
...~•~...
"Kamu serius sama rencana kamu Nak?"
"Serius Bunda,"
"Tapi kenapa pindah? mendadak gini lagi." Alvaro sudah mengutarakan niatnya untuk pindah pada kedua orang tuanya.
Bundanya lah yang seperti tidak rela jika Al harus pindah, dia tidak bisa jika berpisah dengan putranya.
"Aku punya rencana ini sudah lama Bunda, tapi baru aku utarakan ke kalian sekarang."
"Kamu yakin?" tanya Ayah Angga.
"Yakin Ayah, lagian rumahnya sayang kalau nggak ada yang tempati,"
Bunda Alya diam dengan terus memandang putranya lekat, ada raut wajah sedih lewat matanya. "Bunda kenapa?" kata Al lembut.
Bunda Alya menghela napas, memalingkan wajah dari sang putra. "Bunda cuma nggak habis pikir sama kamu, kenapa kamu tiba-tiba niat pindah, Apa ada yang bujuk kamu untuk pindah dan jauhin kamu sama Bunda?"
"Bunda!" gertak Ayah Angga yang duduk di sampingnya.
Beliau tidak ingin anak dan istrinya menjadi bertengkar karena masalah ini, dia sangat hapal watak sang istri. Pasti istrinya itu mengira jika mantunya yang membujuk Alvaro agar pindah.
Alvaro tetap tenang, ia harus ekstra sabar menghadapi sifat Bundanya. "Nggak ada yang bujuk, atau mempengaruhi Al untuk pindah, Bunda. Selama ini Al diam-diam banyak belajar tentang berumah tangga, dan Al ingin mandiri,"
"Tapi kamu masih sekolah Nak. Kamu masih butuh Bunda dan Ayah,"
"Sayang sudah ya, kamu jangan ngelarang anak kita yang mau hidup mandiri, biarkan aja kalau memang Al mau pindah." bela Ayah Angga, mencoba membujuk istrinya.
"Iya Bunda, lagian kan jarak rumahnya juga dekat. Aku pasti serinh main kesini," sambung Al.
"Kamu sudah nggak sayang sama Bunda? kamu nggak mau hidup sama Bunda lagi? mentang-mentang kamu sudah punya istri, kamu lupain Bunda?"
Alvaro mengacak rambutnya, ia kesal dan frustasi. Bagaimana bisa Bundanya memiliki pikiran seperti itu. "Dari awal kamu menikah, ini yang Bunda takutkan. Kamu akan berubah dan lebih memilih istri kamu." ucap Bunda bernada sedikit tinggi.
"Jadi Bunda nyesel restuin aku sama Dinar nikah muda?" tanya Al datar. menatap intens sang Bunda.
"Sekarang aku perhatikan, Bunda berubah setelah ada Amanda? apa karena dia Bunda jadi seperti ini!"
"Jangan bawa-bawa Manda, dia nggak ada hubungannya!"
"Kalau gitu Al minta Bunda tetap seperti dulu sama istri aku, kalau ada sesuatu yang nggak Bunda suka dari Dinar. Ngomong langsung, jangan buat dia sedih dan nangis kayak gini!"
Bunda Alya mengerjapkan matanya bingung. "Maksud kamu?" herannya.
"Bunda nerima dia jadi mantu, karena kasian sama adiknya kan? Bunda nggak perlu ngelak, karena aku dengar sendiri."
"Kemarin aku nggak sengaja Bunda sama Amanda ngobrol, dan Bunda mengatakan hal itu," Bunda diam seketika.
Beliau tak bisa mengelak karena memang nyatanya dia mengatakan itu pada Amanda. "Tolong Bunda hargai Dinar, dia juga punya perasaan. Bisa aja dia sakit hati,"
"Dinar sudah sangat sayang sama Bunda, dia menyayangi Bunda, seperti Ibunya sendiri,"
"Karena Bunda dia bisa merasakan kasih sayang Ibunya lagi, Tapi kalau Bunda ternyata nggak tulus, jangan sakiti dia dengan cara seperti itu." pungkas Al, lalu pergi begitu saja.
Bunda menangis, ia bisa melihat bagaimana Alvaro memandang kearahnya, ada tatapan kecewa dari putranya.
