
...~•~...
"Kita main itu aja yuk," Dinar menarik Alvaro ke area bermain lempar gelang.
Yang beruntung akan mendapatkan hadiah boneka kelinci berwarna putih, sangat lucu di mata Dinar.
Membayar karcis terlebih dahulu, Al pun kini siap melempar gelang yang mendapatkan kesempatan lima kali. "Semangat ya, harus bisa." kata Dinar memberikan semangat pada suaminya.
"Yah_" kecewa Dinar ketika gelang tak masuk.
Sampai gelang ke tiga pun belum ada yang masuk, Dinar mulai pesimis, raut wajah sedih sudah terlihat. "Huzh!" Al menarik napas beratnya.
"Tunggu sayang, aku pasti bisa kok!" yakin Al tak ingin menyerah.
mengatur jarak mundur beberapa senti, kini ia harus presisi dengan posisinya saat ini. sudah siap, Al mulai melempar lagi dan ternyata gagal lagi. "Dahlah, yuk kita pulang aja," lesu Dinar.
Ia pergi lebih dulu, berjalan menjauhi tempat tersebut, jika tidak keinginan pada boneka itu kian menjadi, padahal dia sudah pede ingin memamerkan hasil dari permainan lempar gelang pada Selly.
Grep!
Sebuah pelukan hangat dia dapat dari belakang, bersama munculnya boneka yang ia inginkan, "Wah__!" hebohnya, mengambil boneka tersebut lalu memutar badan.
"Kamu berhasil?" ujarnya tak percaya.
"Butuh perjuangan, simpan yang baik." titah Al.
"Pasti,"
"Aku sudah sedih duluan tadi, aku pikir. nggak bakal bisa peluk boneka selucu ini." ucap Dinar memanyunkan bibir.
"Apanya yang lucu sih?"
"Ih lucu tau! nih," menaruh boneka tersebut di sisi sebelah kiri wajah Alvaro.
"Bhahaha__" tawa Dinar pecah saat Al justru meniru raut wajah dari boneka itu.
Bibir maju dengan mata julingnya. sukses menggelitik perut Dinar. "Aduh, capek." katanya, mencoba mengartikan tawanya yang membuatnya lelah.
Alvaro menarik pinggang Dinar, hingga jarak mereka begitu dekat. "Upahnya mana?" bisik Al di hadapan wajah istrinya.
"Di tempat umum, nggak usah aneh-aneh," mendorong Al hingga cowok itu mundur satu langkah.
"Pulang aja yuk, udah malam."
"Besok boleh kesini lagi? masih banyak tempat yang mau aku lihat?" Alvaro mengangguk.
"Besok kita berangkat lebih sore. supaya kita bisa keliling ke semua tempat."
"Beneran?"
"Bener sayang__" gemasnya.
"Makasih sayang." ujar Dinar tulus.
Cup!
Dinar memberikan sebuah kecupan di pipi, lalu segera berlari menuju parkiran motor, Tempat motor suaminya berada.
Lebih dulu tiba di parkiran, Dinar tak sengaja melihat dua pria tengah memandanginya. Ia menyesal, kenapa pergi lebih dulu.
menoleh kebelakang, belum ada tanda tanda keberadaan Alvaro, menengok kedepan lagi. Orang itu masih ada, Dinar terpaksa putar balik dan berlari mencari Alvaro berada.
Kembali ke tempat yang tadi, ternyata Al sudah tidak ada, menengok ke kanan dan kiri, tapi tidak terlihat keberadaan suaminya.
"AL!!" teriak Dinar mulai panik.
"AGGH!" reflek Dinar berteriak ketika tiba tiba tangannya di cekal seseorang.
"Sst__! hay ini aku sayang Al." ujar orang itu.
Perlahan Dinar membuka mata, dan ternyata memang Alvaro.
Gadis itu langsung menubruk tubuh Al, memeluk erat tubuh suaminya. "Ada apa?" mengusap punggung gadisnya agar merasa tenang.
"Aku takut." beonya, di dada bidang Al.
"Takut apa?"
"Di mana sayang?" Al mengedarkan pandangannya mencari orang Dinar maksud.
"Di parkiran, dekat motor kita."
"Nggak ada siapa-siapa," kata Al, Dinar tidak percaya.
"Coba lihat, nggak ada orang yang mencurigakan, yang ada kita di lihatin pengunjung. Karena kamu nempel banget kayak gini." reflek Dinar melepas pelukannya dan mundur dua langkah.
Malu juga jika sampai di lihat orang orang. "Kok di lepas?" Dinar menatap Al sinis.
