Alvaro

Alvaro
Bab 87. Periksa



...~•~...


...***...


Sepulang Al dari sekolah, ia buru buru menghampiri kamarnya, dia mendapatkan kabar jika Dinar pingsan dan tidak mau makan.


Al menghentikan langkahnya di depan pintu, napasnya memburu menatap Dinar yang terlihat begitu lemah di atas ranjang.


Sudah merasa lebih baik cowok itu melangkah besar menuju kasur, lalu duduk di tepi ranjang. Meraih tangan Dinar dan ia genggam.


"Kamu sudah pulang?" tanya Dinar pelan, menatap sayu Al.


"Kita ke rumah sakit ya?" tidak menjawab pertanyaan istrinya, Al justru mengajak Dinar kerumah sakit.


Dinar menggeleng lemah, memberi senyum tipis pada suaminya. "Nggak mau. Kata Bunda, ini hal biasa yang di rasain Ibu hamil."


"Tapi tadi malam, Om Putra nyuruh kita periksa ke dokter kandungan, untuk memastikan keadaan calon anak kita sayang." Dinar tampak berpikir sejenak.


"Aku maunya sama kamu juga." ucap Dinar manja.


Alvaro mengulum senyum. "Pasti dong sayang, sama aku. Memangnya mau sama siapa lagi," ujarnya tertawa pelan di akhir ucapannya.


"Aku ganti baju dulu, setelah itu kita pergi kerumah sakit." Dinar mengangguk kuat, melepas tangannya dari genggaman Al.


Matanya mengikuti arah kemana suaminya melangkah, bahkan perempuan itu memperhatikan suaminya, mulai melepas baju seragamnya, hingga berganti pakaiannya.


Ia tersenyum simpul, masih tidak menyangka jika di usia muda pria yang kini berdiri di hadapannya akan menjadi seorang Ayah dan dia akan menjadi seorang Ibu.


"Mkirin apa, hayo. ngelamun?" Dinar tersentak dan tidak sadar Alvaro sudah selesai bersiap siap.


"Yuk berangkat," Dinar mengulurkan tangannya agar Al membantunya bangun.


Dengan senang hati Alvaro membantunya, dan di saat Dinar mengalungkan tangannya di leher, perempuan itu mencium pipi kanan suaminya, tentu Al kaget lalu menoleh cepat kearah Dinar.


Al cukup terpaku saat melihat senyum manis yang Dinar berikan untuknya. Meskipun pucat, namun tak melunturkan kecantikan di wajah istrinya.


Alvaro buru buru tersadar dari lamunannya, jangan sampai ia khilaf dan melakukan sesuatu lebih pada Dinar.


Istrinya sedang sakit, ia tak boleh macam-macam. kesehatan anak dan istrinya yang paling penting saat ini.


"Aku gendong ya?" tawar Al ketika mereka ingin turun tangga menuju lantai satu.


"Aku masih bisa jalan. Nggak usah lebay!" sewot Dinar melirik sinis pada Alvaro.


"Bukan gitu sayang, aku khawatir sama kamu, takut tiba-tiba kamu jatuh."


"Kan ada kamu yang pegangin aku," jawab Dinar.


Alvaro pun hanya bisa menghela napas kasar, lalu menuntun Dinar turun tangga.


Sepertinya Dinar sebenarnya juga takut, kepalanya pun sebenarnya masih terasa pusing dan berputar, namun mengingat di rumah ini banyak orang.


Mengharuskan dirinya kuat, ia malu jika sampai Alvaro benar benar menggendongnya.


"Kalian mau kerumah sakit?" tanya Bunda, beliau melangkah mendekati putra dan menantunya.


"Ya Bunda," jawab Al.


"Perlu Bunda temani?"


"Nggak usah Bunda, Dinar mintanya berdua aja, Bun." Dinar mendelik, kapan dia ngomong seperti itu.


Perasaan dia tadi hanya bilang, jika dirinya mau Al ikut juga, bukan minta hanya berdua.


"Ya udah kalau gitu, kamu bawa mobilnya hati-hati. Jangan ngebut, jagain calon cucu Bunda." pesan Bunda tegas, kepada putranya.


"Pasti Bunda, jangan khawatir. Al pelan-pelan kok, Bila perlu Al bawanya kayak siput bawa rumahnya," ucap Al yang malah di bercandain.


Tentu Bunda Alya melotot, dan memukul pundak Al cukup kencang, hingga cowok itu mengaduh kesakitan.


...***...


