Alvaro

Alvaro
Bab 61. Akhirnya



...~Happy Reading ~...


...***...


Dor! Dor!


Suara gedoran pintu begitu keras terdengar dari kamar Alvaro, cowok itu tengah panik ketika tiba di kamar.


Istrinya berada di dalam kamar mandi, yang lebih membuat Al panik saat mendengar isak tangis dari gadisnya, terlebih Dinar mengunci pintu tersebut dari dalam.


"Dinar! buka pintunya." teriaknya begitu keras sampai orang orang yang berada di rumah datang tergopoh gopoh.


"Al, ada apa Nak?" panik Bunda Alya.


Namun sang putra tak menjawab, ia masih berusaha membujuk Dinar untuk membuka pintu itu. "Dinar_ please buka pintunya."


"Nggak! kamu marah kan sama aku? biarin aku di sini!" teriak Dinar dalam kamar mandi.


"Aku nggak marah sayang__ ayo buka pintunya. biarin aku ngomong."


Semua yang ada di kamar Al tampak bingung, mereka hanya saling pandang dan penuh tanya.


"Mba, tolong ambilkan kunci cadangan." titah Bunda pada Mba Leli.


"Kalau kamu nggak buka! aku dobrak!" ancam Al.


Dinar di dalam sudah kedinginan, tapi tak ada niatan gadis itu beranjak dari bawah shower, tubuhnya sudah menggigil, bibirnya pucat kebiruan.


terlalu lama menunggu kunci, Alvaro pun mendrobak pintu tersebut, hanya sekali hentakan pintu terbuka.


"Dinar!!" pekiknya, buru buru mematikan air lalu berlutut di depan gadis itu.


"Apa yang kamu lakukan!!" menguncang pundak istrinya.


"Ak_ Aku salah. Maafin aku,"


"Diam!" Alvaro membopong tubuh Dinar keluar dari kamar mandi, membawanya ke atas kasur.


Mba Leli di minta Bunda Alya untuk menggantikan baju menantunya, namun di tolak oleh sang putra.


Tak ingin berdebat dan juga Al adalah suaminya, mereka semua bubar, tanpa tau masalah apa yang terjadi pada Dinar dan Alvaro.


Al mulai melepas satu persatu pakaikan Dinar, wajahnya tak berubah. Masih datar dan dingin.


Dinar membiarkan apa yang di lakukan Alvaro, tanpa mencegah sedikit pun, matanya terus memandang sendu kearah suaminya.


Tanpa Alvaro duga, Dinar menciumnya lebih dulu. merasakan dinginnya kulit sang istri, hal itu membuat kegiatan cowok itu terhenti.


"Maaf," kata Dinar parau, saat mereka cukup lama menautkan bibir.


"Aku salah, aku minta maaf. Kamu berhak marah, tapi jangan diamin aku,"


"Aku bukan marah sama kamu," kata Al lembut.


"Aku marah sama diri aku sendiri, karena gagal menjadi suami. Yang nggak bisa jagain istrinya." Dinar menggeleng kuat, merangkum wajah tampan Al.


"Kamu nggak gagal, justru aku yang menjadi istri durhaka. Karena nggak dengerin larangan kamu_ aku benar-benar nyesal. Maafin aku," Alvaro mengulum senyum mengecup bibir itu lagi dengan singkat.


"Kita sama-sama salah, jadikan ini sebagai pelajaran. Untuk rumah tangga kita," Dinar mengusap rahang Alvaro mengangguk pelsn sebagai jawaban.


"Sayang_" panggil Dinar pelan.


"Hmm?"


"Ayo lakukan," ajaknya malu malu.


Al sempat tidak paham, namun setelah mengerti di tambah posisi mereka yang cukup membuat Alvaro menelan ludah,"Kamu sudah selesai?" tanyanya menatap Dinar sayu.


Dinar hanya mengangguk, kali ini ia tak ingin mengecewakan Alvaro lagi, apalagi setelah kejadian tadi, ia sangat merasa bersalah.


Mendapatkan jawaban dari istrinya, Al pun mulai tersenyum lebar, pandangan mulai di penuhi kabut.


Melepas satu persatu pakaikannya cowok itu sudah berada di atas tubuh Dinar, dan mereka pun benar benar melakukannya pada malam itu.


...***...


Dinar berada di depan cermin berulang kali berdecak kesal, sebab karena ulah Al semalam. Banyak tanda hasil maha karyanya.


Di leher dan juga dadanya, jika di dada dia masih bisa menutupi dengan baju seragamnya, tapi bagaimana yang di leher.


Rasanya malu pergi kesekolah dengan tanda tanda merah seperti itu, mereka pasti berpikir yang tidak tidak jika sampai melihat.


