Alvaro

Alvaro
Bab 78. Ternyata!



...~•~...


"Eh, ada Amanda?" Bunda yang mendengar seperti ada tamu, menyusul keluar ke teras rumah dan cukup terkejut melihat Amanda tengah memeluk menantunya.


"Bunda_" Amanda menghampiri Bunda Alya, lalu memeluk erat Bunda Alya.


"Gimana Manda? kamu sudah sehat?" gadis itu mengangguk, perlahan melepas pelukannya.


Memandang teduh wajah Bunda Alya. "Bunda, maafin Manda ya. Manda banyak salah, apalagi sama Dinar." katanya menoleh pada Dinar yang hanya tersenyum tipis.


"Bunda sudah maafin kamu, lagipula. Kamu nggak salah, ini cuma karena salah paham aja,"


"Manda masih boleh main kesini kan Bunda?"


"Boleh dong sayang, kenapa Bunda harus larang. Kamu masih tetap Amandanya Bunda yang manja," Amanda begitu senang, ia memeluk kembali Ibu dari sahabatnya itu.


Dinar melihat itu cukup merasa sesak di dadanya, ada perasaan iri. Meskipun kalau dia mau ia bisa sedekat itu pada Bunda Alya.


Namun rasa canggung kadang masih dia rasa, ia baru beberapa bulan kenal dengan keluarga Airlangga, tidak seperti Amanda yang memang sudah dekat dari gadis itu kecil.


"Gimana kalau kamu bantu Bunda masak, hari ini Alvaro lagi pengin di masakin sayur kesukaan nya."


"Boleh! yuk Bunda, Manda bantu," semangat gadis itu, Yang langsung menarik tangan Bunda Alya masuk kedalam rumah.


Dinar yang tak tau harus apa, akhirnya ikut di belakang Amanda dan Bunda Alya ke dapur, di sana ia membantu mengeluarkan sayur dan bahan-bahan yang ada di kulkas.


"Bunda, aku bisa bantu apa?"


"Nggak usah," potong Amanda cepat.


"Biar aku aja yang bantu Bunda," Dinar dan Bunda saling pandang sekejap.


"Iya udah, lo bantu Bunda masak. Gue mau urus pekerjaan lain aja,"


Dinar mengalah, membiarkan Bunda Alya bersama Amanda masak berdua, sementara ia tak tau harus apa. Karena pekerjaan sudah di kerjakan semua.


Mencari Alvaro, ternyata cowok itu sudah selesai mencuci motor dan sudah tidak ada di garasi, mencoba mencari di lantai dua.


Masuk ke kamar, Dinar mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, ia pasti kan Alvaro pasti sedang mandi lagi usai mencuci motor.


"Lho sayang?" kaget Al keluar dari dalam kamar mandi melihat Dinar sedang duduk menonton televisi.


"Aku kira, kamu lagi bantu Bunda?" Alvaro menghampiri Dinar lalu duduk di sampingnya.


"Tadinya mau bantu, tapi. Amanda larang, karena dia pengin bantu. Ya udah aku tinggal, sekarang nggak tau may ngapain,"


"Kalau gitu, Aku kasih tugas."


"Tugas apa?" Alvaro tersenyum manis sambil memberikan handuk putih kepada Dinar.


"Keringkan rambut aku," cengir Al, Dinar mencebik bibir lalu mengambil handuk tersebut.


Dinar menyuruh Alvaro duduk di bawah, dan ia mulai mengeringkan rambut Alvaro. "Sayang," panggil Al di sela menikmati usapan tangan Dinar di kepalanya.


"Hmm?"


"Jangan cemburu sama Amanda ya, dia memang gitu. Suka manja sama Bunda," Dinar menghentikan gerakan tangannya, ia cukup terkejut.


Kenapa Al seolah bisa tau, jika ada sedikit rasa cemburu di hatinya, ketika Amanda dan Bunda begitu dekat.


"Nggak kok," elaknya.


"Nggak usah boong, Aku tau." Alvaro mendongak memandang Dinar.


"Yang penting aku," tunjuk Al pada dirinya sendiri.


"Maksudnya?"


"Yang lebih sayang sama kamu." ucap Al tulus dan begitu lembut.


Dinar terkekeh geli, menghadiahi sebuah kecupan beberapa kali di bibir Al, setelah itu kembali pada tugasnya mengeringkan rambut Alvaro.


...***...


