
...****************...
"Sayang, ini beneran cabainya 50 biji?"
"Benarlah, masa bohong" sewot Dinar yang kesal, ketika Alvaro terus terusan bertanya dengan pertanyaan hal yang sama.
Hanya bisa pasrah, Alvaro mulai merebus air. sedangkan Dinar tengah sibuk menghitung satu demi satu cabai.
Alvaro memperhatikan dari samping, hanya bisa meringis. Mana cabainya besar dan merah merah.
"47. 48. 49. 50!" pekik Dinar kesenangan. "Cabainya sudah pas 50, yuk masak mienya. Sini aku aja yang masak, kamu lelet," gerutunya menyuruh Alvaro mundur.
Dinar mulai memasukkan mienya, di susul bumbu bumbunya, sosis, telur, dan yang terakhir adalah cabainya."
Alvaro sempat mendelik ketika Dinar memasukkan cabai tersebut kedalam panci, ternyata dia benar benar harus memakan mie pedas itu.
"Sudah siap!" Dinar sangat girang ketika aroma mie sudah matang, sebenarnya ia ingin ikut makan.
Namun selain di larang, mie itu juga tidak aman untuk perut. "Sayang, kok bengong?" Alvaro ternyata tengah melamun di pinggir meja, entah apa yang membuat lelaki itu melamun.
Antara memikirkan masakan Dinar, atau memikirkan tentang masalah mertuanya. "Ya sayang, bentar iya?" Dinar mengamati pergerakan suaminya.
Yang ternyata, menyiapkan satu gelas air hangat dan juga susu, untuk mensterilkan rasa pedas yang akan dia rasakan.
"Prepare banget," ledek Dinar melihat tingkah laku suaminya.
"Harus dong, ntar kalau kepedesan gimana."
"Ya, iya. nih silahkan di makan." Dinar mendorong mangkuk penuh itu di hadapan Alvaro.
Ia duduk manis menyaksikan perjuangan suaminya, Al sendiri berdoa terlebih dahulu. Memandangi mie untuk beberapa saat.
Menuruti keinginan Ibu hamil memang butuh perjuangan, Kata Al dalam hati.
Reaksi pertama saat Alvaro, mulai memasukkan mie itu kedalam mulutnya, adalah terdiam dengan sorot mata melebar, sensasi rasa pedas, di campur panasnya kuah.
Seketika membakar telinga dan tenggorokan, tak bisa mundur lagi, Alvaro terus memasukkan mienya sambil terus mengunyah.
Keringat sudah membasahi keningnya, bahkan tubuhnya, sampai sampai ia melepas kaos yang menyisakan kaos dalam berwarna putih, untung di ruang makan ini sudah tidak ada orang.
Jika ada, mana boleh Alvaro membuka baju seperti itu.
"Hush! Hush! Hush!" jika ini di dunia kartun, Alvaro pasti sudah mengeluarkan asap di telinganya.
Matanya sampai berair, hidungnya pun mulai mengeluarkan air.
Lama kelamaan Dinar tidak tega, saat Al ingin mulai memakan mie tersebut, Dinar menariknya menjauh dari hadapan Alvaro.
"Loh, kenapa?" tanya Al suaranya bergetar, bibirnya pun juga.
Dinar memandangi wajah Alvaro penuh rasa bersalah, dan menyesal, lalu tanpa sebab. Ia justru menangis, seketika perempuan itu juga memeluk tubuh basah suaminya.
"Aku jahat, maafin aku ya. Aku buat kamu kepedesan_" ujarnya yang sudah terisak di pelukan Alvaro.
"Tapi. Jujur ini bukan keinginan aku_" lanjutnya, bernada manja.
Alvaro meneguk susunya hingga sisa setengah, di lanjut air hangat sedikit. Perlahan pedas di mulutnya mulai menghilang.
Baru setelah itu, Al merengkuh tubuh Dinar. Membalas pelukan erat yang di lakukan perempuannya. "Sst_ jangan nangis, aku tau. Ini memang bukan kemauan, kamu. Udah ya, jangan nangis, lagian aku sudah nggak apa-apa."
Dinar menjauhkan tubuhnya, wajahnya sembab. Alvaro begitu telaten mengusap dan menghapus air mata istrinya.
"Sekali lagi maafin aku," ujar Dinar yang terdengar lucu di telinga Alvaro, karena suara Dinar parau sehabis menangis.
"Ya Sayang, aku sudah maafin kok. Terus ini gimana?" tunjuk Al.
"Buang aja,"
...****************...
Pagi hari ini, tampaknya akan menjadi hari yang kurang menyenangkan untuk Alvaro, sebab. dia pikir perutnya akan aman, dan tidak ada masalah.
Dia tidak yakin, bisa konsentrasi dalam menyimak gurunya nanti.
