Alvaro

Alvaro
Bab 69. Salah Paham



...~•~...


...Happy Reading...


...***...


Alvaro baru saja selesai mandi, ia mengusap rambut dengan handuk, matanya memperhatikan suasana rumah yang sepi.


Cowok yang hanya menggunakan celana pendek hitam itu, tengah mencari keberadaan sang istri, rumah sedang kosong.


Ayah dan Bundanya sedang keluar bersama adik adiknya. Sisa Alvaro Dinar dan para pekerja, itu pun mereka ada di rumah belakang.


"Aku cariin, ternyata di sini." Dinar menoleh ia tersenyum melihat kedatangan suaminya.


"Sayang, keringin rambut aku." minta Al, duduk di hadapan Dinar, sementara perempuan itu duduk di atas sofa.


Dengan senang hati Dinar menerima handuk itu dan mulai mengusap usap kepala Alvaro, sementara cowok itu memeluk perutnya.


"Sayang. Nanti malam temani aku ke supermarket ya,"


"Siap!" jawab Al bersemangat.


Dinar tertawa, ia memberi kecupan di kening sang suami.


"Sayang." kini giliran Al yang memanggil Dinar lembut.


"Hmm?"


"Kira-kira, kapan di sini ada dedeknya?" kata Al menunjuk perut rata Dinar dengan usapan lembut.


Dinar menghentikan pergerakan di kepala, ia menunduk memandang Alvaro yang mendongak kearahnya. "di kasihnya Allah aja,"


"Kamu siap kan kalau kita punya anak?" Dinar mengangguk.


"Nggak masalah meskipun kita masih pelajar?"


"Nggak sayang, namanya anak kan rezeki. Masa mau nolak, lagian kita bentar lagi ujian." Alvaro tersenyum senang, ia merubah posisi menjadi setengah berdiri.


Menekuk lutut agar keduanya sejajar, memandang Dinar dalam. "Pintar banget sih istri aku," puji Allah tulus.


Dinar mengulum senyum. "Iya dong, suaminya aja pinter." kelakarnya.


Keduanya pun tertawa bersama, Alvaro menempelkan kening pada kening Dinar, hingga hening untuk sesaat, Terhanyut oleh suasana.


Alvaro mulai memangut bibir ranum Dinar, awalnya hanya ciuman biasa, namun lambat laun keduanya menikmati, bahkan Al sudah mendorong pelan tubuh Dinar hingga perempuan itu terlentang di sofa.


Tangan kiri Al menarik kaos Dinar, perempuan itu tanpa sadar mengeluarkan suara yang semakin membuat Alvaro menginginkan lebih, hingga sampai suara seseorang mengagetkannya.


"ALVARO!!" teriak seorang perempuan.


Karena kaget, Dinar mendorong tubuh Al, reflek ia mengambil handuk milik suaminya yang tadi di gunakan untuk mengeringkan rambut.


Di arah pintu ada Amanda diam terpaku, melihat pemandangan yang baru saja ia lihat, gadis itu menatap Alvaro dan Dinar bergantian.


"Ada apa ini?" selang beberapa menit, Bunda Alya masuk bersama Ayah Angga.


"Bunda, mereka mau berbuat sesuatu Bunda!" tunjuk Amanda pada Alvaro yang terlihat santai.


Cowok itu menatap jengah pada Amanda, sementara Dinar hanya mampu menunduk malu, rasanya sangat malu ia kepergok ingin berbuat mesum.


Padahal mereka melakukannya juga tidak masalah.


"Bunda jangan diam aja! mereka ingin melakukan hal dosa!" marah Amanda menatap tajam pada Dinar.


"Ini pasti gara-gara Kamu!" Amanda maju selangkah menunjuk pada Dinar.


"Kamu yang godain Al kan?!" bentaknya.


"STOP! lo diam. nggak usah ikut campur!!" ucap Al marah, ia tidak suka dan tidak terima jika sampai Dinar di salahkan.


"Kamu belain dia." Amanda menatap garang pada Alvaro. "Harusnya kamu berterimakasih, karena aku sudah gagalin niat jelek perempuan ini!"


Alvaro terpancing emosinya, ia maju lebih dekat pada sahabatnya, namun sebuah genggaman yang Dinar berikan membuatnya urung memaki Amanda.


"Bunda! Ayah, kenapa kalian diam aja. mereka salah!" gadis itu menatap Ayah Angga dan Bunda Alya.


