Alvaro

Alvaro
Chapter 22



"Naik"ucap Alvaro,di balas anggukan Hana.


Hana memegang pundak Alvaro namun dengan cepat Alvaro memindahkan tangan Hana ke pinggangnya.


Alvaro menancapkan gas motornya dengan kecepatan sedang menuju area sekolah.


Banyak pasang mata yang melihat kearah mereka namun langsung ditatap tajam oleh Alvaro membuat mereka langsung memalingkan wajahnya.


Alvaro menggenggam tangan Hana menuju koridor kelasnya.


Alvaro mengusap rambut Hana lalu mencium keningnya"masuklah"ucap nya.


Hana mengangguk sambil tersenyum tipis,lalu ia menaruh tas nya duduk.


"Ekhem...sepertinya ada yang berbunga-bunga"celetuk Jeni yang baru datang menaruh tas nya di bangku sebelah Hana.


"Apa?"tanya Hana bingung.


"Kau dan Alvaro,bukankah kalian sepasang kekasih?"tanya jahil Jeni.


Wajah Hana merona"a-apa yang kau bicarakan?"tanyanya gugup.


Jeni tertawa kecil"oh ayolah,tidak usah malu seperti itu"godanya.


"Aishh....sudahlah"ucap Hana,ia langsung bangun dari duduknya.


"Ayo,temani aku"sambung Hana.


"Kemana?"tanya Jeni.


"Mengambil peralatan tulis ku di loker ku"ucap Hana.


"Ok tunggu sebentar"Jeni memasukkan tas nya lalu mengikuti Hana dari belakang.


"Aku senang kau menemukan cintamu"ucap Jeni.


Hana menatap Jeni"apa?"tanya nya.


"Tentu saja cinta Alvaro,kau ini bagaimana sih?"Jeni mengetuk dahi Hana pelan.


"Ck!"Hana mengusap dahinya.


"Apapun yang terjadi tetaplah bersamanya Hana"ucap Jeni terdengar lesu.


Hana menatap Jeni bingung"apa maksudmu?"tanya nya.


Jeni menggeleng lalu tersenyum"aku hanya berkata apa yang ada di pikiran ku saja"ucapnya.


"Ayo cepat"ucap Jeni.


Hana memandang aneh kearah Jeni yang sikapnya aneh seperti itu.


"Kapan kau dekat dengan Kris?"tanya Hana.


Jeni tersenyum tipis"coba tebak?"godanya.


Hana mendengus dan kembali berjalan menuju kearah ruangan tempat loker para siswa.


Jeni terdiam membuat Hana menatapnya"kau kenapa? Sakit?"tanya Hana.


Jeni menggeleng"aku tidak apa-apa"ucapnya.


"Hana"ucap Jeni.


"Kenapa?"tanya Hana.


"Jika aku melakukan kesalahan,apa kau akan memaafkan aku?"tanya Jeni.


Hana mengerutkan keningnya"tentu saja kau sahabatku"ucapnya.


"Sekalipun aku melakukan kesalahan yang fatal?"tanya Jeni ragu.


"Kau kenapa? Hari ini aneh sekali"ucap Hana.


Saat sampai Hana langsung membuka lokernya dan terkejut bukan main.


"Akhhh..."teriak Hana ketakutan hingga terjatuh.


"Apa? Apa yang terjadi?"tanya Jeni panik.


Hana menunjuk kearah lokernya"da-darah"ucapnya.


Jeni melihat kearah loker Hana dengan mata membelalak.


∆∆∆


Alvaro langsung berlari menuju kearah ruangan loker dimana Hana berada.


Lalu ia mendengar teriakan Hana membuatnya langsung memasuki ruangan tersebut.


Alvaro melihat loker Hana berlumuran darah dengan secarik kertas dan langsung di ambil oleh Alvaro.


"Apa yang terjadi?"tanya Alvaro dingin.


"A-aku juga tidak tau"ucap Jeni panik.


Alvaro langsung menggendong tubuh Hana seperti menggendong anak kecil dan membawanya keluar.


"Ambilkan tas Hana!"ucap Alvaro lalu di balas anggukan Jeni ia langsung berlari menuju kelasnya.


"Shhh...jangan takut"bisik Alvaro di telinga Hana.


Hana mengeratkan pelukannya pada leher Alvaro.


"Im here!"bisik Alvaro lagi.


"Takut"cicit Hana.


"Jangan takut,ada aku disini"bisik Alvaro.


"Aku akan mencari tau,siapa yang menaruh seperti itu di lokermu"sambung Alvaro.


Alvaro berjalan di koridor membuat Rio menghampiri dirinya.


"Kenapa?"tanya Rio.


Alvaro diam"kita berkumpul tempat biasa"ucapnya.


"Ada yang harus aku bilang pada kalian"sambung Alvaro.


Rio mengangguk lalu menatap Hana yang berada di gendongan Alvaro.


"Kau bisa simpan ini"ucap Alvaro sambil memberikan secarik kertas yang ia dapat.


Rio menatap horror kearah kertas yang sudah berlumuran darah"kau menyuruhku memegang kertas berlumuran darah seperti itu? Kau gila ya! Aku paling tidak bisa melihat darah"ucapnya


Rio memang memiliki phobia terhadap darah.


"Berisik!!"Alvaro meletakkan kertas tersebut di tangan Rio.


"Shit! Alvaro sialan!!"umpat Rio panik.


"Ada apa?"tanya Kris.


"Pegang ini!"ucap Rio panik sambil memberikan selembar kertas tersebut ke tangan Kris.


"What the--"


"Sial!! Aku mual"ucap Rio sambil menutup hidungnya.


"Kertas apa ini?"tanya Kris sedikit jijik ia hanya memegang ujung kertas yang tidak ternodai dengan darah.


"Tidak tau,Alvaro menyuruhku memegangnya. jangan sampai hilang!"ucap Rio langsung berlari menjauh.


"HOI! KAU MAU KEMANA?"teriak Kris.


"Ke kamar mandi,aku ingin muntah sialan!!"ucap Rio.


"Sialan!! Perutku melilit"umpat Rio.


Kris berdecak kesal lalu Fadhel pun datang.


"Kenapa?"tanya Fadhel.


"Pegang ini,Alvaro bilang jangan sampai hilang. Atau nyawamu melayang di tangannya"ucap Kris sambil meletakkan kertas tersebut di tangan Fadhel.


"Bye"ucap Kris lalu pergi membuat Fadhel melongo.


"KRIS SIALAN!! KERTAS APA YANG KAU BERIKAN PADAKU?!"


∆∆∆


TBC