Dokter cantik itu mulai mengarahkan sebuah alat yang menyabungkan pada monitor. Di layar itu memperlihatkan sesuatu yang ukurannya sebesar biji kacang.


Dokter yang bernama Dewi itu menjelaskan jika kondisi janin sehat.


Alvaro menatap layar itu dengan mata berkaca kaca, ia sangat terharu. Saat melihat makhluk hidup di perut istrinya. Dan itu adalah anaknya, Dinar meraih tangan Al.


"Kamu kenapa?" Al mengusap sudut matanya.


Ia menunduk mengusap kepala Dinar. "Aku bahagia sayang, bentar lagi aku jadi Ayah." perempuan itu membelai pipi Al lembut, ia mengangguk pelan.


Dirinya pun sangat terharu, lagi lagi masih tidak percaya dengan anugrah yang Allah berikan.


Selesai memeriksa, Al membantu Dinar merapikan bajunya. Lalu menuntun duduk di kursi depan meja Dokter. "Ini saya beri resep vitamin, dan pereda rasa mual."


"Dok," panggil Al sopan.


"Saya mau tanya, jika sedang hamil. Apa masih boleh berhubungan?" mendengar itu sontak Dinar menoleh cepat lalu mencubit perut Alvaro.


Kenapa pertanyaannya seperti itu, bikin malu. Ucap Dinar dalam hati.


Perempuan itu mendelik, menyuruh Al untuk tidak bertanya yang aneh aneh lagi, namun dokter tersebut justru tersenyum tipis.


"Boleh, asal Hati-hati dan jangan terlalu sering." jawab dokter tersebut bersamaan ia menyerahkan sebuah kertas resep obat.


Al mengangguk paham. "Terima kasih dok, maaf pertanyaan saya kayak nggak sopan," ujarnya seraya tersenyum canggung.


"Nggak apa-apa, justru itu baik. dari pada tidak tau." Alvaro tersenyum kesenangan, ia merasa menang dari istrinya.


Keluar dari ruangan itu, Dinar tampak marah dan mendiamkan suaminya. "Sayang," panggil Al menyusul Dinar yang pergi lebih dulu.


"Sayang, jangan marah dong, Iya. Aku ngaku salah, seharusnya aku nggak nanya soal itu." Dinar menghentikan langkahnya, menatap Alvaro tajam.


Namun cowok itu memberi senyum manis, seolah ia tak bersalah. "Aku malu tau Al, ngapain sih tanya-tanya kayak gitu?" sungutnya.


"Ya sayang, aku salah. Maaf ya," bujuk Al lembut, mencoba menyentuh lengan Dinar.


Namun di tepis oleh perempuan itu dan melanjutkan langkah kakinya. "Sayang_" teriak Al hingga beberapa orang menoleh kearahnya.


Alvaro hanya mampu menghela napas sabar, berlari kecil guna menyusul Dinar yang mulai menjauh.


Sesampainya di dalam mobil, Al masih saja di diamkan oleh Dinar, perempuan itu menyandarkan kepalanya di kaca jendela pintu, matanya terpejam. Beberapa kali keningnya berkerut seperti menahan sakit.


Alvaro yang melihat itu pun tidak tega, tapi dia tak bisa apa apa, sebab. Dinar masih kesal kepadanya.


Ia mulai menyalakan mesin mobil dan meninggalkan area rumah sakit, di perjalanan Al sering melirik istrinya yang sepertinya sudah tertidur.


Sebelum pulang, Alvaro mampir ke sebuah warung, membelikan bubur ayam kesukaan Dinar.


Masuk kedalam mobil, ia terkejut, ternyata Dinar sudah bngun. "Aku mampir dulu beli bubur kesukaan kamu, di makan ya? Kamu belum makan sayang," ucap Al sangat lembut, mengusap puncak kepala Dinar.


Dinar menoleh, cukup lama memandang Alvaro. "Maafin aku ya," ujarnya tiba tiba.


"Maaf untuk apa sayang?"


"Soal tadi, Aku sudah marah-marah nggak jelas sama kamu. Pasti kamu kesal," Alvaro mengulum senyum manis, menarik pelan tubuh Dinar, untuk ia peluk.


"Nggak apa-apa sayang, aku nggak kesal. Aku memang salah kok," Dinar mendongak ikut tersenyum pada Alvaro.


Dinar sangat bersyukur, memiliki Alvaro, pria lembut dan penuh kesabaran. Dia berharap Al akan seperti itu.


"I Love you," kata Dinar.


"Love you to." jawab Al pelan dan lembut, lalu mencium kening Dinar dalam dan lama.


...***...


...TBC...