
...****************...
"Din, kita kok kayak di awasi orang ya." bisik Selly.
"Apaan sih. Jangan bikin gue takut dong," Dinar mulai panik.
"Beneran, tuh dia mulai deketin kita."
Dinar menoleh, benar saja. Ada seseorang berdiri menjulang tinggi berdiri tidak jauh dari mereka.
Karena silau terkena matahari, Dinar tidak bisa melihat wajah pria itu, dan barulah ketika dia berdiri.
Dinar bisa melihat dengan jelas wajah siapa pria di hadapannya, ia membulatkan matanya.
"Ayah_" gumamnya.
Tentu Selly ikut mendelik lalu memperhatikan orang itu dengan seksama. Sontak ia menutup mulutnya, benar itu adalah Ayah dari sahabatnya.
"Ayah," Dinar mendekati pria itu.
Wajahnya berseri, senang bisa melihat Ayahnya kembali. "Kamu ternyata bahagia di atas penderitaanku!" ujar sang Ayah dengan suara dalam.
"Maksud Ayah?"
Pria itu mendekat kearah Dinar. Namun urung saat beberapa orang, menodongkan pistol tepat ke pria itu.
"Berlutut!" titah petugas kepolisian, memerintahkan kepada Pria bernama Hendra itu.
"Ada apa ini?" Dinar bingung, tiba tiba ada beberapa orang tengah memegang pistol.
"Sayang, tenang ya. Mereka polisi," bisik Alvaro yang baru tiba langsung merangkul sang istri agar tenang.
"Maksudnya gimana? aku nggak ngerti, kenapa ada polisi?"
"Pelaku peneror itu, adalah Ayah kamu sayang." Dinar menatap Alvaro intens, ia mencerna ucapan suaminya.
"Nggak mungkin," gumam pelan Dinar.
"Memang benar, apa yang dia katakan dia," tunjuk kearah Alvaro.
"Akulah orang yang sudah menerormu. KARENA AKU TIDAK TERIMA KAMU HIDUP BAHAGIA!!" teriak Ayah Dinar yang marah pada putri tirinya.
Dinar hampir limbung, beruntung Alvaro sudah siap siaga di sampingnya. Dinar menangis tersedu, ia tak menyangka sang Ayah bisa melakukan itu.
"Aww!" Dinar mencengkeram perutnya yang tiba tiba terasa keram.
"Sayang, kamu kenapa?" Alvaro panik.
"Perut aku sakit!"
"Bawa kerumah sakit Al!" suruh Bastian.
Tanpa di suruh dua kali, Alvaro menggendong Dinar.
Membawa perempuan itu ke rumah sakit, menggunakan mobil Bastian, di perjalanan Dinar sudah tidak sadarkan diri, semakin membuat Alvaro panik.
"Lebih cepat Bas!" bentak Al kencang.
Tiba di rumah sakit, Alvaro seperti orang gila menunggu dokter memeriksa keadaan Dinar.
Ia terus mondar-mandir di depan pintu gawat darurat, sampai akhirnya dokter keluar dan mengatakan jika Dinar baik baik saja, dia hanya mengalami shock.
"Kandungannya bagaimana dok?"
"Alhamdulillah, baik-baik saja, tapi tolong di jaga pola makan, dan jangan terlalu banyak pikiran." pesan sang dokter.
"baik dok, terima kasih,"
Dokter itu pamit, karena ada pasien lagi yang baru saja datang. Alvaro segera masuk melihat kondisi istrinya, namun sebelum masuk.
Al mendapatkan informasi dari Bastian, jika Ayah Dinar sudah di amankan pihak yang berwajib.
"Sayang," panggil Al saat masuk, melihat Dinar yang tengah merenung.
Perlahan Dinar menoleh, menatap sendu, lalu meraih tangan Alvaro untuk ia genggam.
"Maafin aku sayang, bukannya aku nggak mau cerita. Tapi aku khawatir sama kamu, aku takut kamu dan anak kita kenapa-napa."
"Aku pikir, Ayah sudah berubah, tapi ternyata. Masih sama, dia nggak suka kalau aku hidup bahagia." jempol Al sigap mengusap air mata Dinar yang mulai turun.
"Aku baru paham, arti kata dari teror itu, dia ingin aku ninggalin kamu. Karena Ayah nggak mau aku dan Jingga bahagia."
