Alvaro

Alvaro
Bab 54. Was-Was



...~•~...


"Bi, tolong siapin sarapan untuk Dinar ya, nanti kalau sudah siap, panggil saya." menghampiri Bi Jum yang sedang membereskan piring.


"Baik Den,"


Alvaro menengok kesana kemari terlebih dahulu. "Tapi jangan sampai ada yang curiga, kalau ada yang tanya bilang aja untuk Mang Wawan," pesan Al sambil berbisik.


"Siap Den." jawab Bi Jum.


Setelah itu ia mencari keberadaan Selly, dan ternyata gadis itu tengah asyik mengobrol dengan teman satu kelasnya, saat mata mereka bertemu. Al memberi isyarat pada Selly agar mendekat kepadanya.


"Kenapa?" tanyanya saat sudah berada di samping Alvaro.


"Dinar mau ketemu lo, dia nunggu di kamar." bisiknya.


"Gue boleh ke kamar kalian?"


"Boleh, naik aja. Asal jangan ada yang lihat."


"Oke siap!" gadis itu terlihat bahagia.


Tanpa di suruh dua kali, Selly naik dan mencari keberadaan kamar Al, cowok itu bilang kamarnya berada di dekat pintu balkon.


Tokk! tokk!


"Din, bukain. ini gue Selly,"


Tidak lama pintu terbuka sedikit, Selly segera di tarik oleh Dinar lalu ia kunci kembali. usai mengunci pintu kuncinya dia taruh kembali kedalam laci, agar saat Alvaro membuka dari luar bisa terbuka.


"Selly!"


"Dinar!"


keduanya sangat heboh, berpelukan erat. Mereka padahal tidak bertemu hanya satu hari, namun keduanya begitu senang saat bertemu, mereka seperti sudah bertahun-tahun tidak bertemu.


"Lo gimana udah sehat?"


"Alhamdulillah sudah, lo nggak apa-apa kan? gue khawatir lo kenapa-kenapa."


"Seperti yang lo lihat. Gue baik-baik aja."


"Tapi ya gitu, balik ke Jakarta nya siangan, soalnya tiba-tiba bus mogok."


"Berarti besok belum masuk sekolah?"


"Ya belum lah, pasti anak-anak pada capek. Kenapa? lo senang kan? kalau belum masuk," goda Selly.


"Hah? nggak juga kok." elak Dinar.


"Masa?" Selly mendekat kearah Dinar lalu berbisik. "Lo mau nambah koleksi di leher lo kan?" Dinar mendelik seketika.


Reflek tangan lentiknya menutupi lehernya dengan kaos milik Al yang kebesaran di tubuhnya, Dinar terpaksa menggunakan kaos milik suaminya karena semua barang-barangnya ada di tas yang berada di tendanya.


Selly tergelak puas, menggoda sahabatnya. Selly bukan tanpa sebab mengatakan hal itu, karena memang banyak tanda merah di leher Dinar dan dia sangat paham itu.


Dinar hanya mampu menunduk malu, wajahnya sudah merah seperti tomat. "Nggak usah malu kali Din, wajar lo kan sudah suami istri. Nggak masalah ngelakuin itu,"


"Gue belum ngelakuin hal lebih kok," Selly melotot tidak percaya.


"Hah! serius lo?" Dinar mengangguk pelan.


"Kenapa?" beonya.


"Gue takut Sell, kita masih sekolah. kalau tiba-tiba gue hamil gimana?"


"Hebat juga Al bisa nahan, padahal kalian sudah satu kamar, bahkan sudah bikin tanda kayak gitu." kekehnya menunjuk-nunjuk kearah leher Dinar.


Gadis itu mendelik dan menepis tangan Selly. "Tapi kan setau gue itu udah hak suami, lo nggak perlu ngelarang." Selly mengambil bantal lalu ia pangku di atas paha.


"Lagian, masalah punya anak, itu kan rezeki, bisa aja tuhan ngasih nanti setelah lo lulus, lagian nyenengin suami itu pahala." Dinar terdiam, ia tertunduk mencerna ucapan sang sahabat, semua yang di katakan Selly benar, sebagai istri Dinar harus bisa menyenangkan hati suaminya, apalagi akan hal sepele itu, diam-diam dirinya membaca tentang berumah tangga dan tentang menjadi seorang istri yang baik dan sholehah.


"Lo nggak takut, Al tergoda sama Geby, tuh uler tiap hari godain suami lo terus." Selly mulai membuat Dinar takut.


"Lo kok ngomong gitu sih, gue percaya Al nggak mungkin tergoda."


Selly mencebik lalu mengambil ponselnya di saku. "Hati cowok mana ada yang tau," gumamnya dan mulai fokus membalas pesan di benda pipih tersebut.


Dinar meremas kaos itu, kenapa dia jadi kepikiran, dasar sahabat macam apa itu. kata Dinar dalam hati memandang Selly kesal.


Tidak lama pintu terbuka, muncul Alvaro membawa satu piring dan satu gelas, gelas ia taruh di atas nakas, sementara satu piring berisi nasi dan lauk dia berikan pada Dinar.


"Di makan ya," Dinar hanya mengangguk.


Membuat Alvaro heran. "Kamu kenapa sih sayang?" tanya Al bingung, sedangkan Selly mati-matian menahan untuk tidak tertawa.


