
...~•~...
Alvaro mengendarai mobilnya tidak tentu arah, ia hanya mengelilingi kota. Tanpa tujuan pasti, dia melakukan itu hanya karena ingin memberi waktu Dinar tenang.
Sepanjang perjalanan Dinar masih terisak dengan wajah menunduk, Al memang tidak tau apa yang terjadi pada istrinya.
Namun melihat raut wajah sedih saat mereka makan siang bersama tadi, ia tau hati sang istri kurang baik. Apalagi melihat Bundanya hari ini lebih dekat pada Amanda.
Melirik kesamping, Dinar sudah mulai tenang. Al pun meminggirkan mobilnya, menarik rem tangan lalu menyampingkan tubuhnya agar menghadap kearah istrinya.
"Sudah baikkan?" Dinar merenung sejenak sebelum ia menarik napas panjang.
Perempuan itu menoleh, memberi senyum pada suaminya. "Gimana kamu tau? kalau hati aku lagi nggak baik-baik aja?" Al merengkuh tubuh Dinar, mengusap kepalanya lembut.
"Dari awal perasaan aku udah nggak enak, dan aku yakin ini ada hubungannya sama kamu," Al sedikit menjauhkan tubuh Dinar.
Merangkum wajah sang istri, mengusap lembut kedua pipinya. "Nggak mau cerita karena apa?" Dinar berpikir sejenak, ia ingin menceritakan semua pada Alvaro.
Tapi dia takut, Al akan marah pada Bunda. Jika sampai itu terjadi dia yang akan merasa bersalah. Mungkin biar dia yang tau apa yang di katakan Bunda Alya dengan Amanda.
"Hmm? nggak mau?" tanyanya lagi.
Dinar mengulum senyum. "Nggak ada apaapa?" katanya seraya memeluk Alvaro, menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Alvaro menarik napas berat, terdiam memandang lurus kedepan. "Oke, kalau nggak mau cerita. Tapi aku minta setelah ini jangan sedih lagi, kalau masih seperti tadi. Kamu harus cerita sama aku," Dinar mengangguk kuat di pelukannya.
Al menghirup dan mencium puncak kepala Dinar berulang kali, Alvaro bisa saja memaksa Dinar untuk bercerita, tapi dia bukan tipe orang yang selalu memaksa.
Dia masih bisa membiarkan, tapi kalau suatu saat nanti masih sama, dia baru akan memaksa Dinar bercerita.
"Kita jalan-jalan lagi atau pulang?" Dinar melepas pelukannya, memperhatikan mereka ada di mana.
"Kamu ngajak jalan? nggak lihat kita pakai baju gini?" Al terkekeh geli, benar juga. Saat ini keduanya hanya memakai pakaian rumah, jika ingin mengajak Dinar keluar.
Pasti keduanya menjadi pusat perhatian orang, dia yakin mereka pasti berpikir. Menaiki mobil sport tapi pakaian mereka style rumahan.
"Nggak apa-apa lah sayang, toh kita juga pakai baju. Kecuali nggak pakai," ucapnya enteng, usai berpikir lagi.
Alvaro pikir tidak masalah dengan pakaiannya, pakaian pun masih layak dan bagus, kecuali apa yang dia pakai tidak layak atau sudah jelek.
"Beneran kita keluar dari mobil? nggak malu nanti ada yang lihat? masa ganteng-ganteng. Mobilnya keren, pakaiannya rumahan?"
Alvaro terbahak, mengacak rambut Dinar gemas. "Berarti aku ganteng ya?" Dinar melirik sinis, melipat tangannya di dada.
"Suaminya siapa dulu, Nyonya Dinar Setiawan." Dinar tak bisa menahan untuk tidak tersenyum, ucapan Al menggelikan tapi sukses membuat pipi Dinar memerah.
...***...
Alvaro mengajak Dinar pergi ke taman kota, menyewa tikar dan membeli beberapa jajanan bersama minumannya.
Duduk di bawah pohon rindang, Al merebahkan tubuhnya berbantal paha Dinar, ia memperhatikan wajah sendu Dinar dari bawah.
Tangannya terulur menyentuh lembut dagu perempuan itu, menyadarkan Dinar dari lamunannya. "Padahal suasana sudah asyik, masih aja ngelamun." ucapnya berpura pura marah.
Dinar terkekeh pelan. "Maaf," membelai lembut rambut hitam Al.
"Sayang,"
"Apa?" jawab Dinar.
"Gimana kalau kita pindah rumah," usul Al tiba tiba.
"Maksudnya?"