"Sst_ udah ya. Jangan di pikir lagi, kata dokter kamu nggak boleh banyak pikiran,"
"Boleh, aku ketemu Ayah? aku cuma pengin tau kenapa dia ngelakuin ini. Apa benar karena Ayah mau aku menderita lagi, sama seperti sebelum aku ketemu kamu?"
"Boleh, asal kamu sudah baikan ya," Dinar mengangguk, semakin kuat menggenggam tangan Alvaro.
...***...
"APA! jadi selama ini. Yang ganggu keluarga kita, Hendra?!" pekik Bunda Alya, saat di beri kabar jika pelaku peneror sudah di tangkap.
"Sayang, tenang dulu." Ayah Angga mengusap pundak istrinya.
"Kenapa dunia seperti sempit sekali, kenapa kita baru tau kalau Dinar adalah anak dari lelaki itu!!" napas Bu Alya naik turun, apalagi dia baru mengetahui jika Dinar ternyata masih ada hubungan dengan orang di masa lalunya.
"Aku juga baru tau, lagian Dinar anak tiri. Bukan anak kandung Hendra,"
"Jangan sebut nama dia!" pekik Bunda menatap suaminya marah.
"Jangan sebut nama lelaki itu, Hubby! aku nggak mau dengar." Bu Alya menutup kedua telinganya, seakan trauma mendengar nama itu.
"Iya sayang, ya. Udah jangan marah-marah gini, tenangin dulu emosinya." titah Pak Angga mengusap punggung istrinya yang masih naik turun.
Pandangan Bu Alya menajam, menatap objek apa saja di depannya, bahkan tangan pun terkepal kuat.
"Assalamu'alaikum," salam Alvaro bersama Dinar
"Wa'alaikumsalam," yang menjawab hanya Pak Angga, sementara Bu Alya masih diam.
Melihat kedatangan Alvaro bersama Dinar, raut wajahnya kian berubah, tanpa bicara dengan putra dan menantunya, beliau melepas dekapan suaminya, lalu pergi ke kamar.
Alvaro dan Ayahnya saling pandang, Pak Angga memberitahu lewat kode jika keadaannya kacau.
"Sayang, aku anter ke kamar, istirahat ya."
Alvaro membawa Dinar masuk ke dalam kamarnya, setelah itu baru dia bertemu Ayahnya yang menunggu di ruang tamu.
"Ada apa Yah?" Pak Angga yang sedang menunduk sedikit terkejut, membenarkan posisi duduknya, beliau mulai angkat suara.
"Dinar kenapa tadi?" Pak Angga justru tanya balik.
"Karena terlalu shock, perutnya keram. Tapi Alhamdulillah sudah nggak apa-apa,"
Pak Angga menghela nafas lega. "Syukurlah, Bunda sudah tau Al, makanya tadi kamu lihat kan, bagaimana Bunda kamu. Lihat Dinar, ini yang Ayah takutkan. Bunda seperti menyalakan istri kamu,"
"Dinar nggak salah, dia nggak tau apa-apa tentang masa lalu Ayah tirinya dan Bunda." sambung Pak Angga lagi.
"Terus, aku harus gimana Yah? aku nggak mau Dinar kenapa-kenapa, kata dokter dia nggak boleh banyak pikiran."
Pak Angga berpikir sejenak. "Kita lihat dulu, nanti seperti apa. Kamu jagain Dinar, kalau pun Dinar tau tentang Bunda dan Ayahnya, kamu kasih pengertian dia ya." Alvaro hanya mengangguk.
"Ayah mau ke kantor polisi," Pak Angga beranjak dari duduknya.
Alvaro ikut berdiri. "Aku ikut Yah," pinta Alvaro.
"Dinar gimana?"
"Dia tidur, aku nggak lama. Cuma pengin ketemu dan tanya sesuatu sama Pak Hendra,"
Alvaro tersenyum kala Ayahnya mengangguk setuju, namun sebelum pergi, Al pergi kebelakang rumah, mencari Mba Leli.
Ia berpesan agar menjaga Dinar, dan jika terjadi sesuatu di rumah ini, Mba Leli di minta untuk segera menghubunginya.
Termasuk tentang Bundanya, karena Al takut saat dia pergi, Bunda Alya mengatakan sesuatu yang membuat Dinar ngedrop kembali.
...****************...