
...~•~...
Setiba dari rumah sakit, Dinar di sambut oleh Bunda Alya yang sudah tidak sabar mendengar kabar baik tentang cucunya.
Sangking tidak sabarnya, Bunda menunggu anak dan menantunya di depan rumah. Duduk dengan gelisah bersama Ayah Angga di teras.
Saat mobil sport milik Putra datang, beliau berdiri menunggu menantunya keluar dari dalam mobil.
Alvaro yang lebih dulu keluar untuk membukakan pintu Dinar, tersenyum tipis melihat Bundanya yang sangat tidak sabar, ia membukakan pintu dan melindungi kepala sang istri agar tidak terbentur.
"Assalamu'alaikum," salam Dinar lebih dulu, mencium tangan Ayah Angga dan Bunda Alya, lalu di susul oleh Alvaro.
"Gimana hasilnya?" tanya Bunda dengan tidak sabar.
"Sabar dong Bunda, biarin kita masuk." protes Al.
Bunda tersenyum memperlihatkan giginya, lalu memeluk pundak Dinar menuntun menantunya masuk kedalam rumah.
Sementara Alvaro menujuk kearah dapur, ia ingin menyiapkan bubur ayam yang dia beli tadi.
Saat masuk kedalam dapur, Al terkejut sampai menghentikan langkahnya sejenak, ketika melihat siapa yang berada di dapur.
"Hai Al, kamu sudah pulang?" sapa gadis yang tak lain adalah Amanda.
"Sudah," jawab Al seadanya.
"Dari kapan lo di sini?" tanya Al sambil mengambil mangkuk dan sendok.
"Sekitar setengah jam yang lalu,"
"Kamu mau ngapain?" Amanda mendekati Al melihat cowok itu ingin melakukan apa.
"Mau buat teh, untuk Dinar." ujarnya tanpa memandang lawan bicaranya, ia tetap fokus pada kegiatannya.
"Oh iya, ngomong-ngomong selamat ya. Bentar lagi kamu jadi Ayah, dan aku jadi tante." Al menoleh sekejap melihat raut wajah bahagia Amanda.
Sambil menunggu air mendidih Al menyampingkan tubuhnya, menatap Amanda lekat. Yang di tatap jadi gugup dan salah tingkah.
"Lo udah nggak apa-apa?" Amanda sedikit membulatkan matanya, kurang paham.
"Lo sudah baik-baik aja, dan nerima kalau gue udah nikah kan?" Amanda memudarkan senyuman, napasnya tercekat saat mendengar pertanyaan Alvaro.
Bila boleh jujur, ia belum bisa terima, karena sangat sulit, apalagi harus mengikhlaskan jika Alvaro sudah menikah, Namun jika dia mengatakan hal itu pada Al, apa cowok itu akan menerima.
Tentu saja tidak, palagi sekarang orang yang di cintai sahabat kecilnya itu, tengah mengandung.
"Manda!" sentak Al.
Gadis itu terlonjak, sudah sadar dari lamunannya. Ia tersenyum ceria di hadapan Alvaro, seolah dirinya sudah baik baik saja dan menerima pernikahan Al.
"Tentu aja aku sudah nerima pernikahan kamu, aku sudah bisa lepasin kamu dan ihklas, toh kalau aku minta kamu lepasin Dinar. Kamu nggak akan mau kan?" Alvaro tersenyum miring, menatap Manda lurus ke manik mata gadis itu.
Alvaro tau Amanda tengah berbohong, Dia bisa melihat jika Amanda belum baik baik saja. Mengenal gadis itu dari kecil, sangat hapal bagaimana kondisi sahabatnya.
Tanpa Amanda duga, Alvaro maju mendekatinya, lalu memeluk tubuh kecilnya. Amanda terpaku, napasnya tercekat.
Tak ingin membuang kesempatan, Amanda membalas pelukan Al, menyalurkan rasa rindunya. "Lo harus bisa lupain perasaan lo ke gue," ujar Al tanpa melepas pelukannya.
"Gue marah sama lo, karena gue nggak mau lo sakit hati. Terlebih itu karena gue, cari cowok yang lebih baik dari gue. Dan asal lo tau, gue sayang sama lo. Jangan pernah lupain itu." Amanda mengangguk dalam pelukan cowok itu.
Meskipun sakit, Amanda harus bisa menerima ucapan Alvaro, memang benar. Ia harus bisa move on dan mencari cowok lain di luar sana.
