
...~Happy Reading~...
...***...
"Sayang,"
"Hmm?" Dinar duduk di samping Al yang tengah mengerjakan tugas di buku tulisnya.
"Aku minta izin keluar ya," cowok itu mengalihkan perhatiannya dari buku ke istrinya yang duduk di tepi meja belajar.
"Kemana?" Al sedikit mendongak menatap Dinar.
"Ke tempat teman lama aku, bareng Selly kok. ada acara di sana,"
"Oke, kita siap-siap." Dinar mencegah suaminya ketika cowok itu ingin membereskan buku tulis dan LKSnya.
"Nggak usah. kamu di rumah aja, aku pergi sama Selly." ujar Dinar meski takut takut.
Melihat jam di tangannya, memenunjukkan pukul setengah delapan malam. "Kalau aku nggak izinin?" kata Al datar, ia menjadi kurang suka Dinar pergi tanpa dirinya.
"Lho kenapa? aku bentar aja, lagian aku nggak pernah datang kalau teman aku adain acara. Kali ini aku pengin ikut!" Dinar berubah galak dan marah pada suaminya.
"Kalau kamu pergi tanpa aku, mending nggak usah. Kamu di rumah aja!" putus Al, cowok itu duduk kembali dan membuka buku tulisnya lagi.
Dinar terlihat kesal. menatap Al datar dan tajam. "Kamu mau ngekang aku!" tuduhnya.
"Selama ini aku udah nurutin keinginan kamu, terus aku minta izin keluar aja. Kamu nggak izinkan!" Alvaro menghentikan gerakan nulisnya.
Meremas pulpen tersebut, meluapkan rasa kesalnya. "Bukan gitu maksud__" belum selesai bicara Dinar telah memotongnya.
"Terserah! kamu mau kasih izin atau nggak. Aku tetap pergi!!" nekat Dinar lalu membanting pintu keluar dari kamar.
Alvaro memejamkan matanya, mengusap keningnya. Bukan itu yang Al maksud, dia hanya khawatir jika Dinar pergi sendiri.
Tidak ada sedikit pun niatan ingin mengekang Dinar, dia juga masih muda. Jiwa untuk bertemu dan berkumpul dengan temannya itu pasti ada, tapi rasa khawatir yang membuatnya ingin menemani Dinar.
Al sedikit berlari kearah jendela, keluar berdiri di balkon melihat Dinar benar benar pergi menggunakan taksi.
Mengacak rambutnya dengan kesal, Al mendesah napas beratnya. jika begini mana bisa dia tenang di rumah.
Dinar tiba di tempat acara, gadis itu menengok ke kiri dan kanan, mencari keberadaan Selly. senyuman di bibir terlihat saat dia sudah bertemu sahabatnya.
"Sell_" teriaknya lalu menghampirinya.
"Muka lo kenapa kusut gitu?" tanya Selly setibanya Dinar su sampingnya.
Ia berdecak kesal, meraih minum yang ada di atas meja. "Ck_ gue tuh kesel sama Al. Dia ngekang gue, masa mau kesini aja nggak boleh. Katanya kalau dia nggak ikut, aku nggak boleh pergi. Kan kesel gue!!"
"Lo kesini tanpa izin?"
"Ehmm," jawabnya sambil meneguk minumannya.
Selly menarik napas panjang lalu di buangnya perlahan, menatap Dinar menggelengkan kepalanya. Tak habis mikir dengan jalan pikir Dinar.
Dia tak memaksa Dinar untuk ikut, tadi ia hanya mengingatkan jika ada undangan ulang tahun dari teman semasa SMP.
Meskipun tidak terlalu dekat. dirinya sendiri bila tak datang tidak enak. Tapi kalau untuk Dinar, dia berharap sahabatnya itu menuruti perintah suami.
"Dinar ya, apa kabar?" sapa si pemilik acara.
"Alhamdulillah baik, selamat ulang tahun ya. Sorry gue nggak bawa kado," sesal Dinar, ia juga malu datang tidak membawa apa apa.
Karena kesal pada Alvaro, ia lupa menyiapkan kado untuk temannya itu. "Haha__ santai aja. gue nggak masalah." cowok berambut cepak dan tinggi itu sedikit menggeser posisi berdirinya agar lebih dekat pada Dinar.
"Tapi boleh lah, kapan-kapan kita jalan. udah lama nggak ketemu lo makin cantik." mendadak Dinar tidak nyaman, apalagi cowok itu menatapnya seolah meneliti tubuhnya.
"Nggak usah macam-macam sama sahabat gue ya! ingat lo udah punya cewek!!" cowok itu justru tertawa.
"Selly_ Selly. lo nggak berubah ya dari dulu tetap galak." Selly menatap cowok itu tajam menarik Dinar agar mendekat padanya, rasa sesal ia rasakan.
Jika keadaannya menjadi absurd seperti ini, lebih baik dia tak menyuruh Dinar untuk datang.
...***...
Merogoh ponsel di dalam tasnya, saat membuka benda pipih tersebut ia mendelik. Banyak telepon dan pesan Al yang masuk, melihat jam sudah menujukan pukul setengah sepuluh lebih, kurang lima belas menit lagi sudah pukul sepuluh malam.
