Alvaro

Alvaro
Bab 119. Ingin bertemu.



...**"...


Usai penangkapan terhadap Ayahnya, hidup Dinar memang aman, tidak ada lagi yang meneror dan mencelakainya.


Tapi ia belum bertemu dengan Ayahnya, setelah gagal karena belum siap hingga sampai saat ini Dinar belum tau keadaan Ayahnya.


Hatinya kadang bimbang, ada rasa ingin bertemu, tapi saat sudah mau mengatakan pada Alvaro.


Lidahnya terasa kelu dan tak berani untuk mengungkapkannya, mau bertanya pada Bunda Alya rasanya tidak mungkin.


Dia tak ingin Bunda marah lagi kepadanya, lebih baik dia simpan dulu rasa ingin bertemunya sampai dia benar benar siap.


"Dinar, Hai kenapa ngelamun?" perempuan itu tersentak pundaknya di tepuk oleh mertuanya.


"Eh, Bunda. Nggak kok tadi lagi mikir sesuatu aja."


Bunda Alya duduk di sampingnya, mengamati wajah Dinar. "Mikir apa?" ingin rasanya Dinar jujur.


Tapi melihat senyum tulus yang keluar dari bibir Bunda Alya, lagi lagi mengurungkan niat.


"Nggak ada Bun, cuma mikir biasa saja, bukan apa-apa,"


"Beneran? Bunda nggak mau ya. Gara-gara kamu banyak pikiran, berimbas sama dedeknya." ujar Bunda seraya mengusap buncit Dinar.


"Hehe_ iya Bunda. Nggak ada apa-apa,"


"Ya udah kalau gitu, Bunda khawatir soalnya."


"Bun, besok pagi boleh nggak Dinar joging? katanya joging baik buat Ibu hamil,"


"Boleh dong, mau Bunda temani atau sama Al?


"Sama Al aja, nanti takut ngerepotin Bunda?"


"Nggak ada ngerepotin buat kamu sayang, tapi nggak apa-apa juga kalau sama Alvaro, biar dia sekalian olahraga dia kan jarang tuh olahraga." lanjut Bunda meledek putranya.


Dinar tertawa membenarkan ucapan Bunda Alya, Alvaro jarang olahraga. Paling saat di sekolah saja lelaki itu baru melakukannya.


"Oh iya, hampir aja lupa. Tunggu ya," kata Bunda lalu bergegas masuk kedalam rumah.


Dinar hanya menatap punggung mertuanya bingung, ada apa. Pikir Dinar dalam hati.


Tidak lama Bunda Alya kembali dengan membawa satu gelas, dengan isi berwarna kuning pekat. "Sayang ini di minum ya," menyodorkan gelas itu pada Dinar.


"Apa ini Bunda?"


"Ini jamu, baik buat kandungan kamu, Bunda sudah buatin ini untuk kamu. Sekarang di minum ya," titah Bunda begitu lembut.


Dinar ragu meneguk minuman berwarna kuning itu, selain ia tak pernah minum jamu Dinar juga taku kalau rasanya kurang enak.


"Jangan di pikirin soal rasa, yang penting khasiatnya. Ini baik buat kamu yang lagi hamil supaya kakinya nggak bengkak nantinya," ujar Bunda yang seolah tau apa yang sedang menantunya pikirkan.


Demi menghormati usaha Bunda Alya Dinar pun meminumnya sekali teguk, dan raut wajah Dinar pun bisa menggambarkan jika rasanya memang kurang enak.


Meringis berulang kali, bahkan sempat ingin muntah itulah Dinar saat ini, wajahnya pun sedikit memerah. "Gimana sayang?" Dinar memberikan gelas kosong itu pada Bunda.


"Pahit banget Bun," jawabannya sembari bergidik.


"Nanti beberapa hari sekali Bunda buatin, kalau rutin juga biasa minumnya." Dinar sedikit membulatkan matanya, jadi dia harus minum lagi.


Menghela nafas pasrah Dinar pun hanya bisa mengangguk, perempuan itu berdiri pamit pada Bunda Alya untuk ke kamar, dan kini tinggal Bunda sendiri yang berada di taman belakang.


Menaruh gelas kosong di tempat Dinar tadi duduk, Alya merenung.


Entah kenapa tiba-tiba pikirannya tertuju pada Ayah tiri Dinar, yaitu Hendra.


Sudah tidak ada kabar lagi tentang pria itu, selain masih dalam pemeriksaan keluarga juga tidak ada yang kesana lagi.


