Alvaro

Alvaro
Bab 66. Kecewa kepadanya



...~Happy Reading~...


Sebelum kembali kerumah, Ayah Angga mengajak semua keluarganya dan keluarga Pak Damar untuk makan siang bersama.


Meskipun Alvaro terlihat tidak suka, tapi hubungan kekeluargaan harus tetap berjalan, mereka hanya ingin pertemanannya tidak putus.


"Al kamu sudah tau belum, kalau Amanda bakal satu sekolah sama kamu," ujar Bu Lilis, Alvaro menghentikan gerakan menyendoknya, ia sedikit terkejut dan tanpa sadar dia membuang napas beratnya.


Begitu pun dengan Dinar, tubuhnya menegang sesaat, apalagi ini. sepertinya akan ada masalah baru. pikir Dinar dalam hati.


"Kamu senang nggak?" semua orang menatap kearah Al, kecuali Dinar dan kedua orang tuanya.


"Senang."jawab Al singkat.


"Kalian bisa kayak dulu, jangan jauhan lagi, kamu tau nggak. Di tinggal kamu Amanda demam nggak turun-turun." kekehnya


"Ma__" greget Amanda pada Mamanya yang terlalu banyak ngomong.


"Halah sok malu, pas di rumah aja. Ma_ Manda mau Al. Ma." ujar Bu Lilis meniru gaya putrinya yang sedang merindu pada Alvaro.


Al tersenyum tipis, tidak ingin terlalu menanggapi obrolan mereka, bahkan yang mereka bahas tidak jauh jauh tentang Amanda.


Mereka benar benar, tidak memandang Dinar ada di sana, Alvaro merasa jika Bu Lilis sengaja menceritakan kedekatan antara dirinya bersama Amanda.


"Ayah, aku boleh pamit dulu." segera menghabiskan makanan, dan mengajak istrinya pergi.


"Boleh, hati-hati ya. Jangan ngebut." pesan Ayah Angga.


"Kamu mau balik, mending kamu ajak Amanda. Mama yakin kalian butuh ngobrol," ujar Bu Lilis melirik sinis pada Dinar.


"Mobil aku cukup dua orang Tante,"


"Kalau gitu tunangan kamu biar sama kita, atau sama Bunda kamu. Masa dia nggak ngerti, kalian butuh waktu."


Dinar meraih tangan Alvaro, mencegah suaminya agar tidak melawan Bu Lilis. "Aku sama Bunda aja, kita ketemu di sana." bisik Dinar yang masih bisa di dengar oleh mereka.


Bu Lilis terlihat mencibir menatap sinis kearah Dinar, berubah manis saat ia memandang Bunda Alya, sangat jauh berbeda.


"Nggak bisa gitu sayang," protes Al namun mendapatkan delikan dari Dinar.


Alvaro mengacak rambutnya kesal, menatap kepada Ayahnya yang memberi anggukan kecil menyuruhnya untuk menurut saja, ia pun hanya bisa pasrah. pergi lebih dulu ke lobby hotel, di mana mobil sportnya sudah terparkir di sana.


"Ngapain lo diam d situ? buruan masuk!" suruh Al yang melihat Amanda tak kunjung masuk kedalam mobil.


Di belakang mobil Al ada mobil Ayah Angga, Dinar yang baru masuk kedalam mobil mertuanya, menatap Amanda yang masuk mobil suaminya.


Ada rasa nyeri di harinya, namun mau bagaimana lagi. Dia tak bisa melakukan apa apa. semakin membantah akan semakin menyakitkan ucapan dari Mama sahabat Alvaro itu.


"Sabar ya Nak, mereka nggak tau yang sebenarnya. mereka kira kalian hanya sekedar tunangan." hibur Bunda. beliau juga tidak tega sebenarnya.


"Iya Bunda, Dinar nggak apa-apa." tersenyum paksa adalah hal terbaik yang di lakukan Dinar saat ini.


...***...


Alvaro sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun, selama di perjalanan cowok itu tetap lurus memandang kedepan, fokus pada setir mobilnya.


"Al," panggil Amanda memberanikan diri.


