
...****************...
"Dari mana Bun?" suara bariton di dekatnya, mengintruksikan Alya untuk berhenti melangkah.
Ia berbalik badan, dan mendapati suaminya sudah duduk anteng di ruang tamu. "Hubby kamu sudah pulang?" bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Alya justru bertanya balik.
Angga semakin mengerutkan kening, ia berdiri lalu menghampiri Alya yang masih bergeming di ujung anak tangga.
"Lihat jam dong sayang, ini jam berapa?" sarkas Angga lembut.
Namun terdengar menyeramkan di telinga Alya.
Tersenyum kikuk, ketika ia melihat jam yang menunjukkan pukul setengah enam sore, pantas saja Angga sudah di rumah, ini pasti terlalu asyik sendiri di cafe untuk menenangkan pikirannya.
Terlalu banyak pikiran, membuatnya lupa waktu dan terlalu lama berada di tempat cafe tersebut.
"Dari mana?" tanya ulang Angga.
Alya turun dari satu tangga itu, berjalan mendekat kedepan suaminya. "Aku tadi_" jeda persekian detik. "Maafin aku Hubby, maaf. Tadi aku ke lapas bertemu Hendra," ucapnya di pelukan Angga dengan suara seraknya.
Karena mendapat pelukan dadakan dan ucapan wanita itu, ia terdiam sejenak. Mencerna apa yang dia baru dengar.
"Aku kesana cuma ingin tau, apa tujuan dia ngelakuin kejahatan di keluarga kita, Maafin aku karena nggak ngomong sama kamu." tangan Angga bergerak naik, membalas pelukan istrinya lalu mengusap usap punggungnya yang berguncang.
Tak ada suara, tak aja juga gerakan yang di lakukan oleh pria itu selain mengusap punggung istrinya, ia sengaja membuat Alya tenang terlebih dahulu.
Hingga beberapa menit wanita itu mulai tenang, tangisannya pun sudah mulai berhenti. Ia mengurai pelukannya, kepalanya mendongak.
Menatap takut takut kearah Angga yang memberi respon, namun tatapan pria itu cukup membuatnya terintimidasi.
"Ka_kamu marah?" helaan napas keluar dari mulut Angga, ia tersenyum simpul sambil mengusap lembut pipi basah istrinya.
"Kenapa nggak ngomong sama aku kalau mau kesana?" ucap Angga dengan suara beratnya.
"Aku kesana cuma mau memastikan, kalau apa yang aku pikirkan nggak terjadi,"
"Terus?" mata Alya bergulir dengan gelisah, melihat kemana saja asal tidak ke mata sang suami.
Alya menutup kedua wajahnya dengan telapak tangannya. "Hendra ngelakuin itu, karena Dinar. Dia ingin balas dendam ke Dinar," ucapnya pelan dan bergetar.
Alya menoleh lalu meraih tangan suaminya. "Aku jadi khawatir sama Dinar, aku takut Hendra masih berulah meskipun dia sudah di dalam penjara Hubby, aku nggak akan maafin diri aku sendiri kalau sampai terjadi sesuatu sama calon cucu kita."
"Kamu sudah tidak berburuk tentang menantu kita?" tanya balik Angga, menaikkan sebelah alisnya.
Cukup lama Alya berdiam, ia ******* bibir bawahnya. "Aku ngaku salah, maafin aku." sesal Alya kepalanya menunduk tak berani menatap Angga yang sedari tadi seperti menghakiminya.
"Jangan minta maaf sama aku, tapi minta maaf sama Dinar," jeda sejenak, Angga meraih tubuh Alya untuk ia dekap.
"Aku sudah tau semuanya tentang Dinar dan Hendra, dari dulu dia nggak pernah suka sama Dinar, padahal Dinar begitu menyayangi Hendra. Seperti Ayahnya sendiri, Dinar dari lahir nggak pernah tau siapa Ayahnya, maka dia sudah menganggap Hendra adalah Ayah kandungnya, tapi ternyata kasih sayang yang Dinar berikan tak bisa meluluhkan kerasnya hati Hendra, yang sudah di butakan oleh rasa dendam dan amarah."
"Maafin aku juga ya, mungkin kemarin aku terlalu keras sama kamu, aku ngelakuin itu supaya kamu tau, kalau apa yang kamu pikirkan nggak benar."
