
...~~...
Sopir bus menepikan kendaraan itu di sebuah restoran, karena hari sudah siang namun mereka belum sampai di kota tunjuan, maka dari pihak sekolah memutuskan beristirahat sekaligus makan siang di sana.
"Uhh_ capeknya." kata Selly merentangkan tangannya cukup pegal duduk beberapa jam.
Dinar hanya mendengus tipis melihat kelakuan sahabatnya, ia bergandengan tangan bersama Alvaro untuk mencari tempat duduk.
Dalam sekejap, restoran tersebut penuh bahkan ada yang sampai tidak mendapatkan tempat duduk, Tempat makan yang mereka datangi tidak terlalu besar, maka mendapatkan rombongan dari anak-anak sekolah, langsung penuh hingga sampai luar.
"Kayaknya kita nggak dapet tempat duduk sayang," kata Al memandangi area restoran itu.
"Iya, terus gimana?"
"Aku pesan makan aja, setelah itu kita makan di dalam bus aja." usul Alvaro.
"Iya udah terserah kamu, tapi aku mau ke toilet dulu kebelet." katanya meremas tangan Alvaro yang ia genggam, sambil memegang perutnya karena dia terlalu lama menahan ingin buang air kecil.
Alvaro terkekeh lalu mengangguk, ia memandangi kepergian Dinar yang langsung melesat pergi ke toilet. "Kita nggak bisa duduk Al," keluh Niko yang mengagetkan Al.
"Iya gue tau, makanya gue mau pesan aja, ntar makan di dalem bus."
"Oke, gue ikut." sambung Heru menyusul Alvaro yang lebih dulu masuk kedalam restoran itu.
Brak!
"Astagfirullah!" Dinar terlonjak saat suara pintu di buka secara kasar.
"Geby," gumamnya ketika melihat gadis bertubuh ramping itu masuk lalu mendekatinya.
"Mau apa lo?" tanya Dinar angkuh, ia mencoba tidak takut pada perempuan itu.
"Lama-lama gue muak lihat lo!" desis Geby melotot pada Dinar.
"Masalahnya apa sama lo? gue selama ini nggak pernah berurusan sama lo." jawab Dinar.
"Lo selalu halangin semua yang gue mau! termasuk mendapatkan Alvaro!"
Dinar semakin mundur saat Geby memajukan langkahnya, hingga dia tersudut di tembok. "Lo mau apa?" tantang Dinar menaikkan dagunya.
Dinar mendelik saat tiba-tiba Geby menarik kerah jaket miliknya, bahkan kuku-kuku tajam milik Geby sudah mulai kulit leher Dinar.
"Jauhin Alvaro. Biar dia jadi milik gue!" ujarnya pelan namun sangat tajam.
Dinar merespon dengan senyuman tipis, tangan kanannya mencengkram kuat tangan Geby. "Gue nggak bisa! dan nggak akan pernah mau! dulu gue memang diam aja saat lo dekatin Aron. Tapi kali ini gue nggak akan pernah biarin lo dapetin Alvaro!" Dinar meringis saat Geby kian tersulut emosi.
Gadis itu semakin mencengkam leher Dinar, tak habis akal. Dinar menendang perut Geby hingga gadis itu tersungkur. "MAU KEMANA LO DINAR!!" teriaknya saat Dinar berhasil kabur.
Dinar berhenti berlari saat sudah berada di pintu utama toilet, sudah ada beberapa orang di sana. Ia merasa aman, sambil menganbil napas. Dinar merapikan penampilannya, dia tak ingin Alvaro tau, ia tak ingin menceritakan apa yang terjadi kepadanya barusan.
Berdiri di depan cermin ia melihat goresan berwarna merah di lehernya, untungnya tidak terlalu besar dan tidak terlalu bisa di lihat orang.
Sedikit memoles luka itu dengan bedak, Dinar bergegas keluar dari toilet, dia yakin Alvaro sedang mencarinya.
Benar saja, keluar dari toilet, Dinar melihat Alvaro yang datang menghampirinya. "Sayang kamu nggak apa-apa kan? kenapa lama?" Alvaro bertanya sangat khawatir sambil meneliti tubuh istrinya.
"Aku nggak kenapa-napa, tadi perut aku mules tiba-tiba." Cengirnya.
Alvaro membuang napas leganya, ia pun ikut tersenyum dan menepuk kepala Dinar pelan. "Yuk, aku udah lapar," Dinar mengandeng tangan Alvaro menjauhi toilet tersebut, ia tak ingin bertemu Geby.
"Kamu sudah pesan makanan nya?"
"Sudah," jawab Al mereka berjalan beriringan.
"Lho kita nggak jadi makan di bus?" Dinar bingung saat Alvaro justru membawanya kebelakang restoran itu.
"Kita mau kemana?" Al sama sekali tidak menjawab, hanya memberi senyum misterius.
Terus mengandeng tangan Dinar. Hingga suara yang dia kenal tengah berteriak kearahnya. "Dinar_!" teriak Selly melambaikan tangannya.
