Alvaro

Alvaro
Bab 121. Pergi Bertemu Ayah



...***...


"Duh segarnya yang habis pulang joging," goda Bunda Alya yang melihat putra dan menantunya baru pulang dari taman kompleks.


"Iya dong, Bunda sih di ajakin nggak mau."


"Bukan nggak mau, tapi Bunda sibuk sama Ayah tadi."


"Sibuk apa Bun? buat adik lagi." saut Al ngaco.


"Wush! sembarangan. Bukanlah, tadi Bunda di suruh bantu Ayah soal kerjaan, kamu mah ngawur kalau ngomong." sewot Bunda Alya.


Sedangkan Alvaro tertawa cukup kencang, sudah lama kan tidak mengajak Bundanya bergurau seperti itu.


"Sudah sana masuk, kalau nggak masuk Bunda semprot kamu!" ancam sang Bunda pada Alvaro yang sudah mengarahkan selangnya kearah Al.


"Kamu masuk duluan ya, aku masih mau sama Bunda."


"Mau ngapain sayang? kamu nggak boleh capek -capek lho."


"Nggak apa-apain sayang, aku cuma mau lihat Bunda siramin tanaman," katanya yang meyakinkan suaminya.


"Oke aku masuk, tapi ingat nggak boleh capek," peringat Al lagi dan lebih tegas.


"Iya,"


"Cowok tapi cerewetnya melebihi perempuan," gumam Bunda yang mendengar kecerewetan Alvaro.


"Hahaha_ Bunda benar, Al cerewet banget suka marah-marah, apalagi kalau nggak di turutin bisa ceramah sampai besok pagi." tawa Dinar yang berakhir curhat tentang Alvaro.


"Tapi dia sayang kan?"


"Iya Bunda, sayang banget malah."


"Bunda," panggil Dinar.


"Iya?"


"Kira-kira nanti anak aku apa ya? jujur aku pengin anak perempuan, soalnya tadi ada anak cewek lucu yang minta bando kelincinya Al," cerita Dinar tangannya mengusap perutnya.


"Kalau gitu, doain aja supaya anak pertama nanti cewek," jawab Bunda sembari menyirami tanamannya.


"Kalau Bunda sendiri, maunya cucu pertama apa?" tanya Dinar penasaran.


"Terserah yang di kasih, apapun jenisnya Bunda nggak akan komplen karena dia cucu pertama Bunda."


"Iya sih, Bunda benar. Apapun yang di kasih sama Allah nanti itu adalah rezeki,"


"Bunda," panggil Dinar.


Mendengar nada aneh dari Dinar membuat Bunda menghentikan kegiatannya lalu berjalan kearah mantunya, ikut duduk di samping Dinar.


Mengamati wajah cantik Dinar, ada sesuatu yang ingin di katakan tapi seperti tertahankan. "Kamu mau ngomong sesuatu?" Dinar cukup terkejut, ternyata Bunda Alya tau apa yang dia rasakan.


"Iy_iya Bun," gugupnya, sampai meremas tangannya yang terasa dingin.


"Apa sayang? ngomong aja? jangan di pendam."


Memberanikan diri Dinar menatap mata Ibu yang kini ia sangat sayang. "Tapi Bunda jangan marah ya," Bunda Alya mengulas senyum lalu menggeleng pelan.


"Nggak sayang, Bunda nggak akan marah."


Menghela napas panjang terlebih dahulu, Dinar pun mengutarakan apa yang sedang dia rasakan. "Sebenarnya," ada jeda Dinar untuk mengeluarkan kata-katanya.


"Sebenarnya, aku pengin ketemu Ayah. Aku pengin tau keadaan dia, meskipun Ayah nggak pernah anggap aku anaknya, tapi aku sayang sama Ayah Hendra." ujar Dinar parau.


Mengusap air matanya dengan kasar, ia menatap lurus ke depan, Dinar bercerita tentang masa kecil di mana ia selalu perhatian terhadap Ayahnya, meskipun usahanya tak pernah di hargai atau di lihat.


"Dinar cuma ingin Ayah tau kalau selama ini Dinar nggak pernah dendam dan nggak pernah marah, kalau ternyata selama ini. Ayahlah yang berniat jahat terhadap Dinar."


Menarik pelan tubuh Dinar, Bunda Alya merengkuh menantunya kedalam pelukannya, mengusap punggungnya agar tenang.


"Jujur, Bunda nggak tau lagi kabar Ayah kamu, setelah pertemuan itu. Bunda nggak ingin tau lagi tentang Ayah kamu," Dinar mengangguk dalam pelukannya.


