Alvaro

Alvaro
Bab 70. Masih berharap



...~ Selamat Membaca ~...


Usai Roy pergi Dinar mengurai pelukannya. "Al, kamu nggak apa-apa?" ia meneliti luka di wajah suaminya.


Alvaro hanya tersenyum sangat tipis di sela sakit yang di rasakannya, Dinar membantunya berdiri memapah sampai duduk di kursi yang di sediakan di depan supermarket


Padahal banyak orang yang sedang melihat kejadian itu, namun mereka hanya menonton tanpa ada niat untuk membantu.


"Kamu tunggu di sini bentar ya," Dinar bergegas masuk kembali kedalam supermarket.


Perempuan itu membeli air mineral, dan peralatan untuk mengobati luka suaminya, Alvaro menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Kepalanya mendongak menatap langit malam.


Tak habis pikir dengan kejadian yang baru saja terjadi, tangannya menyentuh luka di sudut bibirnya, sebenarnya apa yang salah pada dirinya.


"Sayang," panggilan itu menyadarkannya dari lamunan.


Ia mengamati Dinar yang membawa minum dan kotak obat. "Di minum dulu," kata Dinar, Alvaro menghela napas kala mendengar suara parau dari sang istri.


Alvaro menerima botol tersebut, meminum nya hingga setengah. "Aku obati dulu ya." ia hanya mengangguk.


Selama Dinar mengobati lukanya, mata hitamnya tak pernah terlatihkan dari memandang sendu wajah istrinya, mata sembab bibir bergetar.


Jeda sekian detik, air mata itupun luruh membasahi pipinya, dengan sigap tangan Alvaro mengusap air mata itu. "Jangan nangis, aku nggak apa-apa," bola matanya bergulir memandang kearah Alvaro.


"Maaf,"


"Untuk?"


"Untuk semuanya, karena aku masalah jadi seperti ini."


"Sst," jari telunjuknya menyentuh bibir Dinar.


"Jangan bilang seperti itu, ini bukan salah siapa-siapa. Mereka cuma salah paham dengan keadaan kita." tak tahan Dinar pun menghambur kedalam pelukan Alvaro, menumpahkan segala perasaannya dengan tangisan.


Cukup lama mereka berdua berada di depan supermarket, selain mengobati luka Alvaro, Dinar butuh menenangkan hatinya.


Tak peduli ada beberapa orang yang lewat memandang kearahnya, yang terpenting perasaannya sudah sedikit lega.


Mengambil belanjaan yang ternyata sudah di kumpulkan oleh seseorang yang membantunya. "Masih bisa naik motor?" Dinar khawatir saat Alvaro memutuskan tetap mengendarai motornya, meskipun keadaannya kurang baik.


"Tenang aja sayang, aku kuat kok." mengusap pipi Dinar agar perempuan itu tenang.


Perlahan ia naik di atas motor, lalu di susul di Dinar, meninggalkan area supermarket tersebut dengan pelan, Istrinya lah yang meminta agar Alvaro membawa motor besar tersebut, tidak usah melaju.


Tiba di rumah, Alvaro berjalan di gandeng oleh Dinar, memberi salam pada kedua orang tuanya yang sedang bersantai diruang tamu.


"Assalamu'alaikum,"


"Wa'alaikumsalam__ masyaallah Alvaro!" pekik Bunda.


"Kamu kenapa Nak?" Bunda menghampiri anaknya menangkup wajah Alvaro yang penuh luka, mulai dari hidung. Sudut bibir sedikit robek dan lebam di pipi dan matanya.


"Tiba-tiba ada Bang Roy Bunda, Alvaro langsung di pukul gini," cerita Dinar.


Bunda memandang sang putra, mengusap pundak Al. "Sini Bunda obati," ajak Bunda.


"Nggak usah Bunda, tadi sudah di obati Dinar." tolak Al.


"Ini pasti karena kejadian tadi siang?" sambung Ayah Angga.


Alvaro mengangguk pelan. "Aku nggak masalah, kalau mereka nyalahin aku. Atau mukul akupun silahkan, asal jangan ngomong kasar sama Dinar." ujar datar Alvaro, tangannya terkepal mengingat perkataan Roy yang mengatakan jika Dinar perempuan murahan.


Ia tak terima dan sakit hati, mereka tidak tau apa apa, tapi langsung berkata kasar seperti itu pada orang lain.


Dinar mengusap lengannya, menenangkan hati Alvaro. "Aku nggak apa-apa sayang," Al menoleh pada Dinar, ia merangkul pundak perempuannya, memberi kecupan kecil di kening.


