Alvaro

Alvaro
Bab 141. Ingin kencan bersama



...***...


Waktu bergulir begitu cepat, hari hari yang di lalui Alvaro setiap hari kian membuatnya semakin bahagia, sebentar lagi atau bahkan menghitung hari.


Dirinya akan menjadi seorang Ayah, seseorang yang akan memiliki tanggung jawab lebih, meskipun usia masih muda, Alvaro sering mencaritahu bagaimana menjadi orang tua terbaik untuk anak-anaknya


Banyak hal yang masih perlu dia pelajari, terutama nanti ketika anaknya sudah tumbuh besar.


"Hai Al," salam Aron pada Alvaro yang baru tiba cafenya.


"Hai. Gimana kerjaan lo, lancar aja kan?"


"Sejauh ini aman, gue mau ngucapin terima kasih sama lo Al, karena lo gue ngerasa jauh lebih baik, gue jadi orang yang lebih berguna." Alvaro mengulas senyum menepuk pundak Aron sekali.


"Santai aja, gue ngelakuin ini juga demi lo, gue udah pernah bilang sama lo kan. Kalau gue pengin lihat lo berubah."


"Iya Al, semenjak gue kerja di sini. Banyak banget sesuatu yang baru gue dapat. Oh iya gimana kabar Dinar?" mendengar nama istrinya di sebut membuat Alvaro mengulas senyum.


"Alhamdulillah baik, dia lagi sibuk mempersiapkan persalinan yang kemungkinan beberapa minggu lagi,"


"Nggak kerasa ya, sebentar lagi lo bakal jadi seorang Ayah, padahal baru kemarin kayaknya kita lulus." kelakar Aron yang di tanggapi tawa renyah dari Alvaro.


"Lo aja nggak percaya kan? apalagi gue. Tapi dengan hadirnya seorang anak. Semakin mendewasakan diri gue, walaupun sekarang anak gue belum lahir. Gue udah merasa memiliki tanggung jawab lebih besar,"


Menepuk pundak Al sekali Aron pun berkata. "Gue percaya, lo pasti bisa. Karena gue udah bisa lihat bagaimana lo menjadi seorang suami, gue sampai iri, apa bisa gue kayak lo."


"Bisa! gue yakin lo pun bisa," jawab Al tulus.


Menghela napas Aron memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Lo tau kan, gimana sifat jeleknya gue? kadang gue juga mikir, Amanda gadis baik. Bahkan dia terlalu baik buat gue, apa pantes? cowok kayak gue ini menjadi suami Amanda." ucap Aron menatap lurus ke depan.


"Lo nggak boleh pesimis, sifat buruk lo itu adalah masa lalu, buktinya sekarang lo sudah berubah, seperti yang gue bilang ke lo. Kalau setiap manusia bisa berubah kapan pun, termasuk diri lo Ron, gue yakin banget dan nggak ada keraguan dari gue, kalau lo bisa menjadi suami terbaik untuk sahabat gue,"


Tersenyum tipis Aron membalas tatapan Alvaro. "Al, lo tau nggak?" jeda sejenak Aron melihat Al mengerutkan kening. "Lo orang pertama yang ngomong gitu ke gue, selama ini semuanya masih meragukan perubahan gue, termasuk orang tua Amanda. Mereka tetap nggak percaya kalau gue bukan Aron yang dulu, yaa mungkin itu efek dari kejahatan gue dulu,"


"Gue maklum sih, tapi sampai kapan kayak gini."


"Kuncinya lo harus ekstra sabar, dan terus berusaha meyakinkan kedua orang tua Amanda. Kalau lo benar-benar sudah berubah dan sangat mencintai putrinya."


"Thanks ya Al, lo yang paling bisa tenangin hati gue. Dan semangat gue untuk tetap bertahan."


"Itulah gunanya sahabat,"


Mengernyitkan dahi Aron tersenyum. " Lo mau sahabat sama gue? nggak masalah?"


Menaikkan bahunya Al berkata. "Kenapa nggak? nggak ada masalah kan? kalau kita bersahabat?"


Aron tertawa keras. "Ya ampun_ justru gue harusnya yang tanya kayak gitu," ujarnya seraya tertawa keras.


"Gimana kalau kapan-kapan kita dobel ngedate." ajak Al tiba-tiba.