"Nggak apa-apa Bunda, Dinar tau. Maaf kalau Dinar sudah tanya soal Ayah,"


...****...


"Biasalah, urusan cewek." jawabnya seraya tersenyum lebar.


"CK, gitu ya. Main rahasia-rahasiaan sekarang," Dinar terbahak menyusul Alvaro yang duduk di gazebo belakang rumahnya.


"Aku capek," ujar Dinar bernada manja, lalu merebahkan tubuhnya berbantalkan paha Alvaro.


Meraih tangan Al lalu mengarahkan ke perutnya yang berarti meminta Alvaro untuk mengusap usap perutnya.


Alvaro tersenyum lembut tangan kanannya mengusap kepala Dinar. "Tau nggak tadi aku ngobrolin apa?"


"Apa emang?" tanya Al balik.


"Bunda berencana mau ngadain acara empat bulanan untuk anak kita."


"Oh iya? Alhamdulillah kalau Bunda punya rencana itu, tadinya aku pikir Bunda nggak berencana adaain acara buat cucunya."


"Nggak boleh suudzon sama Bunda." ujar Dinar dengan nada tak suka.


"Hehe_ maaf sayang, canda kok." cengir Al tanpa rasa bersalah.


"Tadi aku juga ngobrolin tentang Ayah Hendra, aku cuma mau tau aja kabar Ayah gimana sekarang?"


"Terus Bunda jawab apa?" tanya Al balik.


"Bunda juga nggak tau, soalnya setelah ketemu hari itu, Bunda nggak mau lagi ketemu dan nggak mau tau lagi tentang Ayah."


Alvaro menghela napas sejenak. "Apa perlu aku cari tau kabar Ayah ke sana?" tanya Al menundukkan wajahnya menatap lurus kearah mata cantik sang istri.


"Kalau kamu kesana, aku apa boleh ikut?"


"Aku terserah kamu, asal kamu nanti janji sama aku bakal baik-baik aja, aku pasti izinkan ikut."


Dinar bangun, menatap Alvaro penuh binar. "Beneran boleh ikut?" Al mengulum senyum sembari mengangguk.


"Kalau gitu, ayo kita kesana sekarang." ajak Dinar begitu bersemangat.


"Yakin sekarang? tadi katanya capek?"


"Capek aku hilang," jawab Dinar cepat dan menarik Alvaro untuk segera bersiap-siap.


Al hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Dinar yang kadang kelewat lucu menggemaskan, menurutnya Dinar mengalahkan sifat anak kecil, mungkin karena bawaan bayi jadi istrinya bisa seperti itu.


Hanya hitungan menit, mereka sudah siap. Sebelum berpamitan pada Ayah dan Bundanya, Al berpesan pada Dinar agar tidak memberitahu jika mereka ingin menjenguk Ayah Hendra.


"Lho kalian mau pergi?" tanya Bunda ketika melihat anak dan mantunya sudah terlihat rapi dan wangi.


"Ya Bunda, mumpung ini hari libur jadi aku mau ngajak Dinar jalan-jalan." jawab Al tak sepenuhnya bohong, sebab dia berencana ingin mengajak Dinar jalan-jalan setelah mereka selesai menjenguk Ayah Hendra.


"Bunda nggak di ajak nih?" godanya.


"Bunda minta sama Ayah dong, sekali-kali pacaran lagi, ya nggak Yah" Ayah Angga tertawa mengangguk dengan cepat.


"Boleh-boleh, gimana sayang? kita jalan-jalan yuk," ajak Ayah Angga.


"Nggak ah, banyak kerjaan."


"Tuh Al, bukan salah Ayah lho ya." kelakarnya yang sukses membuat mereka tertawa, sementara Bunda Alya hanya tersenyum dengan rona pipi memerah.


Selesai berpamitan Alvaro segera menjalankan mobilnya dan meninggalkan pelataran halaman rumahnya.


"Sebenarnya aku nggak enak sudah bohong sama Bunda," ujar Dinar saat mereka sudah di jalan.


"Siapa yang bohong, nanti aku memang mau ngajak kamu jalan-jalan." senyum di bibir Dinar semakin merekah.


"Beneran?"


"Beneran sayang," tekan Al lembut.


Dinar memekik kesenangan dan memeluk lengan Alvaro.


Entahlah sekarang Dinar sedang bahagia, Alvaro selalu memanjakan, dan menuruti apa yang dia mau.


...***...