"Kalian kok bisa makan di tempat kayak gini?" ujar Dinar bingung namun terlihat senang.
"Ide laki lo." saut Niko yang sedang makan.
Dinar menoleh, ia mendapatkan anggukan dari Alvaro. Lagi-lagi Dinar tidak tau harus seperti apa bersyukurnya, Al selalu saja bisa membuatnya bahagia.
Cowok itu mempunyai ide, untuk makan lesehan dengan pemandangan pegunungan dan persawahan, beralaskan sebuah tiker, sudah bisa menikmati makanan dan juga pemandangan.
Kebetulan restoran yang mereka datangi berdekatan dengan bukit tinggi dan pesawahan penduduk di sana.
"Yuk makan, katanya laper," Alvaro memberikan satu piring, dengan isian nasi, sayur ikan gurame dan juga beberapa daging.
"Wah_ bisa-bisanya kalian makan sambil lesehan gini. bikin pingin ikut." kata salah satu guru yang tidak sengaja melihat mereka.
"Boleh Pak, silahkan gabung aja." Alvaro menggeser duduknya mempersilakan guru itu untuk bergabung.
"Eh. nggak usah Al, Bapak makan bersama yang lain aja, kalian nikmati aja makanannya." tolak Bapak guru itu.
"Ayolah Pak, mending makan di sini, kalau di dalam bus panas." ujar Heru.
Namun guru itu tetap menolak, dan pergi mengikuti guru-guru yang lain.
...***...
Sudah setengah perjalanan, dan mereka semua harus segera melanjutkan lagi sebelum hari sudah gelap. usai bertemu dengan Geby di dalam toilet, Dinar sering diam dan murung.
Dan semua gerak-geriknya selalu menjadi perhatian Alvaro, cowok itu mengerutkan kening, dia menduga pasti ada yang tidak beres dengan istrinya.
Dinar mengingat semua apa yang di katakan Geby, jujur dia pun takut tadi saat Geby mencoba mengancam dan ingin mencelakai dirinya.
Namun rasa takut itu hilang ketika sebuah bayangan, jika perempuan itu benar-benar merebut Alvaro darinya, dia tak ingin bayangan itu terjadi, Dinar sama sekali tidak ingin mengalah ataupun diam saja, jika cewek itu mendekati Alvaro.
"Kenapa?" Dinar tersentak ia mencoba tersenyum.
"Nggak apa-apa, coba sedikit pusing. mungkin sudah lama nggak perjalanan jauh," Dinar tak sepenuhnya berbohong, kini ia merasakan pusing.
Entah pusing karena Geby, atau karena perjalanan jauh ini, gadis itu merebahkan kepalanya lagi di pundak Al, dan tanpa di minta tangan kiri Alvaro memijat pelipis Dinar.
Sebenar Al merasa ada yang tidak beres, dia pun tidak percaya dengan apa yang Dinar katakan, tapi saat ini dia tak ingin berdebat, mungkin suatu saat nanti dia akan menekunkan jawabnya.
Geby memutuskan pindah tempat duduk, dia memilih barisan paling depan, dia masih shock saat Dinar mencoba melawannya.
Dia tak menyangka jika Dinar berani, ia ingat betul. Dulu ketika masih berpacaran dengan Aron, Dinar takut dan menuruti keinginannya, ya. walaupun dia tau tidak perlu mengacak dia bisa mendapatkan Aron.
Geby tetap melakukannya, bahkan Dinar tak merasa keberatan saat dirinya bermesraan bersama Aron di hadapannya.
"Lo apain Dinar tadi?" bisik temannya yang memang mengetahui Geby bersama Dinar tadi di toilet.
"Nggak gue apa-apain." kilahnya.
"Udahlah Geb, lo nyerah aja. kalau lo nekat. pada kenyataannya lo yang akan sakit," Geby tak menggubris ucapan temannya.
"Lo belum pernah di sayangi sama seseorang yang bener-bener sayang sama lo, kalau lo udah pernah ngerasain itu, lo bakal tau bagaimana perasaan lo seandainya orang yang lo sayang, di ambil orang lain. pasti lo juga akan berusaha untuk menjaga apa yang dia punya."
"Ayolah Geb, cowok nggak cuma Alvaro. masih banyak di luar sana. Dan lo jadi perempuan jangan seolah-olah ngemis cinta dan perhatian," Geby mengepalkan tangannya.
Hatinya tertohok dengan ucapan temannya itu, dia memang seperti sedang mengemis kasih sayang, dia sadar akan apa yang dia lakukan, dan itu memang karena selama ini dia tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seseorang, hidupnya hampa, kosong dan selalu menyedihkan.
Geby iri melihat teman-temannya yang selalu bisa tersenyum, tertawa lepas, seolah hidupnya tidak memiliki masalah.
Tanpa sadar ia menunduk, air matanya sudah turun. Dia hanya ingin seperti Dinar mendapatkan laki-laki seperti Alvaro yang begitu mencintainya.
...***...
...πΏπ ππ ππππππππ...
...NEXT!...