Alvaro

Alvaro
Bab 101. Terus mencari pelaku



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tidak ada yang tau hasilnya jika kita tak mencoba, itulah yang di lakukan Alvaro.


Meskipun belum bisa mendapatkan hasil dari apa yang telah dia lakukan, setidaknya ia sudah berusaha untuk terus mencari orang tersebut.


Kebetulan hari ini adalah weekend, dan Alvaro menggunakan waktu libur sekolahnya untuk mencari orang tersebut, bersama Bastian.


Hasilnya masih sama, belum menemukan orang itu. meskipun tadi sempat ada yang mengatakan jika pernah bertemu dengan orang yang ada di gambar.


Katanya dia pernah bekerja di salah satu mebel. dan ketika di datangi. tempat tersebut sudah di alih fungsikan sebagai bengkel motor.


Dan ketika Al, mencoba bertanya. mereka tidak ada yang tau dan kenal.


Hampir satu hari Al berada di luar rumah, akhirnya ia memutuskan untuk pulang. tiba di rumah dia langsung di sambut oleh wajah cemberut dari Dinar yang menunggunya di depan teras.


Alvaro berlutut di depan Dinar, ketika wanita itu masih duduk di tangga teras. "Sayang, kamu ngapain di sini?" tanya Al, mengusap pipi istrinya.


"Kamu sendiri, dari mana? aku telpon nggak di angkat?" sewotnya, memandang sinis kearah Alvaro.


Al tersenyum manis,menangkup wajah Dinar. "Maaf sayang. Tadi aku ada perlu, terus hape aku mati karena lupa tadi malam nggak di cas." ujar Al setengah jujur, setengah tidak.


Ia tidak mau mengatakan jika habis, mencari orang tersebut.


"Beneran? nggak lagi macam-macam kan?" Al mengerutkan kening.


"Maksudnya?"


"Jalan sama cewek!" sontak Al tertawa keras, mengacak rambut Dinar gemas.


"Ya nggak lah sayang, kok kamu mikir gitu sih? aku tadi perginya sama Bastian, coba kalau kamu nggak percaya. Telepon dia," titah Alvaro mengeluarkan ponselnya.


Dinar cemberut namun menolak menelpon Bastian. "Aku percaya kok, cuma aku kangen kamu." rengek perempuan itu sambil melingkarkan tangannya di leher Alvaro.


Alvaro mengulum senyum paham, membalas pelukan istrinya dan mengusap usap punggung Dinar. "Kamu tau nggak? semenjak hamil, perasaan aku nggak jelas. kadang sedih tiba-tiba, kadang pengin marah. kadang pengin sesuatu yang nggak jelas," cerita Dinar tanpa melepas pelukannya.


"Nggak apa-apa, itu wajar kok."


Dinar melepas lingkaran tangannya yang ada di leher Al, Dinar memandang Alvaro lekat. "Seandainya, aku pengin sesuatu. Kamu nurutin nggak?" Alvaro mengangguk mantap.


"Memangnya, lagi pengin apa?"


Dinar Justru menggeleng, mengusap rahang suaminya. "Sekarang, lagi nggak pengin apa-apa, aku cuma kepikiran kamu terus." Al tertegun sejenak.


Apa ini ada hubungannya dengan orang yang dia cari.


"Kepikiran gimana?" Dinar menaikan bahunya.


"Nggak tau, tapi. Kepikiran aja, aku khawatir sama kamu."


Alvaro merangkum wajah Dinar, mengecup bibir istrinya lalu berkata. "Jangan terlalu di pikir, insyallah aku baik-baik aja. Oke," meskipun masih mengganjal, tapi Dinar tetap mengangguk pelan.


"Kalau gitu kita masuk yuk," ajak Al, ia berdiri lebih dulu di lanjut Dinar dengan bantuannya.


"Gendong," rengek Dinar merentangkan kedua tangannya.


Al mengigit bibir bawahnya, sambil menggeleng pelan. Tapi tetap menuruti keinginan istrinya, ia menggendong Dinar ala bridal style.


Untung Dinar tidak protes, sebab. Jika ia menggendong Dinar di belakang, takut dengan anaknya kenapa-kenapa.


"Rumah kok sepi sayang?" tanya Al heran.


"Ayah belum pulang, kalau Bunda di telpon suruh ke butik sama asistennya di sana." jawabannya.


"Jadi, dari tadi kamu di luar nggak ada orang di rumah?" pekik Al khawatir.


