
...****************...
"Bunda aku titip Dinar bentar ya,"
"Kamu mau kemana?" tanya Bunda.
"Ada janji sama teman di cafe," jawab Al bohong.
Alvaro sebenarnya ingin menemui Rio, cowok itu tadi mengirim pesan, jika sketsa yang dia buat sudah selesai, tentu Al sudah tidak sabar melihat pelaku sebenarnya.
"Ya udah, hati-hati." pesan Bunda Alya yang baru tiba ke rumah sakit, beliau di telpon putranya untuk menemani Dinar selama dia pergi.
Alvaro mengusap kepala Dinar yang tengah berbaring, tadi wanita itu mengeluh pusing, akhirnya dokter memberikan obat pereda pusing yang aman bagi ibu hamil.
"Sebenarnya kamu mau kemana, sih?" tanya Dinar setengah merengek.
"Ketemuan sama teman, sayang." jelasnya.
"Cewek ya?" tebak Dinar, sontak Al mendelik.
"Astaghfirullah! nggak sayang. Dia cowok, temannya Bastian juga, kalau kamu nggak percaya, bisa telepon Bastian atau Niko. mereka ada di sana," Dinar mengerucutkan bibir lucu.
"Ya udah, tapi. Janji ya, setelah ini kita pulang," rengek Dinar lagi.
"Iya sayang, aku bentar aja kok." akhirnya Dinar mengangguk membolehkan suaminya itu pergi.
"Bunda, Al pergi dulu. Assalamu'alaikum," pamit Al lalu segera keluar dari ruangan Dinar.
Tak membuang waktu, Al membawa motor sportnya sedikit melaju, selain karena sudah janji dengan Dinar untuk tidak lama, ia juga sudah sangat ingin melihat hasil kerja Rio.
Hanya dengan waktu lima belas menit, Al tiba. Ia mencari keberadaan cowok itu, Dia tersenyum ketika sudah melihat keberadaannya.
"Nunggu ya? sorry," basa basi Al.
"Nggak kok, santai aja." kata Rio.
Kali ini mereka hanya berdua, tadi Al terpaksa berbohong pada Dinar, jika dia menemui temannya bersama Bastian.
"Jadi gimana? Lo udah bisa gambar orangnya?" Rio mengangguk sekali.
Lalu mengambil tas ranselnya, membuka tas tersebut Rio mengeluarkan beberapa kertas, dan kertas itu bergambarkan seseorang.
"Ini orangnya, kurang lebih seperti ini."
Alvaro menerima kertas tersebut, dia mengamati gambar gambar itu, dia termenung sejenak mencoba mengingat.
Apakah dia pernah bertemu dengan orang ini, perasaannya mengatakan jika dia pernah, tapi ia tidak tau di mana.
Alvaro mengangguk mengerti, mengucapkan terima kasih. "Thanks, Bro. Lo mau bantu gue, ngomong-ngomong berapa?" Rio tersenyum, menggelengkan kepalanya.
"Nggak usah, niat gue nolong. Lo sahabatnya Bastian, berarti teman gue juga, apalagi ini demi seseorang yang lo sayang." Alvaro menjadi tidak enak, padahal jika cowok itu minta pun pasti dia akan kasih.
"Wah_ jangan gitu dong, gue yang minta tolong. Lo bilang aja, nggak apa-apa, justru gue malah nggak enak sama lo," Rio justru tertawa, tetap tidak mau jika Al membayarnya.
"Sekali lagi gue yang terima kasih, kalau gitu. Lo pesan ntar gue yang bayar," kata Al lagi, yang kali ini di terima oleh Rio.
Mereka pun akhirnya memesan menu cukup berat, sambil menikmati makanannya mereka saling mengobrol ringan, Al hampir lupa janjinya pada Dinar, jika dia tak menerima pesan dari Bundanya, kalau Dinar terus menanyakannya.
"Ya ampun!" kata Al, menepuk jidatnya.
Rio mengerutkan kening. "Kenapa Al?" tanyanya penasaran.
"Gue lupa, Janji ke istri gue, kalau nggak lama perginya. Soalnya dia sudah minta pulang." cerita Al.
