Alvaro

Alvaro
Bab 84. Jalan jalan Ke Mall



...~•~...


Memberikan izin pada Dinar, bukan berarti Al diam begitu saja. Tanpa wanitanya tau, Ia mengikuti Dinar diam diam.


Saat ini mereka masih di jalan, Al mengikuti dengan memberi jarak agar tidak ketahuan.


"Aku senang deh, kamu dapat izin. Aku sih yakin Al pasti izinin, kalau kamu bujuk dan ngerayu dia. Pasti bisa, Karena Alvaro itu gampang luluh."


"Oh iya?" tanya Dinar memastikan.


Amanda mengangguk mantap, semua kebiasaan sahabatnya itu, sudah gadis itu hapal. "Biasanya, waktu masih tinggal di sana, sering keluar bareng?" Dinar mulai bertanya tanya, ia ingin tau lebih banyak tentang suaminya dari Amanda.


Manda terlihat seperti berpikir, menaruh telunjuknya di dagu. "Sering sih nggak, tapi sempat beberapa kali kita jalan berdua."


"Waktu itu, kebetulan. Ada pasar malam di sekitar komplek, Nah aku ngajakin dia kesana. kita menghabiskan waktu berjam-jam, tapi karena Alvaro punya trauma sama salah satu wahana, makanya aku nggak pernah ngajak dia main kayak gitu."


Dinar menjadi ingat, waktu ketika Al mengajaknya ke pasar malam, ia ingat betul. Bagaimana dirinya memaksa agar Alvaro mau ikut naik wahana tersebut.


Yang berujung fatal, beruntung Al tidak apa-apa, andai dia tau Alvaro memiliki sebuah trauma, dia tidak akan mengajaknya.


"Din," Amanda menyentuh lengan Dinar.


Hingga Dinar tersentak, tersadar dari lamunan nya "Hah? kenapa Man?" lilung Dinar melihat pinggir jalan lewat kaca mobil.


"Kamu ngelamun? lagi mikirin apa?" Dinar menghela napas kasarnya.


"Nggak ada apa-apa, cuma lagi ke ingat sesuatu." Amanda mengangguk mengerti, tidak ingin tau lebih.


"Lo udah kenal Al lama, menurut lo. Sifat apa yang bikin kesal dari dia?"


"Apa ya? banyak sih, dia itu. Suka godain aku, sering datang ke kelas, cuma untuk ngasih aku sesuatu yang paling aku benci."


"Contohnya." pekik Amanda, yang terlihat antusias menceritakan Al.


"Aku tuh, nggak suka sama ulet bulu. selain geli, aku takut gatel. Tapi Al pernah bawain aku dan langsung taruh di tangan aku, siapa yang kesel coba!" sungut Amanda, menampakkan wajah kesal.


Dinar terbahak kencang, sampai menutup mulutnya. "Terus-terus?"


"Aku nangis dan ngadu ke Bunda, karena Bunda sayang banget sama aku. Jadinya Bunda marahin Al habis-habisan." senyum di bibir Dinar perlahan memudar, ketika mendengar Amanda menyebut Bunda.


Ada rasa sesak dan berdesir di hatinya, memang ia akui. Bunda Alya begitu menyayangi Amanda. Itu sebabnya dia juga ingin seperti itu.


"Kalau Bunda sudah turun tangan, Al pasti ngerayu aku supaya di maafin, sampai kadang nginap di rumah. sampai aku mau maafin dia, tapi kadang Al sering aku kerjain. Supaya dia sering kenal omel Bunda," ujarnya, gadis itu terkikik geli.


Sementara Dinar merespon hanya tersenyum tipis, lalu segera memalingkan wajah. seharusnya dia tak perlu cari tau tentang Alvaro.


Membayangkan Al bersama Amanda, semakin hatinya terasa panas dan sakit, ia tidak sanggup mendengar cerita lain. Akhirnya Dinar mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Kita belum nyampe? sebenarnya kita mau kemana?"


"Ke Mall, aku nggak tau tempat yang asyik buat ngobrol di kota ini."


"Tau gini lo ngomong ke gue, biar gue yang nunjukin tempat nongkrongnya anak muda,"


"Nggak apa-apa, lain kali aja kita jalan lagi, kali ini kita ke mall, lagian aku mau beli sesuatu." lagi Dinar pun hanya mengangguk.


...***...


Sesampai di mall, Dinar di ajak berkeliling. Sambil mengobrol, dan obrolan mereka tak jauh jauh dari Alvaro.


Keduanya tak sadar, objek obrolan mereka sedang berada di belakang dengan jarak cukup dekat, Al kadang sampai dengar apa yang sedang mereka obrolkan.


"Din, kita mampir kesini dulu ya." Amanda menarik tangan Dinar menuju toko baju.


Masuk kedalam toko itu, mereka di sambut ramah oleh karyawan di sana, Amanda mulai memilih baju baju yang memang gadis itu beli.


"Dinar," panggilnya, melambaikan tangannya menyuruh Dinar untuk menghampirinya.