Alvaro beranjak dari paha Dinar, lalu duduk di depan wanitanya. "Kita tinggal berdua, di rumah yang Ayah beli untuk kamu waktu itu, di sans kan nggak ada yang tempati juga."
"Memangnya nggak apa-apa kalau kita tinggal pisah sama Bunda dan Ayah?" Alvaro menggenggam tangan Dinar.
Dinar berpikir sejenak, tawaran yang Al berikan cukup menggiurkan, tinggal terpisah tidak terlalu buruk. Dengan begitu, Ia tidak merepotkan Bunda Alya, dan tidak melihat keakraban antara mertuanya bersama sahabat suaminya.
"Aku setuju, tapi apa boleh aku bawa Jingga? aku nggak mungkin ninggalin dia di tempat Bunda sendiri?"
"Kenapa nggak boleh," senyum Dinar melebar, namun hanya sesaat.
Dia menghela napas berat, memainkan jari tangan Alvaro yang masih di genggamnya. "Kenapa?" Heran Al.
"Aku ngerasa nggak enak sama Bunda, aku takut. Nanti Bunda berpikir aku yang ngajak kamu pindah,"
"Sayang dengerin aku ya_" menggengam erat tangan dingin Dinar, dan meminta untuk menatap kearahnya.
"Jangan khawatir. Aku yang bakal ngomong, Kamu nggak perlu takut. Lagian kita ini sudah memiliki kehidupan sendiri, jadi keputusan ada di tangan aku," mengulum senyum Al meyakinkan Dinar.
"Kalau Bunda sampai marah, kamu yang tanggung jawab ya?" tekannya.
"Baik! laksanakan!" jawabnya tegas, memberi hormat pada Dinar.
Dinar tertawa lebar, meninju pelan perut suaminya. Al ikut tertawa lalu menarik tubuh Dinar untuk ia rengkuh. "Asal kamu senang, aku akan usahakan demi kamu." gumam cowok itu di puncak kepala istrinya.
"Kamu kenapa bisa tau, kalau aku lagi sedih, sih. Kan aku pengin tau!" sewot Dinar.
"Janganlah. biarin aku yang tau gimana bisa paham kalau kamu lagi sedih, senang. Marah,"
"Dan menyelesaikan masalah, biar istri aku nggak sedih lagi." hati Dinar menghangat, ia kian merengkuh tubuh Al.
Dia selalu senang jika Al sudah bicara lembut, biasanya cowok itu bersungguh sungguh.
Melepas pelukannya Dinar meraih snack, memberikannya pada Al. "Enak?" Alvaro mengangguk, membuka mulutnya lagi agar kembali memasukkan snack ke mulutnya.
Dinar menggoda Alvaro dengan cara mengarahkan snack itu mendekat kearah wajahnya, dan ketika sudah dekat.
Cup!
Dinar mengecup pipi kanan Alvaro tanpa malu, Al yang kaget. menoleh cepat memandang lekat mata cantik Dinar.
Ketika giliran Alvaro yang ingin mencium bibir istrinya, perempuan itu justru menaruh snack tepat di depan bibir Al.
"Di tempat umum, nggak boleh cium-cium." bisiknya.
"Lah tadi! apa kalau nggak cium?" protes Alvaro.
"Tadi cium pipi, bukan cium bibir." bela Dinar sambil mengunyah snack itu.
"Apa bedanya sayang_!" greget Al.
Dinar terbahak keras, ia memang ingin menggoda Alvaro saja. "Beda dong sayang. Akkh!" menyodorkan lagi snack ke mulut Alvaro.
Mendengus kesal namun Al tetap menerima suapan Jajan itu.
Dinar tidak berhenti mengunyah tanpa melepas pandangannya dari kolam, yang ada di taman itu. Wajahnya pun tersenyum, hingga Alvaro tak bisa memalingkan tatapannya dari wajah cantik istrinya.
Merasa di perhatikan, Dinar menoleh cepat ke samping. Ia gugup ketika matanya bertemu pandang oleh Alvaro. "Jangan di lihatin terus dong, aku malu_" ujarnya menutupi sisi wajahnya dengan bungkus snack.
"Lihatin istri sendiri dapet pahala, dari pada lihatin istri orang. Pilih mana?" Dinar mendelik marah.
"Awas aja kalau berani lihatin istri orang! Apa lagi cewek lain." sewot Dinar.
Alvaro terbahak keras, ia gemas pada Dinar sampai menarik tubuhnya untuk ia dekap, untuk apa lihatin perempuan lain, jika sudah ada yang lebih cantik dan lebih segalanya di hadapannya.
...***...
...Tbc...