Alvaro

Alvaro
Chapter 36



Alvaro menggenggam tangan Hana lalu mereka memasuki rumah dan duduk di kursi ruang tamu.


"Pasangan baru"celetuk Fabio,saat ia memasuki rumah Ervin.


"Bagaimana rasanya melakukan itu pertama kali?"tanya Fabio jahil kearah Alvaro.


Alvaro hanya menatap datar"sepertinya kakek tau apa jawabannya"ucapnya.


Fabio terkekeh"melihat kau berseri-seri seperti ini, sepertinya jawabanku tepat"ucap nya.


"Ada apa kakek?"tanya Alvaro.


"Aku ingin membicarakan tentang Devina"ucap Fabio sukses membuat tubuh keduanya menegang di tempat.


"Kenapa dengan dia?"tanya Alvaro sambil mengusap punggung tangan Hana.


"Apa kau tidak penasaran dari mana dia bisa menerima koneksi yang selalu membantunya?"tanya Fabio.


Alvaro mengerutkan keningnya"lalu?"tanya nya.


Fabio mengeluarkan sebuah map berwarna merah kearah Alvaro dan Hana.


"Bukalah"ucap Fabio.


Alvaro membuka map tersebut sedangkan Hana hanya melihat dari samping.


Alvaro terkejut bukan main lalu ia menatap Fabio"apa ini serius?"tanya nya.


Fabio mengangguk mantap"foto itu 100% bisa kau percayai"ucap nya.


"Dari mana kakek mendapatkan ini?"tanya Alvaro bingung karena tidak sembarangan orang bisa memasuki wilayah tersebut.


"Aku memiliki orang dalam dan yah...tidak sulit untuk ku mencari rahasia yang dia sembunyikan"ucap Fabio santai.


"Narkoba,penjualan organ manusia,dan senjata ilegal. Jadi dia masuk ke organisasi ini?"tanya Alvaro di balas anggukan Fabio.


"Percaya atau tidak,kenyataannya memang begitu. Kita tidak bisa menyepelekan gadis itu"ucap Fabio.


"Apa organisasi ini tidak bisa dihancurkan?"tanya Alvaro.


"Bisa"ucap Fabio dengan serius.


"Bukankah itu sama saja menantang maut?"tanya Alvaro ragu.


"Kau pikir aku dan Alfred hanya mafia biasa? Jika hanya menghancurkan organisasi ilegal seperti itu,sangat mudah bagi kami"ucap Fabio.


"Jadi?"tanya Alvaro sambil menatap Fabio.


"Hancurkan perlahan,aku dan Alfred sedang menghancurkan organisasi tersebut secara perlahan dan pasti"ucap Fabio dengan mantap.


"Ok next,kita pikirkan bagaimana mengurusi gadis ini"ucap Fabio.


"Dia memiliki kelainan kejiwaan dan selalu mengobsesikan sesuatu secara berlebihan"sambung Fabio.


"Dan termasuk untuk memilikimu Alvaro"ucap Fabio.


"Aku tau"balas Alvaro,ia menggenggam tangan Hana yang hanya diam sedari tadi.


"Dia bisa melakukan apapun sekalipun itu harus menghilangkan nyawa seseorang demi mendapatkan apa yang dia mau"ucap Fabio.


"Aku,Alfred dan Ervin tidak bisa sepenuhnya menjaga Hana. Hanya kau yang bisa selalu berada di sampingnya"sambung Fabio sambil menatap Hana dengan senyuman di bibirnya.


"Aku hanya khawatir tidak bisa menjaga nya dengan baik"ucap Alvaro ragu,ia menatap Hana sambil mengusap puncak kepalanya.


Fabio tersenyum tipis,ia berujar.


"Jika tidak ada pilihan lagi, satu-satunya cara ialah membunuhnya."


∆∆∆


"Aku ingin membeli makanan,aku lapar"ucap Hana dengan mata berbinar-binar.


Alvaro menggelengkan kepalanya"pelan-pelan saja,masih banyak tempat makanan yang bisa kau kunjungi"ucapnya.


Hana mengangguk dengan semangat membuat Alvaro terkekeh kecil lalu ia memeluk pinggang Hana memasuki mall tersebut.


"Ingin makan apa?"tanya Alvaro.


"Yang mengenyangkan perut"jawab Hana sambil menatap tempat makanan di hadapannya dengan berbinar-binar.


Alvaro tersenyum tipis lalu menyuruh Hana untuk duduk diam di tempat mereka duduk.


"Akan aku belikan,tetap disini"ucap Alvaro sambil mencium kening Hana.


Hana tersenyum sambil menunggu makanan yang di pesan Alvaro.


"Apa ancaman ku hanya angin lalu bagimu?"ucap seseorang dari belakang membuat tubuh Hana menegang di tempat.


Ia menoleh kebelakang teryata disana Devina berdiri dengan seringainya yang mengerikan.


"Ka-kau mau apa?"tanya Hana takut.


Devina menyeringai"menurutmu? Aku mau mengambil apa yang harusnya menjadi milikku"ucap nya.


Hana langsung berdiri melihat Devina berjalan mendekatinya"kau takut?"tanya Devina remeh.


"Rileks sayang,aku hanya sekedar menyapa mu saja"ucap Devina sambil memainkan anak rambutnya.


"Kau tau apa yang akan aku lakukan padamu nanti? Hm,sepertinya kau tidak mendengarkan perkataan ku yang lalu"sambung Devina.


"Me-menjauhlah,aa-atau aku akan teriak!!"ucap Hana sambil berjalan mundur.


"Silahkan saja,jika kau masih sayang nyawamu"ucap Devina membuat nyali Hana menciut.


"Ini peringatan untukmu"sambung Devina sambil berbisik.


"Jauhi Alvaro atau kau mati!"ancam Devina membuat tubuh Hana menegang dan gemetar ketakutan.


"Aku tidak main-main sayang,kalau begitu sampai jumpa lagi"ucap Devina sambil tersenyum miring ia berjalan menjauhi Hana yang meringkuk ketakutan.


"Hana"panggil Alvaro,ia tidak melihat Hana berada di tempat yang tadi mereka duduki.


"HANA!!"teriak Alvaro saat melihat Hana sedang berjongkok sambil menyembunyikan wajahnya di lipatan tangannya.


"Hana"panggil Alvaro sambil mengusap rambut Hana.


Tubuh Hana tersentak ia mendongakkan wajahnya lalu menatap sendu Alvaro.


Tubuh Alvaro hampir terjungkal kebelakang jika ia tidak langsung menyeimbangkan tubuhnya.


Hana memeluk tubuhnya dengan erat sangat erat dengan isakan yang terdengar di telinga Alvaro.


"Hiks"Alvaro memeluk tubuh Hana dengan erat sambil mencium puncak kepala Hana.


"Kenapa?"tanya Alvaro.


"Dia mengancam ku lagi,dia tadi datang padaku,dia--"rahang Alvaro mengetat ia menggertakan giginya.


"Shhh---jangan takut aku disini"ucap Alvaro sambil mengusap punggung Hana.


"Aku akan melindungimu"ucap Alvaro sambil menatap tajam.


Ancaman Devina bukan hanya sekedar ancaman biasa. Ini tidak bisa di biarkan lebih lama lagi atau dia semakin menggila.


∆∆∆


TBC