"Kenapa?"


"Menurut kamu, bagus mana?" Amanda memberi opsi pilihan, baju dengan desain sama, namun warna yang berbeda.


"Ehm, yang biru bagus. Soalnya kalau ini kurang cocok sama kulit lo yang terlalu putih," Manda terkekeh pelan.


"Oke, aku pilih ini, Oh iya. Kamu pilih juga dong, nanti bir aku yang bayar." Dinar menggeleng kuat.


"Nggak usah, gue temanin lo aja." tolak Dinar.


"Yah_ jangan gitu dong Din. Aku pengin belikan kamu Ayolah pilih satu aja," paksa Amanda.


Lalu gadis itu memberikan beberapa pakaian dengan model yang berbeda pada Dinar. "Nggak usah Amanda, gue nggak mau. Lo aja yang beli," Dinar tetap bersikeras menolak.


Dinar memang hanya menemani, ia tak ingin merepotkan Amanda. "Aku sedih nih, kamu nolak pemberian aku." katanya, menunjuk raut wajah sedih.


"Beneran, gue nggak mau. Terima kasih sebelumnya, tapi gue memang cuma niat nemenin lo aja." Amanda membuang napas kasarnya, lalu kembali menaruh baju baju tadi ketempat semula, namun wajahnya masih menekuk.


"Udah yuk, lo mau cari apa lagi?" ajak Dinar.


"Oh iya, aku mau belikan sesuatu buat Al, tapi kamu yang kasih ya. Dan jangan bilang kalau dari aku," Dinar tak langsung mengangguk setuju.


Ia terdiam seperti sedang berpikir, keduanya saling pandang. "Ya pliss, soalnya. Aku yakin, kalau dia tau barang itu dari aku. Al nggak akan mau nerima,"


"Cuma kamu yang bisa nolong aku Din." ujar Amanda penuh harap.


Perlahan Dinar mengangguk setuju, senyum merekah di perlihatkan oleh Amanda, ia pun segera menarik tangan Dinar menuju toko yang sudah gadis itu incar.


Ternyata, Amanda ingin membelikan Alvaro sepatu olahraga. Dulu ia pernah berjanji suatu saat dia ingin membelikan sahabatnya itu sepatu baru, karena dulu Amanda, pernah, tidak sengaja merusak sepatu olahraga kesayangan cowok itu.


Sampai sampai, Alvaro mendiamkannya beberapa minggu, dan saat itu adalah, hari hari paling tersiksa bagi Amanda.


Dulu Al jarang sekali marah kepadanya, kecuali. ia pernah melakukan kesalahan, dan ketika dia tidak sengaja merusak sepatunya.


Itu adalah hari terberat, ia tidak bisa melihat Alvaro diam dan cuek kepadanya, sekarang pun begitu. Amanda ingin Al seperti dulu lagi.


Tidak memberi jarak seperti ini, sekarang ingin mengobrol berdua saja, rasanya sulit. Alvaro selalu menghindar.


"Kamu tau nggak, Alvaro suka warna apa?"


"Hitam, putih." jawab Dinar cepat.


"Iya bener, kalau gitu menurut kamu bagus mana, Hitam? atau putih?"


Dinar mengambil sepatu yang sedang di pegang oleh Amanda, menatap satu persatu sepatu di tangannya dan tangan Amanda.


"Gimana kalau ini," Dinar memilih sepatu yang ada di tangannya.


"Kenapa?"


"Di rumah sudah ada yang warna putih, jadi. Menurut gue ini lebih bagus," Amanda mengangguk setuju, usai membayar sepatu itu, Manda berniat mengajak Dinar makan sebelum pulang.


Alvaro ternyata masih setia mengikuti keduanya, cowok itu memakai kaos hitam, di padu jaket jeans biru. Dan menggunakan topi hitam.


Dia berharap, keduanya tidak ada yang curiga.


Saat asyik berjalan jalan, tiba tiba Dinar menghentikan langkahnya, tangannya memegang pelipis, hampir saja wanita itu terhuyung kebelakang. Jika tidak di tahan oleh Amanda.


Alvaro yang melihat itu, kaget dan hampir menghampiri mereka. "Din kamu kenapa?" panik Manda.


"Gue nggak apa-apa kok, cuma pusing dikit." jawabnya, namun wajah Dinar terlihat pucat.


Alvaro yang khawatir, mengambil ponselnya. Ia menelpon Dinar, dan berpura pura menanyakan keberadaan istrinya itu.


"Kita makan dulu aja, siapa tau bisa mendingan." ajak Amanda, mengajak Dinar masuk ke restoran makanan siap saji.


Amanda sedang mengantri makanan, sedangkan Dinar duduk sambil menunduk memijit kepalanya. "Gue kenapa? tiba tiba pusing gini," gumamnya.


Alvaro mengeram kesal, karena istrinya itu tak mengangkat teleponnya.


Sungguh kakinya saat ini rasanya ingin berlari menghampiri Dinar yang tengah duduk sendiri.


...***...


...TBC...