Alvaro

Alvaro
Bab 58. Pasar Malam



...~•~...


"Sayang, nggak bosen apa ya? tiap hari nontonin orang yang wajahnya mirip semua," keluh Al ketika sang istri sedang menonton drama korea di laptop miliknya.


"Ngawur, mana ada mirip, di teliti dong kalau lihat." sewot Dinar yang tak terima artis korea di bilang mirip semua.


Memang kebanyakan yang tidak mengerti dunia kpop, pasti bilangnya seperti itu, padahal kan mereka berbeda dan memiliki wajah tampan yang tidak sama.


"Dari pada nonton drakor, mending ikut aku yuk," ajak Al.


Dinar menoleh, jarak mereka seketika begitu dekat karena cowok itu sedang merebahkan kepalanya di pundak Dinar.


"Kemana?"


"Ada deh," ucapnya misterius, ia bangun namun sebelum itu Al mencuri kecupan singkat di bibir.


Mendengus kesal Dinar ikut beranjak, bersiap siap. Yang entah mau di bawa kemana.


"Kalian mau kemana?" tanya Bunda heran saat melihat anak dan mantunya turun dari tangga.


"Jalan-jalan." jawab Al singkat.


"Ini udah jam sembilan lho."


"Udah Bun, biarin aja. Namanya juga anak muda, kayak Bunda nggak pernah muda aja." saut Ayah Angga yang duduk di samping Bunda Alya.


"Ya udah terserah, tapi jangan malam-malam,"


"Siap Bun. Paling jam dua'an," goda Al pada Bundanya.


"Al__ awas aja ya. sampai kamu bawa mantu Bunda pulang makan-makan!" teriak Bunda.


Alvaro terbahak puas, emang kadang suka jail jika berurusan dengan sang Bunda, sangking jailnya Al pernah menyembunyikan tanaman bunga kesayangan Bunda itu.


Alhasil ia ketahuan, dan mendapatkan hukuman dari sang Bunda.


"Hobi banget sih, bikin Bunda kesal. Nggak boleh tau kayak gitu." protes Dinar memukul lengan suaminya.


"Hehe__ Maaf sayang. habisnya Bunda kadang suka ngomel."


"Ngomel berarti kamu ada salah, makanya jangan nakal." Al menghela napas, salah lagi kan. pikir Alvaro dalam hati.


"Mau naik motor apa mobil?" tanya Al.


Ya ampun, orang kaya mau keluar rumah aja ribet banget yak. pakai segala pilih kendaraan. gerutu Dinar.


"Terserah kamu, yang ngajak kan kamu. Jadi terserah paksai kendaraan apa."


Al pun memilih motor sport merah kesayangan, dia mengambil helm, memakaikan ke kepala Dinar, usai memakai helm fullfacenya Alvaro segera tancam gas.


Hujan baru saja turun, membuat cuaca terasa dingin, Dinar merapatkan pelukannya di perut Al,


"Kita mau kemana?"


"Nikmati aja dulu, jalan-jalan malam nggak buruk juga kan?" Dinar mengulum senyum.


Memang tidak terlalu buruk, jalan-jalan di malam hari bisa menikmati udara segar, melihat orang orang di pinggir jalan, bahkan ada yang sedang makan.


...***...


Alvaro menghentikan motor besarnya di salah satu tempat favorit Dinar, yaitu pasar malam, entah dari mana Al tau. Yang jelas saat ini dia ingin mengajak gadisnya kesana.


"Wahh ada pasar malam," heboh Dinar usai turun dari motor.


"Sayang, kamu tau dari mana kalau ada pasar malam?"


"Tau dari mana nggak penting, yang penting sekarang kita datang kesini." ujar Al membenarkan jaket sang istri.


"Iya juga sih, yuk masuk." gadis itu menarik tangan Al untuk segera masuk, dia sudah tak sabar ingin memutari area pasar malam tersebut.


Hal pertama yang Dinar lihat adalah jajanan yang begitu menggoda, ingin membeli tapi dia masih ingin bermain wahana.


Akhirnya setelah menolak tawaran Al untuk membeli makanan tersebut, Dinar mengajak suaminya naik kora-kora.


