Alvaro

Alvaro
Bab 123. Ingin melihat mereka berdamai



...***...


"Ini pada ngapain? kok ngumpul di sini?"


"Eh Ayah, nggak ada apa-apa. Tadi Alvaro baru jenguk Hendra." jawab Bunda Alya kepada suaminya yang melihat keduanya tengah ngobrol di depan kamar putranya.


"Kalian dari sana?"


"Iya Yah, Dinar yang minta. Tapi Ayah Hendra lagu sakit,"


"Sakit apa? kok kamu nggak kasih tau Ayah?"


Menggaruk keningnya Al tersenyum tipis. "Maaf Yah, tadinya aku mau diam-diam aja, soalnya takut kalian nggak kasih izin. Aku kesana juga karena nggak tega lihat Dinar yang terus tanyain tentang Ayahnya,"


"Untuk masalah Ayah Hendra sakit apa, aku belum tau soalnya dokter yang jaga di sana lagi nggak ada,"


"Terus kamu nggak coba nungguin sampai dokter datang?"


"Hendra berulah Yah, dia bikin mantu kita nangis dengan kata-katanya yang kasar, dari pada terjadi sesuatu sama Dinar, Al mutusin untuk bawa pergi." Bunda Alya yang menjawab, nadanya pun sangat terdengar tidak suka.


Menghela napas sejenak Ayah Angga berpikir. "Kalau gitu biar Ayah yang coba kesana, mau tau keadaan dia dan sakit apa, takutnya ini cuma akal-akalan Hendra supaya nggak di penjara."


Bunda Alya lah yang mengangguk setuju tentang pendapat suaminya, dirinya juga berpikir seperti itu.


Dia takut ini hanya trik Hendra untuk tidak di penjara, atau mencari cara agar bisa kabur.


"Aku terserah Ayah aja," pasrah Al.


Ayah mengajak istrinya turun ke lantai satu sementara Alvaro masih betah berdiri di sana.


"Al_" Alvaro tersentak mendengar suara serak memanggilnya.


Ia menoleh dan mendapati Dinar sudah bangun dan kini tengah berdiri di ambang pintu.


"Sayang, kamu udah bangun? kok bentar tidurnya?" ujarnya seraya menghampiri Dinar.


"Aku cariin kamu, perasaan tadi kita di mobil?"


"Iya tadi kamu ketiduran, aku nggak tega bangunin kamu jadinya aku bawa kekamar pelan-pelan, oh iya. Gimana masih sakit perutnya?"


Dinar mengangguk pelan, kepalanya menempel pada dada Alvaro. "Masih sedikit," ucapnya pelan.


"Kita kerumah sakit ya?" panik Al.


"Nggak usah, aku nggak apa-apa, cuma keram biasa." Dinar membimbing tangan Alvaro.


Kepala mendongak menatap penuh harap. "Aku mau kamu usap perut aku ya." izin Dinar lucu.


Alvaro mengulas senyum tentu saja dia mau. "Iya sayang, ayo aku usap sampai kamu tidur lagi." katanya lalu masuk kedalam kamar, tidak lupa Al mengunci pintunya agar ia tak di ganggu.


Sementara Dinar sudah berjalan lebih dulu menuju tempat tidur, merebahkan tubuhnya pelan dan mencari posisi nyaman di atas kasur itu.


Alvaro menyusul merebahkan tubuhnya di samping Dinar, memindahkan kepala sang istri ke lengannya, dengan membelakangi dirinya Al mulai mengusap perut Dinar yang sengaja menyingkap kain dressnya, memang seperti itu keinginan Dinar.


Wanita itu mau Al mengusap perutnya tanpa di halangi kain yang menutupi.


"Sayang," panggil Dinar pelan, matanya masih fokus menatap keluar jendela.


"Hmm?" jawab Al tanpa membuka matanya.


"Gimana keadaan Ayah ya? sebenarnya dia sakit apa?"


"Jangan di pikir, aku nggak mau kamu banyak pikiran, tadi aku sudah ngomong sama Ayah, Ayah bilang. Mau kesana lihat kondisi Ayah Hendra."


...***...


