Alvaro

Alvaro
Bab 116. Klepon



...****************...


Senandung kecil terdengar dari bibir ibu hamil cantik, yang tengah mempersiapkan bahan untuk membuat jajanan khas Jawa.


"Gercep banget sih, baru juga di tinggal ganti baju sudah siap aja bahannya." wanita itu hanya menoleh sebentar, memberi senyum terbaik untuk suaminya lalu fokus kembali ke adonan yang sudah dia buat.


Sebenarnya Alvaro sudah kembali dari kamar sedari tadi, tapi melihat Dinar tengah asyik bernyanyi sendiri, membuatnya enggan menghampirinya.


Dia tak ingin membuat Dinar malu, karena Al g


hapal kalau Dinar paling malu jika ada yang mendengar suaranya ketika bernyanyi.


"Kamu bantu, aduk yang ini ya." titah perempuan itu memberikan wadah berisi adonan tepung dan kawan kawan.


"Oke siap!" Semangat Al.


"Cuci tangan dulu, soalnya aduknya pakai tangan."


"Oh gitu ya,"


Dinar mengerutkan kening. "Kenapa? kamu nggak mau," sontak Al menggeleng.


"Bukan gitu sayang, aku pikir pakai sendok dulu,"


"Sudah tadi aku yang aduk, sekarang pakai tangan sampai kalis," ucap Dinar menjelaskan.


Alvaro pun ke wastafel, mencuci tangan terlebih dahulu, lalu segera mengerjakan perintah dari istrinya.


Dinar melihat bagaimana Alvaro mulai mengaduk-aduk hingga adonan itu mulai bisa di bentuk.


"Aku pikir kamu bisa,"


"Bisa dong, cuma gini doang. gampang," sombong Al, seraya mengedipkan sebelah matanya.


"CK, baru juga kue. Nanti bantuin aku lagi, buat makanan yang lebih susah." ucap Dinar setengah sewot.


"Oke, siapa takut." mereka saling diam melihat adonan di wadah itu. Hingga Al bertanya ketika lelaki itu baru sadar. "Ngomong-ngomong, kamu mau buat jajanan apa sih sayang?"


"Klepon,"


"Klepon?" ulang Al menatap Dinar.


"Iya, kenapa memang?"


"Ya nggak apa-apa, cuma setahu aku kan, klepon warna hijau. Ini kenapa jadi warna warni gini?"


"Hehe_ nggak apa-apa dong, aku pengin buat warna warni. Biar klepon aku beda." Alvaro menghela napas pasrah.


"Oke, berarti bikin banyak?" Dinar hanya merespon dengan anggukan.


"Kalau gitu, kamu lanjutin ya, aku mau masak buat makan malam kita,"


"Nggak usah sayang, aku nggak mau ya. Kamu kecapean, kita delivery aja."


"Nggak ah, aku mau masak aja, aku bikin yang simpel. Nggak akan capek, lagian jangan sering beli, kata Bunda Ibu hamil nggak boleh sering makan, makanan dari luar."


"Iya udah, aku kasih izin. Tapi ingat ya, yang simpel aja, pokoknya kamu nggak boleh kecapean."


"Siap komandan!" hormat Dinar lalu memberi hadiah kecupan di pipi Alvaro.


Alvaro mengulas senyum sambil menggelengkan kepalanya. Istrinya semenjak hamil memang unik, susah di tebak.


Mereka benar benar bekerja sama, Alvaro menyelesaikan tugas membuat kue klepon lewat instruksi yang Dinar berikan, sementara Dinar lebih dulu selesai membuat menu makan malam untuk mereka berdua.


Tadi Dinar menuruti perintah suaminya untuk tidak membuat masakan yang terlalu ribet dan menghabiskan tenaga.


Jadi Dinar hanya membuat nasi goreng sosis dan juga ayam kremes.


...***...


Selesai sholat, Dinar sudah tidak sabar makan, kue yang Alvaro buat. Sebenarnya tetap saja kue klepon itu buatan dirinya, Karena Alvaro hanya meneruskan tanpa harus membuat adonan dari awal.


"Makan nasi dulu sayang," peringat Al.


Tapi namanya juga Dinar, wanita itu tak mengindahkan perintah sang suami, ia lebih dulu mencomot satu potong klepon berwarna biru.


"Ehmm_ enak, aku berhasil ternyata buatnya," puji Dinar kepada dirinya sendiri.


