Alvaro

Alvaro
Bab 105. Kehilangan Jejak



...****************...


Alvaro kesal, perasaan orang itu belum lama pergi dari depan halaman rumahnya, tapi ketika di cari.


Dia kehilangan jejak, Al berhenti sejenak, menarik kaca helmnya. pandangannya menyelusuri area tempat itu, namun sepi tidak ada orang sama sekali.


Mendesah kecewa, Alvaro memutuskan pergi ke sekolah, jam cepat sekali bergulir.


Hampir saja Al telat, beruntung guru belum masuk. barulah ketika ia duduk lalu menaruh tasnya di belakang kursi, guru masuk dan menyapa para murid.


Selesai mengabsen siswa, guru sekitar umur tiga puluh tahunan, mengernyitkan dahi. "Al, kamu sakit?" yang di panggil mendongak menatap Ibu gurunya.


"Nggak apa-apa, Bu. sedikit nggak enak badan aja."


"Baiklah, kalau kamu ngerasa semakin sakit, pergi ke UKS aja."


"Ya Bu, terima kasih."


Wajah Al memang masih terlihat pucat, bibirnya juga kering. Mungkin bukan karena perkara ngidamnya sang istri, tapi. Karena memang dia kurang fit.


Beberapa hari ini pikirannya di forsir, antara sekolah, dan masalah keluarganya. Di tambah mengetahui pelaku adalah Ayah tiri istrinya.


"Lo kenapa?" bisik Bastian.


"Biasalah, nurutin keinginan bumil." Bastian mengernyit tidak paham.


"Maksudnya?"


"Semalam, dia ngidam pengin mie rebus, tapi cabainya lima puluh. Gila nggak tuh?" sungut Al setengah kesal.


Hampir saja, Bastian menyemburkan tawanya, mendengar cerita Alvaro. "Dinar unik juga, kalau ngidam. Kayaknya Lo harus ekstra sabar hadapinya."


Senyum Alvaro tiba tiba muncul. "Ya begitulah_ seru dan ngeselin kadang. Tapi biar gitu gue akan selalu nurutin keinginan dia." Bastian mengulas senyum, memberi jempol pada sahabatnya.


Menyudahi obrolan mereka di tengah jam pelajaran, Alvaro dan Bastian pun mulai fokus mendengar guru menyampaikan materi pelajaran hari ini.


Di rumah, Dinar merasa bosan. Ia melirik jam menunjukkan pukul setengah dua belas, setelah melakukan homeschooling.


Dinar rebahan di sofa, dan setelah itu tidak ada lagi kegiatan yang bisa dia lakukan, bangun dari tidurnya.


Dia berjalan mencari Mba Leli, dan ternyata orang itu sedang berada di taman belakang, merapikan bunga bunga Bunda Alya.


"Mba_" panggil Dinar sambil mendekati Mba Leli.


Yang di panggil menoleh sebentar sebelum fokus lagi pada tanaman majikannya. "Ya Din, ada apa? kamu pengin sesuatu?" tanyanya tanpa mengalihkan perhatiannya dari tanaman.


"Nggak kok, Mba. Bosen aja didalam rumah cuma rebahan,"


"Sabar-sabar aja Din, Dari pada keluar rumah tapi bahayain kamu."


Dinar menunduk sambil mencabuti rumput kecil kecil. "Iya sih, Mba. lagian kenapa nggak cepat ketangkep sih! aku juga pengin hidup normal yang bisa bebas pergi."


Mba Leli mengulum senyum. "Kamu masih bisa keluar, asal sama Alvaro. Kan? tunggu dia aja kalau mau pergi, biar kamu nggak bosen. Masalah penjahat itu, jangan terlalu di pikir, ingat. Kamu lagi hamil, nggak boleh stres." kata Mba Leli panjang lebar.


"Mba? memang bener ya, kalau hamil suka yang aneh-aneh. Mba tau nggak? tadi malam aku ngidam pengin mie rebus pakai cabai lima puluh biji, aku suruh Alvaro makan."


"APA! lima puluh?" kaget Mba Leli langsung melebarkan matanya menatap Dinar.


Dinar meringis, mengangguk pelan. "Jadi muka Al pucet tadi pagi, gara-gara itu?" lagi Dinar mengangguk.


"Mba jangan bilang, Bunda ya. Nanti Bunda nyalahin aku, padahal ini keinginan dedek."


