
...****************...
Angga dan Alya tidak saling tegur semenjak mereka bertengkar kemarin, seperti pagi ini.
Mereka memang sarapan bersama di meja makan, namun keduanya diam tak mengeluarkan suaranya, bahkan tak saling lirik.
Angga sendiri sebenarnya tidak terlalu kesal ataupun marah, dia hanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya, yang langsung berpikir negatif kepada menantunya.
Bukannya selama ini jelas, Dinar adalah perempuan baik, lagipula yang membuat sedikit dongkol adalah tentang ketakutan Alya terhadap Hendra yang kembali ke kehidupannya.
Dia merasa istrinya jika seperti itu, masih memiliki rasa dan belum sepenuhnya melupakan pria tersebut yang sejatinya adalah cinta pertama sang istri.
Tidak menghabiskan sarapannya, Angga beranjak dari duduknya. "Aku pergi," katanya seraya memberi kecupan singkat di kening Alya.
Meskipun mereka saling diam, Angga tak bisa melupakan kebiasaan yang tiap hari mereka lakukan.
Seperginya Angga dari rumah untuk pergi ke kantor, Alya akhirnya menangis juga, ia tak bisa lagi memendam dan merasakan sesak di dadanya.
Ia menangis tersedu sendiri di kursi meja makan, dia tak bisa melihat suaminya mengabaikannya seperti itu, ini adalah hal pertama yang Angga lakukan selama menikah dengan pria itu.
Selama ini, Angga selalu memberikannya kenyamanan dan kasih sayang, tak pernah pria itu mendiamkannya, pasti jika mereka bertengkar keduanya akan bicara baik baik tanpa harus berlarut-larut.
Apa dia salah jika memiliki pikiran buruk tentang Dinar, wajar kalau dia punya pikiran tersebut.
Mengingat bagaimana jahatnya, Hendra terhadap keluarganya, ia ingat betul saat Hendra menyekap dirinya bersama Angga, bahkan ketika itu, ia di minta berpisah dengan suaminya jika ingin melihat Angga selamat.
Dia juga hampir membuat dirinya kehilangan Alvaro jika saja dia tak cepat di bawa kerumah sakit.
Mengingat hal itu, membuat Alya tergugu menangis sendiri, dia hanya khawatir jika Hendra melakukan kejahatan lewat Dinar.
"Ya ampun Bu Alya, kenapa Bu?" panik Mba Leli melihat majikannya menangis sampai sesenggukan seperti itu.
"Apa saya salah kalau khawatir sama anaknya" ucap Alya di sela isakkan nya.
Mengerti dengan perasaan majikannya, Mba Leli menarik kursi, lalu duduk di samping Alya. "Menurut saya, Ibu nggak salah. semua Ibu pasti akan khawatir terhadap anaknya, apalagi saya tau, Bu Alya begitu menyayangi Alvaro."
"Tapi menurut saya, Ibu juga salah telah berpikir negatif terhadap Dinar, setahu saya. Dia itu wanita baik, dan nggak mungkin berani macam-macam, Dinar juga sayang banget sama Alvaro. Saya bisa lihat dengan mata saya sendiri, dari sorot mata Dinar. Nggak akan bisa di bohongi," Mba Leli meringis takut, kala Alya menatapnya tanpa ekspresi.
Wajahnya datar tanpa kedip memandang Mba Leli, air matanya pun mulai surut. "Jadi, menurut kamu saya salah? terus saya harus bagaimana?" hardik Alya.
"Gimana kalau Ibu cari tau, tentang tujuan Hendra yang jahat terhadap keluarga Ibu,"
Alya mengerutkan kening, sepertinya ia tengah berpikir tentang saran yang di berikan Mba Leli kepadanya.
"Benar juga, kenapa nggak saya coba datang ke kantor polisi dan tanya langsung sama dia," gumamnya.
Mba Leli tersenyum bangga, apa yang dia sarankan bisa di ambil menjadi solusinya.
"Tapi saya malas bertemu dengan dia Mba!" sontak Mba Leli melunturkan senyuman.
"Ya itu kan, cuma saran saya Bu. Kalau Ibu kurang setuju ya nggak usah kesana," ucap Mba Leli sopan, seraya pamit melanjutkan pekerjaannya.
