
Usai melalui hari-hari yang panjang dan penuh drama, kini Alvaro dan Dinar sudah masuk ke sekolah kembali, menjadi pelajar yang harus fokus karena beberapa bulan lagi ujian nasional.
Tapi tetap saja. tadi pagi ada keributan kecil dari pasutri muda, yang tak lain Al dan Dinar, mereka meributkan soal larangan Alvaro kepada Dinar, untuk tidak masuk sekolah.
Cowok itu masih khawatir jika istri mungilnya itu akan sakit perut kembali, tentu saja permintaan Al di tolak Dinar.
Masa hanya karena sakit perut datang bulan, dia harus bolos sekolah.
Perutnya saja sudah tidak sakit lagi, kemarin karena hari pertama, maka wajar jika dia merasakan sakit itu.
"Udah dong sayang, jangan ngambek gitu. Aku kan khawatir sama kamu," bujuk Alvaro.
Dinar membuang muka, memilih menatap kendaraan yang lewat, dari pada suaminya yang menurutnya berlebihan.
Al menghela napas panjang, menatap lurus kedepan lagi. Fokus pada kendaraan di depannya. Membujuk wanita sedang kedatangan tamu, seperti membujuk anak bayi yang susah makan.
Sulit dan membuat pusing kepala.
Sesampai di sekolah, Alvaro memikirkan mobil sportnya di parkiran khusus mobil, usai mengunci pintu ia mengandeng tangan Dinar menuju parkiran motor untuk menghampiri para sahabatnya.
Dinar tidak menolak saat tangan besar suaminya itu menggenggam tangan lentiknya, meskipun sedang kesal. Dia tak ingin mengabaikan Alvaro, sebab. Dia tak ingin para siswi mencari kesempatan mendekati suaminya.
"Tumben pakai mobil?" kata Niko.
"Lagi pengin," jawab asal Alvaro.
Hari ini Al memang menggunakan mobil, dan lagi lagi alasannya adalah Dinar, ia tak ingin gadisnya tak nyaman saat menggunakan motor ketika sedang datang bulan seperti itu.
"Orang kaya mah bebas, kenapa lo yang sibuk." sambung Heru, membuat Niko kesal hingga menarik tas ransel Heru sampai cowok itu terjungkal ke tanah.
"A***g!" maki Heru ketika Niko pergi begitu saja.
Niko berbalik badan, menjulurkan lidah, mengolok sahabatnya itu, yang semakin memancing kemarahan Heru.
"Awas lo ya!" kata Heru mengejar Niko, terjadilah kejar kejaran seperti kucing dan tikus.
Bastian memutar bola matanya malas, lalu segera pergi ke kelasnya, sementara Alvaro dan Dinar terkekeh melihat tingkah keduanya.
Dinar lebih tepatnya terbahak, melupakan kekesalannya kepada Alvaro, hal itu tak luput dari pandangan Al. Ia tersenyum melihat istrinya yang akhirnya bisa tertawa lagi, setelah dirinya membuat Dinar marah.
Kebiasaan Alvaro mengantar Dinar sampai kelas, masih terus cowok itu lakukan, seperti sekarang. Keduanya berhenti di pintu kelas.
"Sudah sana!" usir Dinar menatap sinis Al.
"Ck, nggak mau ah. aku mau di sini aja, kamu masih ngambek gini."
"Biarin!" katanya lalu ingin masuk.
Alvaro mencekal tangan Dinar, membuat mau tak mau, gadis itu menghadap kearah suaminya lagi. "Apa lagi!" geramnya.
"Nggak boleh gitu ah! masa sama suaminya marah-marah terus, ntar dosa lho." mendengar kata suami, Dinar reflek menutup mulutnya, kepalanya melirik kesana kesini.
"Sst__ awas ada yang denger." delik Dinar.
Alvaro hanya mengangguk, mulutnya masih di bungkam oleh Dinar. "Sudah sana, nanti keburu telat." usirnya.
"Kasih bekal dulu biar aku semangat belajarnya,"
"Nggak usah aneh-aneh,"
"Iya udah, nggak pergi aku." Al melipat tangannya di dada.
Dinar mengeram kesal, tak ingin membuang waktu, Dinar melihat kondisi koridor yang sudah sepi, dan tanpa aba aba. Gadis itu mengecup singkat bibir suaminya.
Dan langsung pergi masuk kedalam kelas, sebelum guru datang.
Alvaro mengusap bibirnya, tersenyum geli dan sangat bahagia.
Tanpa mereka sadari, dari ujung koridor, ada yang melihat apa yang keduanya lakukan, memandang dengan perasaan sedih dan sakit, mengepalkan tangan kuat kuat.
...***...
"Kenapa sih, muka lo dari tadi. gue lihat di tekuk terus?" tanya Selly menyadari raut wajah bete dari sahabatnya.