Menatap sebal kearah Alvaro yang kini hanya tampak menahan senyum. "Nggak usah ketawa!" sarkas Dinar.


"Lho siapa yang ketawa sih sayang_"


"Dasar nyebelin_ gara-gara kamu ini." Al pun melepas tawanya yang sudah dia tahan sejak tadi.


Melihat Dinar kian menatapnya tajam, ia pun berusaha menghentikan tawanya, lalu berdiri di belakang istrinya. "Maaf deh, aku khilaf." Dinar mendengus menepis tangan Al yang ada di pundaknya.


Biasanya Dinar lebih suka mengikat rambutnya, kini ia harus mengurai dan mengumpulkan rambutnya kedepan agar bisa sedikit menutupi leher jenjangnya.


"Khilaf berulang kali," sungutnya meninggalkan Alvaro lebih dulu untuk turun ke bawah.


Al mengusap wajahnya. ia hanya mampu tersenyum, sebelum akhirnya dia menyusul Dinar untuk sarapan.


"Gimana Nak, kamu nggak demam kan?" kata Bunda Alya ketika sang mantu turun di susul putranya di belakang.


"Nggak Bunda, Maaf ya. Semalam Dinar bikin heboh," sesal Dinar menunduk.


"Nggak apa-apa sayang, yang terpenting kamu baik-baik aja."


"Semalam Dinar yang salah Bun, harusnya Dinar nggak pergi sendiri kesana." cerita Dinar pada mertuanya.


Bunda meraih tangan Dinar, menggenggam dan mengusap punggung tangannya. "Alvaro sudah cerita semuanya ke Bunda dan Ayah,"


"Al begitu bukan ngelarang kamu untuk bertemu dengan temanmu sayang, dia hanya khawatir. Karena kamu tau kan orang misterius itu belum juga di temukan, apa lagi kamu sempat bilang, Jika ada seseorang yang sering memperhatikan rumah kita."


"Lain kali, kalau kamu ingin bermain ketempat sahabat atau teman, biar sopir yang temani. kalau kamu nggak mau Al ikut."


Dinar menggeleng, mengusap air matanya yang sudah membasahi pipinya. "Dinar nggak akan kemana-mana lagi Bunda, Lagian Dinar nggak punya teman. Kemarin kebetulan aja dapat undangan, Tapi ternyata__" ia tak sanggup melanjutkan ucapannya.


Sesal yang dia rasakan, Dinar pikir setelah lama tidak bertemu dengan teman masa masa SMPnya. Bisa bernostalgia bersama, berkumpul dan bercanda.


Tapi nyatanya justru membuatnya malu dan marah, entahlah kenapa mereka bisa berubah, seingatnya dulu mereka baik.


Ia juga semakin menyesal karena baru teringat, bahwa orang jahat yang selama ini menerornya masih berkeliaran, bagaimana jika semalam Al tak datang lalu orang itu datang mencelakainya bersama Selly.


Setiap kejadian selalu ada hikmah, dan Dinar tidak akan melakukannya lagi, kali ini ia akan sangat berhati hati.


Setibanya di sekolah, Al tidak bisa mengantar Dinar sampai depan kelas karena dia masih harus ke perpustakaan.


Namun ketika di koridor, mereka berpapasan dengan Selly. Akhirnya Dinar pergi bersama sahabatnya itu, tapi sebelum itu Selly meminta maaf pada Alvaro.


Semalam dirinya lah yang mengajak Dinar, dia merasa bersalah dan tidak enak pada suami sahabatnya itu.


"Gue benar-benar minta maaf Al, kalau lo may nyalahin. Salahin gue aja, jangan Dinar." kata Selly menatap Al sendu.


"Iya Sell, gue udah maafin. lain kali kalau mau ajak Dinar pergi gue nggak masalah, asal tempat dan tujuannya jelas,"


Selly tersenyum lebar. "makasih ya Al," katanya begitu senang.


Alvaro hanya mengangguk dengan tersenyum tipis, cowok itu beralih pada Dinar. "Aku perpus dulu ya." kata Al buru buru.


"Iya," Dinar meraih tangan Alvaro lalu ia cium layaknya istri mencium tangan suami.


Alvaro tersenyum, memberi kecupan di kening lalu segera pergi.


"Gue iri deh sama lo, punya laki. udah baik, ganteng perhatian dan sayang banget lagi sama istrinya." Dinar merangkul pundak Selly, berjalan menuju kelas mereka.


"Makanya bestie, jangan jomblo terus," ledeknya.


Mendapatkan delikan dari Selly, membuat Dinar tertawa puas.


...***...