Al hanya mampu mendengus kecil. "Jadi itu buatan kamu aja, kerja keras aku. Nggak dilihat?"


Dinar tersenyum malu, lalu bergelayut manja. "Iya Maaf, ini juga ada hasil karya kamu kok, lihat aja yang ini, sangking kreatifnya kamu, ada gitu ya? klepon lonjong, segitiga." yang tadinya kesal Al sekarang malah tertawa keras, dia memang sengaja membuat klepon dengan bentuk yang berbeda.


"Sekarang makan nasi," tegas Al yang malah mengambil nasi goreng untuk Dinar.


"Iya ya, kamu mah. Marah-marah Mulu," menepuk nepuk puncak kepala sang istri Alvaro tersenyum senang.


Tok! tok! tok!


Suara ketukan di depan rumah, membuat keduanya saling pandang. Siapa tamu mereka di jam segini, lagi pula tidak ada yang tau jika Al dan Dinar tinggal berpisah dengan orang tuanya.


Alvaro pun tidak memberitahu ketiga sahabatnya.


"Siapa?" gumam Dinar menatap Alvaro.


Lelaki itu hanya menggeleng pelan, namun tetap beranjak ingin membukakan pintu.


Dinar ikut berdiri lalu berjalan pelan di belakang suaminya, pelan Al memutar kunci dan saat sudah terbuka.


Alvaro membulatkan matanya persekian detik, seseorang menubruk tubuhnya dan memeluknya erat, orang itu bahkan menangis tersedu di pelukan Alvaro.


Dinar bernapas lega, sekaligus tersenyum senang. Ternyata orang itu adalah Ayah Angga dan Bunda Alya.


"Gimana kabar kamu Nak? Bunda kangen, kenapa kamu pergi ninggalin Bunda," ujarnya serak di pelukan sang anak.


Al perlahan membalas pelukan wanita yang sebenarnya ia rindukan, lalu mengusap usap punggung Bundanya.


"Bunda tau, kamu marah sama Bunda. Tapi seharusnya kamu jangan pergi," lanjut masih dengan suara parau.


"Bunda kesepian nggak ada kamu di rumah, nggak ada yang jail dan suka bantuin Bunda di taman, nggak ada yang bisa Bunda omelin kalau kamu nakal." Alvaro mengulum senyum, begitu pun Ayah Angga yang berada di hadapan Al.


Melepaskan pelukan dari Alvaro, Bunda mengusap air matanya, ia bertemu pandang dengan mata teduh sang mantu, dalam hatinya. Dia merasa bersalah, telah berburuk sangka kepada wanita sebaik Dinar, suaminya benar.


Dinar tidak tau apa-apa, tapi kenapa dia langsung menuduh yang tidak tidak.


Perlahan Bunda melangkah mendekati Dinar yang berdiri tidak jauh dari sofa ruang tamu. "Bunda _" panggil Dinar pelan, ia tersenyum penuh menyambut kedatangan mertuanya.


Namun dalam hati, sebenarnya ia merasa was was, sangking tegangnya ia sempat melirik Alvaro yang terlihat khawatir juga.


Dinar sudah siap apapun yang akan di lakukan Bunda Alya, tubuhnya sangat tegang dan kaku.


Dan saat Bunda sudah berada tepat di depannya, Dinar refleks menutup mata, dia pikir Bunda ingin memukul atau semacamnya, tapi ternyata tidak. Ia justru merasakan kehangatan dekapan dari seorang Ibu, Bunda menangis tersedu di ceruk leher Dinar.


"Maafin Bunda ya sayang_ Bunda nyesel banget sudah berprasangka buruk sama kamu Nak_"


"Bunda nggak perlu minta maaf, Bunda nggak salah," ujar Dinar sangat lembut, ia juga membalas pelukan Bunda Alya.


Bunda melepas pelukannya lalu merangkum wajah sang mantu yang tengah tersenyum. "Kamu sudah maafin Bunda?"


"Tanpa Bunda minta maaf, Dinar sudah maafin Bunda, karena Bunda nggak salah." ucap Dinar lagi, meyakinkan Ibu mertuanya.


"Terima kasih, sayang. Kamu memang menantu terbaik Bunda," ujarnya seraya mengusap pipi tembam Dinar.


Alvaro yang hanya menonton tanpa sadar mengusap ujung matanya yang berair, ia bahagia dua wanita yang begitu ia cintai sudah seperti dulu lagi.


***