"Nggak apa-apa," jawabnya singkat.


"Iya udah, aku turun lagi ya." kata Al meskipun dia masih heran dengan perubahan raut wajah istrinya.


Alvaro mulai pergi kembali bertemu dengan teman-temannya lantai bawah, saat sudah di depan pintu. ia berhenti ketika Dinar memanggilnya. "Sayang," hati Al menghangat dengan rasa bahagia, sementara Dinar tengah menahan rasa malu sebab sahabatnya tengah menatapnya.


"Iya?" jawab Alvaro tangannya memegang hendel pintu.


"Jangan deket-deket ulet keket!" pesannya, Al sempat mengerutkan kening, namun hanya sesaat setelah paham ia mengacung jempol.


"Siap bosku!" jawab Al sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Ciye__ udah berani panggil cayang-cayangan__" goda Selly menguyel pipi tembem Dinar sangking gemasnya.


Dinar berusaha melepas tangan Selly sambil tertawa, akhirnya mereka pun bercerita hingga piring Dinar hangat sekejap sudah habis.


...***...


"Al_ gue nggak nyangka Villa lo nyaman bet. Bolehlah kapan-kapan kalau kita liburan, main kesini." kata salah satu temannya yang sedang bermain basket.


"Dasar lo, bilang aja mau gratisan." sungut Niko.


Alvaro tak peduli, ia sedang asyik bermain game online bersama Bastian. hingga panggilan di sampingnya membuatnya kesal.


"Al_"


"Apa sih! lo dari tadi panggil-panggil Al mulu! Sakit kuping gue!" bukan Al yang menjawab melainkan Heru yang merasa terganggu dengan gadis di hadapannya.


"Gue nggak ngomong sama lo!" hardiknya.


"Stop!" bentak Al.


"Ngapain sih lo ganggu gue! sana jangan di sini." usir Al pada Geby.


"Gue kesini, karena mau itu Al," semua yang ada bersama Alvaro mengikuti arah tangan gadis itu.


"Lo hamil?" celetuk Niko.


Geby mendelik tak suka. "Boleh nggak Al," gadis itu meminta izin pada Alvaro untuk meminta buah mangga yang menurutnya menggoda, itu sebabnya kenapa Niko berkata seperti itu tadi.


"Ambil sendiri!"


"Lo tega, nyuruh cewek manjat pohon Al?" cowok itu menghela napas jengah.


"Minta tolong sama yang lain."


"Tapi gue pingin," belum selesai bicara Alvaro sudah pergi meninggalkannya.


"Sukurin. di cuekin kan lo!" olok Niko lalu ikut pergi menyusul para sahabatnya.


Geby meremas tangannya, ia kesal lagi dan lagi. Dia di abaikan oleh Alvaro, ia menatap punggung Al yang kian menjauh dengan sorot mata tajamnya.


"Kenapa nggak di tinggal aja sih tuh anak, malah lama kesel juga gue lihatnya!" gerutu Niko.


"Maklum lah, dia begitu karena mau cari perhatian sama Al," saut Bastian.


"Memang! gue heran jadi cewek gatel bet. kayak nggak ada harganya," kini giliran Heru yang ikut-ikutan menggerutu.


"Sebelum kalian balik, gimana kalau kita jalan-jalan ke kebun teh Ayah," ajak Alvaro. dia merasa suntuk dan bosan di villa memang ada banyak orang tapi mereka sibuk masing-masing, bahkan ada yang masih tertidur. Yang lebih bosannya lagi, ada pengganggu seperti Geby.


"Boleh. ayuk!" semangat Niko.


"Terus kita berempat aja?" tanya Bastian.


"Nggak lah, gue ajak Dinar, ntar biar gue yang urus supaya nggak ketahuan," mereka mengangguk sabar.


Heru dan Niko sangat bersemangat, mereka sudah tidak sabar menikmati hijaunya pemandangan perkebunan teh, biasanya kan mereka hanya bisa melihat di televisi.


Alvaro menghampiri Dinar, membuka pintu melihat istrinya masih asyik bercerita dengan Selly.


"Sell, maaf bisa keluar sebentar? gue mau ngomong sama Dinar," Selly pun mengangguk lalu segera keluar dari kamar.


Alvaro mengunci pintu terlebih dahulu. "Ada apa?" tanya Dinar, gadis itu berdiri memperhatikan Al yang sedang membuka lemari.


Alvaro tak menjawab, cowok itu sedang menggunakan jaket denim birunya, dan juga mengambil satu lagi jaket milik Dinar.


"Kita mau kemana Al?" bingung gadis itu saat Alvaro juga memakaikan jaket ke tubuhnya.


"Jalan-jalan, ke kebun teh Ayah,"


"Aku ikut?" Al mengangguk.


"Lewat mana? kalau mereka lihat gimana?"


"Tenang aja, nggak ada yang lihat. semua bakal aman," kata Al menangkup wajah istrinya.


"Ganti celananya, setelah itu kita berangkat, sebelum mereka balik ke Jakarta." titah Alvaro, karena Dinar hanya menggunakan short pants.


Menurut perintah Alvaro Dinar mulai memakai celana trening milik cowok itu, sementara Al pergi ke kamar mandi terlebih dahulu sebelum berangkat.


...***...