Mba Leli merubah mimik wajahnya menjadi tersenyum. "Mba salut, sama Alvaro, segitu sayangnya dia sama kamu. Belum tentu cowok lain mau, sampai sakit perut lagi, Beruntung banget kamu punya Al," pipi Dinar merah merona, ia jadi malu mendapatkan pujian itu dari Mba Leli.


...***...


"Lo masih sakit perut Al?" Bastian bertanya sambil menuangkan kecap ke mangkuk mie ayamnya.


"Hah? Alvaro sakit?" saut Niko, mengamati sahabatnya.


"Ya, gara-gara ngidam."


Tak ingin membuat temannya kebingungan, Bastian menceritakan kronologis kenapa Al bisa sakit perut.


"Hahaha_!" Niko dan Heru tertawa kencang usai Bastian menyelesaikan ceritanya.


Saking kerasnya, tawa mereka menjadi pusat perhatian seisi kantin, beberapa murid memandangi kearahnya, ada juga yang hanya saling berbisik-bisik.


Ide jail pun muncul di otak cerdas Bastian, dia mengambil sepotong jeruk nipis lalu memasukkan kedalam mulut Niko, karena menurut cowok itu.


Niko lah teman paling ngeselin, paling resek. "A***r! asem b**o!" maki Niko sambil meringis keasaman.


Begitu pun Alvaro yang hanya melihat, tapi air liurnya juga ikut keluar melihat reaksi Niko.


"Siapa suruh, ketawa di atas penderitaan orang lain!" timpal Tian ikut meringis.


Tak ingin ikut menjadi korban, Heru diam seketika. Cowok itu bahkan sudah menikmati baksonya dengan hikmat.


Alvaro terkekeh geli, selalu ada saja. Tingkah mereka untuk bisa menghibur hati seseorang yang kadang kurang baik.


Di sela, menikmati makanan yang mereka pesan, Niko berucap. "Perkembangan tentang masalah itu gimana?" kini cowok itu mode serius.


"Masih sama, malah makin ruwet,"


"Kok bisa? ada masalah apa lagi?" timpal Heru sedikit nada tinggi.


Alvaro melihat area daerah di tempatnya makan, banyak orang. Dia takut terdengar oleh orang lain, jika dia bercerita di kantin sekolah.


"Nanti, pulang sekolah gue cerita. Sekarang terlalu berbahaya,"


Niko dan Heru mengangguk mengerti, meskipun mereka sangat penasaran. Al akan memutuskan untuk bercerita kepada sahabatnya, siapa tau mereka mempunyai solusi.


Bagaimana caranya, agar Pak Hendra, alias Bapak mertuanya bisa segera tertangkap, dan ia mengetahui maksud dari kejahatannya.


Tiba pulang sekolah, Alvaro menepati janji untuk menceritakan tentang masalahnya kepada sahabatnya.


Pukul empat sore, mereka berempat sudah berada di cafe langganan mereka, sebelum membuka suaranya.


Al memberikan selembaran kertas, yang bergambarkan si pelaku, Alias Hendra.


"Jadi ini, orangnya?" kata Niko.


"Biasanya, gue pikir. mukanya nakuti kayak preman gitu," gerutu Niko ngasal.


"Biar biasa aja, kemarin Dinar celaka! kalau Lo lupa?" sarkas Heru.


Niko nyengir, meminta maaf pada Alvaro dengan wajah menyebalkan.


"Apa yang buat Lo pusing? atau karena sampai saat ini belum ketemu."


Alvaro menghela nafas panjang, bersandar pada badan kursi. "Tadi pagi, gue ketemu. Tapi sayangnya dia berhasil kabur," cerita Al santai.


"Ohh jadi itu, alasan lo telat?" saut Heru, Yang di benarkan oleh Al lewat anggukan kecil.


"Lo udah coba cari lagi?"


"Udah, kayaknya dia ngumpet."


"Dah kayak bocah," sambung Niko lagi.


"Bukannya rumah lo di jaga ya?"


"Dia nyamar, kayak orang biasa. stelan joging." ketiga cowok itu kompak mengangguk, Bastian sedikit merubah posisinya.


"Terus apa yang bikin lo pusing? tadi bilangnya, masalah ini makin rumit?" Niko dan Heru mengangguk kuat.


Bahkan mereka memajukan duduknya, Alvaro memperhatikan satu persatu wajah penasaran ketiga sahabatnya itu.


"Pria di gambar itu, bukan hanya pelaku. Tapi, Ayah angkatnya Dinar."


...****************...