"Mumpung Dinar belum lahiran, ntar kalau anak gue udah lahir, pasti dia sibuk." Aron terlihat berpikir sejenak.


"Boleh. Seru kayaknya,"


"Oke, nanti biar gue yang urus. Kita makan di restoran lain, biar gue yang pesanin tempatnya." Aron memberikan jempolnya membiarkan Alvaro yang memesan tempat untuk mereka makan malam bersama.


...***...


"Assalamu'alaikum," salam Alvaro saat baru memasuki rumahnya.


"Sudah aku kerjain semua Bunda, hari ini kebetulan Cafe nggak terlalu ramai, mungkin juga karena bukan hari weekend."


Alya mengangguk paham, mengusap pundak putranya. "Dinar mana Bun?" tanya Al celingak-celinguk mencari istrinya.


"Baru aja pulang jalan-jalan sama Bunda, keliling komplek. Sekarang ada di kamar istirahat kayaknya."


"Iya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu ya Bun." Alvaro berdiri meninggalkan Bundanya di ruang tamu, namun sebelum itu ia memberi kecupan di puncak kepala Bunda Alya.


Berhubung kehamilan Dinar sudah besar, kini kamar Alvaro berubah menjadi di lantai satu, hanya sementara sampai Dinar melahirkan.


Tadinya kamar yang dia tempati adalah kamar tamu, tapi dalam sekejap Bunda Alya merubah kamar tamu itu menjadi kamar Al dan Dinar yang sangat nyaman.


Di dalamnya ada dua lemari besar, satu set sofa dan meja, kasur berukuran besar, dan juga televisi bersama PlayStation milik Al.


Ketika membuka pintu, Al langsung di suguhkan dengan pemandangan penyejuk jiwanya, bagaimana tidak sejuk.


Saat ia tengah melihat Dinar sedang berbaring memejamkan matanya, sembari mengusap-usap perut besarnya.


"Assalamu'alaikum." salam Al sangat lembut di telinga Dinar.


Perlahan wanita itu membuka matanya, ia tersenyum manis lalu menjawab salam suaminya. "Wa'alaikumsalam, sayang kamu udah pulang? biasanya masih lama," ujarnya dengan nada lucu.


Alvaro menghampiri Dinar lalu menyusul tidur di samping wanita itu. "Nggak terlalu banyak pekerjaan, tadi di kampus juga dosennya ada rapat, jadinya hari ini aku bisa pulang cepat." Dinar senang dia tidak terlalu lama menunggu Alvaro.


Biasanya, dia harus ekstra sabar menunggu sang suami pulang.


Wanita itu merubah posisinya lalu memeluk tubuh Al dengan erat, mengendus-endus wangi parfum Alvaro yang sangat dia suka.


"Aku belum mandi lho sayang,"


"nggak apa-apa, aku suka. gimana nggak usah mandi," usul Dinar namun seperti sebuah permintaan.


"Hah! masa nggak mandi sih, ntar aku bau dong. Lagian aku pulang cepat, juga mau ngajakin kamu ke luar," Dinar berbinar.


Ia sedikit menjauhkan tubuhnya sedikit, matanya menatap Al dengan berseri. "Kita mau jalan?" Alvaro mengangguk tidak lupa senyuman di bibirnya.


"Kita mau kemana?" tanya Dinar.


"Makan malam, sebenarnya kita jalan nggak cuma berdua." kata Al yang sukses membuat Dinar mengerutkan keningnya.


"Nggak berdua? terus sama siapa? keluarga?"


Alvaro menggeleng, ia merubah menjadi telentang, menyuruh Dinar menjadikan tangannya batal.


"Kita mau dobel ngedate, sama Aron dan Amanda."


"Wahh pasti seru," ucap Dinar senang.


"Kamu nggak masalah kan sayang, kalau misalnya kita makan malam bareng mereka? ini semua ide aku, kan jarang-jarang kita kumpul kayak gini."


Dinar merapatkan tubuhnya, mengubah posisi merebahkan kepalanya di dada bidang Alvaro. "Nggak apa-apa sayang, aku malah senang. Walaupun mereka dulu sempat jahat, tapi kan sekarang sudah berubah."


Alvaro mengecup kening Dinar dengan sayang, wanita itu memang selalu membuat hatinya makin cinta.


...***...