"Iya Hubby, maaf aku terlalu terbawa emosi," Angga mengurai pelukannya, merapikan rambut berantakan Alya.
"Kalau gitu mau kan, minta maaf sama mantu kita? biar Alvaro balik kesini," seulas senyum terbit di bibir wanita yang sudah tidak muda lagi namun masih terlihat cantik tersebut.
***
"Assalamu'alaikum," salam Al saat masuk kedalam rumah,
Sepi, dan sunyi itulah yang Alvaro dapatkan ketika masuk kedalam rumah yang di isi hanya dua orang.
"Sayang_" panggil Al sambil menjelajahi rumah minimalis tersebut.
"Ya ampun, aku cariin ternyata di sini. Lagi ngapain sih?" wanita itu menoleh dan tersenyum tipis saat Alvaro sudah duduk di sampingnya.
"Nggak apa-apa, lagi bosen aja di dalam rumah." mendengar hal itu membuat Al tersenyum tipis.
Ia tau istrinya tidak betah di rumah sendirian di saat dia pergi ke sekolah, tapi mau bagaimana lagi, inilah satu satu cara menurutnya yang paling tepat.
"Mau jalan-jalan nggak?" tawar Al mencoba menghibur sang istri.
"Kemana?"
"Kemana aja, asal bikin istri aku bisa senang lagi," ujarnya seraya menepuk nepuk pelan puncak kepala Dinar.
"Mau sih, Tapi akunya mager," balas perempuan itu lalu tersenyum memperlihatkan gigi rapinya.
"Terus maunya apa?" Dinar menopang dagu, seolah berpikir.
"Kita masak yuk, aku lagi pengin buat jajanan khas Jawa timur, yang pernah Bunda ajarin." kata Dinar begitu berbinar dan berharap Alvaro mau menurutinya.
"Boleh, aku ganti baju dulu ya." Dinar mengangguk.
"Tunggu dong," setengah merengek. "Kamu nggak mau sapa dedek dulu," ujarnya sedih, sambil mengusap perutnya yang semakin terlihat.
Lelaki itu menepuk keningnya, hampir saja ia melupakan kebiasaan, yang di minta Dinar ketika dia pergi dan pulang bahkan ketika ingin tidur.
Duduk kembali, Alvaro menundukkan kepalanya yang mensejajarkan posisinya di depan perut sang istri. "Assalamu'alaikum, anak Papa. Kamu hari ini nggak nakal kan? ingat ya, anak Papa nggak boleh bikin Mama susah," Dinar mengulum senyum manis, tangannya pun dengan lues menyisir rambut Alvaro.
Hatinya selalu senang dan menghangat, ketika Al mengajak bayi dalam kandungannya bicara, Dinar jadi tidak sabar, saat perutnya semakin membesar dan sudah bisa merasakan pergerakan di dalam perutnya, pasti di saat Alvaro mengajak ngobrol ada gerakan gerakan aktif di perutnya.
Dinar sudah sering melihat video seperti itu di sosial media. Yang di mana, ada yang menonjol di perut buncitnya.
"Sudah sama, ganti baju. Terus kita buat kue!" semangat Dinar.
Alvaro terbahak kencang, tangan mengacak rambut Dinar gemas.
"Kasih hadiahnya dulu dong," pinta Al menunjuk di kedua pipinya.
Dinar mengulas senyum, lalu merangkum wajah suaminya, memberikan kecupan kecupan yang di minta oleh lelaki itu dan bonus ciuman cukup lama pada bagian bibir, yahh begitu seorang Alvaro yang katanya hanya kecupan, namun setelah di beri, maka berubah lebih intens.
Perempuan itu segera menyuruh Alvaro berganti pakaian, hari pun cepat bergulir dan sudah mulai sore, Dinar ingin sebelum magrib atau sholat isya, dia sudah selesai membuat makanan dan jajanan yang sedang di idamkan.
Karena posisinya sedang duduk di dekat kolam dan di lantai, Dinar mulai kesulitan berdiri, padahalkan perutnya belum terlalu besar.
Mungkin ini efek dia kurang berolahraga, jika begini, ia harus rajin berolahraga meskipun sedang hamil.
...***...