"Malu," jawabnya galak, Alvaro terbahak. lucu sekali istrinya ini, pikir Al dalam hati.
...***...
Alvaro dan Dinar baru sampai di rumah, pukul setengah dua belas, usai berganti baju lalu pergi ke kamar mandi, keduanya pun kini sudah berada di atas kasur, di balik selimut tebal.
"Sayang," panggil Dinar.
"Hmm?"
"Aku tadi nggak bohong, beneran ada orang yang memperhatikan kita."
"Iya aku percaya sayang, udah tidur yuk. aku ngantuk," Al menarik tubuh Dinar agar lebih merapat kepadanya, ia sudah sangat ngantuk, bahkan suaranya pun sudah serak.
Dinar tak membuka suaranya lagi, dia tak bisa tidur, ia masih memikirkan orang yang dia lihat di parkiran. Dinar merasa seperti pernah melihat orang itu.
Tapi ia bingung, kira kira di mana dia bertemu, apa perasaannya saja, Dinar mengacak rambutnya kesal. Dia ingin mengingat orang itu ia pernah lihat di mana.
Sayang. Orang itu tadi menggunakan masker, di tambah kondisi malam, dengan lampu temaran. dia tak bisa melihat dengan. jelas.
Matanya. Dinar sempat mematung ketika menatap mata orang tersebut, terlihat begitu tajam dan menakutkan.
Apakah orang misterius yang menerornya dan ingin mencelakainya kembali, padahal setelah dia menikah dengan Alvaro.
Kejadian aneh akibat seseorang tak bertanggung jawab, tidak pernah muncul kembali.
Tapi kenapa sekarang ada lagi, apakah dia ingin mencelakai Alvaro. Pikiran pikiran buruk mulai bermunculan di otaknya, rasa takut tiba tiba muncul.
Sontak ia menoleh, memandang wajah tampan Al ketika tertidur, merubah posisinya. Dinar memeluk Alvaro, menaruh kepalanya di dada.
Dinar tak ingin terjadi sesuatu pada Al, jika orang itu ingin mencelakai keluarganya, lebih baik dirinya, asal jangan suami atau adiknya sendiri.
Rutinitas Dinar ketika pagi telah tiba, merapikan tempat tidur sebelum dia mandi untuk bersiap siap pergi kesekolah, berhubung dia belum bisa ikut sholat.
Usai merapikan tempat tidur, Dinar membuka gorden agar matahari masuk kedalam kamarnya.
Dinar terdiam, gerakan menarik gorden pun terhenti, ketika ia melihat seseorang tengah berdiri di seberang rumah, orang itu berdiri tegak memperhatikan rumahnya.
Meskipun jaraknya lumayan jauh, Dinar bisa melihat jika orang itu juga tengah melihat kearahnya juga, yang lebih membuat Dinar kaget adalah, orang itu. Sepertinya sama yang tadi malam dia temui di pasar malam.
Mempertajam lagi penglihatannya, ia ingin tau siapa orang itu sebenarnya, kenapa dia merasa pernah bertemu bahkan kenal, tapi di mana. semakin mencoba Dinar semakin tidak ingat.
"Lho kok belum siap-siap?" Dinar tersentak ia menoleh ke pintu melihat Alvaro masuk sambil membuka kancing baju kokonya.
"Ehm__ iya belum. ini baru mau siap-siap." jawabnya.
Al mengerutkan kening, ada apa dengan istrinya. Kenapa seperti gugup.
Menengok keluar lagi, Dinar terkejut. Orang itu sudah tidak ada, mencoba melihat ke kiri dan kanan. Tapi memang tidak ada, cepat sekali orang itu pergi.
"Lihat apa sih?" kepo Al ikut melongokkan kepalanya. ke luar jendela.
"Nggak ada apa-apa, kamu ganti baju aja. Aku mau mandi dulu," karena belum yakin Dinar sengaja tidak menceritakan orang tadi.
Dia takut, jika cerita. mereka tidak percaya, sebab hanya dirinya yang melihatnya.
Pria bertopi hitam, dengan masker hitam, menjadi pikiran Dinar saat ini, terbukti ketika mereka semua sarapan. Dinar malah melamun.
"Kamu kenapa nak?" tegur Bunda Alya yang melihat menantunya hanya mengaduk aduk piringnya.
"Hah! Ehm_ nggak ada apa-apa Bun." bukan hanya Alvaro yang bingung, tapi Ayah Angga dan Bunda Alya.
Memandang Dinar heran, seperti ada yang di sembunyikan dari menantunya itu.
...***...