
...~•~...
"Sell, Dinar mana?" Alvaro menghampiri Selly dan mencari keberadaan sang istri.
Selly mengerutkan kening heran, ia berdiri mendekati Al yang berdiri di luar tendanya. "Lho dia belum balik?" kini giliran Alhari terlihat heran.
"Maksud lo?"
"Tadi Dinar pamit ke kamar mandi, gue pikir sudah__" belum selesai bicara Al sudah berlari meninggalkan Selly.
Gadis itu ikut panik, mengingat jika tadi Dinar sudah mulai tidak sehat, ikut berlari menyusul Alvaro.
Alvaro masuk begitu saja ke kamar mandi yang terlihat gelap dan sepi. "DINAR!!" teriak Al membuka satu-persatu pintu yang tertutup.
Hingga ia sampai pada pintu yang tertutup dan terkunci dari luar. "Dinar! kamu di dalam kan?" ujarnya menggedor pintu tersebut, namun tak ada sautan dari sana.
Pikiran buruk kian melanda Alvaro, dia pun mendobrak pintu itu, butuh sekitar tiga kali pintu baru bisa terbuka, matanya membulat sempurna saat melihat Dinar sudah tak sadar kan diri di balik pintu.
"DINAR!!" teriak Selly yang berada di belakang Alvaro, ia menutup mulutnya melihat sahabatnya pingsan.
Alvaro menekuk lututnya, mengangkat kepala gadisnya. "Dinar, hey bangun sayang." panggil Al menepuk pipi Dinar yang terasa dingin.
Tak ada pergerakan dari istrinya, Al bergegas membopong Dinar ala bridal style. Membawanya ke tenda pmi yang sudah di sediakan oleh sekolah jika terjadi sesuatu pada muridnya.
Al meletekan Dinar secara pelan di atas kasur lipat, tangannya terus menggenggam tangan istrinya. "Sayang, bangun plis," mata cowok itu sudah memerah. memandang lekat wajah pucat Dinar.
"Biar saya periksa dulu," kata dokter yang berjaga di sana.
Alvaro memberi ruang untuk dokter tersebut, ia berkecak pinggang sedang berpikir. Cowok ber sweater hitam bergambar tangan itu langsung keluar begitu saja, saat ia ingat dengan seseorang.
Brak!
Alvaro melempar benda yang ia dapatkan tak jauh dari jangkauannya. Orang yang berada di sana terkejut dan takut, di tambah melihat raut wajah Al yang terlihat sedang marah besar.
Cowok itu menghampiri gadis berwajah ketakutan melihat kedatangan. "Lo anggap apa omongan gue kemarin?" desis Al tepat untuk gadis tersebut.
"Gu_gue nggak ngerti maksud lo Al." gugup Geby.
Alvaro maju lebih dekat pada gadis itu. "Lo yang udah ngunciin Dinar di toilet kan?" Geby menggeleng kuat.
"Nggak Al, beneran bukan gue." ujarnya.
"Lo pikir gue percaya?"
"Beneran Al, gue dari tadi di sini. kalau lo nggak percaya, lo tanya dia." tunjuknya pada salah satu orang yang ada di sana.
"Dari tadi gue di sini kan?" orang itu mengangguk kuat, dan Al sama sekali tidak mengalihkan pandangan nya dari Geby.
"Ini ada apa ribut-ribut! Al ini kenapa?" datang seorang guru, ia mendengar keributan.
"Tanyakan pada murid Ibu," jawabnya lalu pergi begitu saja.
Alvaro tak seratus persen percaya pada Geby, dia akan mencari tahu sendiri siapa yang sudah membuat Dinar terkunci hingga pingsan.
...***...
Kembali ke tenda yang di isi oleh Dinar, Al menarik sebuah kursi lalu duduk di samping istrinya yang belum sadarkan diri.
Meraih jemari lentik Dinar, menggenggam dan mengusap punggung tangannya, Tangan kirinya mengusap lembut kepala dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi sebagaian wajah cantik Dinar.
"Al," panggil Bastian yang baru saja datang.
"Lo di panggil kepala sekolah, karena lo udah membuat keributan tadi," Alvaro memejamkan matanya, ia menghela napas berat.
"Suruh Selly kesini, temani Dinar baru gue kesana," Bastian mengangguk meskipun Al tak melihatnya, Bastian berada di belakang Al, sementara Alvaro tak merubah posisinya sama sekali.
"Gue titip Dinar bentar," kata Al sebelum meninggalkan Dinar.
setelah memberi sebuah kecupan ringan di pelipis Dinar, Al pun pergi ke tempat kepala sekolah berada di sana.
Di sana sudah ada Geby yang di temani oleh satu temannya, Alvaro memberi salam dan membungkuk sopan. "Jadi gini." Kepala sekolah itu menaikkan kaca matanya sebelum melanjutkan ucapannya kepada Alvaro.