"Kamu semenjak kenal dia berubah Al! kamu bukan Alvaro yang dulu." tangis Amanda mulai terdengar.


"Udah-udah, Amanda. sebaiknya kamu pulang ya Nak, biar mereka Bunda yang urus." Bunda segera melerai perkelahian antara Alvaro dan Amanda, akan semakin panjang jika di biarkan.


Usai di bujuk dengan segala ucapan, Akhirnya Amanda mau pulang. Gadis itu pulang di antar oleh sopir pribadi Ayah Angga.


seperginya Amanda, bukannya mendapatkan marahan, Alvaro justru mendapatkan tawa keras dari sang Ayah. "Hahaha__ Nak. nak, makanya, kalau mau ngelakuinnya di kamar. Jangan di sini," ujar Ayah Angga setelah puas menertawakan putranya.


"Mesum ingat tempat," sindir sang Bunda.


Alvaro mendengus kesal, ia menarik tangan Dinar pelan, membawa perempuan itu ke kamar.


...***...


"Sayang, jadi ke supermarket?" Dinar tersentak dari lamunannya, ia masih kepikiran soal kejadian tadi siang.


Alvaro berlutut di hadapan Dinar, memperhatikan wajah lesu istrinya. "Kenapa istri aku jadi diam gini?" tangannya mengusap pipi mulus Dinar.


Dinar menunduk memainkan jari tangan kanan Al yang ada di pangkuannya. "Soal tadi?" tanya Al lagi.


Perlahan Dinar mengangguk. "Apa yang buat kepikiran?" menghela napas, perempuan itu menggeleng pelan.


"Nggak tau, tapi kepikiran aja. Malu tau!" sewotnya.


Alvaro terkekeh, mengacak rambut Dinar. "Maaf deh, aku yang salah." aku Al.


"Yuk kita belanja aja. nggak usah di pikir," Dinar kembali menarik napas lalu di buangnya dengan kasar, lalu mengangguk menerima ajakan suaminya.


Supermarket yang Al pilih tidak terlalu jauh dari rumah, cukup sekitar lima menit menggunakan motor, mereka sudah sampai.


Masuk kedalam supermarket, Al mengambil keranjang untuk menepati belanjaan. Dinar mulai memilih apa saja yang ingin dia beli, mulai dari makanan ringan.


Coklat, susu dan kebutuhan pribadinya. "Udah ini aja?" tanya Al memastikan.


"Iya,"


"Kok dikit sayang, nggak mau yang lain?"


"Nggak ah, aku memang mau beli ini aja. Lagian kan kita bukan belanja bulanan, aku cuma pengin beli ini." tunjuk Dinar pada snack yang dia inginkan.


"Oh oke," jawab Al lalu menggandeng menuju kasir.


Hanya Alvaro yang mengantri, Dinar di suruh menunggunya di depan supermarket saja.


"Udah?" Dinar mengambil alih kantong belanjaan.


Mereka berjalan bersama beriringan menuju motor sportnya.


Bugh!


Belum sampai di parkiran, Alvaro mendapatkan pukulan telak di wajahnya dari seseorang. Dinar memekik histeris saat suaminya tiba tiba di pukuli seperti itu.


"Bang, stop Bang!" teriak Dinar mencoba menghentikan aksi seorang pria memakai kemeja hitam.


Dan orang itu adalah Roy, kakak kandung Amanda.


"Tolong!!" ia memohon pada orang orang yang ada di sana.


Namun mereka hanya diam menonton. "Stop!" Dinar menghadang Roy saat pria itu ingin menendang tubuh Alvaro.


Al hanya pasrah dia tak bisa melawan, serangan dari pria itu terlalu tiba tiba. "Hentikan Bang," mohon Dinar menangis tersedu, ia memeluk kepala suaminya.


"Gue nggak nyangka lo jadi cowok b*****ek. Al!" kata Roy marah.


"dan lo!" tunjuknya pada Dinar, "Jangan jadi cewek murahan yang mau tidur sebelum menikah!" usai mengatakan kata pedas dan memberi pukulan, pria tersebut pergi.


"Sayang," panggil Dinar melihat kondisi Alvaro.


Al mencoba tersenyum sangat tipis di sela ringisannya. "Aku nggak apa-apa sayang," jawabnya mencoba menenangkan hati istrinya.


Dinar semakin tersedu, kenapa masalahnya jadi seperti ini. pikir Dinar, mereka sudah salah paham pada Alvaro, dan ini semua karena dirinya.


...***...