Alvaro melepas pelukannya, Memandang Amanda lekat, tangannya mengusap air mata di pipi gadis itu. "Lo dan Dinar selalu ada di hati gue, tapi dengan porsi yang berbeda, Lo akan selalu menjadi sahabat terbaik gue. Oke," lagi Amanda hanya mengangguk, tersenyum paksa yang di berikannya.
...***...
"Cucu Bunda lucu banget, masih kecil gini." Al mengulum senyum duduk di samping Dinar, ia menggeleng pelan melihat tingkah Bundanya.
"Sayang, makan ya? aku sudah buatin teh hangat." Dinar menerima segelas teh yang masih hangat.
Meneguknya hingga hampir setengah. "Aku makan sendiri aja," Dinar mencegah dan menolak ketika Alvaro menyodorkannya sesendok bubur ayam.
"Nggak apa-apa, sini aku suapin aja." wanita itu tetap menolak, ia malu sebab. Di ruang tamu tersebut ada kedua orang tua Al dan juga Amanda.
"Nggak mau. Aku malu_" Al terkekeh geli lalu membiarkan Dinar menyuapkan buburnya sendiri.
"Udah Bunda, di lihatin terus nggak akan berubah." ledek Al pada Bundanya.
"Biarin! yang penting Bunda senang bisa lihat cucu Bunda." jawab Bunda Alya dengan nada sewot.
"Bunda, mau di bawa kemana?" teriak Al saat Bunda beranjak dari duduknya sambil membawa hasil USG tadi.
"Pinjam bentar, Bunda mau video call keluarga kita." ujarnya santai lalu menarik tangan Amanda untuk ikut bersamanya.
Ayah Angga juga ikut beranjak, meninggalkan anak dan menantunya di ruang tamu, ketika hanya berdua. Alvaro memperhatikan Dinar yang masih asyik menikmati bubur ayamnya.
Ia tersenyum senang, akhirnya istrinya mau makan kembali, setelah tadi apapun yang masuk kedalam perut pasti akan keluar.
"Enak?" tanya Al lembut, tangan kanannya mengambil noda bubur di sudut bibir Dinar, lalu menjilat ujung ibu jarinya, hal itu membuat Dinar senang.
Alvaro selalu bisa membuatnya bahagia dengan hal kecil. "Enak banget, Bubur ini kan memang yang terbaik," pujinya.
Alvaro mencebikkan bibir tidak setuju. "Bukan bubur ini yang terbaik, tapi buatan kamu yang paling terbaik, selalu enak dan bikin nagih."
Kini giliran Dinar yang menipiskan bibirnya. "Nggak usah lebay, masakan aku nggak ada apa-apanya di bandingkan yang lainnya."
"Jangan merendah gitu, memang kenyataannya gitu kok, masakan kamu terenak."
"Nggak apa-apa merendah, dari pada menyombongkan diri." Alvaro terbahak, mengacak rambut Dinar, sangking gemasnya.
"Udah ah, kenyang." Dinar memberikan mangkuk yang isinya tinggal beberapa sendok.
"Sayang," panggil Dinar.
"Hmm?" Alvaro tengah memakan sisa bubur milik Dinar. Sayang katanya jika tidak di habiskan.
"Besok aku sekolah ya?" sontak Al menoleh.
"Memangnya sudah sehat? Aku nggak mau ya, kalau sampai kamu kenapa-kenapa di sekolah."
"Nggak apa-apa, aku sudah sehat sayang. Lagian aku nggak sakit, ini cuma faktor dedek bayi aja."
"Tapi aku beneran khwatir sama kamu," Dinar memiringkan posisi duduknya.
Memandang Alvaro lurus tepat di mata cowok itu, ia tersenyum meyakinkan suaminya jika dirinya akan baik-baik saja.
"Jangan khawatirin aku, di sekolah kan ada kamu, ada Selly. ada yang lainnya juga."
"Boleh ya," Dinar menatap Al sambil memperlihatkan raut wajah memohonnya, dia berharap suaminya akan luluh.
Selang beberapa menit, Alvaro menarik napas panjang. Menoleh kearah lain.
"Oke, asal kamu senang aku bakal nurutin kemauan kamu. Asal hati-hati, dan kabarin aku kalau ada apa-apa," Dinar terlihat begitu senang, ia mengangguk kuat kuar, lalu memeluk sang suami.
...***...
...TBC...