"Kenapa saya manggil kamu, karena kata Geby. Kamu telah menuduhnya mengunci Dinar di dalam kamar mandi, apa itu benar?" tanpa ragu Al mengangguk.
"Atas dasar apa kamu menuduh dia? apa kamu memiliki bukti."
"Bukan Bu! beneran bukan saya." sangkal Geby memotong ucapan Alvaro.
"Diam kamu. Saya tidak menyuruhmu untuk bicara!" gertak Bu kepala sekolah pada Geby.
"Kalau kamu tidak memiliki bukti, Kamu tidak bisa asal menuduh Geby begitu saja."
Alvaro mengangguk paham. "Maaf Bu, saya ngaku salah. Tadi saya hanya terlalu emosi,"
"Baiklah, jika tidak ada masalah lagi. Ibu akan selesaikan masalah ini, dan kamu Alvaro. Minta maaf pada Geby," perintah Bu kepala sekolah itu.
Geby sudah sangat senang, ia menang. dan Al tak bisa berbuat apa-apa. "Gue minta maaf," kata Alvaro mengulurkan tangannya.
Geby menggapai tangan Al, "Iya nggak apa-apa." jawabnya dengan senyuman yang sangat menyebalkan bagi Alvaro.
Selesa urusan Al segera pamit, dia tak betah berada di tempat itu. Ia hanya ingin segera menemani Dinar sampai istrinya itu sadar.
"Alvaro," panggil Geby saat ia sudah menjauh dari tempat kepala sekolah.
"Apa lagi, gue nggak ada urusan lagi sama lo." greget Al.
"Nggak bisa gitu. Gue sakit hati ya! lo udah nuduh gue," ujarnya marah.
"Terus lo mau apa?"
Senyum cerah terbit di bibir merah gadis itu. "Temani gue," merangkul lengan Al yang langsung di tepis olehnya.
"Modus!" kata Al dingin lalu pergi tak memperdulikan Geby yang terus meneriaki namanya.
"Al gimana ini Dinar belum sadar juga? kata dokter, Dinar mengalami dehidrasi. Dia butuh istirahat di tempat hangat nyaman, di tenda seperti ini kurang baik," adu Selly.
Alvaro mengeluarkan ponselnya, ia sedang menelpon seseorang dan, hingga beberapa menit dia kembali mendekati brankar Dinar.
"Gue mau bawa dia ke Villa bokap, kebetulan ada Villa Bokap gue di sekitaran sini." usul Al.
"Terus lo bawanya gimana? lo udah izin."
"Biar gue yang ngomong." saut Bastian.
"Thanks," ucap Al tulus menepuk pundak Bastian.
Mobil suruhan Ayahnya tiba, para murid yang mendengar kabar jika Dinar akan di bawa pergi pun saling berkerumun, mereka ingin melihat.
Alvaro menolak, saat beberapa siswa ingin membantunya mengangkat Dinar kedalam mobil, dia ingin melakukan sendiri, lebih tepatnya. Dia tak ingin istrinya di sentuh lelaki lain, ia mengendong Dinar ala bridal style lagi. Berjalan menuju mobil yang parkir tidak jauh dari tenda.
Dinar menggeliat dalam gendongannya, gadis itu sudah sadar,. Tangannya melingkar di leher Al. "Kita mau kemana?" tanyanya berbisik dengan suara parau.
"Pulang," jawab Al singkat.
Dinar tak lagi bertanya ataupun membantah, pusing yang dia rasakan membuatnya tak bisa apa-apa, ia hanya mampu bersandar di dada bidang Alvaro. Selly membantu Al melindungi kepala Dinar agar tidak terbentur pinggiran mobil.
"Hati-hati ya Al, jagain sahabat gue." pesan Selly, Alvaro hanya tersenyum tipis dan mengangguk sekali.
Semua yang melihat itu saling bisik, mereka penasaran, kira-kira Alvaro akan membawa Dinar kemana. "Bu. kenapa harus Al yang bawa Dinar, memangnya yang lain nggak bisa? Kenapa nggak pengurus sekolah aja?" protes Geby, ia seakan tidak terima.
Jika begini Alvaro dan Dinar makin sulit di pisahkan, pikirnya dalam hati. semakin hari keduanya semakin dekat, dan Geby kian kesal.
Alvaro yang mendengar itu hanya mendengus, tersenyum miring. mau berulah seperti apa lagi dia.
Al masuk kedalam mobil, namun sebelumnya dia pamit, meminta izin pada guru dan kepala sekolah.
Pergi dari sana, Al menarik tubuh Dinar untuk ia degap. gadis itu melingkarkan tangannya di perut suaminya, bersandar di tempat paling nyaman untuknya.
"Masih pusing?" Alvaro mengusap kepala Dinar.
"Ehm," mengangguk pelan menikmati sentuhan lembut dari Al, ia juga sedang mencerna apa yang terjadi kepadanya.
Yang dia ingat hanya, terkunci di dalam kamar mandi, dan dia yakin jika itu di sengaja oleh seseorang.
...***...
...TBC...