Dinar turun ke lantai satu, melihat apakah Bunda dan Amanda sudah selesai, namun belum sampai di pintu dapur, Ia mendengar obrolan Amanda dan Bunda Alya.


"Bunda, sayang banget ya. Aku nggak jadi mantu Bunda, padahal aku pengin banget jadi bagian dari keluarga ini, dulu Bunda juga sudah pernah bilang. Kalau aku pasti yang akan jadi istri Al," ucap Amanda sedih.


"Iya sayang, Bunda maunya juga gitu, tapi gimana? Al sudah ngambil keputusan itu, Bunda nggak bisa nolak."


"Dulu waktu Alvaro izin mau menikahi Dinar, sebenarnya Bunda keberatan, biar gimana pun. Bunda nggak tau latar belakang keluarganya. Orang tuanya aja Bunda nggak tau,"


"Bunda kasian sama Jingga yang butuh bantuan, Kalau nggak mikirin tentang adiknya. Mungkin Bunda nggak akan setuju,"


"Mana ada orang tua yang nerima anaknya menikah gitu aja, apalagi Bunda baru kenal sama Dinar. itu pun Bunda lihat dia kerja di cafe, Tempat teman Ayah Angga."


"Kenapa pernikahan Al di rahasiakan Bun? sampai kapan mereka sembunyi-sembunyi gini?"


Bunda Alya menyelesaikan tataan piringnya di atas meja sebelum menjawab pertanyaan Amanda. "Sampai mereka lulus, peraturan sekolah kan tidak diperbolehkan seorang pelajar menikah," Amanda mengangguk mengerti, menuangkan air mineral ke gelas masing masing.


"Kamu bisa kan sayang, rahasiakan tentang pernikahan Al, biar Alvaro sendiri yang memberitahu mereka," Amanda mengulas senyum.


"Bisa Bunda, lagian Amanda nggak mau mereka berpikir buruk tentang Alvaro, padahal Al menikah cuma karena ingin menolong."


Bunda mengusap kepala Amanda dengan sayang, tanpa mengetahui jika ucapan yang keluar dari mulutnya tadi sangat melukai hati menantunya.


Dinar pikir, Bunda Alya benar benar menyayanginya, namun ternyata Bunda hanya merasa kasian dengan dirinya terutama sang adik.


Jika karena kasian seharusnya mereka mengatakan dari awal, sehingga ia tak perlu menerima ajakan Alvaro untuk menikah, ia tidak mau. Dan tidak suka di kasiani oleh seseorang.


Dia masih mampu hidup, walaupun ia harus berjuang demi Jingga.


Suasana makan siang hanya di penuhi tawa dari Bunda dan Amanda, sesekali Ayah Angga ikut menimpali ucapan Amanda.


Hanya Dinar yang tidak bersemangat, perempuan itu banyak diam dan menahan air matanya sudah ingin keluar, apalagi dadanya terasa sesak saat mengingat ucapan dan kedekatan orang tua Alvaro dengan Amanda.


Hanya Alvaro yang mengerti perubahan raut wajah Dinar, apalagi Dinar sama sekali tidak memakan nasinya, yang perempuan itu lakukan hanya menunduk sambil mengaduk makanannya.


Al meneguk minumannya, lalu berdiri dari duduknya. "Lho sudah makannya, nak? Nggak nambah? Biasanya nambah kalau Bunda yang masak." heran Bunda.


"Sudah Bunda, Aku udah kenyang. makasih Bunda sudah masakin buat Al hari ini, aku permisi dulu." kata Al lalu menarik tangan Dinar.


Dinar terperanjat, ia bingung saat Alvaro menariknya begitu saja. "Kita mau kemana Al?" Alvaro mengajak keluar dari rumah, menuju garasi.


Menyuruh Dinar masuk kedalam mobil, dan saat Al sudah duduk di belakang kemudi, mereka hanya diam. "Kalau mau nangis," jeda sejenak Al menoleh pada Dinar.


"Menangislah sekarang," lanjutnya. menatap dalam wajah sendu istrinya.


Dinar kian menunduk, meremas tangannya, perlahan tangannya di genggam tangan besar Al, seketika tumpah sudah air matanya, perempuan itu menangis tersedu.


Alvaro membiarkan Dinar menangis, ia hanya ingin Dinar menumpahkan perasaannya lewat tangisan. Namun setelah itu dia tak akan lagi membiarkan istrinya menangis.


...***...