayah, aku sudah sembuh. Jingga sudah operasi sekarang aku sudah nggak ngerasain sakit lagi."
"Alhamdulillah, Ayah senang dengarnya."
"Ayah gimana? sudah sembuh juga kan? kata Ayah Angga, Ayah sakit butuh perawatan." Hendra tersenyum manis melihat putrinya yang begitu khawatir.
"Ayah juga sudah sembuh, Ayah sekarang sehat seperti kamu." Jingga tersenyum senang dan mengucapkan syukur.
Dinar melihat dari ambang pintu tersenyum senang sekaligus lega, adiknya akhirnya bisa bertemu dengan Ayahnya.
Hendra melihat orang-orang yang ada di dekatnya, matanya langsung tertuju pada wanita yang dulu bahkan mungkin sampai saat ini masih dia cintai, yaitu Alya.
Tapi Hendra sudah sadar diri jika Alya sudah milik orang lain, bahkan wanita itu begitu mencintai suaminya.
Ia tak boleh lagi menginginkan lebih, sudah syukur dia bisa di bebaskan.
Angga begitu baik kepadanya, mana mungkin ia berniat jahat lagi.
"Alya," wanita itu hanya tersenyum tipis lalu mengalihkan pandangannya.
"Aku mau ngucapin terima kasih, karena kamu sudah mau cabut tuntutannya."
"Aku ngelakuin ini demi Jingga, aku sudah menganggap Jingga anak sendiri, jadi tolong perhatikan anakmu, jangan sampai kamu menyia-nyiakan putri kandungmu sendiri." ucap Alya tanpa mau melihat kearah pria tersebut.
"Iya, aku janji akan jauh memperhatikan Jingga. Aku nggak akan ninggalin anakku lagi," janji Hendra yang terdengar tulus.
Menoleh lagi Hendra saling pandang kearah Dinar yang sedang di rangkul oleh Alvaro, ia memperhatikan Dinar dari atas sampai bawah.
Jika memandang Dinar terlalu lama, bayangan masa lalu ketika berama istrinya begitu jelas terlihat.
Bagaimana dirinya selalu membentak, bahkan sampai memukul gadis itu, tapi anehnya saat itu Dinar pasrah tak melawan, padahal jika di pikir.
Dirinya sangat jahat dan tak punya hati, Ia menyesal telah melakukan hal itu kepada Dinar.
Yang membuatnya dirinya kian malu dan menyesal adalah, sifat Dinar. wanita itu tak pernah benci atau bahkan memarahinya balik.
Sekarang pun Dinar masih menolongnya agar dirinya bisa bebas.
"Dinar," Hendra menghampiri Dinar.
"Ayah, Alhamdulillah Ayah sudah bisa bebas dan berkumpul bersama kita." Hendra mengulas senyum.
"Ini semua berkat doa kamu dan Jingga, Ayah yakin kamu selalu doain Ayah kan?"
"Iya Ayah, Dinar setiap hari selalu doain Ayah."
Hendra maju lebih dekat dengan Dinar, Alvaro yang paham pun melepas rangkulannya dan menggeser posisi ia berdiri.
"Nak, maafin Ayah. Ayah sudah salah dan nggak pantes ada di dekat kamu."
"Ayah nggak boleh ngomong gitu, kemarin aku sudah bilang kan? kalau aku sudah maafin Ayah, jauh sebelum Ayah minta maaf. Pokoknya Ayah jangan mikir yang nggak-nggak. Ayah harus tinggal di rumah itu sama Jingga," menjeda sejenak Dinar mengambil napas panjangnya.
Dinar memandang Ayahnya lekat. "Ayah mau kan nurutin keinginan aku dan Jingga? Ayah nggak boleh pergi, jangan tinggalin aku dan Jingga, kalau bukan demi aku. paling nggak demi Jingga, putri kandung Ayah." ujar Dinar bersamaan dengan jatuhnya air mata ke pipi mulusnya.
Hatinya terasa sesak, jika mengingat dia bukan anak kandung Hendra, dan dirinya tidak tau siapa Ayah kandungnya.