"Kenapa? dia selingkuh?"
Plak!
pukulan panas di dapatkan Selly dari Dinar. "Sembarangan lo ngomong!" sewot Dinar yang kian membuatnya kesal.
Selly cengengesan, sambil mengusap tangannya yang terasa panas, lumayan juga di pukul Dinar, pikirnya dalam hati.
"Gue kesal, dari pagi. dia bikin gue naik darah, masa gue nggak boleh sekolah."
"Cuma karena aku kemarin sakit perut datang bulan, dia memperlakukan gue kayak sekarat!"
"Sakit perut, saat kayak gitu kan wajar. masa dia heboh gampang panik," gerutynya lagi.
Selly tertawa keras, sampai sampai para murid ada yang menoleh ke arahnya. "Memangnya lo nggak suka?"
"Nggak lah, lebay. terlalu berlebihan!" balasnya.
"Bagi lo berlebihan, tapi bagi dia nggak." kata Selly tegas, tidak ada nada tawa ketika gadis itu ucapkan.
seketika Dinar menoleh. "Maksud lo?" bingungnya.
"Bagi Alvaro, apa yang dia lakukan itu nggak berlebihan, dia khawatir sama lo."
"Harusnya lo senang, punya suami kayak Al, dia nggak mau lo kenapa-napa. Dia ingin lindungi lo, dan kasih perhatian untuk lo."
"Lo harusnya berterima kasih, bukan ngatain lebay. Coba lo sendiri kalau ada seseorang yang lo sayang. terus dia merasa kesakitan,"
"Lo diam aja nggak? Pastinya nggak kan? lo pasti khawatir. begitu pun Alvaro, lagian dia cowok, nggak ngerti dunia cewek itu seperti apa."
Dinar diam, hatinya seperti tertohok, rasa sesal dan bersalah, dia rasakan. Selly benar, tidak seharusnya dia marah marah pada Al.
Alvaro seperti itu karena khawatir padanya, karena sayang maka Al lebih perhatian kepadanya. seharusnya dia senahg.
Tanpa terasa Dinar justru menangis, ia ingin bertemu Al dan memeluk suaminya itu. "Idih gitu aja nangis, sekarang siapa yang lebay." sindir Selly tertawa terbahak, sifat sahabatnya random sekali. Pikir Selly dalam hati.
Dinar berlari mendatangi Al yang sedang tanding basket di lapangan sekolah, tribun sudah sangat ramai. Nama suaminya yang terus di teriaki para gadis gadis membuatnya kesal dan tidak suka.
"Alvaro__ semangat sayang!!" teriak Dinar paling kencang. tanpa ragu dan malu.
Alvaro menoleh ke sumber suara, senyuman manis terlihat di wajah tampan yang di penuhi keringat, ia melambaikan tangan dan di balas oleh Dinar. bahkan gadis itu menggerakkan tangannya seperti memeluk tubuhnya sendiri.
Al paham, ia memberi kode, dan hanya mereka yang paham, apa yang keduanya lakukan. menjadi pusat perhatian dan mereka tidak suka melihatnya.
Apalagi para perempuan termasuk Geby, gadis itu menatap tajam kearah Dinar. darahnya rasanya mendidih ketika Dinar memanggil Alvaro memanggil dengan kata sayang.
Peluit teedengar di mujikan yang pertanda pertandingan sudah selesai, Dinar segera turun dari tribun. menghampiri suaminya yang sudah berjalan ke pinggir lapangan.
"Terima kasih," usap lembut Al di kepala Dinar, ketika gadis itu memberikan satu botol air mineral.
Alvaro membuka botol tersebut lalu ia tengak hingga setengah. cowok itu tersentak saat Dinar tiba tiba memeluknya.
"Sayang aku masih basah lho," kata Al, tubuhnya masih basah oleh keringat.
Dinar tak peduli, lagian keringat Alvaro tidak bau. kekehan terdengar dari mulut cowok itu, ia pun membalas pelukan istrinya. "Kenapa sih, hmm."
Dinar semakin menenggelamkan wajahnya di dada basah Al. "Maafin aku ya, aku sudah marah-marah terus sama kamu." ujar manja Dinar.
"Nggak apa-apa, kenapa minta maaf." balasnya sambil mengecup puncak kepala gadisnya.
"Udah yuk, kita ke kantin. sebelum itu temani aku ganti baju dulu." ajak Alvaro.
Dinar menurut, di rangkul Alvaro di bawa pergi, sebelum itu Al berpamitan pada teman-temannya bermain basket tadi.
Saat sudah ingin pergi dari lapangan, Dinar melirik sinis kearah mereka yang mengatainya cewek gatel lah, murahan lah. hanya karena tiba tiba dia memeluk Al.
Ingin rasanya dia berteriak, terserah gue lah. laki gue ini!
...***...