
......................
Memperhatikan Alvaro, Dinar mengerutkan keningnya. Melirik jam yang sudah hampir tujuh pagi.
"Al kamu nggak siap-siap ke sekolah?"
"Nggak," jawab Al kelewat santai.
"Kenapa?"
Alvaro yang sibuk mengupaskan buah untuk Dinar, berhenti sejenak lalu menghela napas beratnya. "Gimana aku bisa konsentrasi belajar, kalau kamu di sini." kini terdengar Dinar yang menarik napasnya.
"Kamu jangan sering bolos Al, bentar lagi kamu ujian. Harus fokus sama pelajaran,"
"Soal aku, jangan khawatir. Bentar lagi Bunda datang, tadi sudah kirim pesan lagi di jalan." memandang Alvaro lama, begitu pun lelaki itu.
"Aku takut, orang itu nekat. sekarang aja dia mulai celakain kamu, gimana nanti. Aku khawatir, sayang." Dinar meraih tangan Alvaro.
Memberi ketenangan agar suaminya tidak terlalu mengkhawatirkannya. "Aku tahu, sangat tahu gimana perasaan kamu. Tapi pendidikan juga penting, di sini banyak orang. Banyak yang jaga juga. Aku pasti baik-baik aja. Ya, please kamu pergi sekolah aja,"
"Kamu nggak mau Bunda kecewa kan? Kamu sudah janji sama Bunda," bujuk Dinar, Alvaro mengusap wajahnya dengan kasar.
Menarik napasnya begitu dalam, lalu di buangnya secara pelan. Alvaro menoleh menatap Dinar, dan perlahan lelaki itu mengangguk, menuruti keinginan istrinya.
Setelah mendapatkan bujukan dari Dinar, Alvaro bersiap siap pergi ke sekolah, sambil menunggu Bundanya.
Namun jika Bundanya tak kunjung datang, Maka dia batal pergi, dan lebih izin menemani Dinar.
"Assalamu'alaikum," keduanya menoleh melihat Bunda Alya muncul bersama Mba Leli.
"Wa'alaikumsalam," jawab Al pelan, ada sedikit kecewa saat Bundanya datang, sebab. Ia harus pergi dan meninggalkan istrinya.
Padahal dia benar benar tidak tenang meninggalkan Dinar, walaupun saat ini wanita itu sudah bersama Bunda dan asisten rumah tangga.
"Aku pergi dulu Bunda. Assalamu'alaikum," pamit Alvaro masih sedikit bernada marah, soal ia tak cepat di beritahu oleh Bundanya.
"Iya, Wa'alaikumsalam." Bunda memperhatikan Alvaro mulai dari mengambil tas, menghampiri Dinar di bangsalnya lalu memberi kecupan di kening sang istri.
Beliau mendesah berat, melihat putranya masih dingin kepadanya, akibat dirinya kemarin.
"Bunda," panggil Dinar, saat melihat Bunda Alya melamun.
"Hah? iya kenapa Nak?" gagapnya bingung sendiri.
"Bunda kenapa? kayak ada yang di pikirkan?"
"Oh_ nggak kok. mungkin Bunda kurang tidur aja, makanya suka bengong."
"Maaf, ya Bunda. Gara-gara aku jadi pada susah gini," sendu Dinar memainkan jarinya sendiri.
Bunda Alya menggeleng kuat, tidak setuju dengan ucapan menantunya. "Bukan Nak, ini bukan karena kamu. Tapi Bunda memang lagi ada masalah sedikit," bohong Bunda Alya.
"Gimana kalau aku pulang aja, Bun. Aku sudah baik-baik aja, lebih enak di rumah. Lebih aman juga,"
"Sabar, Nak. Tunggu kamu beneran stabil, baru bisa pulang." Dinar memajukan bibirnya, jujur dia tidak suka rumah sakit.
Bau obat obatan, membuatnya mual dan pusing.
...****************...
"Gue pikir lo nggak masuk Al," kata Niko saat mereka sudah berada di kelas.
Yang di tanya mendesah, menyandarkan tubuhnya di badan kursi. "Tadinya gue mau izin, tapi nggak di bolehin sama Dinar." kata Al lesu.
Niko dan Heru tertawa pelan, menertawakan sahabatnya. "Itu tandanya, bini lo. Nggak mau punya suami b**o!" Alvaro mendelik melempar pulpen yang sukses mengenai kening Niko.
"Lo tetap belum tau, siapa pelaku sebenarnya?" tanya Bastian.