"Gimana sayang, masih sakit?" tanya Dinar, suaranya sangat rendah.
wanita itu sangat merasa bersalah, bahkan ia menatap Alvaro dengan air muka sendu.
Di balik rasa sakit di perutnya, Alvaro masih bisa tersenyum untuk istrinya, ia sama sekali tidak menyalahkan Dinar.
"Masih, sedikit." jawabnya sambil sesekali meringis.
Al menoleh, melihat Dinar yang tak melepaskan pandangannya dari wajahnya, wanita itu terlihat tidak bersemangat, sendu dan matanya terus berkaca kaca.
"Udah dong, sayang. Jangan sedih terus, aku sudah nggak apa-apa kok. Cuma masih nyeri aja,"
Dinar merubah posisinya duduknya menjadi kedepan menghadap pintu keluar, saat ini mereka masih di kamar duduk di tepi kasur.
Alvaro menghela napas panjang, melihat Dinar yang diam namun pipinya sudah basah, wanita hamil memang sensitif sekali hatinya.
"Kayaknya, biar adil. aku juga harus makan pakai cabai lima puluh biji." ujar Dinar tiba tiba di sela isakkan.
Al membulatkan matanya. "Sayang! nggak usah aneh-aneh." Dinar menoleh.
"Aneh-aneh gimana? aku cuma mau, tebus rasa bersalah aku. Gara-gara aku kamu sakit, nanti kalau Bunda tau. Pasti akan marah sama aku," Alvaro segera menarik tubuh Dinar.
Ia degap, sembari mengusap punggung. memberi ketenangan agar pikiran sang istri tidak kemana mana.
Al tau apa yang di khawatirkan Dinar, dari kejadian dulu dulu, Bunda sering marah dan kandang sering menyalahkan istrinya.
"Jangan pikir, yang nggak-nggak. kamu lagi hamil, kata dokter kehamilan muda. Nggak boleh terlalu banyak pikiran," bisik Al.
"Aku yakin, Kalau Bunda tau pun. Nggak akan marah, karena ini bukan keinginan kamu, tapi kamu lagi ngidam. Bunda juga seorang wanita, bahkan sudah pernah hamil. Pasti jauh lebih tau tentang hal itu. Jadi jangan terlalu di pikir,"
Dinar mendongak, memandang Al dari bawah. "Tapi kamu sakit, karena aku." Alvaro memberikan senyuman terbaik untuk Dinar.
"Aku beneran, baik-baik aja sayang. Mungkin tadi efeknya aja, tadi juga sudah minum obat. Udah ya, jangan nangis terus. nanti aku malah kepikiran," menarik napas lalu di buangnya secara pelan.
Akhirnya Dinar mengangguk, ia melepas pelukannya dari Al, meminta maaf sekali lagi, sebelum mereka turun untuk sarapan bersama.
"Al_ kamu kenapa? kok pucet gitu?" panik Bunda Alya saat melihat wajah pucat anaknya.
"Nggak apa-apa, Bunda. Kayaknya masuk angin aja, perutnya nggak enak." Alvaro memberi jawaban setengah benar, setengah berbohong.
"Sudah minum obat?"
"Sudah,"
"Kalau sakit, nggak usah masuk aja." timpal Ayah Angga.
Al menggeleng pelan, bersamaan dengan ia memasukkan roti kedalam mulutnya. "Nggak apa-apa Yah, Aku udah enakkan." katanya usai mengunyah roti tersebut.
Hampir setengah tujuh lebih, Alvaro berangkat, Dinar ikut kedepan mengantarkan suaminya pergi.
"Hati-hati ya, kalau masih sakit. Mending pulang aja," pesan Dinar.
"Iya sayang, aku berangkat ya?" Dinar mengangguk meraih tangan Al untuk ia cium, yang di balas kecupan lembut di keningnya.
Membalikkan badan, Al berjalan menghampiri motornya, namun langkah kakinya melambat ketika ia mendongak melihat kearah luar pagar rumahnya.
Diam mematung, Alvaro melihat pria menggunakan jaket hitam tengah berdiri memperhatikan rumahnya, dan tidak lama orang itu menyadari jika Alvaro melihat kearahnya, mereka saling pandang untuk beberapa detik sebelum akhirnya orang itu berlari menjauh.
Al menoleh kebelakang yang masih ada Dinar di sana. "Sayang, kamu masuk sekarang!" titah Al tegas.
"Hah?"
"Aku udah mau berangkat, kamu masuk." walaupun bingung kenapa suaminya menyuruhnya masuk, tapi ia menurut.
Alvaro bergegas menggunakan helmnya, dan melajukan motor sport merahnya untuk mengejar orang tadi, siapa tau dia belum kehilangan jejak.
...****************...