Dinar mengeratkan lingkaran di leher Alvaro. "Nggak sayang, Bunda baru aja pergi. Dari pada bosen, aku nunggu kamu di luar." katanya lembut.


"Syukurlah, aku kira kamu lama di luar. Kalau nggak ada aku, jangan keluar rumah tanpa aku," pesannya lagi.


"Iya sayang, iya." gemas Dinar, pasalnya Alvaro sudah seringkali memberitahu hal itu.


...****************...


Al bisa segera menemukan orangnya, melirik sejenak kearah Dinar yang sudah terlelap.


Ia beranjak dari duduknya, menghampiri sang istri, memberi kecupan terlebih dahulu sebelum keluar menemui Ayahnya.


Keluar dari kamar, Alvaro memutari matanya mencari keberadaan Ayah Angga, tidak menemukan di lantai dua.


Al pun turun, sepertinya Ayah Angga tengah bersantai di ruang keluarga, sesampainya di sana. Lelaki itu tersenyum ketika tembakkan nya benar.


"Ayah," panggilnya, ketika duduk di singel sofa.


"Eh, Al? belum tidur?" tanyanya menoleh menatap putranya lalu fokus kembali menonton televisi.


"Belum, Yah. Ada sesuatu yang mau Al ceritakan," mendengar hal itu, Ayah Angga jadi tertarik dan penasaran.


"Tentang?"


"Tentang pelaku peneror itu. Yah,"


"Sampai sekarang, belum ada kabar dari pihak berwajib, Ayah juga pusing mikir nya." helaan nafas berat keluar dari mulut Ayahnya.


"Ya, Al tau Yah. justru Al kesini mau kasih tau sesuatu." Ayah Angga mengerutkan keningnya.


"Apa Nak?"


Alvaro mengeluarkan gulungan dari belakang kaosnya. "Aku punya kenalan, yang bisa buat sketsa wajah orang, meskipun sulit dan kadang tertutup."


"Aku sudah lihat pelakunya, siapa tau Ayah kenal. Atau pernah lihat di mana?" ujar Al lalu memberikan gulungan tersebut pada Ayahnya.


Ayah Angga, membuka gulungan tersebut, melihat gambar tersebut awalnya biasa saja, namun, ketika memperhatikan lagi gambar itu, wajah Ayah Angga berubah seketika.


Matanya membulat sempurna, ada raut wajah kemarahan yang Al lihat.


"Kamu yakin ini orangnya?" Alvaro mengangguk yakin.


"Kenapa, Yah? Ayah kenal?"


"Al, Ayah harap kamu jangan kasih gambar ini ke Bunda, ya? apapun yang terjadi biar ini kita yang tau!"


Alvaro kini yang memandang Ayahnya bingung. "Ada apa Yah? jangan bikin aku bingung."


"Kalian di sini rupanya," kata Bunda Alya yang tiba tiba datang, saat Ayah Angga mau mengatakan sesuatu pada putranya.


Ayah Angga menyuruh Al, menyimpan gambar tersebut dengan mengkode menggunakan matanya.


Alvaro menurut, ia menaruh di belakang tubuhnya. "Lagi apa? kok Bunda nggak di ajak?"


"Lagi ngobrolin Bola, sayang. Tuh," tunjuk Ayah Angga pada layar besar di hadapan mereka.


"Oalah, Bunda kira ngobrolin apa." Ayah Angga meringis, mengusap kepala Bunda Alya sayang.


Merasa bersalah telah berbohong.


"Oh iya, hubby. Gimana perkembangan penyeledikan soal peneror itu?" kedua lelaki pun jadi salah tingkah, kenapa waktunya pas sekali.


Mereka tengah mengobrolkan soal hal itu. "Belum ada, sayang. Polisi juga terus berusaha," jawab Ayah Angga.


"Semoga lekas di tangkap ya Hubby, Aku nggak tenang kalau penjahatnya belum ketangkep."


"Iya sayang, Amin." doa Ayah Angga.


"Al, Dinar sudah tidur?" Alvaro yang sedang asyik dengan pikirannya sendiri pun tersentak.


"Hah? oh iya Bunda, Dinar sudah tidur," jawab Al gugup sangking kagetnya.


"Kamu kenapa Nak? baik-baik aja kan?" Bunda melihat perubahan sikap Alvaro, membuatnya khawatir.


"Al baik kok Bunda,"


Alvaro melirik Ayahnya, yang juga Sempat melirik kearahnya, apa yang dimaksud Ayah Angga, apakah Ayahnya benar benar mengenal pelaku itu.


...****************...