...***...
Alya ternyata mendengar saran dari asisten rumah tangganya, sebab. Ketika jam makan siang.
Alya pergi seorang diri, ke kantor polisi, mau tidak mau dirinya harus datang dan bicara dengan mantan terburuk nya.
Sebelum bertemu Alya terlihat gugup, keringat dingin keluar dari kening dan kedua tangannya. Ia juga sibuk mengatur napasnya agar lebih tenang.
"Bismillah, kamu harus bisa Al." gumamnya, tangannya mengepal kuat memberi semangat pada dirinya sendiri.
Ia sedikit terlonjak, ketika suara pintu terbuka dan muncullah seorang pria yang sudah lama tidak dia lihat, dan pria yang sudah dia lupakan.
"Alya." raut wajah Hendra begitu berbinar, pria tersebut sangat senang tamunya adalah wanita yang begitu ia cintai.
"Alya_ kamu apa kabar?"
"Jelas! kabar aku buruk." sentak Alya keras, senyum di bibir Hendra lenyap.
"Bisa-bisanya kamu tanya kabar, setelah apa yang kamu lakukan terhadap keluarga aku?"
"Belum puas kamu dulu mencelakai aku dan suami aku? dan sekarang anak aku mau kamu celakain juga!"
"Aku bukan mau celakai anak kamu, tapi aku ingin celakain Dinar!" balas Hendra tak kalah keras.
"Aku selama ini meneror istri putramu! bukan anakmu ALYA!" bentaknya.
"Kenapa kamu ngelakuin itu ke Dinar?"
"Karena aku sudah muak sama anak pembawa sial! gara-gara anak itu. Kita tidak bisa hidup bersama. Gara-gara Ibunya aku harus menikah dan meninggalkanmu." Alya tanpa sadar menelan ludahnya susah payah.
Ada perasaan bersalah hinggap di hatinya, hingga momen momen peneroran itu tertuju pada Dinar, sampai menantunya itu hampir celaka dan kehilangan bayi yang ada dalam kandungannya.
Mengatupkan rahangnya, Hendra menatap lurus ke depan, tangannya terkepal. "Aku ingin balas dendam terhadap Dinar. Aku mau hidup dia menderita, bukan malah bahagia seperti sekarang! Aku dari dulu senang jika melihat dia susah. Tanpa anak itu tau, akulah yang buat dia hidup menderita,"
Alya yang mendengar itu menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan jalan pikiran pria tersebut.
"Kenapa kamu tega ngelakuin hal itu terhadap Dinar? biar bagaimanapun dia anak kamu."
Menoleh cepat, Hendra menatap tajam. "Aku nggak sudi punya anak seperti Dinar, dia adalah anak yang tidak tau siapa Ayahnya. Dia anak haram!"
Hendra bicara seperti itu begitu santai, tanpa berpikir jika ucapannya sangat menyakitkan di telinga yang mendengar.
Alya saja hatinya terasa nyeri, sebenci itukah Hendra terhadap Dinar. Padahal selama tinggal bersama wanita itu, ia selalu menceritakan kebaikan Ayahnya.
Alya ingat betul, setiap kali Dinar bercerita tentang Ayahnya, wanita itu sangat berantusias, wajahnya begitu berbinar.
"Aku harap, sesuatu saat kamu benar-benar mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang kamu perbuat, dan satu lagi." Alya maju hingga mereka berjarak cukup dekat.
"Aku nyesel. Pernah mencintai laki-laki seperti kamu!" ucapnya dengan suara dalamnya, matanya menatap intens kearah pria tersebut.
"Al_ maafin aku." pria itu merubah mimik wajahnya menjadi sendu, tanyanya pun ingin meraih tangan Alya.
Alya tak ingin berlama-lama bersama pria tersebut, tanpa bicara lagi. Ia keluar mengabaikan teriakan Hendra yang terus berteriak memanggil namanya.
Ternyata apa yang di katakan Mba Leli benar, harus mengetahui motif yang sebenarnya.
Kini Alya tau dan paham, siapa yang jahat, dan mana yang tidak jahat.
Di sepanjang perjalanan, ia menangis tersedu merasa bersalah terhadap mantunya.
...***...