Dirinya saja, selalu berkata lembut dan memperlakukan Dinar begitu spesial, kenapa orang lain justru berani menyakitinya.


...***...


Karena ingin di temani oleh Dinar, akhirnya perempuan itu pun ikut izin, namun dengan alasan yang berbeda, tidak mungkin kan mengatakan jika ingin merawat Alvaro.


Dan kini cowok itu sedang bermanja dengan Dinar, merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri, sementara Dinar duduk bersandar di kepala ranjang.


Ia tak bisa menolak keinginan Al, suaminya seperti ini juga karena dirinya yang selalu meminta untuk tidak memberitahu yang sebenarnya pada mereka.


Mungkin jika dengan mengatakan bahwa keduanya sudah berstatus suami istri, mereka tidak seperti ini pada Alvaro.


Dinar melakukan ini juga karena memikirkan Al, dia masih saja takut, seandainya semua tau mereka sudah menikah.


Menunggu mereka selesai ujian memang lama, apakah akan seperti ini terus sampai mereka lulus.


"Masih pusing?" tanya Dinar lembut memberikan pijatan di kepala Alvaro.


"Sedikit," jawabnya tanpa membuka matanya, ia terlalu menikmati sentuhan yang di berikan Dinar.


Sangat terasa nyaman, hingga dia merasa ngantuk. "Tidur gih, aku temani di sini." suruh perempuan itu.


Tidak menolak, Al mulai terlelap. apalagi Dinar mengusap usap kepalanya.


"Assalamu'alaikum Bunda," salam Amanda ketika gadis itu masuk di kediaman rumah Ayah Angga.


"Wa'alaikumsalam," Bunda tanpa sadar menghela napas melihat kedatangan Amanda lagi.


"Bunda, aku dengar Al nggak masuk karena sakit. Ini pasti karena Bang Roy! semalam Bang Roy cerita dia habis ngehajar Alvaro."


Amanda menyentuh tangan Bunda. "Bunda, maafin Abang aku ya__ aku cerita ke dia bukan berarti nyuruh dia mukul Al, Bun." sesalnya memandang Bunda Alya sendu.


"Iya nggak apa-apa, namanya juga salah paham."


"Sekarang Al mana Bunda? ini Manda sudah buatkan bubur kesukaannya. Aku ingat kalau dia nggak enak badan, selalu minta di buat kan bubur sama aku," gadis itu mengangkat rantang berisi bubur ayam yang dia buat khusus untuk Alvaro.


Bunda menggaruk keningnya bingung, bagaimana cara bicara pada gadis itu. "Hmm. Al nggak di sini sayang," jawabnya.


Amanda mengerutkan kening. "Maksudnya Bunda?" Bunda Alya ******* bibirnya terlebih dahulu.


"Al, lagi di tempat Neneknya. Dia kangen sama Neneknya. makanya sekarang ada di sana," rimgisnya saat mengucapkan kata itu.


Amanda menurunkan pundaknya, ia padahal sangat berharap bisa bertemu Alvaro dan merawat cowok itu. Tapi keimginannya gagal.


"Kalau gitu Amanda minta alamatnya boleh Bunda?" yang tadinya lega, Bunda Alya panik kembali. Alasan apa lagi yang harus di berikan.


"Hmm_"


"Kalau kamu mau ketemu Al, nanti aja. Biarin dia istirahat," potong Ayah Angga yang tiba tiba datang dan menyelamatkan sang istri.


Bunda membuang napas kasarnya, mengacungkan jempolnya pada suaminya diam diam.


"Terus bubur ini gimana?"


"Nanti malam Al pulang, biar dia makan nanti malam,"


"Bunda, Apa Al ngehindar dari aku?" gadis itu tertunduk sedih.


"Kayaknya Al marah besar sama aku," Bunda mendekat kearah Amanda lalu memeluknya.


"Sabar ya sayang, Al begitu karena lagi emosi." hiburnya m


"Bunda, memangnya salah kalau aku punya perasaan lebih, dulu bukannya Bunda setuju kalau aku sama Al bisa bersama, restuin Manda sama Al Bunda," mohonnya.


"Semuanya sudah ada yang ngatur, Bunda tidak bisa merubah keputusan Al, maafin Bunda_"


Amanda menangis tersedu di pelukan Bunda Alya, cinta tak bisa memiliki rasanya begitu sakit.


...***...


...TBC...