Alya bukan khawatir, hanya ingin tau seperti apa perkembangan kasus tentang pria itu.


...***...


"Habis di suruh Bunda minum jamu, rasanya pahit." adu perempuan itu lalu memeluk suaminya.


Alvaro yang paham pun tertawa, membalas pelukan sang istri mengusap usap punggungnya. "Nggak apa-apa, kan demi kamu sama dedek bayi." Dinar hanya mengangguk dalam pelukannya.


Dinar mendongak menatap Al dari bawah. "Sayang," panggil Dinar dengan nada manja.


Alvaro sudah paham, jika nada bicaranya seperti itu tandanya Dinar tengah menginginkan sesuatu. "Ya sayang, kenapa?" menaruh anak rambut ke belakang telinga perempuan itu.


"Besok pagi kita joging yuk, aku tiba-tiba pengin joging, kata Bunda itu baik buat bumil."


"Ayo," jawab Al penuh semangat.


"Tapi aku punya satu permintaan," air muka Alvaro sudah berubah, ia takut Dinar minta yang aneh aneh.


"Apa itu?"


Dinar tak bisa jika tidak tertawa. "Kamu kenapa sih? takut ya aku minta yang aneh-aneh?" tebak Dinar yang mengetahui jalan pikiran suaminya.


"Hehe_ nggak kok sayang, emangnya apasih?" elaknya.


"Aku cuma pengin kita joging pakai baju couple, kayak gini." tunjuk Dinar gambar di ponselnya.


"Pakai kaos itu?" Alvaro sedikit melebarkan matanya melihat foto pasangan menggunakan kaos bertuliskan Papa muda dan Mama muda, tapi bukan itu yang jadi masalah untuk dirinya.


Yang menganggu adalah warna dari kaos tersebut, yang di mana dia harus menggunakan kaos berwarna pink, dengan bando kelinci warna yang sama.


"Bando juga?" lemas Al, Dinar tersenyum manis sembari mengangguk.


"Mau ya_ ini maunya dedek lho." ujarnya setengah merengek.


Diam berpikir Al menatap Dinar yang begitu berharap dia mau mengabulkan permintaannya.


Tak tega melihat istrinya menangis dan tak mau anaknya nanti menjadi ngiler, Dengan setengah hati Alvaro pun mengangguk pelan.


"Yeee!" sorak Dinar kesenangan, sangking senangnya ia memeluk dan mencium Alvaro.


Melihat bahagianya Dinar hanya karena dia menuruti keinginan, membuat hati Al ikut bahagia, padahal bisa di bilang.


Apa yang di inginkan Dinar hanya hal sederhana, tapi kenapa tadi dia hampir menolak permintaan wanitanya.


Jika begini, ia berjanji tidak akan pernah menolak apapun yang Dinar inginkan, seaneh dan sesusah apapun dia akan berusaha mewujudkannya.


Karena kebahagiaan Dinar adalah kebahagiaannya.


"Makasih ya sayang," ucap Dinar sangat tulus.


"Jangan bilang makasih, ini sudah tugas aku buat kamu bahagia sayang."


Masih dalam pelukan Alvaro, Dinar berkata. "Sayang, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya apa?"


"Aku tiba-tiba kepikiran Ayah Hendra, kamu tau nggak kabar tentang Ayah aku dari Ayah Angga?"


"Ayah nggak pernah bahas lagi soal Ayah Hendra,"


"Aku pengin ketemu, tapi takut ragu lagi."


"Nanti aku coba tanya ke Ayah," Dinar mengangguk menyamankan posisinya di dada bidang Alvaro.


"Kamu masih suka kepikiran Ayah Hendra? kenapa sayang? padahal kan Ayah nggak pernah anggap kamu?" perempuan itu menarik napas lalu di buangnya secara pelan.


"Ayah memang nggak pernah anggap aku anaknya, nggak masalah meskipun Ayah benci. Aku tetap sayang, karena Ayah Hendra adalah Ayah kandung Jingga, adik satu-satunya yang aku punya. Dan cuma Ayah Hendra yang aku punya sedang Ayah kandung aku sendiri, nggak tau siapa dan di mana." Alvaro memejamkan matanya.


Sepertinya dia salah bertanya, karena saat ini ia malah mendengar Isak kecil dari mulut Dinar. "Sudah sayang, jangan nangis, maaf aku nggak bermaksud tanya gitu."


Dinar memang menyayangi Ayah tirinya itu, meskipun sang Ayah tidak pernah menganggapnya ada, tapi kasih sayang yang dia berikan tulus.


...***...