Seketika Alvaro tercekat, ia diam seperti patung. Raut wajahnya pun berubah. "Kenapa? kamu nggak mau?" Dinar terlihat sedih.


Raut wajah seperti itu yang tak ingin Al lihat, dia tak ingin membuat istrinya sedih dan kecewa.


"Mau kok, yuk kita naik itu." kata Al tersenyum paksa.


Al membayar karcis dan mulai naik, cowok ber sweater hitam itu sangat ragu ragu ketika ingin naik. Dan semua pergerakan Al tak luput dari perhatian Dinar.


"Kamu beneran nggak apa-apa?" kini Dinar justru khawatir kepada suaminya, apalagi keringat dingin mulai keluar di pelipis Al.


"Aku nggak apa-apa sayang," jawab Al pelan, mencoba tersenyum.


"Kita turun aja yuk," sayangnya telat benda berbentuk perahu raksasa tersebut mulai bergerak, mengayun perlahan hingga lama kelamaan semakin kencang.


Biasanya Dinar ketika naik wahana ini, dia akan berteriak bersama pengunjung lain merasa senang, tapi kali ini ia tidak bisa.


fokusnya hanya pada Alvaro yang tengah memejamkan mata, tangannya pun menggenggam tangan kiri Dinar erat. keringat dingin semakin banyak keluar.


Dinar panik luar biasa, dia berharap wahana ini segera berhenti, yang di tunggu tiba beberapa menit kemudian kora kora itu pun mulai berhenti.


"Al!" teriak Dinar ketika cowok itu lebih dulu turun dan berlari menjauh.


Dinar segera menyusul suaminya ikut berlari mengejar, ia melihat Alvaro tengah berjongkok di dekat selokan.


"Al," panggil Dinar parau.


Ia melihat Alvaro tengah mengeluarkan isi dalam perutnya, dengan pelan gadis itu memijat tengkuk Al.


"Kamu kenapa?" Al menoleh, ia cukup terkejut melihat Dinar yang sudah meneteskan air mata.


"Aku_ aku nggak apa-apa sayang, cuma punya masa lalu yang buruk tentang wahana itu." ujar Al serak.


"Iya udah duduk dulu, aku beli minum." Dinar menarik Al menyuruh suaminya duduk di salah satu kursi panjang di sana.


Tidak lama Dinar kembali dengan membawa dua botol air mineral, memberikannya kepada Al yang sebelumnya sudah dia buka tutupnya.


"Harusnya kamu ngomong, kalau nggak bisa naik kayak gitu." Dinar mengambil tisu di dalam tas kecilnya.


Menghapus keringat di kening dan juga leher Al. "Tadi aku pikir, kejadian itu sudah lama. jadi nggak apa-apa kalau coba naik, eh nggak taunya tetap nggak bisa."


"Memangnya kamu punya trauma wahana itu karena apa?"


"Sekitar umur lima tahun, pernah jatuh pas naik wahana itu, pas sudah mau berhenti ada ibu-ibu yang nyengol aku, kebetulan pengamanan nya kurang. harus terima jahitan sekitar lima atau tujuh jahitan, aku lupa." Dinar terkejut, pantas saja Alvaro memiliki trauma, jatuh dari wahana itu cukup mengerikan.


"Maaf ya, andai aku tau. nggak akan ngajak naik itu." sesal Dinar menunduk.


"Kenapa minta maaf, aku yang mau juga tadi." bohong Al, tidak mungkin kan dia mengatakan jika ini demi Dinar, yang ada gadis itu akan semakin bersalah.


"Nggak ah, pulang aja, udah nggak mood."


"Lho kok gitu. Aku udah nggak apa-apa, tuh lihat." Dinar memandang Al yang memang sudah segar kembali.


"Paling laper lagi, soalnya sudah kosong perutnya." kata Aku memukul perutnya.


Dinar tertawa pelan, menepuk lengan cowok itu. "Beneran nggak apa-apa?" Alvaro mengangguk yakin.


"Oke. kalau gitu, kita nggak usah naik wahana." semangat Dinar lagi, tersenyum manis, yang menular kepada Al.


Cowok itu mengacak rambut Dinar gemas, lalu mengajak keliling ke pasar malam itu kembali.


...***...