
Alvaro melempar barang yang berada di atas meja dengan frustasi,ia juga tidak menemukan Hana dimana pun.
"Jangan emosi Alvaro"ucap Refin.
"Apa dengan begitu kita akan menemukan Hana?"sambung Refin.
Alvaro memukul dinding di sampingnya dengan keras.
"Dimana lagi aku mencarinya?"gumam Alvaro.
"Apa tidak ada petunjuk lain nya?"tanya Alvaro.
Refin menggeleng lesu"tidak. Tidak ada petunjuk"ucapnya.
Ponsel milik Alvaro berdering membuatnya langsung mengangkat telepon tersebut.
"Hallo?"sahut Alvaro.
"Aku sudah menyerahkan gadis itu pada kakek mu,sedikit menyusahkan tapi sudah tidak apa-apa"ucap Rio.
"Baiklah,aku akan kesana"ucap Alvaro.
"Bagaimana keadaan disana?"tanya Rio.
"Hana hilang,aku tidak menemukan nya dimana pun"ucap Alvaro.
"APA!! HILANG?!"teriak panik Rio.
"Iya, satu-satunya cara adalah bertanya pada Reva"ucap Alvaro.
"Kenapa orang itu senang sekali menculik seorang gadis?! Ck!!"ucap Rio.
"Aku tutup dulu,nanti kita bicarakan disana"ucap Alvaro,ia langsung memutuskan sambungan telepon.
Refin terdiam"Jeni,aku juga tidak menemukan nya disekolah"ucapnya.
Alvaro mengepalkan kedua tangannya"sampai dia ikut terlibat aku tidak akan tinggal diam"ucapnya.
"Tapi aku menemukan tas nya saja,dia lupa mengambil tas miliknya"ucap Refin sambil memberikan tas sekolah bewarna biru kearah Alvaro.
Alvaro membuka tas tersebut siapa tau ada petunjuk di dalamnya,dan ia menemukan ponsel milik Jeni.
Alvaro membuka ponsel tersebut untungnya ponsel milik Jeni terkunci jadi Alvaro bisa membukanya dengan bebas.
Ia melihat kontak telepon dan pesan,ada panggilan telepon yang di terima Jeni 30 menit yang lalu lalu ia membuka pesan dari nomor yang sama ia membacanya.
Kening Alvaro mengkerut ia membacanya perlahan.
Bawa Hana kemari atau kekasihmu dan keluargamu dalam bahaya.
Alvaro menyalin nomor tersebut dan menyimpannya di ponselnya lalu ia membaca kembali pesan dari nomor tersebut.
Kerja bagus kau menjalani perintahku dengan bagus. Aku tidak akan menyentuh kekasihmu kalau kau menjalani perintahku dengan baik
Alvaro menyimpan langsung ponsel milik Jeni di sakunya lalu melempar tas Jeni sembarang arah.
Jadi Jeni melakukan ini demi melindungi Kris dan keluarganya. Bedebah dari mana yang bermain-main dengannya.
Ia menyambar tas miliknya lalu menentengnya di pundak.
"Ayo ikut aku"ucap Alvaro.
"Kita akan kemana?"tanya Refin bingung.
"Kerumah kakek ku"ucap Alvaro sambil sedikit berlari menuju koridor parkiran.
"Untuk apa?"tanya Refin.
"Melacak seseorang"jawab Alvaro.
"Kau sudah tau siapa orangnya?"tanya Refin.
Alvaro menggeleng"belum,tapi akan tau sebentar lagi"ucapnya.
Jeni,Reva dan sang pelaku sebenarnya saling bekerjasama untuk menculik Hana.
∆∆∆
Alvaro mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Alfred kakeknya.
Saat sampai ia langsung membuka pintu rumah kakeknya tanpa menekan bel terlebih dahulu disusul Refin dari belakang.
"Alvaro?"panggil Sofi.
Alvaro menoleh"dimana kakek,nek?"tanya nya.
Alvaro menganggukan kepalanya"ada sedikit,kalau begitu aku ke atas dulu nek"ucapnya di balas anggukan Sofi.
Alvaro dan Refin langsung menuju kamar Alfred. Ia langsung membuka pintu kamar Alfred.
"Kakek,dimana dia?"tanya Alvaro.
Alfred yang sedang berdiri di balkon langsung menoleh kearah Alvaro.
"Ada di ruangan ku,ayo"ucap Alfred.
Mereka pun menuju ruangan dimana Reva di sekap di dalamnya.
"Siapa gadis itu?"tanya Alfred.
"Sepupu kekasihku"ucap Alvaro.
Alfred membuka lakban yang berada di mulut Reva dengan kasar membuatnya meringis kesakitan.
"Dimana Hana?"tanya Alvaro datar.
Reva tertawa kecil"kau yakin bertanya padaku?"ucapnya.
Alvaro langsung mencekik leher Reva"aku beri waktu lima detik atau kau mati disini"ucapnya dengan mengerikan.
Alvaro langsung melepaskan cengkraman nya pada leher Reva membuat terbatuk-batuk.
"Katakan dimana?"desis Alvaro.
Reva mendesis kesal"kau pikir aku mau memberitahu mu,mimpi!"ucapnya sambil meludah.
"Tidak mau memberitahu ya"ucap Alfred sambil menyeringai.
Ponsel milik Alfred berdering,ia langsung mengangkat telepon tersebut.
"Fabio,sepertinya aku ada mainan baru untukmu"ucap Alfred menatap Reva yang sudah pucat pasi di depannya.
"....."
"Diruanganku seperti biasa"ucap Alfred,ia langsung mematikan sambungan teleponnya.
Cklek~
"Ada apa?"tanya Fabio sambil membuka jas kantor nya.
"Bisa kau buat dia memberitahu kami lokasi seseorang"ucap Alfred sambil menoleh kearah Reva.
Fabio menyeringai"itu sudah jadi tugasku"ucapnya.
"Tunggu sebentar,sepertinya aku tau siapa kau"ucap Fabio sambil menelisik Reva.
"Kau yang hampir menipu cucuku Fatih"ucap Fabio datar membuat raut wajah Reva panik.
"Kau lagi,kau lagi. Tidak bosan mencari masalah ya"ucap Fabio sambil berjalan mendekat.
Fabio mencengkram rahang Reva dengan kuat"coba tebak,apa yang akan aku lakukan untuk mu? Hm"ucapnya.
Fabio mengeluarkan pisau lipat nya dan mengarahkan kearah pipi Reva.
"Kau tau apa ini kan? Bagaimana kalau pisau ini merobek mulutmu? Sepertinya menarik"ucap Fabio dingin.
Reva menggeleng takut"berani bermain-main dengan keluarga Alexander,katakan kau mau mati seperti apa?"ucap Fabio.
"Terlalu lama kakek"ucap Alvaro membuat Fabio menoleh.
"Mundur kakek"sambung Alvaro membuat Fabio mundur beberapa langkah.
Bukk~
Alvaro menendang perut Reva hingga ia tersungkur dengan kondisi terikat di bangku.
Alfred berdecak kagum sedangkan Fabio tersenyum tipis"ini baru cucuku"ucap Fabio.
"Itu cucuku bodoh!!"umpat Alfred.
Alvaro menarik rambut Reva dengan kuat"katakan dimana Hana atau nyawa mu melayang"ucapnya dengan nada mengerikan.
Alvaro marah.
∆∆∆
TBC