Alvaro sebenarnya tidak masalah jika sahabatnya itu datang ke Kotanya saat ini, namun yang ia tidak suka adalah gadis itu terlihat masih berusaha mendatanginya bukan karena persahabatan, namun tentang perasaan gadis itu kepadanya.


Di tambah sifatnya terhadap Dinar, semakin membuatnya kesal.


"Kalau kamu nggak senang, ternyata benar. Kamu pindah kota karena pengakuan aku tempo hari?" Amanda menghela napas memainkan jarinya.


"Bilang sama aku Al. Kalau kamu nggak beneran tunangan sama dia. Iya kan! kamu cuma buat dia pelampiasan biar aku mundur, Bilang Al." hardik gadis itu.


"Kalau memang benar. Kamu nggak berhasil Al, perasaan aku sudah tumbuh terlalu dalam. Aku sudah nggak bisa nolak perasaan ini!" gadis itu mulai menangis.


"Sebenarnya kenapa kamu nggak nerima aku? seandainya karena kita bersahabat, bukannya itu nggak masalah. Kamu lihat kan, keluarga kita sudah dekat, Bahkan mereka juga berharap kita bersama."


"Aku mohon terima aku Al, aku sayang sama kamu_" mohon Amanda.


Al tersenyum miring kepalanya menggeleng pelan, ia tidak habis pikir dengan gadis itu. Amanda seolah tengah mengemis kepadanya. "Lo kayak gini, semakin gue muak! Lo udah rendahin harga diri lo. hanya untuk seorang cowok yang akan lo dapetin!"


"Sadar Amanda! gue nggak bisa balas perasaan lo." Al masih berusaha sabar, dia masih ingat jika Amanda adalah teman semasa dia kecil hingga tumbuh dewasa.


Waktunya sebagian di habiskan bersamanya, sudah banyak cerita menyenangkan yang di lalui bersama.


"Kenapa Al!!" bentaknya memegang lengan Al.


"STOP AMANDA!!" marah Al ia membentak keras gadis itu, ia sudah tidak tahan lagi.


Kesabarannya sudah habis. "Lo harusnya tau. perasaan nggak bisa di paksakan!"


"Bisa Al. Aku yakin kalau kita hidup bersama. Perasaan itu pasti akan muncul,"


"Jadilah perempuan yang memiliki harga diri. Laki-laki nggak cuma gue di dunia ini, lo harus sadar itu."


"Harus berapa kali lagi gue tekankan. Gue paling nggak suka di antara persahabatan kita ada perasaan lain. Gue udah pernah ngomong ini dulu!" ujar Al dengan napas memburu.


Rahangnya mengeras, menahan emosi yang sudah sampai di ubun ubun, Amanda tidak bisa di baiki. Semakin di biarkan, semakin menjadi pula keinginannya.


Tanpa mendengar ocehan dari gadis itu, ia menancap gasnya lebih dalam, Alvaro ingin segera sampai di rumah.


Amanda menghapus air mata, menatap Alvaro sendu. di dalam hatinya ia masih bisa berharap, dan dia akan terus berusaha.


Turun dari mobil Al, Amanda menatap kosong kemana cowok itu pergi, memukul dadanya yang terasa sesak, memang benar.


Hanya karena sebuah perasaan, semua merubah segalanya. Al menjadi menjaga jarak dengannya, sifatnya pun berbeda. Bukan Alvaro yang ia kenal dulu.


Dinar yang sampai di rumah lebih dulu, terkejut saat Alvaro tiba tiba datang langsung memeluknya, napas cowok itu juga memburu seperti sedang di kejar sesuatu.


Berbalik badan, ia menangkup wajah merah suaminya. "Ada apa?" tak menjawab Al justru mengamati wajah Dinar.


Membuang napas dengan kasar, ia merengkuh tubuh sang istri. di dekapnya begitu erat.


Di peluk seperti itu Dinar paham, pasti terjadi sesuatu pada Alvaro. Ia membalas pelukan cowok itu dan memberi ketenangan.


Memang kadang kita harus memberi jarak, pada teman lawan jenis, agar sesuatu yang tidak kita inginkan terjadi.


Padahal kita dekat dan baik, bukan berarti memberi ruang untuk mereka memiliki hubungan lebih.


...***...