...***...
Di sana sudah ada beberapa menu yang tersedia, dan rata-rata semua makanan yang ada adalah makanan kesukaan Hendra.
"Ayah, ayo kita makan siang." ajak gadis itu begitu ceria.
"Ya ampun_ banyak sekali?" Hendra berdecak pelan memandang meja yang terisi penuh oleh makanan dan juga minuman.
"Ini makan siang, atau mau punya hajatan?" kelakarnya, sukses membuat Alvaro dan Angga tertawa bersama Jingga.
Sedangkan yang lain hanya menanggapi dengan senyuman.
"Ini semua Kak Dinar yang masak," ujar Jingga memberitahu.
"Kata Kak Dinar, Ayah pengin makan Lotek. Jadi Kak Dinar buatin," lanjut Jingga.
Menoleh pada Dinar Hendra berkata. "Kamu kan lagi hamil? masak sebanyak ini, memangnya kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Ayah. Lagian aku nggak masak sendiri, banyak yang bantu. Ada Bunda, ada Mba Leli sama yang lain." menghela napas panjang, Hendra mengangguk paham.
*Ya udah, Ayah cuma khawatir sama kamu, nanti gara-gara Ayah. Kamu kecapean."
"Inshallah aku sehat, dedeknya juga sehat." jawab Dinar mengusap perutnya memberitahu jika dirinya dan juga anaknya baik-baik saja.
"Baiklah, dari pada terlalu banyak ngobrol, mari kita makan. Kasian yang sudah nungguin." saut Angga segera mengajak mereka makan siang.
Semua bergegas duduk di tempat masing-masing, Jingga duduk di samping Ayahnya, sedangkan Dinar duduk di samping Alvaro dan juga Bunda Alya.
Hendra mulai memasukkan makanan tersebut kedalam mulutnya. "Gimana Ayah? masakan Kak Dinar enak kan?" tanya Jingga.
"Enak banget, masakan kamu sama persis seperti Ibu kamu," mendengar itu Dinar tertegun, ia diam membenarkan dalam hati.
Mungkin benar, jika makanan yang dia buat sama persis dengan masakan Ibunya, itu semua karena.
Ketika Ibunya memasak, Dinar akan melihat dan memperhatikan apa saja lalu bagaimana caranya membuat.
Bahkan Dinar mengikuti semua bumbu-bumbu dari sang Ibu.
"Iya benar kan, aku juga dulu pengin ngomong gitu, masakan Kak Dinar enak, persis masakan Ibu." Dinar hanya menanggapi dengan senyuman tipis.
Ia menjadi merindukan Ibunya, tanpa terasa cairan bening berhasil lolos turun membasahi pipinya.
"Sayang kamu nggak apa-apa?" bisik Al mengusap air matanya.
"Nggak apa-apa," jawabnya begitu lirih.
"Dinar? kamu nangis Nak? Ayah salah ngomong ya? maafin Ayah kalau gitu." Hendra panik, sebab ia melihat Dinar menangis.
"Aku nggak apa-apa Yah, udah di lanjut aja makannya," ujarnya dan menyuruh Ayahnya untuk melanjutkan menikmati hidangannya.
Setelah itu mereka semua menikmati makanannya dengan hikmat, tak ada yang berbicara lagi hanya suara sendok dan garpu yang beradu dengan piring.
Dinar tersenyum lega, Ayah Hendra bisa menikmati dan terlihat suka denga apa yang dia buat.
Tak sia-sia memang, sudah berkutat beberapa jam di dalam dapur.
Mba Leli bergegas membereskan piring-piring kotor saat terlihat mereka sudah selesai.
"Boleh Ayah bicara sebentar dengan kamu?" kata Hendra pada Dinar.
"Al, bolehkan Ayah pinjam Dinar sebentar?" izin Hendra pada Alvaro.
Al terkekeh pelan, menoleh pada istrinya lalu mengangguk setuju.
Mungkin ada sesuatu yang penting di bicarakan oleh mertuanya.
...***...