Ia takut Al semakin marah, walaupun tadi dia yang marah pada cowok itu, tetap saja Alvaro adalah suaminya. "Sell, balik yuk. Al sudah telpon terus." bisik Dinar.
Selly mengangguk kuat, sejatinya dia pun sudah tidak nyaman, bau rokok dan beberapa anak muda ada yang minum minuman beralkohol, sudah ingin menyeret Dinar untuk pulang.
"Lho mau kemana kalian?" si pemilik acara menatap Dinar dan Selly bingung.
"Kita mau balik duluan ya, udah malam,"
Dinar menggenggam tangan Selly erat, saat semua yang ada di sana tertawa keras. "Hahaha___ Pulang? masih sore juga. ngapain kalian pulang, ayolah kita senang-senang dulu. toh besok weekend," cowok bernama Rama mencoba meraih tangan Dinar.
Buru buru Dinar menepis dan mundur satu langkah. "Besok gue ada urusan." Alasan Dinar.
"Urusan apa?" saut salah satu teman Rama.
"Ayolah Din, kita di sini dulu. Sudah lama nggak ketemu." Rama mencekal tangan Dinar lalu menarik gadis itu hingga menubruk dada bidang cowok itu.
Dinar dan Selly terkejut, apa lagi Dinar langsung di dekap oleh Rama, tampaknya cowok itu sudah sedikit mabuk, di lihat dari mata, dan juga bau dari mulutnya.
Tubuh Dinar bergetar hebat, penyesalan atas larangan Al dia rasakan, kini dia butuh suaminya hadir. "Lepasin gue!!" gertaknya, namun tak di dengar oleh Rama, cowok itu tetap memeluk Dinar, bahkan Rama ingin mencium bibirnya.
Selly tak diam saja, ia sudah berusaha melepaskan Dinar dari Rama, tapi tidak bisa. Kekuatan nya tak ada apa apanya di bandingkan cowok itu.
Dinar mendelik saat melihat Selly tersungkur di lantai. "LEPAS!!" bentak Dinar nyaring.
Mendorong Rama sekuat tenaganya, saat berhasil lepas, ia buru buru mendekati Selly membantu sahabatnya berdiri.
"Ayo Sell kita kabur," Dinar menarik tangan Selly.
Berlari keluar dari gedung tersebut, mengabaikan teriaksn Dari Rama, terus berlari hingga berhasil sampai di pinggir jalan.
Bersamaan dengan berhentinya mobil yang Dinar kenal, yaitu mobil sport milik Alvaro.
Diam seperti patung Dinar memandangi suaminya ketika keluar dari dalam mobil, melangkah dengan tegas Al menghampirinya tanpa melihat kearahnya.
Alvaro melepas jaketnya, menyampirkan ke tubuh Dinar, tanpa mengeluarkan kata dan juga tidak menatapnya.
"Masuk Sell, gue anter lo pulang," ujar Al datar tanpa ekspresi.
Selly hanya mampu mengangguk lalu segera masuk kedalam mobil milik suami sahabatnya itu. Nyeri hati Dinar ketika Alvaro mengabaikannya, apalagi cowok itu tidak menyuruhnya masuk, atau membukakan pintu seperti biasa.
Selly duduk di belakang, sangat tidak nyaman dan canggung. dia juga merasa tidak enak pada Alvaro, namun untuk mengeluarkan suaranya, rasanya tercekat di tenggorokan.
Di perjalanan mengantar Selly keadaan seperti mencengkam, Al hanya diam, namun jika di lihat oleh gadis yang duduk di jok belakang, sangat jelas bahwa Alvaro sedang marah.
Di bagian depan pun Dinar hanya mampu menunduk, dia menyesal dan merasa bersalah, ia sering mengusap usap lengan dan dadanya, karena secara tidak langsung dia bersentuhan dengan pria lain.
Alvaro menghentikan mobilnya di depan rumah minimalis, tepatnya adalah rumah Selly. "Thanks Al, gue turun." cowok itu hanya menjawab dengan deheman tanpa menoleh.
Keadaan semakin tegang, saat Alvaro menjalankan mobilnya meninggalkan area rumah Selly, bahkan dia sedikit membawa mobil itu sedikit kencang.
Dinar semakin menunduk, mengeratkan pegangannya pada sabuk pengaman, memberanikan diri ia menoleh pada Al.
Dapat di lihat Al mengatupkan rahangnya, matanya lurus kedepan, bahkan tangannya mencengkram setir mobil begitu kuat.
Tak tahan menahan perasaannya yang sudah ingin meledak, Dinar turun dari mobil lebih dulu, ketika mereka sudah sampai.
Belari masuk kedalam kamar, lalu menuju kamar mandi, gadis itu mengunci dari dalam, tangisan yang sedari dia tahan. Tumpah juga, ia menyalakan shower membasahi tubuhnya, merosot duduk di lantai, menggosok gosok tubuhnya agar bekas tangan pria b******k tadi menghilang, sebenarnya yang dia butuhkan adalah degapan dari Alvaro.
Namun ia sadar diri, Al marah besar padanya, dia juga merasa telah menjadi istri durhaka yang tak menuruti keinginan suaminya.
...***...
......TBC......