"Benar kamu ngomong gitu ke Amanda?" tanya suaminya.
Bisa di pastikan, nanti akan ada masalah baru lagi yang akan datang. Pikir Ayah Angga. beliau memijit pangkal hidungnya.
...***...
Alvaro masuk kedalam kamar, ia duduk di tepi kasur, mengusap wajahnya dengan kasar. Dia tak sadar, ada Dinar yang diam diam memperhatikan nya.
Al ingin marah, tapi tidak bisa. Biar bagaimana pun, dia begitu menyayangi Bunda Alya. Meskipun ada rasa kecewa karena ternyata selama ini. Bundanya terkesan memaksa menerima Dinar.
Ia memahami sang Bunda seperti itu, sebab. Pernikahannya sangat mendadak, dan tidak ada persiapan.
Wajar jika Bundanya lebih memilih sahabat kecilnya, karena beliau sudah begitu dekat dengan gadis itu, tapi bukan dengan Amanda kebahagiaan nya. seharusnya Bundanya bisa mengerti dan memahami apa yang di inginkannya.
Dinar perlahan mendekati Al lalu duduk di sampingnya, keduanya saling diam. Larut dengan pikiran masing masing.
Beberapa menit kemudian Dinar menoleh ke kiri, menatap Alvaro yang sedang termenung. "Jadi kemarin kamu dengar Bunda ngomong apa sama Amanda?" terdengar helaan napas berat dari suaminya, tidak lama dari itu Al mengangguk pelan.
"Itu juga, alasan kamu ngajak aku pindah?"
"Nggak juga, dari awal aku memang punya pikiran tinggal sendiri," ujarnya seraya menoleh lalu memberi senyum pada Dinar.
Dinar menggulirkan bola matanya ke sembarang arah, wanita itu sedang berpikir sesuatu. "Sayang," panggil Dinar tanpa memandang kearah Alvaro.
"Hmm?"
"Kalau kepindahan kita cuma untuk, menimbulkan kemarahan Bunda. Lebih baik nggak usah, Kita tetap di sini asal Bunda senang."
"Aku nggak mau, jadi orang yang menjauhkan anak dari Ibunya. Aku juga nggak mau, karena aku. Kalian bertengkar seperti tadi,"
"Kita tetap di sini ya," bujuk Dinar lembut.
"Mungkin nanti, kalau kita sudah lulus. Bunda bisa ngerti kemauan kamu dan aku, kali ini biar kita yang ngalah."
Alvaro terdiam sejenak, mengamati wajah cantik sang istri. "Ini yang bikin aku makin sayang sama kamu," ucap Al lembut. membelai rambut Dinar.
"Apa?"
"Kedewasaan kamu, dan hati kamu. Yang bikin aku makin cinta sama kamu,"
Dinar tersenyum, ia merebahkan kepalanya di dada Al. "Dari dulu aku lebih memikirkan orang lain, daripada diri aku sendiri. Untuk apa aku bahagia, kalau justru buat orang lain sedih." Dinar mendongak tangan kanannya mengusap pipi Al.
"Kita tetap di sini ya. Aku nggak apa-apa kalau Bunda marah sama aku. Yang terpenting kamu jangan marahan sama Bunda, kasian. Bunda sekarang pasti sedih, apalagi kamu anak kesayangan Bunda."
Alvaro merengkuh tubuh Dinar, mencium dan menghirup aroma rambut sang istri. "Kamu sabar dulu ya sayang, aku janji. Setelah aku bisa menghasilkan uang sendiri, kita pindah dan menempati rumah sendiri," Dinar mengulum senyum, ia semakin mengeratkan pelukannya.
"Iya, aku selalu sabar. Karena aku sayang kamu,"
"Mee to,"
Dinar memang ingin tinggal sendiri, dan menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri, tapi jika kepindahannya membuat hubungan anak dan Ibu menjadi renggang untuk apa, dia tak ingin merusak atau memutus hubungan antara orang tua dan anak.
Mungkin dirinya yang harus bisa mengambil hati, orang tua Alvaro agar benar benar menerimanya tanpa ada alasannya, ia juga ingin di sayangi oleh mertuanya dengan sepenuh hati.
Seperti Bunda Alya yang mencintai dan menyayangi Amanda,
...***...
...TBC...