Tiba di kantor polisi Angga menghampiri petugas yang kebetulan baru keluar dari klinik disana. "Permisi, maaf saya mau tanya. Apa benar seseorang bernama Hendra sedang sakit?"


Petugas itu mengangguk. "Benar Pak, baru saja selesai di periksa oleh dokter,"


"Kira-kira dia sakit apa?"


"Kalau itu Bapak bisa tanyakan saja kepada dokternya," petugas itu menunjuk kearah pintu tertutup bertuliskan dokter Galih.


"Baik, terima kasih." berterima kasih dan berpamitan, Angga melangkahkan kakinya menuju ke dokter yang sudah di beritahu oleh petugas tadi.


Mengetuk tiga kali Angga di persilahkan masuk. Membuka pintu ia di sambut senyum ramah dokter itu, mempersilahkan untuk dokter, Angga pun segera bertanya dan maksud ia datang kemari.


"Saya Angga, kenalan dari pasien bernama Hendra, saya datang kesini untuk menanyakan keadaan dia dan Hendra sakit apa?" to the poin-nya.


"Untuk saat ini saya belum bisa memastikan penyakit apa, karena saya masih menunggu hasil CT scan. Tapi dari yang saya lihat, kemungkinan saudara Hendra memiliki riwayat penyakit paru-paru," helaan napas keluar dari mulut Angga, bersandar di badan kursi.


"Jika Hendra memang memiliki penyakit itu, apa bisa di sembuhkan dok?"


"Kemungkinan bisa, karena saya lihat belum terlalu parah,"


"Alhamdulillah," syukur Angga memberi senyum pada dokter itu, lalu mengucap terima kasih dan ia segera keluar.


Memutuskan untuk masuk, Angga berjalan perlahan menuju brankar Hendra, dari jarak tidak terlalu jauh ia sudah bisa melihat.


Pria itu terlihat kurus dan pucat, tidak seperti Hendra sebelumnya, memiliki tubuh besar tetap dan gagah.


Memasukkan tangannya ke dalam saku, Angga mengamati Hendra yang terlihat sesekali terbatuk sampai kadang memegang dadanya.


Inikah karma yang dia dapat, Angga menatap lurus ke wajah Hendra dengan bayangan masa lalu, kejadian beberapa tahun lalu seakan terputar lagi.


Dimana ia sempat disekap disalah satu gudang kosong, dirinya dipukuli hingga nyaris mati, apalagi saat itu Hendra juga sampai mengancam Alya dan memukuli didepan istrinya.


Memejamkan matanya rapat-rapat, Angga ingat bagaimana wajah istrinya yang menangis histeris melihat dirinya dipukuli.


Alya sampai harus memohon untuk pria itu berhenti memukulinya, belum lagi kejahatan-kejahatan yang lain.


Mengusap wajah dengan kasar Angga memutar tubuhnya, ia tidak jadi bertemu dengan pria itu, gara-gara teringat masa lalunya, ia jadi gelisah, emosinya terasa tersulut kembali.


Memang sulit melupakan masa lalu yang kelam, padahal dirinya sendiri yang kemarin menasehati istrinya agar jangan mengingat dan berusaha melupakan.


Tapi nyatanya ternyata sulit, bicara memang mudah namun mempraktekkan itu sulit, dan kini dirinya sendiri yang mengalami.


"Astaghfirullah," gumam pria itu mengusap dadanya, sembari terus beristighfar.


Biar rasa kesal dan marah masih ada dan tidak mudah untuk dilupakan, Angga tetap peduli dengan pria itu, sebelum kembali kerumah Angga berpesan pada dokter untuk memberikan perawatan terbaik.


Dirinya yang akan bertanggung jawab, dan membiayai semua pengobatan Hendra.


Angga melakukan ini, bukan karena apa-apa, ia hanya teringat tentang Dinar.


Biar bagaimanapun Hendra adalah besannya, orang tua dari istri anaknya walaupun bukan kandung.


Angga juga melakukan hal itu ingin Hendra sembuh dan berdamai dengan Dinar, ia tidak tega setiap melihat menantunya bersedih.


Dia mau Hendra tau kalau Dinar begitu menyayanginya, dan tidak pernah menganggap Hendra adalah Ayah tiri.


...***...