Alvaro

Alvaro
Chapter 26



"Ugh.."Hana mulai membuka matanya


"Sudah bangun?"ucap seseorang di bawah lampu yang redup di pojok ruangan.


"Kau siapa?"tanya Hana,ia baru sadar tubuhnya masih terikat di sebuah kursi.


Bunyi sepatu terdengar begitu jelas di ruangan pengap tersebut.


"Hallo"ucap perempuan tersebut saat sudah dekat dengan Hana.


"Kau siapa? Aku tidak mengenalmu"ucap Hana bingung.


Perempuan itu tertawa kecil"kita memang tidak kenal sayang,tapi Alvaro yang kenal dengan ku"ucapnya.


"Kenalkan nama ku Devina,aku sepupu Alvaro"sambung Devina.


"Sepupu Alvaro? Tapi aku tidak berurusan dengan mu"ucap Hana.


"Ya memang tidak"ucap Devina lalu menarik dagu Hana.


"Tapi aku paling tidak suka kalau ada perempuan yang menjadi kekasih sepupuku"sambung Devina sambil berjalan menjauh.


"Kenapa?"tanya Hana.


Devina tertawa kecil"karena aku mencintai Alvaro dan kau tidak pantas untuk sepupuku"ucapnya.


"Tapi kau dan dia sedarah"ucap Hana membuat Devina menatap tajam.


"Aku tidak peduli dengan hubungan darah,aku mencintai Alvaro dan dia harus bersama ku"ucapnya dingin.


Lalu Devina tertawa kecil"untung saja ada teman mu yang memberitahu ku dan dia yang aku tugaskan untuk meneror mu dan melakukan penculikan terhadap mu"ucapnya.


"Siapa?"tanya Hana.


Devina menjentikkan jarinya sesaat kemudian seseorang datang dengan wajah tertunduk.


"Jeni"ucap Hana tidak percaya.


Jeni duduk bersujud di hadapan Hana"maafkan aku,aku tidak ada pilihan lain"ucapnya sambil terisak menahan tangisan.


"Kita bersahabat kenapa kau melakukan ini padaku?"tanya Hana dengan sesak di dadanya.


"Gampang saja,aku mengancam sahabatmu dan dia akhirnya mau menuruti perintah ku"ucap Devina sambil menarik dagu Jeni.


"Dan untuk mu,kau harus memutuskan hubungan dengan Alvaro atau kau akan tau akibatnya"sambung Devina sambil menatap tajam kearah Hana.


"Kenapa aku harus memutuskan hubungan dengan orang yang aku cintai"ucap Hana.


"Karena kau tak pantas dengan nya!!"ucap Devina sambil menarik rambut Hana membuat Jeni memekik berusaha menarik tangan Devina.


"Jangan menyakiti sahabatku"ucap Jeni.


"Ck! Penghianat seperti mu tidak cocok berbuat baik"ucap Devina sambil mendorong tubuh Jeni hingga tersungkur.


"Kau sudah berjanji padaku tidak akan menyakiti Hana"ucap Jeni marah.


"Huh,kalau dia tau diri tapi sepertinya tidak"ucap Devina.


"Putus dengan Alvaro atau keluargamu jadi korban?"ucap Devina sambil menyeringai.


"Kenapa harus keluarga ku yang jadi sasaran nya? kau iblis"desis Hana marah.


"Aku memang iblis sayang"ucap Devina sambil tertawa menyeringai.


Devina menarik rambut Hana kembali dengan sangat kuat.


"Jadi? Putus dengan Alvaro atau kau terima akibatnya!!"


∆∆∆


"Ukhhh..."ringis Reva.


"Dan siapa yang bekerja sama dengan mu?"sambung Alvaro sambil menarik rambut Reva dengan kuat.


"DEVINA!! Devina yang menyuruhku untuk mengelabui mu"ucap Reva pada akhirnya.


Alvaro terdiam,jadi semua ini karena Devina sepupunya sendiri.


"Brengsek!!"Alvaro menendang meja di sampingnya.


"Katakan dimana Hana?"desis Alvaro dengan datar.


Reva menggeleng"demi tuhan,aku tidak tau. Aku hanya diperintahkan untuk mengelabui mu saja"ucapnya.


Prangg~


Alvaro memukul cermin hingga membuat tangannya mengeluarkan darah. Reva memejamkan matanya dengan tubuh gemetar takut.


"Kau tau bukan apa akibatnya membuat masalah padaku?"tanya Alvaro datar.


Darah menetes banyak dari tangannya ,ia membiarkan nya begitu saja.


Alvaro mengambil jaketnya dia tidak bisa membuang-buang waktu disini karena Hana belum di temukan hingga sekarang membuatnya uring-uringan.


"Kakek aku pergi dulu,terserah dia mau di apakan aku tidak peduli padanya lagi"ucap Alvaro datar.


"Aku harus mencari Hana"sambung Alvaro.


"Perlu bantuan ku?"tanya Alfred di balas anggukan Alvaro.


"Baiklah ayo"ucap Alfred.


"Fabio,giliran mu"sambung Alfred membuat Fabio menyeringai di tempatnya.


"Oh tentu saja,aku menunggu giliran ini dari tadi"ucap Fabio sambil tersenyum miring membuat Reva memekik takut.


"Ayo,kita tidak bisa buang-buang waktu lagi"ucap Alfred.


Mereka pun keluar dari ruangan tersebut beberapa menit kemudian terdengar suara teriakan Reva yang begitu memekakkan telinga.


Alvaro langsung menancapkan gas motornya disusul Alfred dari belakang,ia menggunakan mobil.


Di pinggir jalan..


Hana mengusap kedua lengan nya agar tetap hangat,ia menatap kearah langit yang mulai tampak gelap.


Kondisi tubuhnya terlalu mengenaskan baju di berbagai sisi robek dan bekas luka di sekujur tubuhnya.


Ia masih terbayang ancaman Devina yang tidak main-main,ia takut. Takut terjadi sesuatu pada ayahnya,ia hanya memiliki ayah saja tidak memiliki seorang yang dekat selain ayahnya dan Alvaro.


Ia tidak bisa membiarkan orang yang ia sayangi celaka,Hana menghela nafas pelan sambil terisak.


Mungkin ia memang bukan di takdir kan untuk Alvaro,Hana tersenyum miris. Ia memang tidak pantas untuk Alvaro.


Ia hanya gadis beruntung yang di asuh orang yang mampu dan hidup berkecukupan. Dia tidak memiliki apapun selain ayahnya,keluarganya bahkan tidak pernah menganggapnya ada.


Hana menangis terduduk di pinggir jalan,apa ia harus memutuskan hubungan dengan Alvaro di saat dia sudah merasakan cinta.


Hana menghapus air matanya lalu lanjut berjalan,ia juga tidak tau kemana ia melangkah.


Devina menurunkan ia di tengah jalan yang sepi bahkan tidak ada penerangan jalan.


Hana kembali terisak namun kepalanya terasa pening matanya mulai mengabur dengan pandangan yang tiba-tiba menjadi buram.


Hingga ia melihat sebuah lampu dan suara deru motor dan mobil menyorotinya namun ia sudah tidak mampu melihat kearah depan hingga ia jatuh pingsan sampai sebuah teriakan yang di kenalnya.


"HANA!!!"


∆∆∆


TBC