Rio terkekeh, melihat raut wajah teman barunya itu. "Gue salut sama lo Al, umur lo masih h muda, tapi udah siap jadi suami, bahkan. Bentar lagi lo jadi Ayah," Alvaro mengulum senyum setelah menghabiskan minumannya.
...****************...
"Katanya bentar?" hardik Dinar ketika Alvaro baru tiba, bahkan lelaki itu belum masuk sepenuhnya ke dalam kamar inap istrinya.
"Maaf sayang, aku kejebak macet," bohong Al lagi, dalam hati ia meruntuki dirinya sendiri, dia terlalu banyak berbohong pada Dinar.
"Beneran?"
"Iya bener, masa aku bohong," ucapnya lembut mengusap puncak kepala Dinar.
"Ya udah, Bunda pergi dulu ke parkiran. Bawa barang-barang ini," tunjuk Bunda Alya ke tas yang berisikan barang menantunya.
"Sayang, kamu beneran mau pulang hari ini? tadi katanya masih pusing?" tanya Al sangat lembut.
Raut wajah Dinar berubah sendu, entah kenapa perasaannya mudah sensitif dan gampang ingin menangis.
"Tadi kamu bolehin aku pulang," rengeknya.
Alvaro yang ingin menjawab, urung saat melirik Bundanya yang memberi kode, untuk menuruti saja.
"Boleh kok, kalau sudah baikan. Aku kasih izin," seketika Dinar berbinar, memeluk leher Alvaro lalu mencium pipinya.
"Makasih ya," kata Dinar, dan memberi lagi kecupan singkat kali ini di bibir.
"Sama-sama, sayang."
"Tapi aku ada permintaan?" Al mulai waspada, jangan sampai, minta yang aneh aneh lagi.
"Minta apa?"
"Aku maunya, pulang pakai motor besar kamu, bukan mobil." tentu Al mendelik.
"Sayang, nggak usah macam-macam, kamu baru sembuh, pakai mobil ya." bujuk Al berusaha sabar.
"Memang kenapa sih? perut aku juga belum besar, aku masih bisa naik motor. lagian aku hamil bukan lumpuh!" pekik Dinar mulai kesal.
"Sayang! kamu ngomong apa sih?" ujar Al sedikit meninggi, tidak suka ucapan Dinar.
"Makannya! nurutin yang aku mau. lagian mungkin ini keinginan anak kamu, jangan anggap aku kayak orang lemah. Aku tau, fisik aku lagi nggak baik, tapi bukan berarti kam_" belum selesai bicara Alvaro sudah membungkam mulut istrinya dengan ciuman.
Al melakukan itu, agar Dinar tidak bicara yang aneh aneh, ucapan perempuan itu sudah kemana mana, dan Alvaro tidak suka mendengarkannya.
Alvaro baru melepas tautan di bibirnya ketika di rasa Dinar sudah tidak mengoceh lagi. Al menempelkan keningnya di kening Dinar. "Jangan ngomong yang aneh-aneh, aku nggak suka. Kita pulang pakai motor, oke." bisik Al tepat di depan wajahnya.
Dinar mengangguk patuh, tak mengeluarkan suaranya. Dan tiba di parkiran, Al membonceng Dinar dengan hati hati.
Sementara di belakangnya ada Bunda Alya bersama sopir, yang mengikutinya dari belakang.
Dinar terlihat begitu bahagia, ia sangat menikmati angin sore yang mengenai wajahnya, Dinar memeluk perut Al erat, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, sementara Al sering kali melihat Dinar lewat kaca spion, dia ikut tersenyum kala melihat kebahagiaan istrinya.
"Senang?" tanya Al suaranya hampir tenggelam karena bisingnya kendaraan, dan juga menggunakan helm full face nya.
"Senang, banget. makasih ya," ucap Dinar tulus
"Nggak perlu makasih, sayang. ini sudah jadi tugas aku buat kamu senang,"
"Aku sayang kamu," kata Dinar cukup nyaring.
"Me too!" balas Al tak kalah nyaring.
Sore ini Dinar, hanya ingin melupakan sekejap masalah yang dia hadapi, dia yakin setelah ini akan ada masalah lagi, selama orang yang terus menerornya belum bisa tertangkap.
...****************...