
Rio merasa pening di kepalanya dan barusan ia keluar masuk kamar walau hanya sekedar memuntahkan sesuatu dari dalam perutnya.
Kris menepuk pundak Rio dengan prihatin.
"Nasib mu malang sekali"ucap Kris.
"Enyah sana!!"dengus kesal Rio.
"Dimana Alvaro? Kita sudah berkumpul tapi dia tak datang"ucap Fadhel sambil memegang surat tersebut dengan jijik.
Sesaat kemudian Alvaro datang dengan pakaian urakan nya,rambut yang tidak teratur,baju seragam sekolah nya yang tidak terkancing bagian atasnya dan jaket yang ia taruh di pundak nya.
"Oi! Ini kertas apa?"tanya Fadhel.
"Kau bacalah!"ucap Alvaro.
Fadhel membaca tulisan yang berada di kertas tersebut .
Menjauh atau mati!!
Mereka saling bertatapan sambil berpikir siapa dalang yang melakukan teror tersebut.
"Siapa yang melakukan ini?"tanya Kris.
Alvaro menggeleng,setelah mengantar Hana pulang dan menunggunya hingga tertidur ia baru sampai disini.
"Apa kau merasa ada yang mengikuti kita?"tanya Rio.
Alvaro menggeleng dan juga mengangguk"bukan mengikuti kita tapi Hana"ucapnya.
"Jadi yang di incar adalah Hana? Apa Hana memiliki musuh?"tanya Fadhel.
"Mungkin saja,dan aku terpikir satu orang tapi itu tak mungkin"ucap Alvaro sambil menyandarkan tubuhnya di dinding.
"Apa maksudmu tak mungkin?"tanya Kris.
"Karena yang ada di pikiran ku,ia mencintai Hana"ucap Alvaro.
"Saingan cinta,huh?"ledek Rio.
"Lalu selain itu,apa tidak ada orang yang kau curigai yang dekat dengan Hana mungkin?"tanya Fadhel.
Alvaro mengetuk meja di depannya lalu terhenti"sepupunya "ucapnya.
Rio mengerutkan keningnya"siapa sepupu Hana?"tanya nya.
"Reva"jawab Alvaro.
"Ok,selain itu. Mungkin orang terdekat mu yang kau curigai?"tanya Fadhel.
Alvaro terdiam,ia teringat sesuatu. Kemungkinan besar iya atau tidak."bisa jadi"balasnya
"Kau mencurigai siapa?"tanya Kris.
"Sepupu ku"ucap Alvaro.
"Sepupu? Kau punya sepupu?"tanya Rio.
Alvaro mengangguk kenapa ia baru teringat gadis gila tersebut.
"Atau mungkin Jeni"celetuk Fadhel.
Kris memukul kepala Fadhel"kau mencurigai kekasih ku?"tanya nya kesal.
"Hey,aku hanya memberi saran yang terlintas"ucap Fadhel sambil mengusap kepalanya.
"Bisa jadikan?"ucap Fadhel.
Kris mendengus kesal"terserah"jawabnya.
Refin berlari dengan nafas terengah-engah.
"Kau kenapa?"tanya Rio.
"Aku..."Refin terduduk di lantai dengan nafas lelah.
"Aku mencari kalian"ucap Refin.
"Ada apa?"tanya Kris di balas anggukan Fadhel.
Alvaro menatap Refin dengan diam"kenapa?"tanya nya.
"Aku punya sesuatu,tapi aku tak tau ini benar atau tidak"ucap Refin.
"Ini."ucap Refin sambil menyodorkan handphone miliknya.
Mereka terdiam saat melihat gambar tersebut akhirnya Fadhel bersuara.
"Aku benar kan? Dia memang patut di curigai."
∆∆∆
Hana membuka matanya sambil membersihkan keringat di dahinya tadi ia mengalami mimpi buruk dan itu benar-benar menakutkan.
"Huh"helaan nafas Hana.
"Mimpi tadi,mengerikan sekali"gumam Hana.
Cklek~
Alvaro masuk dengan nampan di tangannya menatap Hana sambil tersenyum tipis.
"Mimpi buruk,hm?"Alvaro mengelus rambut Hana.
Hana mengangguk lalu mengeratkan selimut pada tubuhnya.
"Makanlah"ucap Alvaro.
Hana memakannya dengan diam sampai suapan kelima ia menghentikan makannya.
"Kenapa?"tanya Alvaro"apa tidak enak?"tanya nya.
Hana menggeleng"hanya tidak nafsu makan saja"ucapnya.
Alvaro menaruh kembali piring tersebut di nakas.
"Kau ingin sesuatu?"tanya Alvaro.
"Tidak."Hana membalas dengan gelengan kepala.
"Aku hanya ingin tidur lagi,tapi takut bermimpi yang tadi"sambung Hana.
Alvaro duduk di pinggir kasur lalu menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya lalu ia membaringkan tubuhnya sambil mengelus punggung dan rambut Hana.
"Tidurlah,aku disini jangan takut"ucap Alvaro sambil mencium pelipis Hana.
Hana mengangguk lalu mengeratkan pelukan nya pada Alvaro. Alvaro memeluk pinggang Hana dengan erat sambil menutupi tubuh mereka dengan selimut.
"Mimpi indah"bisiknya.
Alvaro terus mengelus rambut Hana hingga ia tertidur lelap. Usapan di kepala Hana terhenti saat ia teringat sesuatu.
Alvaro menatap Hana yang sudah tertidur lalu ia mengecup bibir Hana sambil memindahkan tubuh Hana perlahan.
Alvaro membenarkan letak selimut pada tubuh Hana lalu mencium kening Hana.
Alvaro membuka gorden kamar dan menatap kondisi di luar dari dalam.
Ia memegang jendela kamar sambil menghela nafas pelan lalu ia mengeluarkan ponsel miliknya.
Alvaro mengirimi sebuah pesan untuk seseorang yang menurutnya adalah pelaku teror tersebut.
Alvaro
Kenapa kau melakukan itu?
Alvaro
Meneror seorang yang sudah dekat dengan mu,kau pikir aku bodoh? Apa motif mu melakukan itu.
Alvaro
Aku memiliki foto dirimu dan jangan main-main dengan ku atau kau tau akibatnya!! Dan aku tidak main-main.
Alvaro
Stop melakukan itu atau aku yang akan membuka kedokmu di kantor polisi nanti!
Send.
∆∆∆
TBC