"Belum, itu yang bikin gue pusing. Sampai kapan kayak gini terus, gue nggak mau Dinar atau calon anak gue kenapa-napa."
"Lo udah kasih bukti ke polisi?"
"Udah, tapi gue rasa pihak kepolisian lamban dalam nanganin masalah ini."
Alvaro memandang Bastian dengan binar di matanya. "Thanks bro, Lo mau bantu gue." Bastian ikut tersenyum menepuk pundak sahabatnya.
"Sama-sama, gue juga nggak mau Dinar kenapa -napa. apalagi sekarang dia lagi hamil," ujar Bastian tulus.
"Al_" panggil Amanda yang memang satu kelas dengan Alvaro.
Lelaki itu menoleh malas pada Amanda. "Dinar gimana? masih di rumah sakit? nanti aku boleh jenguk?"
Alvaro tak menjawab, hanya kepalanya yang mengangguk memperbolehkan gadis itu menjenguk istrinya.
Pulang sekolah Alvaro bersama ketiga sahabatnya, benar benar menemui teman Bastian yang bernama Rio.
Mereka bertemu di salah satu cafe, usai menunggu hampir setengah jam, Rio pun datang. "Sorry gue lama, masih ada kerjaan."
"Nggak apa-apa, justru kita yang harusnya minta maaf ganggu waktu lo," jawab Bastian tidak enak.
"Santai, kayak sama siapa aja." kekeh Rio. "Jadi ada yang bisa gue bantu?"
"Ini temen gue, namanya Alvaro. dia yang butuh bantuan lo," Al menjabat tangan Rio yang di balas baik oleh cowok itu.
"Gue lagi di teror seseorang, sampai saat ini polisi belum bisa menangkap pelakunya. Sampai akhirnya kemarin dia nyerempet istri gue."
Alvaro mengeluarkan kertas yang menggambarkan seseorang mulai dari memberi paket pada Amanda, berdiri di dekat pos rumahnya sampai yang terbaru ketika orang itu menabrak Dinar dengan sengaja. "Ini orangnya, Lo bisa gambar wajah pelaku? supaya gue bisa cari sendiri,"
Rio mengamati satu persatu kertas tersebut, mencoba menganalisa bentuk wajah.
"Kasih gue waktu, mungkin besok. hasilnya bisa gue kasih ke lo,"
Al mengangguk setuju. "Iya, nggak masalah. gue tunggu kabar dari lo,"
Alvaro menghela napas panjang, berharap usahanya berhasil, dia sudah tidak sabar bertemu dengan orang yang sudah membuatnya hampir kehilangan anaknya.
Selesai bertemu dengan Rio, Alvaro berpisah dengan Bastian dan yang lainnya di depan cafe tersebut.
Saat sudah ingin naik ke motornya, Al mengurungkan niatnya ketika ponselnya terasa bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomer tidak di kenal. Jantungnya tiba tiba berdegup kencang, pikiran buruk langsung melintas di benaknya.
Buru buru ia membuka pesan tersebut, "Hush!!" ia langsung membuang napas lega ketika pesan tersebut ternyata dari nomer adik iparnya.
Alvaro belum pernah sempat menyimpan nomer adik iparnya. Jingga memberitahu jika Dinar sepertinya sedang ngidam, gadis itu mengeluhkan sifat kakaknya yang terus minta di belikan buah manggis.
Alvaro menelpon nomer adik iparnya itu, tak perlu menunggu panggilan langsung di angkat.
"Assalamu'alaikum, Kak?"
"Wa'alaikumsalam. di mana Kak Dinar?"
Jingga lekas memberi ponselnya kepada Kakaknya.
"Sayang _ kamu udah kelar sekolahnya?"
"Udah sayang, kamu pengin Manggis?"
"Ehhm_" Dinar mengangguk sambil memanyunkan bibir lucu.
Padahal Alvaro tidak bisa melihatnya, andai Al lihat. Bisa di pastikan lelaki itu mencubit pipi istrinya.
"Tunggu ya, nanti aku pasti belikan." ujarnya begitu lembut.
"Oke, aku tunggu. beli yang banyak ya, kayaknya aku mulai ngidam, dari tadi kebayang terus." oceh wanita itu.
Alvaro yang mendengar hanya bisa tersenyum gemas, pasti istrinya sangat menggemaskan saat ini.
"Iya sayang,"
Segera menutup teleponnya, Al mulai mencari buah yang sedang di inginkan oleh istrinya.
Ternyata seperti ini, rasanya mempunyai istri yang sedang ngidam. Ucap Al dalam hati.
......................